Tag Archives: Sakurta Ginting

Review: Nada untuk Asa (2015)

nada-untuk-asa-posterJelas adalah sebuah keputusan mudah untuk mengolah sebuah kisah tentang sekelompok karakter yang sedang mempertahankan hidup mereka dari satu penyakit menjadi sebuah drama tearjerker khas film-film Indonesia. Beruntung, Nada untuk Asa yang naskah ceritanya ditulis dan diarahkan oleh Charles Ghozali (Finding Srimulat, 2013) tidak lantas mengambil jalan pintas tersebut. Charles justru berusaha menjadikannya kisahnya menjadi kisah keseharian manusia biasa – hanya saja kali ini karakter-karakter manusia biasa tersebut hidup dengan HIV/AIDS. Keputusan yang kemudian mampu membuat Nada untuk Asa tampil bercerita secara humanis tanpa pernah terasa berusaha memaksa untuk menjadi sebuah sajian inspirasional maupun drama yang mendayu-dayu.

Jalan cerita Nada untuk Asa sendiri dihadirkan dalam dua bagian cerita yang mengisahkan tentang sesosok karakter wanita bernama Nada (Marsha Timothy) yang baru saja mendapati bahwa dirinya tertular HIV dari suaminya serta karakter wanita lain bernama Asa (Acha Septriasa) yang tertular HIV semenjak ia dilahirkan. Kedua cerita tentang dua karakter ini dihadirkan dalam mood penceritaan yang berbeda dan begitu kontras. Kisah hidup Nada dihadirkan dengan warna yang begitu kelam dalam menghadapi setiap tantangan hidup yang ia terima setelah dirinya menyadari bahwa dirinya tertular HIV sementara karakter Asa digambarkan sebagai sosok yang telah menerima keadaan dirinya dan menjalani kesehariannya layaknya manusia lainnya. Kekontrasan yang mencolok dan secara perlahan mempengaruhi kedalaman pengaruh cerita kepada penonton.

Jalan cerita dari karakter Nada jelas terasa lebih berisi dan padat dalam penyampaiannya. Aliran-aliran kesedihan dalam kisah hidupnya mampu dikemas dengan sangat baik. Begitu menyentuh. Hal inilah yang kemudian membuat jalan cerita karakter Asa terasa begitu kosong. Meskipun tetap mampu dieksekusi dengan baik oleh Charles Ghozali, namun kisah hidup karakter Asa terasa tidak memiliki kekuatan penceritaan yang sama dengan kisah dari karakter Nada. Menyaksikan Nada untuk Asa untuk Asa mungkin akan mengingatkan banyak penonton akan Julie & Julia (Nora Ephron, 2009) yang dibintangi Amy Adams dan Meryl Streep. Kedua garis cerita tentang dua orang karakter dalam linimasa waktu yang berbeda mampu dieksekusi dengan begitu baik namun garis cerita karakter Julia Child (Streep) terasa memiliki penyampaian drama yang lebih kuat.

Charles Ghozali juga mampu memanfaatkan kemampuan akting tiap jajaran pemeran filmnya dengan sangat baik. Di lini terdepan departemen aktingnya, Marsha Timothy dan Acha Septriasa tampil tanpa cela. Dengan porsi penceritaan yang lebih kuat, Marsha Timothy mampu menampilkan sosok karakternya yang tegar dengan begitu hidup dan kuat. Begitu pula dengan Acha Septriasa, yang meskipun hadir dalam kapasitas karakter yang sepertinya telah sering dilihat diperankan oleh aktris pemenang Piala Citra ini, namun tetap mampu dihadirkan dengan lugas dan menarik. Chemistry yang ia jalin dengan aktor Darius Sinathrya juga terasa cukup meyakinkan dan manis.

Nama-nama yang mengisi departemen akting film ini juga hadir dengan kapasitas akting yang luar biasa kuat. Mulai dari Nadila Ernesta, Mathias Muchus, Inong Nidya Ayu hingga Butet Kertaradjasa mampu memanfaatkan setiap momen penceritaan karakter mereka yang singkat dengan baik. Namun adalah Wulan Guritno yang berhasil menjadi pencuri perhatian utama dalam film ini – bahkan dari kedua aktris utama Nada untuk Asa. Meskipun hadir dalam durasi penceritaan yang singkat, Wulan mampu tampil dengan kekuatan drama yang memuncak. Sebuah penampilan yang begitu heartbreaking dan jelas tidak akan mudah dilupakan begitu saja dari film ini. Sebuah Piala Citra untuk Aktris Pendukung Terbaik mungkin telah menunggu Wulan Guritno di penghujung tahun ini. Mungkin. [C]

