Tag Archives: Stan Lee

Review: Thor: Ragnarok (2017)

Masih ingat dengan Thor: The Dark World (Alan Taylor, 2013)? Well… tidak akan ada yang menyalahkan jika Anda telah melupakan sepenuhnya mengenai jalan cerita maupun pengalaman menonton dari sekuel perdana bagi film yang bercerita tentang Raja Petir dari Asgard tersebut. Berada di bawah arahan Taylor yang mengambil alih kursi penyutradaraan dari Kenneth Branagh, Thor: The Dark World harus diakui memang gagal untuk melebihi atau bahkan menyamai kualitas pengisahan film pendahulunya. Tidak berniat untuk mengulang kesalahan yang sama, Marvel Studios sepertinya berusaha keras untuk memberikan penyegaran bagi seri ketiga Thor, Thor: Ragnarok: mulai dari memberikan kesempatan pengarahan pada sutradara Taika Waititi yang baru saja meraih kesuksesan lewat dua film indie-nya, What We Do in the Shadows (2014) dan Hunt for the Wilderpeople (2016), menghadirkan naskah cerita yang menjauh dari kesan kelam, hingga memberikan penampilan-penampilan kejutan dalam presentasi filmnya. Berhasil? Mungkin. Continue reading Review: Thor: Ragnarok (2017)

Advertisements

Review: Spider-Man: Homecoming (2017)

Spider-Man: Homecoming adalah usaha terbaru dari Columbia Pictures untuk memberikan penyegaran (sekaligus mempertahankan) seri film Spider-Man dalam daftar rilisan rumah produksi tersebut. Hal ini bukanlah kali pertama Columbia Pictures melakukannya. Dalam rentang waktu tahun 2012 hingga 2014, rumah produksi milik Sony Pictures Entertainment tersebut merilis dwilogi The Amazing Spider-Man garapan Marc Webb yang dimaksudkan sebagai reboot bagi trilogi Spider-Man arahan Sam Raimi yang berhasil meraih sukses besar ketika dirilis dari tahun 2002 hingga 2007. Sayangnya, baik The Amazing Spider-Man maupun The Amazing Spider-Man 2 gagal untuk meraih kesuksesan yang sama besarnya dengan trilogi Spider-Man milik Raimi. Belajar dari “kesalahan” tersebut, Columbia Pictures lantas memilih untuk turut melibatkan langsung Marvel Studios dalam pembuatan Spider-Man: Homecoming – sebuah kerjasama yang dimulai dengan kehadiran sang manusia laba-laba pada Captain America: Civil War (Anthony Russo, Joe Russo, 2016). Penampilan singkat Spider-Man dalam Captain America: Civil War memang berhasil mencuri perhatian tapi apakah keberadaan Marvel Studios mampu memberikan dorongan positif bagi performa Spider-Man dalam film tunggalnya? Continue reading Review: Spider-Man: Homecoming (2017)

Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)

Ketika dunia pertama kali berkenalan dengan Peter Quill (Chris Pratt) pada Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2014), pria yang juga menjuluki dirinya sebagai Star-Lord tersebut masih dikenal sebagai bagian dari sekelompok pencuri dan penyelundup barang-barang antik antar galaksi yang dikenal dengan sebutan The Ravagers pimpinan Yondu Udonta (Michael Rooker). Diiringi dengan lagu-lagu bernuansa rock klasik dari era ‘70an, Peter Quill bersama dengan rekan-rekan yang juga memiliki reputasi sama buruk dengan dirinya, Gamora (Zoe Saldana), Drax the Destroyer (Dave Bautista), Rocket (Bradley Cooper) dan Groot (Vin Diesel), kemudian mendadak dikenal sebagai sosok pahlawan ketika mereka berhasil menyelamatkan seluruh isi galaksi dari serangan Ronan the Accuser (Lee Pace). Daya tarik komikal dari Guardians of the Galaxy yang mampu berpadu dengan pengarahan Gun yang begitu dinamis – dan citarasa musiknya yang eklektis – berhasil mengenalkan karakter-karakter Guardians of the Galaxy yang awalnya kurang begitu populer menjadi dikenal khalayak penikmat film dalam skala yang lebih luas, melambungkan nama Pratt ke jajaran aktor papan atas Hollywood, membuat semua orang jatuh cinta dengan lagu-lagu rock klasik lewat album Guardians of the Galaxy: Awesome Mix Vol. 1 yang berhasil terjual sebanyak lebih dari dua juta keping, dan, dengan pendapatan sebesar US$773.3 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia, menjadikan Guardians of the Galaxy sebagai awal dari sebuah seri film baru yang cukup penting dalam barisan panjang film-film produksi Marvel Studios. Continue reading Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)

