Tag Archives: Toby Kebbell

Review: War for the Planet of the Apes (2017)

Sukses mengarahkan Dawn of the Planet of the Apes (2014) – setelah sebelumnya menggantikan posisi Rupert Wyatt yang mengarahkan Rise of the Planet of the Apes (2011), Matt Reeves kembali duduk di kursi penyutradaraan bagi film ketiga dalam seri film Planet of the Apes, War for the Planet of the Apes. Dengan naskah cerita yang ditangani Reeves bersama dengan Mark Bomback, War for the Planet of the Apes mengisahkan kelanjutan perjalanan Caesar (Andy Serkis – lewat penggunaan performance-capture technology) dan kawanannya yang berusaha untuk menemukan sebuah lokasi baru yang aman untuk mereka tinggali. Bukan sebuah persoalan yang mudah. Meskipun musuhnya, Koba (Toby Kebbell – lewat penggunaan performance-capture technology), telah tewas, namun para pengikutnya masih senantiasa mencoba untuk menjatuhkan Caesar dari singgasananya. Para pengikut Koba bahkan telah bekerjasama dengan pihak manusia – faksi militer yang menamakan dirinya Alpha-Omega yang bertujuan untuk memusnahkan populasi para kera yang dianggap memiliki potensi untuk menyebarkan sebuah penyakit berbahaya yang belum ditemukan obatnya. Dan ancaman tersebut kian nyata setelah pimpinan Alpha-Omega yang disebut sebagai The Colonel (Woody Harrelson) mulai mengetahui dimana letak persembunyian Caesar dan kawanan keranya. Continue reading Review: War for the Planet of the Apes (2017)

Advertisements

Review: Gold (2016)

Terinsipirasi dari sebuah kisah nyata skandal penipuan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan mineral Kanada yang juga melibatkan pemerintahan Indonesia di tahun 1997, film teranyar arahan sutradara asal Amerika Serikat, Stephen Gaghan (Syriana, 2005), berkisah mengenai Kenny Wells (Matthew McConaughey), seorang pengusaha di bidang mineral alam yang sedang mengalami kesulitan finansial. Dalam usaha terakhir untuk mempertahankan perusahaan yang diwariskan oleh sang ayah kepadanya, Kenny Wells lantas menghubungi seorang geolog bernama Michael Acosta (Édgar Ramírez) yang memiliki keyakinan bahwa ia telah menemukan sebuah tambang emas di pedalaman hutan Kalimantan, Indonesia yang masih belum disentuh dan diketahui khalayak luas. Berbekal hanya dengan keyakinannya, serta hasil meminjam dana bantuan dari banyak pihak, Kenny Wells dan Michael Acosta akhirnya melakukan perjalanan ke wilayah yang diduga memiliki sumber emas dan memulai masa penggalian mereka. Setelah sekian lama menggali, Michael Acosta ternyata berhasil membuktikan kebenaran teorinya: wilayah pedalaman hutan Kalimantan tersebut memiliki sumber emas – bahkan merupakan sumber emas terbesar yang pernah ditemukan di dunia. Keuntungan komersial jelas dapat dengan mudah mereka raih. Namun, di saat yang bersamaan, beberapa pihak yang ingin turut ambil bagian keuntungan dari temuan Kenny Wells dan Michael Acosta tersebut mulai melancarkan strategi mereka untuk mendekati keduanya. Continue reading Review: Gold (2016)

Review: Kong: Skull Island (2017)

Setelah Godzilla (Gareth Edwards, 2014), rumah produksi Legendary Pictures melanjutkan ambisinya dalam membangun MonsterVerse dengan Kong: Skull Island. Film yang diarahkan oleh Jordan Vogt-Roberts (The Kings of Summer, 2013) ini merupakan reboot dari seri film King Kong yang pertama kali diproduksi Hollywood pada tahun 1933 dan sempat memiliki sejumlah sekuel sekaligus diulangbuat beberapa kali. Pengisahan Kong: Skull Island sendiri memiliki perspektif yang berbeda jika dibandingkan dengan film-film dalam seri King Kong sebelumnya – meskipun masih tetap menghadirkan beberapa tribut terhadap alur kisah klasik King Kong dalam beberapa adegan maupun konfliknya. Namun, tidak seperti Godzilla garapan Edwards yang cukup mampu membagi porsi penceritaan antara karakter-karakter manusia dengan monster-monster yang dihadirkan, Kong: Skull Island justru terasa lebih menginginkan agar penonton berfokus penuh pada karakter Kong dan kehidupan yang berada di sekitarnya. Sebuah pilihan yang kemudian membuat karakter-karakter manusia dalam jalan penceritaan film ini menjadi sama sekali tidak berguna kehadirannya. Continue reading Review: Kong: Skull Island (2017)