Nada untuk Asa (2015)

Directed by Charles Ghozali Produced by Hendrick Ghozali Written by Charles Ghozali Starring Acha Septriasa, Darius Sinathrya, Marsha Timothy, Nadila Ernesta, Mathias Muchus, Butet Kertaradjasa, Inong Nidya Ayu, Aurelia Devi, Linawati Halim Gozali, Bayu Oktora, Tony Taulo, Mohammad Zidane, Mallaki Bruno, Adila Azahra Putri, Wulan Guritno, Donny Damara, Irgi Fahrezi, Pongki Barata, Sakurta Ginting, Bisma Karisma Music by N.E.A.R Music Cinematography Harjono Parser Edited by Charles Ghozali, Ilham Adinatha Production company Magma Entertainment/Sahabat Positif! Komsos KAJ Running time 98 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Review: Negeri 5 Menara (2012)

Tidak salah jika Negeri 5 Menara kemudian mendapatkan perbandingan dalam skala berat terhadap film Laskar Pelangi (2008) yang legendaris itu. Sama-sama merupakan film dengan naskah cerita yang mengadaptasi sebuah novel popular, sama-sama mengisahkan mengenai perjuangan beberapa anak dari keluarga dari strata sosial menengah ke bawah yang mencoba untuk mencapai mimpi besar mereka serta, tentunya, sama-sama mengisahkan mengenai persahabatan erat yang kemudian terjalin antara mereka terlepas dari berbagai perbedaan yang terdapat dalam diri masing-masing, Negeri 5 Menara, sayangnya tidak memiliki kedalaman cerita seperti yang dimiliki Laskar Pelangi. Affandi Abdul Rachman (The Perfect House, 2011) kembali membuktikan kehandalannya dalam mengarahkan cerita dan para pengisi departemen akting filmnya. Namun jalan cerita yang minim konflik yang berarti membuat Negeri 5 Menara terasa tidak memiliki esensi cerita yang kuat untuk disampaikan.

Continue reading Review: Negeri 5 Menara (2012)

1st Indonesian Movie Bloggers Choice Awards Winners List

Film karya Lola Amaria, Minggu Pagi di Victoria Park, berhasil terpilih sebagai Film Jawara dalam 1st Indonesian Movie Bloggers Choice Awards. Film tersebut juga berhasil memenangkan Sutradara Jawara untuk Lola Amaria dan Pelakon Pendukung Wanita Jawara untuk Ella Hamid. Sementara itu, seperti yang dapat diduga, film populer karya Christopher Nolan, Inception, berhasil berjaya di kategori film asing. Inception berhasil memenangkan empat kategori, termasuk untuk Film Jawara, Sutradara Jawara untuk Christopher Nolan, Kumpulan Pelakon Jawara serta Trailer Jawara.

Continue reading 1st Indonesian Movie Bloggers Choice Awards Winners List

Indonesian Movie Bloggers Choice Awards 2011 Nominations List

Inception, Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dan Sang Pencerah memimpin daftar perolehan nominasi Indonesian Movie Bloggers Choice Awards 2011. Untuk di kategori film berbahasa asing, Inception berhasil meraih sebanyak 14 nominasi dari 18 kategori yang tersedia. Jumlah tersebut unggul satu kategori dari film karya David Fincher, The Social Network, yang membuntuti dengan perolehan sebanyak 13 nominasi. Inception dan The Social Network sendiri akan berhadapan di banyak kategori termasuk di kategori Film Jawara, Sutradara Jawara serta Naskah Jawara. Kedua film tersebut akan bersaing dengan The Ghost Writer, Toy Story 3 dan Uncle Boonme who can Recall His Past Lives untuk memperebutkan gelar sebagai Film Jawara.

Continue reading Indonesian Movie Bloggers Choice Awards 2011 Nominations List

Review: Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010)

Alangkah Lucunya (Negeri Ini) adalah sebuah film komedi satir yang disutradarai oleh Deddy Mizwar. Film ini sendiri merupakan film pertama Deddy setelah sukses mengarahkan sekuel Naga Bonar, Naga Bonar (Jadi) 2, pada tahun 2007 lalu. Dengan naskah yang ditulis oleh Musfar Yasin (Ketika, Kiamat Sudah Dekat), film ini menampilkan permainan akting dari beberapa pemenang Piala Citra seperti Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo dan Reza Rahadian.

Continue reading Review: Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010)