Review: Ant-Man (2015)

ant-man-posterJika barisan pahlawan super dan berbagai varian yang telah dikenal selama ini masih belum mampu memuaskan Anda… wellmeet Ant-Man. Seperti halnya Captain America: The Winter Soldier (Anthony Russo dan Joe Russo, 2014) atau Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2014) atau Avengers: Age of Ultron (Joss Whedon, 2015), Ant-Man juga merupakan satu karakter pahlawan super yang kisahnya diadaptasi dari seri komik terbitan Marvel Comics. Pertama kali dirilis ke hadapan publik pada tahun 1962, usaha untuk mengangkat kisah Ant-Man ke layar lebar sendiri telah dimulai semenjak akhir tahun 1980an. Namun, baru semenjak tahun 2003 ketika sutradara Edgar Wright (Scott Pilgrim vs. The World, 2010) bersama dengan rekan penulis naskahnya, Joe Cornish, memulai usaha untuk membangun penceritaan untuk Ant-Man, adaptasi kisah untuk versi layar lebar dari Ant-Man baru mulai benar-benar berjalan. Dengan naskah cerita final yang juga dibantu oleh sentuhan komedi Adam McKay (The Other Guys, 2010) dan Paul Rudd, Ant-Man akhirnya memulai masa produksinya pada akhir tahun 2014 dengan arahan sutradara Peyton Reed (Yes Man, 2008) untuk dipersiapkan sebagai salah satu sentuhan akhir bagi fase kedua dari Marvel Cinematic Universe.

Jika Peter Parker adalah Spider-Man dan Steve Rogers adalah Captain America dan Bruce Banner adalah Hulk, maka Scott Lang (Paul Rudd) adalah kepribadian yang berada di balik kostum Ant-Man. Who’s Scott Lang? Scott Lang adalah seorang mantan narapidana yang kemudian dipilih oleh seorang ilmuwan bernama Hank Pym (Michael Douglas) untuk mengenakan kostum Ant-Man yang ia ciptakan. Dengan kostum tersebut, Scott Lang memiliki kekuatan untuk mengecilkan tubuhnya setara dengan ukuran… well… semut, obviously, sekaligus berbagai kekuatan lainnya. Hank Pym sendiri memberikan kostum Ant-Man tersebut pada Scott Lang bukannya tanpa alasan. Hank Pym berniat untuk menghalangi proyek mantan muridnya, Darren Cross (Corey Stoll), yang meniru formula Ant-Man yang diciptakannya untuk kemudian dijual kepada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan dapat mengancam perdamaian dunia.

Layaknya kebanyakan bagian awal dari sebuah seri film yang berkisah tentang seorang pahlawan super, Ant-Man juga menghabiskan sebagian durasi penceritaannya untuk menggali lebih dalam mengenai sosok karakter yang berada di balik tokoh Ant-Man sekaligus karakter-karakter lain yang berada di kehidupannya. Tentu, jika dibandingkan dengan kebanyakan film rilisan Marvel Studios sebelumnya yang tampil maksimal dalam penggarapan deretan adegan aksinya yang bombastis, tampilan Ant-Man yang hadir dengan ritme penceritaan yang sederhana dan lebih menekankan unsur drama akan memberikan sedikit kejutan bagi para penontonnya, khususnya mereka yang mungkin telah cukup familiar dengan film-film yang berada dalam Marvel Cinematic Universe. Buruk? Sama sekali tidak. Perubahan warna penceritaan yang dibawa Ant-Man justru memberikan kejutan yang menyegarkan sekaligus jeda yang mungkin memang dibutuhkan oleh sejenis.