Review: The Counselor (2013)

the-counselor-header

Setelah sebelumnya bekerjasama lewat Prometheus (2012), Michael Fassbender kini kembali berada di bawah arahan Ridley Scott untuk film terbaru yang diarahkannya, The Counselor. Dalam film ini, Fassbender berperan sebagai seorang pengacara tampan dan sukses yang dalam kesehariannya dipanggil dengan sebutan sang konselor – dan nama karakternya sama sekali tidak pernah diungkap hingga akhir film. Atas saran sahabatnya, seorang pengusaha – sekaligus pengedar obat-obatan terlarang, Reiner (Javier Bardem), yang selalu menilai bahwa sang konselor kurang mampu mengembangkan harta dan posisi yang dimilikinya saat ini, sang konselor lalu memutuskan untuk turut terlibat dalam perdagangan obat-obatan terlarang yang menjanjikan keuntungan sangat besar.  Meskipun menguntungkan, rekan bisnis sang konselor, Westray (Brad Pitt), mengingatkan bahwa bisnis haram tersebut sangat beresiko tinggi mengingat sang konselor akan berhubungan langsung dengan kartel obat-obatan terlarang asal Meksiko yang dikenal tidak ragu untuk mengambil tindakan kekerasan jika mereka merasa dirinya terancam. Tetap saja, sang konselor memilih untuk terjun dan terlibat dalam bisnis perdagangan gelap tersebut.

Continue reading Review: The Counselor (2013)

Review: Wrath of the Titans (2012)

Dengan pendapatan lebih dari US$400 juta yang diperoleh Clash of the Titans (2010) selama masa rilisnya di seluruh dunia, adalah sangat mudah untuk memahami keputusan para produser film tersebut yang kemudian ingin melanjutkan kesuksesan tersebut dengan memproduksi sebuah sekuel – walaupun dari sisi kritikal, Clash of the Titans dapat digolongkan sebagai sebuah kegagalan dan hampir dapat dengan mudah dilupakan banyak orang keberadaannya. Mengangkat mengenai mitos dewa-dewa Yunani yang sebenarnya sangat menarik, Louis Leterrier sayangnya gagal untuk memberikan sebuah sentuhan yang menarik dalam penceritaannya. Posisi Leterrier sendiri di sekuel Clash of the Titans, Wrath of the Titans, kini digantikan oleh Jonathan Liebesman (World Invasion: Battle Los Angeles, 2011). Sayangnya, Liebesman sendiri sepertinya juga tidak dapat melakukan banyak hal untuk dapat meningkatkan kualitas penceritaan franchise ini.

Continue reading Review: Wrath of the Titans (2012)

Review: The Sorcerer’s Apprentice (2010)

Sukses besar dengan franchise National Treasure ternyata membuat Walt Disney Pictures kembali membentuk kerjasama dengan produser Jerry Bruckheimer dan sutradara Jon Turteltaub. Tak lupa turut membawa juga aktor Nicolas Cage untuk duduk di kursi pemeran utama, Walt Disney akhirnya memilih The Sorcerer’s Apprentice, yang merupakan sebuah adaptasi bebas dari salah satu segmen di film animasi buatan mereka, Fantasia (1940), untuk dapat dikembangkan sebagai sebuah franchise film baru di masa yang akan datang.

Continue reading Review: The Sorcerer’s Apprentice (2010)

Review: Prince of Persia: The Sands of Time (2010)

Ketika Walt Disney Pictures pertama kali mengumumkan rencananya bekerjasama dengan Jerry Bruckheimer untuk mengubah salah satu theme park di Disneyland menjadi sebuah film, tentu tidak akan ada yang menyangka bahwa Pirates of the Caribbean akan menjadi sebuah film yang selain menyenangkan untuk dilihat, juga memberikan keuntungan luar biasa bagi rumah produksi tersebut. Sekarang, Disney dan Bruckheimer kembali bekerjasama untuk memberikan sebuah petualangan baru bagi para penontonnya. Kali ini, bukan untuk menggubah sebuah theme park, melainkan sebuah permainan video game populer, Prince of Persia.

Continue reading Review: Prince of Persia: The Sands of Time (2010)