Tag Archives: Taron Egerton

Review: Kingsman: The Golden Circle (2017)

Can you believe there are actually five Academy Awards winnersWell yes of course that includes Sir Elton John – appear to support this sequel to 2015’s Matthew Vaughn-directed hit, Kingsman: The Secret Service? Bukan hal yang cukup mengejutkan sebenarnya. Dengan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$414 juta dari bujet produksi yang “hanya” mencapai US$94 juta, Vaughn jelas memiliki kebebasan yang lebih besar untuk menarik nama-nama berkelas untuk mengisi departemen akting film kedua dari seri film Kingsman, Kingsman: The Golden Circle. Namun, tentu saja, penampilan akting terbaik sekalipun tidak akan cukup jika sebuah film tidak didukung oleh kualitas penulisan naskah cerita yang sama kuatnya. Hal itulah yang, sayangnya, terjadi pada Kingsman: The Golden Circle. Menampilkan penampilan apik dari nama-nama seperti Colin Firth, Julianne Moore, Jeff Bridges dan Halle Berry, Kingsman: The Golden Circle tidak mampu untuk tampil semenyenangkan film pendahulunya akibat kurangnya sentuhan maupun kejutan baru pada formula pengisahan film mata-mata yang digarap oleh Vaughn. Continue reading Review: Kingsman: The Golden Circle (2017)

Advertisements

Review: Sing (2016)

Di sepanjang karirnya sebagai seorang sutradara musik video, Garth Jennings telah menghasilkan beberapa musik video yang cukup mengesankan seperti Freedom (Robbie Williams, 1996), Right Here, Right Now (Fatboy Slim, 1999), Coffee & TV (Blur, 1999) hingga Imitation of Life (R.E.M., 2001) dan Lotus Flower (Radiohead, 2011). Kesuksesannya tersebut lantas membuat Jennings mencoba peruntungannya dalam mengarahkan film layar lebar. Film layar lebar perdana yang ia arahkan, The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy (2005), mendapatkan sambutan yang cukup beragam, baik dari kalangan kritikus maupun para penikmat film. Film keduanya, Son of Rambow (2007), bernasib sedikit lebih baik. Meskipun gagal untuk mendapatkan jumlah penonton dalam jumlah yang lebih luas, film komedi tersebut cukup berhasil membuat banyak kritikus film memberikan pujian pada Jennings. Continue reading Review: Sing (2016)

Review: Testament of Youth (2015)

testament-of-youth-posterSejujurnya, adalah cukup sulit untuk tidak memberikan perbandingan langsung antara Atonement (Joe Wright, 2007) dengan Testament of Youth. Tidak hanya karena keduanya merupakan period movie yang diadaptasi dari dua karya sastra popular, baik Atonement dan Testament of Youth juga sama-sama berkisah tentang perang yang mempengaruhi kehidupan asmara pasangan yang menjadi karakter utama kedua film. Meskipun dirilis jauh setelah perilisan Atonement, Testament of Youth sendiri merupakan sebuah film drama yang mendasarkan kisahnya pada buku berjudul sama karya Vera Brittain yang dirilis pertama kali pada tahun 1933 dan berisi tentang kisah nyata perjalanan kehidupan penulis wanita legendaris asal Inggris tersebut ketika Perang Dunia I sedang berlangsung. Sayangnya, kembali pada perbandingan terhadap Atonement, Testament of Youth gagal untuk mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Hasilnya, meskipun hadir dengan material yang memiliki begitu banyak peluang untuk menghasilkan pengisahan yang emosional, Testament of Youth cenderung tampil datar pada kebanyakan bagian penceritaannya.

Memulai kisahnya dengan latar belakang masa pengisahan pada tahun 1914 – masa ketika para gadis remaja hanya diharapkan tumbuh dewasa untuk menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anak mereka, Vera Brittain (Alicia Vikander) muncul sebagai sosok gadis cerdas yang memberontak pada ayah dan ibunya (Dominic West dan Emily Watson) dan meminta agar dirinya diizinkan untuk turut berkuliah di Somerville College, Oxford bersama dengan kakak lelakinya, Edward (Taron Egerton). Meski awalnya menilai hal tersebut akan menjadi suatu perbuatan yang sia-sia belaka, Vera akhirnya diperbolehkan untuk meneruskan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Di sana, Vera mengasah kemampuannya dalam menulis. Tidak hanya itu, gadis cantik tersebut juga berkenalan dengan seorang pemuda bernama Roland Leighton (Kit Harrington) dan bahkan kemudian menjalin hubungan asmara dengannya. Sayang, ketika Perang Dunia I memulai pergerakannya, hubungan asmara antara Vera dan Roland mulai menemui berbagai ujian terbesarnya.