Jangan khawatir. Ant-Man masih mampu menghadirkan deretan adegan aksi yang tergarap dengan cukup baik dalam banyak bagian penceritaannya. Namun, adalah unsur drama dan komedi yang menjadikan Ant-Man tampil begitu memikat. Jika selama ini unsur komedi hanya menjadi formula tambahan dalam film-film rilisan Marvel Studios, maka Ant-Man menjadikan formula tersebut sebagai bahan utamanya, meracik tiap adegan dan dialog dengan sentuhan komedi yang kental walaupun sama sekali tidak pernah melepaskan identitas sejatinya sebagai sebuah film bertemakan pahlawan super buatan Marvel Studios. Naskah cerita garapan Wright, Cornish, McKay dan Rudd mampu tersusun dengan baik untuk mengenalkan sang karakter pahlawan super kepada penonton. Begitu pula dengan eksekusi Reed atas naskah cerita tersebut yang – meskipun masih terasa datar pada bagian akhir paruh pertama hingga pertengahan paruh kedua penceritaan – menjadikan Ant-Man sebagai sebuah sajian kisah yang sangat menarik dan menghibur.

Kelihaian Marvel Studios dalam memilih deretan aktor yang tepat untuk menghidupkan karakter-karakter mereka juga sekali lagi menjadi poin keunggulan tersendiri bagi Ant-Man. Paul Rudd tampil begitu mengesankan sebagai Scott Lang/Ant-Man. Kharismanya yang kuat mampu membuat karakternya sebagai sosok pria/ayah/pahlawan super menjadi begitu humanis sekaligus mudah untuk disukai. Chemistry yang dijalin Rudd dengan para pemeran lain juga menjadikan naskah cerita Ant-Man yang cukup bergantung pada deretan dialognya tampil dinamis dalam presentasinya. Para pemeran pendukung seperti Michael Douglas, Evangeline Lilly hingga Corey Stoll juga hadir dengan penampilan akting yang prima. Namun adalah Michael Peña yang seringkali hadir dan mencuri perhatian dengan penampilan komikalnya. Peran Peña memang harus diakui cukup terbatas. Meskipun begitu, Peña mampu mengeksekusi setiap bagian kisahnya dengan begitu baik. [B-]

Ant-Man (2015)

Directed by Peyton Reed Produced by Kevin Feige Written by Edgar Wright, Joe Cornish, Adam McKay, Paul Rudd (screenplay), Edgar Wright, Joe Cornish (story), Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby (comic book, Ant-Man) Starring Paul Rudd, Evangeline Lilly, Corey Stoll, Bobby Cannavale, Michael Peña, Tip “T.I.” Harris, Anthony Mackie, Wood Harris, Judy Greer, David Dastmalchian, Michael Douglas, John Slattery, Hayley Atwell, Abby Ryder, Gregg Turkington, Martin Donovan, Garrett Morris, Stan Lee, Chris Evans, Sebastian Stan, Hayley Lovitt Music by Christophe Beck Cinematography Russell Carpenter Edited by Dan Lebental, Colby Parker, Jr. Studio Marvel Studios Running time 117 minutes Country United States Language English

Review: Avengers: Age of Ultron (2015)

avengers-age-of-ultron-posterSetelah kesuksesan luar biasa dari The Avengers (2012) – yang tidak hanya berhasil meraih pujian luas dari banyak kritikus film dunia namun juga mampu menarik perhatian penonton dan menjadikannya sebagai film dengan kesuksesan komersial terbesar ketiga di dunia setelah Avatar (2009) dan Titanic (1997) – kumpulan pahlawan dari Marvel Comics kembali hadir lewat Avengers: Age of Ultron. Masih disutradarai oleh Joss Whedon, Avengers: Age of Ultron memberikan sedikit perubahan radikal dalam warna penceritaannya. Berbeda dengan The Avengers yang menghadirkan banyak sentuhan komedi melalui deretan dialognya, film yang juga menjadi film kesebelas dalam rangkaian film dari Marvel Cinematic Universe ini tampil dengan deretan konflik yang lebih kompleks sekaligus kelam dari pendahulunya – atau bahkan dari seluruh film-film produksi Marvel Studios sebelumnya. Sebuah pilihan yang cukup beresiko dan, sayangnya, gagal untuk dieksekusi secara lebih dinamis oleh Whedon.

