Tag Archives: Rafi Gavron

Review: A Star is Born (2018)

Setelah Janet Gaynor dan Fredric March (A Star is Born, 1937), Judy Garland dan James Mason (A Star is Born, 1954), serta Barbra Streisand dan Kris Kristofferson (A Star is Born, 1976), Hollywood kembali menghadirkan pengisahan terbaru dari A Star is Born – yang pada awalnya juga merupakan adaptasi lepas dari film What Price Hollywood? (George Cukor, 1932) – dengan Lady Gaga dan Bradley Cooper yang kali ini memerankan dua karakter utamanya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Cooper bersama dengan Eric Roth (Extremely Loud & Incredibly Close, 2011) dan Will Fetters (The Best of Me, 2014) dengan mengambil elemen-elemen pengisahan dari film-film A Star is Born sebelumnya, film yang juga menandai kali pertama Cooper untuk duduk di kursi penyutradaraan ini masih menuturkan kisah yang sama familiar: dua sosok karakter dengan kompleksitas problematika hidup masing-masing yang kemudian bertemu, jatuh cinta, dan akhirnya saling mengubah alur kehidupan satu sama lain. It’s a tale as old as time. Jadi apa hal menarik yang dapat diberikan Cooper dalam A Star is Born miliknya? Continue reading Review: A Star is Born (2018)

Advertisements

Review: Tracers (2015)

tracers-posterMasih ingat dengan Taylor Lautner? Yep. That big muscle guy from those The Twilight Saga (2008 – 2012) movies? Ketika baik Kristen Stewart dan Robert Pattinson melanjutkan karir film mereka dengan tampil di film-film arahan Olivier Assayas, David Cronenberg, Drake Doremus atau Werner Herzog, Lautner sepertinya masih mencoba meraba arah pergerakan karirnya di dunia film – mulai mencoba untuk tampil dalam sebuah film romansa (Valentine’s Day, 2010), komedi (Grown Ups 2, 2013) atau aksi (Abduction, 2011). Bukan salah Lautner sepenuhnya. Kemampuan aktingnya memang tidak berkembang terlalu banyak jika dibandingkan dengan otot-otot yang ada di berbagai bagian tubuhnya. Mungkin ada baiknya Lautner mencoba untuk mendekati Vin Diesel agar mau mengikutsertakannya dalam seri film Fast and Furious berikutnya. Who knows.

Anyway, Tracers sendiri merupakan sebuah usaha lain Lautner untuk membintangi sebuah film aksi. Diarahkan oleh Daniel Benmayor, Tracers bercerita tentang Cam (Lautner), seorang pria yang bekerja sebagai kurir antar berkendaraan sepeda di kota New York, Amerika Serikat – ingat Premium Rush (2012)? Pertemuan yang tidak disengaja dengan Nikki (Marie Avgeropoulos) kemudian memperkenalkan Cam pada dunia parkour. Rasa penasarannya terhadap parkour membuat Cam belajar secara otodidak mengenai kegiatan tersebut. Nikki lantas memperkenalkan Cam pada teman-temannya yang juga memiliki antusiasme yang sama terhadap parkour. Tidak berhenti disitu, melihat Cam yang memiliki dedikasi tinggi terhadap parkour, Nikki dan teman-temannya lantas mengajak Cam untuk melakukan sebuah pekerjaan ilegal yang melibatkan kemampuan parkour. Membutuhkan uang, Cam akhirnya bergabung dan mulai menjalani kehidupannya dalam dunia kelam tersebut.

Buruk? Sebenarnya tidak juga. Hanya saja Tracers gagal untuk menampilkan sesuatu yang istimewa dalam presentasinya. Keberadaan parkour dalam jalan cerita film jelas hanya menjadi pewarna cerita tanpa pernah mampu dikelola dan diperluas lagi fungsi penceritaannya. Meskipun begitu, tidak dapat disangkal bahwa koreografi aksi yang melibatkan gerakan-gerakan parkour di sepanjang film mampu tergarap dengan baik dan cukup mengagumkan untuk disaksikan. Lebih dari itu, Tracers hanya mampu tampil dengan kualitas penceritaan film aksi remaja yang ringan dan gampang tertebak arahnya. Sebuah kejutan di akhir kisah juga tidak memberikan andil yang berarti. Justru hadir dengan kesan membingungkan karena gagal untuk tergali dengan lebih baik dan mendalam.

