Tag Archives: Richard Ayoade

Review: Soul (2020)

Di tahun 2019, selepas merilis Toy Story 4 (Josh Cooley) di tahun tersebut, Pixar Animation Studios memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan lagi memproduksi sekuel dari film-film rilisan mereka terdahulu. Sebuah pernyataan yang jelas disambut baik oleh para penikmat, penggemar, sekaligus pecinta film-film animasi buatan rumah produksi rumah produksi milik The Walt Disney Company tersebut. Harus diakui, selain beberapa rilisan seperti Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010), Inside Out (Pete Docter, 2015), dan Coco (Unkrich, 2017), filmografi Pixar Animation Studios pada satu dekade lalu memang lebih banyak diisi dengan film-film sekuel maupun film-film dengan cerita orisinal yang kualitasnya jelas terasa medioker – tentu saja, “medioker” dalam ukuran film yang dihasilkan oleh rumah produksi sekelas Pixar Animation Studios. Membuka dekade baru, Pixar Animation Studios merilis Onward (2020) arahan Dan Scanlon yang tampil cukup meyakinkan sebagai sebuah sajian hiburan. Namun, Pixar Animation Studios benar-benar menunjukkan tajinya sebagai rumah produksi film animasi paling prestisius di dunia lewat film terbaru arahan Docter, Soul. Continue reading Review: Soul (2020)

Review: The LEGO Movie 2 (2019)

Lima tahun setelah film pertamanya – dengan The LEGO Batman Movie (Chris McKay, 2017) dan The LEGO Ninjago Movie (Charlie Bean, Paul Fisher, Bob Logan, 2017) menjadi dua film sempalan yang dirilis diantaranya – The LEGO Movie 2 hadir sebagai sekuel langsung bagi The LEGO Movie (Phil Lord, Chris Miller, 2014). Walau masih bertanggung jawab sebagai produser sekaligus penulis naskah bagi film ini, Lord dan Miller sendiri menyerahkan kursi penyutradaraan pada Mike Mitchell (Trolls, 2016). Para penggemar The LEGO Movie sepertinya tidak akan mengeluhkan perubahan tersebut. Pengaruh besar Lord dan Miller jelas masih dapat dirasakan dalam alur pengisahan The LEGO Movie 2: film ini masih tampil dengan humor yang kuat dan penuh dengan referensi kultur pop teranyar, tampilan visual penuh warna yang memikat, serta disajikan dengan ritme pengisahan yang mengalun cepat. Tidak menawarkan sesuatu yang baru? Jangan khawatir. Lord dan Miller menyediakan ruang konflik yang lebih besar sehingga membuka celah yang cukup luas pula bagi beberapa sentuhan segar dalam pengisahan The LEGO Movie 2. Continue reading Review: The LEGO Movie 2 (2019)

Review: Early Man (2018)

Sukses besar dengan Shaun the Sheep Movie (Richard Starzak, Mark Burton, 2015) – yang sekuelnya, Farmageddon: A Shaun the Sheep Movie, sedang dipersiapkan untuk rilis tahun depan – Aardman Animations kembali merilis film animasi terbarunya yang berjudul Early Man. Diarahkan oleh Nick Park yang merupakan sutradara dari film yang masih memegang gelar sebagai film tersukses milik rumah produksi asal Inggris tersebut, Chicken Run (2000), Early Man masih menampilkan presentasi kisahnya dalam teknik stop-motion clay animation yang memang telah menjadi ciri khas dari film-film animasi buatan Aardman Animations. Mereka yang menikmati warna guyonan dari film-film seperti Chicken Run atau Shaun the Sheep Movie atau Wallace & Gromit: The Curse of the Were-Rabbit (Park, Steve Box, 2005) – yang berhasil memenangkan kategori Best Animated Feature di ajang The 78th Annual Academy Awards – jelas akan dapat menikmati Early Man. Sayangnya, lebih dari itu, Early Man gagal untuk tampil dengan pengisahan yang lebih kuat untuk dapat dinikmati para pecinta film animasi dalam skala yang lebih luas. Continue reading Review: Early Man (2018)

Review: The Watch (2012)

Berusaha menggabungkan elemen science fiction dengan komedi, The Watch yang disutradarai oleh Akiva Schaffer (Hot Rod, 2007) berkisah mengenai persahabatan yang terbentuk secara tidak sengaja antara empat orang pria warga Glenview, Ohio, Amerika Serikat yakni Evan Trautwig (Ben Stiller), Bob Finnerty (Vince Vaughn), Franklin (Jonah Hill) dan Jamarcus (Richard Ayoade) karena sebuah pembunuhan yang terjadi di kota tempat mereka tinggal. Tidak menginginkan agar tragedi yang sama terulang lagi, plus karena keinginan mereka untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi, keempatnya lalu membentuk kelompok pengamanan kota yang disebut Neighborhood Watch atas ide yang diusulkan oleh Evan.

Continue reading Review: The Watch (2012)

Review: Submarine (2011)

Untuk mengatakan bahwa Submarine – yang menjadi debut penyutradaraan Richard Ayoade di layar lebar – sebagai sebuah film drama komedi remaja, mungkin adalah sebuah pernyataan yang cukup merendahkan. Submarine tidak diisi dengan sesosok karakter utama pecundang yang kemudian menemukan cinta sebagai penyelamat hidupnya atau kisah percintaan yang mampu menyentuh setiap orang atau deretan drama yang dikemas menarik dengan dialog-dialog komikal yang jenaka. Tidak. Submarine lebih terlihat seperti film drama komedi depresif yang biasa diarahkan oleh Wes Anderson atau Noah Baumbach namun dengan karakter utama seorang remaja dengan segala kegalauan haati yang ia alami dalam menghadapi masa kehidupan tersebut. Yang tentu saja, akan semakin membuat Submarine terlihat lebih rumit dan lebih sukar untuk disukai banyak orang dengan mudah.

Continue reading Review: Submarine (2011)