Dalam Avengers: Age of Ultron, Tony Stark (Robert Downey, Jr.) bekerjasama dengan Bruce Banner (Mark Ruffalo) untuk menghasilkan sebuah teknologi kecerdasan buatan yang awalnya ditujukan untuk membantu The Avengers dalam melaksanakan setiap tugas mereka. Sial, program yang diberi nama Ultron (James Spader) tersebut justru berbalik arah. Dengan tingkat kecerdasan tinggi yang diberikan kepadanya, Ultron justru merasa bahwa The Avengers adalah ancaman bagi kedamaian dunia dan akhirnya memilih untuk memerangi mereka. Dibantu dengan pasangan kembar Pietro (Aaron Taylor-Johnson) yang memiliki kecepatan super dan Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen) yang memiliki kemampuan untuk memanipulasi jalan pemikiran orang lain, Ultron memberikan sebuah tantangan berat yang tidak hanya mengancam keberadaan The Avengers namun juga keberadaan seluruh umat manusia yang ada di atas pemukaan Bumi.

Pilihan untuk tampil “lebih dewasa” lewat jalan penceritaan lebih kompleks dan kelam yang dituliskan oleh Joss Whedon sendiri sebenarnya bukanlah sebuah pilihan yang buruk untuk Avengers: Age of Ultron. Namun, dengan banyaknya karakter serta beberapa konflik personal lain yang masih tetap ingin diberikan ruang penceritaan khusus oleh Whedon, Avengers: Age of Ultron akhirnya justru terasa dibebani terlalu banyak permasalahan dengan ruang yang lebih sempit bagi konflik-konflik tersebut untuk berkembang dan hadir dengan porsi cerita yang memuaskan. Ketiadaan fokus yang kuat bagi setiap masalah yang dihadirkan inilah yang membuat Avengers: Age of Ultron terasa bertele-tele dalam mengisahkan penceritaannya dan akhirnya turut mempengaruhi pengembangan kisah personal beberapa karakter yang sebelumnya justru menjadi salah satu poin terbaik dari pengisahan The Avengers.

Berbicara mengenai Ultron, karakter antagonis yang satu ini harus diakui gagal tersaji secara lebih menarik jika dibandingkan dengan karakter antagonis dari seri sebelumnya, Loki. Terlepas dari kecerdasan luar biasa yang ia miliki, Ultron terasa hanyalah sebagai sebuah variasi karakter antagonis standar dalam film-film bertema sejenis yang berniat untuk memberikan ujian fisik dan mental bagi para karakter utama hingga akhirnya dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan hidup mereka: menjadi penguasa dunia. Vokal James Spader sendiri mampu memberikan warna karakteristik dingin yang sangat sesuai bagi Ultron namun hal tersebut tetap saja tidak mampu membuat Ultron tampil lebih menarik lagi.

Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, Avengers: Age of Ultron sendiri masih mampu dengan beberapa sentuhan humanis dalam penceritaannya. Beberapa plot pendukung seperti hubungan romansa yang sepertinya mulai terbangun antara karakter Bruce Banner dan Natasha Romanoff serta latar belakang keluarga yang dimiliki oleh karakter Clint Barton membuat sisi drama dari film ini tampil dengan kualitas yang cukup istimewa. Whedon, sayangnya, gagal memberikan porsi pengisahan yang sesuai untuk dua karakter baru, Pietro dan Wanda Maximoff, sehingga kehadiran keduanya seringkali terasa tidak lebih dari sekedar karakter tambahan tanpa esensi cerita yang cukup kuat untuk tampil lebih menarik.

