Tag Archives: Ron Perlman

Review: Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Dengan pendapatan sebesar lebih dari US$7,8 milyar dari masa perilisan delapan filmnya di sepanjang satu dekade (2001 – 2011), jelas adalah sangat naif untuk beranggapan bahwa Warner Bros. akan melepaskan begitu saja kesempatan untuk kembali meraih peruntungan komersial dari seri Harry Potter. Well… kesempatan itu datang dari Fantastic Beasts and Where to Find Them, sebuah buku karya J.K. Rowling yang dirilis pada tahun 2001 dan awalnya diniatkan sebagai “bacaan pendamping” bagi buku seri pertama dari Harry Potter, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (1997). Continue reading Review: Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Review: Pacific Rim (2013)

pacific-rim-header

Kebanyakan penonton yang memilih untuk menyaksikan Pacific Rim jelas tahu pasti apa yang akan mereka dapatkan dari film ini. Yes. Pacific Rim is a movie about giant robots versus giant monsters. Namun, berbeda dari kebanyakan film-film blockbuster yang dirilis Hollywood di kala musim panas, Pacific Rim adalah film tentang giant robots versus giants monsters yang disutradarai oleh Guillermo del Toro: seorang sutradara yang secara legendaris dikenal mampu memberikan jiwa dan kehidupan pada setiap fantasi yang dapat terlintas dalam setiap pemikiran umat manusia serta menghasilkan film-film seperti Mimic (1997), Hellboy (2004) serta Pan’s Labyrinth (2006). Sayangnya, jiwa dan kehidupan mungkin adalah hal terakhir yang dapat ditemukan penonton dalam Pacific Rim karena sentuhan del Toro benar-benar minim dapat dirasakan di sepanjang presentasi film ini.

Continue reading Review: Pacific Rim (2013)

Review: Drive (2011)

Di tangan seorang sutradara dengan kemampuan pengarahan dan penceritaan seadanya, Drive dapat dengan mudah menjadi sebuah film aksi popcorn yang hanya dapat menawarkan deretan adegan bernuansa kekerasan, seksualitas dan Jason Statham sebagai bintang utamanya. Sangat mudah. Namun, Nicholas Winding Refn bukanlah seorang sutradara dengan kemampuan filmis yang biasa. Mulai memperoleh perhatian dunia setelah mengarahkan film-film yang kental dengan nuansa kekerasan seperti Bronson (2008) yang dibintangi Tom Hardy dan Valhalla Rising (2009), Winding Refn mampu mengolah jalan cerita bernuansa kekerasan tersebut menjadi sebuah sajian yang bercita rasa tinggi, namun tidak dengan serta merta lantas menjadikannya sebagai sebuah film yang sulit untuk dicerna oleh penonton kebanyakan. Hal itulah yang sekali lagi dilakukan Winding Refn terhadap Drive, sebuah film yang jalan ceritanya diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya James Sallis.

Continue reading Review: Drive (2011)

Review: Conan the Barbarian (2011)

Semenjak diterbitkan pertama kali oleh majalah Weird Tales pada tahun 1932 sebagai rangkaian kisah fantasi yang ditulis oleh Robert E. Howard, karakter Conan the Barbarian telah menjelma menjadi salah satu karakter fiksi paling dikenal dalam sejarah industri hiburan Amerika Serikat. Tidak hanya kemudian kisah tersebut diadaptasi ke dalam bentuk komik yang diterbitkan oleh Marvel Comics, Conan the Barbarian juga menemukan kepopuleran yang lebih besar setelah diadaptasi ke banyak medium hiburan lainnya, seperti video games, serial televisi, hingga dua buah film layar lebar – Conan the Barbarian (1982) yang naskahnya dikerjakan oleh Oliver Stone serta Conan the Destroyer (1984) – yang dibintangi dan berhasil meroketkan nama Arnold Schwarzenegger.

Continue reading Review: Conan the Barbarian (2011)

Review: Season of the Witch (2011)

Terlepas dari apa yang ditunjukkan oleh kualitas film yang ia perankan akhir-akhir ini, tidak ada yang dapat menyangkal bahwa Nicolas Cage adalah salah satu aktor paling berbakat yang pernah dimiliki Hollywood. Kesalahan besar yang sering dilakukan Cage adalah seringnya ia memilih naskah yang salah (atau memang hanya alasan ekonomi akibat tuntutan pihak pajak Amerika Serikat kepada dirinya) untuk ia perankan. Ketika diberi karakter peran yang tepat dan menantang, Cage selalu mampu untuk menampilkan sisi terbaik dari kemampuan aktingnya. Suatu hal yang mungkin terakhir kali para penikmat film lihat lewat perannya sebagai seorang polisi koruptor di Bad Lieutenant: Port of Call New Orleans (2009).

Continue reading Review: Season of the Witch (2011)

Review: Tangled (2010)

Walt Disney mungkin adalah nama yang cukup disegani di industri perfilman Hollywood – khususnya ketika membicarakan mengenai film-film animasi. Namun tidak dapat disangkal, tanpa adanya bantuan dari Pixar Animation Studios, mungkin nama Walt Disney di industri film animasi Hollywood telah lama tenggelam. Mereka sebenarnya tidak pernah tampil mengecewakan, tapi di luar film-film karya Pixar yang mereka distribusikan dan semenjak merilis The Lion King di tahun 1994, Walt Disney Animation Studios lebih sering merilis film-film animasi berkualitas ‘menengah’ daripada film-film animasi berkualitas klasik seperti yang dahulu pernah mereka hasilkan lewat Snow White and the Seven Dwarfs (1937), The Little Mermaid (1989), Beauty and the Beast (1990) atau Aladdin (1992).

Continue reading Review: Tangled (2010)