Penampilan para pengisi departemen akting film juga hadir dengan kualitas yang setara dengan kualitas penceritaan film. Jauh dari kesan istimewa. Juga bukan kesalahan Lautner, Avgeropoulos, Adam Reyner, Rafi Gavron atau para pemeran lain sepenuhnya. Karakter-karakter dalam film ini memang diberikan ruang yang terlalu sempit untuk dapat bergerak dengan leluasa untuk menceritakan kisahnya. Tracers memang hadir dengan skala kualitas yang terlalu dangkal untuk membuat film aksi ini mampu memberikan rasa kesenangan maupun ketegangan pada penontonnya. Bahkan terlalu datar untuk disajikan sebagai sebuah film dengan kriteria mindless fun. But heyif you’re aiming to see this film as another chance to see shirtless Taylor LautnerTada! [C-]

Tracers (2015)

Directed by Daniel Benmayor Produced by D. Scott Lumpkin, Marty Bowen, Wyck Godfrey Written by Kevin Lund, Leslie Bohem, Matt Johnson, Matthew Johnson, T.J. Scott Starring Taylor Lautner, Marie Avgeropoulos, Adam Rayner, Rafi Gavron, Luciano Acuna Jr., Josh Yadon, Johnny M. Wu, Sam Medina, Amirah Vann, Christian Steel, Wai Ching Ho Music by Lucas Vidal Cinematography Nelson Cragg Editing by Peter Amundson Studio Freerunning Melbarken/Temple Hill Entertainment Running time 94 minutes Country United States Language English

Review: Snitch (2013)

snitch-header

How far would you go to save your son/daughter/wife/loved ones? Akrab dengan tagline maupun premis cerita tersebut? Well… Film drama aksi berjudul Snitch yang menjadi debut penyutradaraan bagi Ric Roman Waugh – yang sebelumnya berprofesi sebagai seorang pemeran pengganti untuk film-film seperti Total Recall (1990), The Crow (1994) hingga Gone in Sixty Seconds (2000) – ini juga menawarkan sebuah alur cerita yang hampir serupa. Namun, naskah cerita Snitch – yang juga ditulis oleh Waugh bersama Justin Haythe (Revolutionary Road, 2008) – tidak hanya sekedar menghadirkan kisah petualangan sesosok karakter dalam menghadapi berbagai rintangan fisik yang harus ditempuhnya sebelum berhasil menyelamatkan karakter yang mereka sayangi. Dalam banyak bagiannya, Snitch mampu menghadirkan penggalian yang lebih mendalam kepada setiap karakter yang hadir di dalam jalan cerita dan sekaligus membuat film ini dapat hadir dalam  kapasitas drama yang lebih kuat.

Continue reading Review: Snitch (2013)

Review: The Cold Light of Day (2012)

Seharusnya, The Cold Light of Day dapat menjadi sebuah film aksi yang cukup menyenangkan. Walau Bruce Willis dan Sigourney Weaver hanya berada dalam peran yang terbatas dalam jalan cerita film ini, The Cold Light of Day masih menyimpan potensi aksi yang cukup besar dari seorang Henry Cavill, aktor tampan asal Inggris yang tahun lalu didaulat untuk memerankan Clark Kent/Superman dalam versi terbaru dari film superhero tersebut, Man of Steel, yang akan dirilis tahun depan. Yang paling utama, pengarahan The Cold Light of Day berada di tangan sutradara asal Perancis, Mabrouk El Mechri, yang pernah mengejutkan dunia ketika ia sukses mengarahkan Jean-Claude Van Damme dalam film crime-action, JCVD, pada tahun 2008 yang lalu. Lalu… apa yang salah dengan The Cold Light of Day?

Continue reading Review: The Cold Light of Day (2012)