Layaknya seri pendahulunya, Whedon masih mampu merangkai Avengers: Age of Ultron dengan kualitas departemen produksi yang sangat memikat. Jajaran pengisi departemen akting film ini juga hadir dengan penampilan akting yang semakin dinamis dengan chemistry yang semakin menguat antara satu dengan yang lain. Seandainya Whedon mau menghilangkan beberapa plot pendukung yang kurang esensial dan memilih untuk mengembangkan konflik utama film dengan lebih tajam, Avengers: Age of Ultron mungkin mampu hadir menyaingi kualitas penceritaan The Avengers – meskipun dengan nada penceritaan yang tetap hadir lebih kelam dan serius. Avengers: Age of Ultron tetap mampu memberikan beberapa momen khas film-film karya Marvel Studios yang akan dapat dinikmati penggemarnya. Namun lebih dari itu, film ini terasa dibebani terlalu banyak konflik yang akhirnya justru membuatnya gagal untuk berkembang dengan penceritaan yang lebih baik. [C]

Avengers: Age of Ultron (2015)

Directed by Joss Whedon Produced by Kevin Feige Written by Joss Whedon (screenplay), Zak Penn, Joss Whedon (story), Stan Lee, Jack Kirby (comics, The AvengersStarring Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Mark Ruffalo, Chris Evans, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Don Cheadle, Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen, Paul Bettany, Cobie Smulders, Anthony Mackie, Hayley Atwell, Idris Elba, Stellan Skarsgård, James Spader, Samuel L. Jackson,  Linda Cardellini, Thomas Kretschmann, Claudia Kim, Andy Serkis, Julie Delpy, Stan Lee Music by Brian Tyler, Danny Elfman Cinematography Ben Davis Editing by Jeffrey Ford, Lisa Lassek Studio Marvel Studios Running time 141 minutes Country United States Language English

Review: Captain America: The Winter Soldier (2014)

Captain America: The Winter Soldier (Marvel Studios, 2014)
Captain America: The Winter Soldier (Marvel Studios, 2014)

So what went wrong with Captain America: The First Avenger (2011)? Well… terlepas dari pemilihan Chris Evans yang benar-benar memiliki penampilan, kharisma dan kemampuan yang tepat untuk memerankan sang karakter utama, Captain America: The First Avenger tidak pernah benar-benar terasa sebagai sebuah film yang diperuntukkan kepada Captain America secara keseluruhan. Dengan penggalian karakter utama yang cukup terbatas serta paruh penceritaan lanjutan yang kemudian menghadirkan beberapa karakter ciptaan Marvel Comics yang telah terlebih dahulu meraih popularitasnya, Captain America: The First Avenger lebih kental terasa sebagai media publikasi untuk mengenalkan karakter Captain America kepada penonton dalam skala luas sebelum karakter tersebut akhirnya diikutsertakan dalam The Avengers (2012) – yang sekaligus menjadikan Captain America: The First Avenger terasa seperti promosi berdurasi 125 menit bagi The Avengers. Bukan sebuah presentasi yang benar-benar buruk namun kurang mampu untuk memberikan kesan esensial sebagai pemicu hadirnya sebuah franchise superhero yang baru.

Continue reading Review: Captain America: The Winter Soldier (2014)

Review: Thor: The Dark World (2013)

thor-the-dark-world-header

Let’s do a little recap. Terlepas dari pengalamannya yang lebih banyak mengarahkan film-film adaptasi dari karya sastra William Shakespeare, Marvel Studios memberikan kekuasaan pada Kenneth Branagh untuk mengarahkan Thor (2011) yang diadaptasi dari komik superhero berjudul sama karya Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby yang diproduksi oleh Marvel Comics. Dengan kelihaiannya dalam merangkai cerita sekaligus mengarahkan para jajaran pemerannya, Branagh berhasil menggarap Thor menjadi sebuah presentasi yang tidak hanya menghibur selayaknya film-film karya Marvel Studios lainnya namun juga tetap memiliki sisi penuturan drama yang kuat a la film-film Shakespeare yang pernah diarahkannya. Tidak mengherankan, Thor kemudian mampu meraih kesuksesan secara komersial, mendapatkan banyak pujian dari para kritikus film dunia sekaligus menjadi film produksi Marvel Studios terbaik hingga saat ini.

