Tag Archives: Permata Sari Harahap

Review: Hoax (2018)

Telah menyelesaikan proses produksinya beberapa tahun yang tahun lalu, film arahan Ifa Isfansyah (Pesantren Impian, 2016) tersebut kemudian dihadapkan pertama kali ke muka publik melalui penayangannya pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival di bulan Desember 2012 dengan menggunakan judul Rumah dan Musim Hujan. Oleh para produsernya, film yang memiliki judul internasional One Day When the Rain Falls tersebut kemudian dibawa berkelana ke berbagai festival film dunia sebelum akhirnya menghilang dan tak terdengar lagi kabar keberadaannya – walau, sebenarnya, adalah hal yang wajar bagi para pembuat film untuk menghasilkan film yang kemudian hanya dirilis untuk ditayangkan di berbagai ajang festival film. Kini, setelah melalui proses penataan gambar ulang yang dikabarkan mengubah beberapa susunan ceritanya, Rumah dan Musim Hujan atau One Day When the Rain Falls dirilis secara luas di bioskop Indonesia dengan menggunakan judul yang baru… Hoaxa not so convincing title, eh? Continue reading Review: Hoax (2018)

Advertisements

Review: Misteri Pasar Kaget (2012)

Pasti pernah mendengar ungkapan ‘Jangan pernah menilai satu hal berdasarkan penampilan luarnya’ bukan? Well… seandainya ungkapan yang sama dapat diterapkan pada Misteri Pasar Kaget yang merupakan salah satu film yang memiliki desain poster terburuk yang pernah ada di industri film Indonesia modern. Poster buruk film ini sepertinya mencerminkan apa yang hendak disampaikan oleh para pembuat film ini bahwa… yah… Anda akan menyaksikan sebuah film dengan sebuah cerita yang berisi deretan karakter yang banyak serta saling tumpang tindih namun sama sekali tidak pernah diberi kejelasan mengenai apa sebenarnya kegunaan mereka hadir dalam cerita tersebut. Bersiaplah untuk menyaksikan salah satu film terburuk yang pernah dibuat oleh para pembuat film Indonesia. Sepanjang masa.

Continue reading Review: Misteri Pasar Kaget (2012)

Review: Minggu Pagi di Victoria Park (2010)

Setelah memulai debut penyutradaraannya pada film Betina (2006), butuh waktu dua tahun bagi aktris Lola Amaria untuk menyelesaikan film keduanya. Waktu yang relatif lama tersebut terjadi karena alasan klise, masalah dana. Seperti yang diungkapkan Lola dalam sebuah wawancara, tim produksi Minggu Pagi di Victoria Park sepenuhnya mengandalkan kucuran dana dari pihak independen, dan tanpa adanya sponsor. Walau begitu, jika melihat apa yang ia hasilkan di film ini, rasanya tidak akan ada yang keberatan untuk menunggu dua tahun lagi asalkan Lola mampu menghasilkan karya yang lebih baik atau mampu menyamai apa yang diraihnya disini.

Continue reading Review: Minggu Pagi di Victoria Park (2010)