Testament of Youth sesungguhnya bukanlah sebuah film yang buruk. Bahkan, tidak seperti Atonement yang murni berkisah sebagai sebuah drama romansa, Testament of Youth memilih untuk turut tampil tegas sebagai sebuah film yang mengisahkan mengenai usaha dan kekuatan dari seorang wanita untuk menunjukkan ketangguhan dirinya pada era dimana para wanita hanya dipandang sebelah mata dalam lingkungan tempat keberadaan mereka. Pengarahan dari James Kent yang sayangnya membuat berbagai potensi dalam penceritaan Testament of Youth terasa menguap begitu saja. Arahan Kent tampil begitu datar, tanpa pernah sekalipun mampu menggali berbagai sudut konflik yang dialami oleh karakter-karakternya secara mendalam atau bahkan membuat karakter-karakternya tampil sebagai sosok yang layak untuk diikuti jalan hidupnya. Pengarahan Kent, yang melakukan debut pengarahan film layar lebarnya melalui film ini, berjalan terlalu aman dalam mengikuti berbagai formula drama romansa yang telah berulangkali dieksplorasi oleh film-film sejenis sehingga tidak mampu membuat Testament of Youth terasa lebih istimewa kehadirannya.

Pengarahan Kent juga bukanlah satu-satunya hal yang cukup mengecewakan dalam presentasi film ini. Sebagai sebuah jalan cerita yang diadaptasi dari sebuah buku legendaris yang terus diterbitkan dan menjadi salah satu buku bacaan wajib bagi para penduduk Inggris hingga saat ini, naskah cerita buatan Juliette Towhidi juga terasa memiliki lingkup pengisahan yang terlalu terbatas. Towhidi seringkali terlihat berusaha untuk menyajikan tema-tema yang lebih luas dari sekedar kisah romansa dalam jalan ceritanya seperti rasa persahabatan yang kental, efek perang terhadap mereka yang terlibat di dalamnya hingga feminisme. Namun, di saat yang bersamaan, Towhidi gagal untuk mengeksplorasi tema-tema “berat” tersebut secara lebih mendalam sehingga berlalu begitu saja tanpa kesan yang kuat. Karakter-karakter pendukung yang berada di sekitar karakter Vera Brittain juga gagal dihadirkan dengan lebih berwarna sehingga seringkali tidak mampu memberikan kontribusi yang lebih berarti pada kualitas penceritaan secara keseluruhan.

Beruntung, Testament of Youth dianugerahi jajaran pengisi departemen akting yang mampu hadir dengan kualitas penampilan yang maksimal. Well… mungkin Anda tidak akan mendapatkan kualitas chemistry yang begitu mengikat seperti halnya pada penampilan Keira Knightley dan James McAvoy pada Atonement namun baik Alicia Vikander dan Kit Harrington mampu hadir dengan penampilan yang prima. Satu hal yang cukup mengherankan adalah ketika menyaksikan chemistry antara Vikander dan Taron Egerton yang berperan sebagai kakak lelakinya terasa lebih erat dan meyakinkan daripada chemistry yang dihasilkan Vikander bersama Harrington. Pemeran pendukung lain seperti Dominic West, Emily Watson, Miranda Richardson, Colin Morgan hingga Hayley Atwell tampil mengesankan meskipun dengan porsi penceritaan yang terbatas. Kent juga mampu menyajikan Testament of Youth dengan kualitas produksi yang berkelas yang setidaknya akan membuat film ini tampil tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan film-film period lain yang berada dalam kelasnya. [C]

Testament of Youth (2015)

Directed by James Kent Produced by Rosie Alison, David Heyman Written by Juliette Towhidi (screenplay), Vera Brittain (book, Testament of Youth) Starring Alicia Vikander, Kit Harington, Colin Morgan, Taron Egerton, Dominic West, Emily Watson, Joanna Scanlan, Hayley Atwell, Jonathan Bailey, Alexandra Roach, Anna Chancellor, Miranda Richardson, Charlotte Hope Music by Max Richter Cinematography Rob Hardy Editing by Lucia Zucchetti Studio BBC Films/Heyday Films Running time 129 minutes Country United Kingdom Language English

Review: Kingsman: The Secret Service (2015)

kingsman-the-secret-service-posterDo you like spy movies?”

Nowadays they’re all a little serious for my taste.”

Yep. Dialog yang terjadi antara karakter Richmond Valentine (Samuel L. Jackson) dan Harry Hart (Colin Firth) dalam salah satu adegan Kingsman: The Secret Service dengan jelas menggambarkan apa yang ingin ditunjukkan oleh sutradara Matthew Vaughn (X-Men: First Class, 2011) dalam film mata-mata garapannya. Dan benar, lewat satir sekaligus tribut tentang film mata-mata yang disajikannya dengan deretan adegan yang dipenuhi dengan aksi sekaligus darah dalam ritme penceritaan yang cepat, Vaughn berhasil menghadirkan sebuah film mata-mata yang tidak hanya mampu tergarap dengan baik namun juga sangat, sangat menyenangkan untuk diikuti petualangannya.

Dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Vaughn dan Jane Goldman – yang sebelumnya sempat bekerjasama lewat Stardust (2007) – dari seri buku komik berjudul The Secret Service karya Mark Millar dan Dave Gibbons, Kingsman: The Secret Service memiliki seluruh elemen yang selalu hadir dalam seri film James Bond: seorang agen rahasia yang berpenampilan stylish, tempat persembunyian yang berada di lokasi yang sama sekali tidak terduga, perangkat senjata yang canggih dan sangat mematikan hingga karakter antagonis maniak yang berniat untuk menguasai dunia. Namun, tidak seperti halnya seri James Bond, Vaughn menghadirkannya dalam nada penceritaan layaknya Kick-Ass (2010) yang muda, penuh gairah, humor kelam yang menghibur, ritme penceritaan yang berjalan dengan cepat plus dipenuhi dengan genangan darah dan potongan tubuh manusia.

Juga berbeda dengan kebanyakan film yang berkisah tentang para mata-mata, Vaughn dan Goldman mampu mengemas setiap karakter dalam Kingsman: The Secret Service dengan begitu baik. Setiap karakter, termasuk karakter-karakter pendukung, dihadirkan secara humanis, memiliki perasaan dan motivasi yang akan membuat para penonton dengan mudah terhubung dengan mereka. Di sisi lain, fokus yang diberikan pada beberapa karakter pendukung dengan latar penceritaan yang kurang menarik justru menghambat ritme penceritaan film di beberapa bagian. Walau sama sekali tidak mengurangi kesolidan kualitas penceritaan secara keseluruhan, namun harus diakui bahwa banyaknya karakter pendukung dalam jalan cerita membuang cukup banyak durasi penceritaan. Dari sisi teknikal, Vaughn menghadirkan Kingsman: The Secret Service dalam kualitas yang berkelas. Setiap adegan aksi dalam film mampu tergarap dengan tata koreografi aksi yang kuat dan akan mampu menarik penuh perhatian para penonton.

Tentu saja, dengan deretan karakter yang telah tergambarkan dengan baik, Vaughn juga berhasil menghadirkan deretan pengisi departemen akting yang mampu menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan dengan meyakinkan. Berada di barisan terdepan adalah duo Colin Firth dan aktor muda Taron Egerton. Berperan sebagai seorang agen rahasia senior yang mampu melakukan apa saja demi menyelesaikan misi yang telah ditugaskan padanya – termasuk deretan adegan aksi yang jelas jauh dari imej Firth sebagai seorang aktor selama ini – Firth tampak begitu nyaman dalam perannya. Pesona Firth sebagai seorang aktor memang tampil memukau dan Vaughn mampu memanfaatkan pesona tersebut untuk menjadikan karakter Harry Hart yang diperankan Firth menjadi karakter yang begitu mudah disukai (sekaligus sangat mematikan).

Meskipun tergolong wajah baru, Taron Egerton mampu hadir dengan kapabilitas akting yang dapat hadir setimpal dengan penampilan Firth. Adalah dapat diprediksi dengan mudah, dengan penampilan fisiknya yang tampan serta kemampuan aktingnya yang cukup berkualitas, Egerton adalah wajah baru yang akan segera diincar oleh banyak produser film Hollywood. Samuel L. Jackson tampil kuat sebagai karakter antagonis utama namun pemeran karakter asistennya-lah, Sofia Boutella, yang berhasil mencuri perhatian sebagai sosok wanita yang sangat mematikan. Penampilan lain dalam departemen akting Kingsman: The Secret Service juga hadir dari paduan nama-nama populer dan segar di dunia perfilman seperti Mark Strong, Michael Caine, Mark Hamill, Sophie Cookson hingga Jack Davenport. [B-]

Kingsman: The Secret Service (2015)

Directed by Matthew Vaughn Produced by Adam Bohling, David Reid, Matthew Vaughn Written by Mathew Vaughn, Jane Goldman (screenplay), Mark Millar, Dave Gibbons (comic book, The Secret Service) Starring Colin Firth, Taron Egerton, Samuel L. Jackson, Mark Strong, Michael Caine, Sophie Cookson, Sofia Boutella, Mark Hamill, Jack Davenport, Samantha Womack, Geoff Bell, Edward Holcroft, Nicholas Banks, Jack Cutmore-Scott, Tom Prior, Fiona Hampton, Hanna Alström, Bjørn Floberg, Richard Brake, Alex Nikolov Music by Henry Jackman, Matthew Margeson Cinematography George Richmond Edited by Eddie Hamilton, Jon Harris, Conrad Buff IV Production company Marv Films Running time 129 minutes Country United Kingdom, United States Language English