Continue reading Review: Thor: The Dark World (2013)

Review: Iron Man 3 (2013)

iron-man-3-header

Sowhat’s next for Marvel Studios after the huge success of that little movie called The Avengers (2012)? It’s the return of the Iron Man, apparently. Dan di bagian ketiga penceritaannya – yang masih dibintangi oleh Robert Downey, Jr., Gwyneth Paltrow dan Don Cheadle namun kini disutradarai oleh Shane Black (Kiss Kiss Bang Bang, 2005) yang menggantikan posisi Jon Favreau, Iron Man terkesan menyerap secara seksama pola penceritaan yang diterapkan Joss Whedon dalam The Avengers yakni dengan memasukkan lebih banyak unsur komedi ke dalam jalan penceritaannya. Hasilnya mungkin akan menghasilkan pendapat yang beragam dari banyak penggemar franchise ini. But then again… jelas sama sekali tidak ada salahnya untuk mengambil rute penceritaan yang berbeda ketika Anda sedang menangani sebuah tema yang telah begitu familiar. Khususnya ketika Anda mampu menanganinya dengan baik dan berhasil muncul dengan sebuah presentasi cerita yang benar-benar cerdas dan menghibur.

Continue reading Review: Iron Man 3 (2013)

Review: The Amazing Spider-Man (2012)

Apakah dunia benar-benar membutuhkan sebuah reboot dari kisah Spider-Man ketika franchise awal film tersebut masih berusia lima tahun? Memang, harus diakui bahwa Spider-Man 3 (2007) adalah sebuah kekacauan dari segi kualitas. Namun –  tidak seperti Batman & Robin (1997) yang benar-benar hancur baik dari segi kualitas maupun dari pendapatan komersial sehingga mampu menjustifikasi kehadiran Christopher Nolan dengan Batman Begins (2005) beberapa tahun kemudian – Spider-Man 3 masih mampu meraih pendapatan komersial sebesar lebih dari US$800 juta dari peredarannya di seluruh dunia. Jika Columbia Pictures ingin mendapatkan sebuah penyegaran dari franchise-nya – dan jika Sam Raimi, Tobey Maguire dan Kirsten Dunst tidak lagi berminat untuk melanjutkan peran mereka – bukankah lebih baik (dan masuk akal) jika kisah Spider-Man dilanjutkan namun dengan melibatkan nama-nama yang berbeda?

Continue reading Review: The Amazing Spider-Man (2012)

Review: Thor (2011)

Walau telah terbit dalam bentuk seri komik yang dirilis oleh Marvel Comics semenjak tahun 1966, tidak hingga tahun 2001 Thor akhirnya mampu menarik perhatian Hollywood untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Pun begitu, semenjak ditinggalkan oleh Sam Raimi – sutradara pertama yang berminat dan telah mengembangkan konsep cerita adaptasi kisah Thor ke layar lebar – Thor menjadi terbengkalai sebelum akhirnya hak adaptasi layar lebar dari seri komik tersebut dibeli oleh Paramount Pictures di tahun 2006. Setelah lagi-lagi ditinggalkan oleh beberapa sutradara, Kenneth Branagh akhirnya terpilih sebagai sutradara Thor di tahun 2008. Terkenal sebagai seorang yang bertangan dingin dalam mengadaptasi karya-karya William Shakespeare, Branagh ternyata memiliki kemampuan yang cukup hangat untuk menangani sebuah adaptasi kisah seri komik dan menjadikan Thor ringan dan menyenangkan untuk disaksikan namun tetap tidak kehilangan esensi ceritanya secara keseluruhan.

Continue reading Review: Thor (2011)