Tag Archives: Neni Anggraeni

Review: Anak Hoki (2019)

It’s quite hard not to feel sorry for Anak Hoki. Pertama kali diumumkan pada awal tahun lalu sebagai film yang akan mengadaptasi kisah kehidupan masa remaja dari mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, keberadaannya kemudian mulai tersaingi oleh A Man Called Ahok (Putrama Tuta, 2018) yang diangkat dari buku berjudul sama dan juga mengulik seputar kehidupan sang mantan Gubernur. A Man Called Ahok lantas mendapatkan masa rilis terlebih dahulu dan, bagaikan menabur garam di atas luka, berhasil meraih perhatian besar dan jumlah penonton yang signifikan – lebih dari 1.4 juta penonton hingga akhirnya film tersebut turun layar. Jelas sebuah pencapaian yang akan membayangi Anak Hoki pada masa tayangnya. Kini, tiga bulan setelah A Man Called Ahok dirilis, Anak Hoki akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bercerita. Dan… well… mungkin ada baiknya membiarkan A Man Called Ahok menjadi satu-satunya film yang berkisah tentang Basuki Tjahaja Purnama untuk saat ini. Continue reading Review: Anak Hoki (2019)

Review: Moon Cake Story (2017)

Setelah Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (Guntur Soeharjanto, 2016), Morgan Oey dan Bunga Citra Lestari kembali tampil berpasangan dalam film terbaru arahan Garin Nugroho (Guru Bangsa Tjokroaminoto, 2015) yang diproduseri oleh Tahir Foundation, Moon Cake Story. Filmnya sendiri berkisah mengenai pertemuan yang tidak disengaja antara seorang pengusaha bernama David (Oey) dengan seorang joki 3-in-1 bernama Asih (Lestari). Sama-sama memendam duka akibat ditinggal oleh sosok yang mereka cintai, pertemuan tersebut kemudian membawa David ke masa lalunya ketika ia dan ibunya masih tinggal di daerah kumuh dan berjuang untuk bertahan hidup dengan membuat kue bulan di keseharian mereka. Mengetahui bahwa Asih memiliki bakat memasak, David lantas menawarkan Asih cetakan dan resep kue bulan milik ibunya agar Asih dapat memulai usahanya sendiri. Walau awalnya merasa janggal dengan pemberian David, Asih akhirnya menerima dan mulai membuat kue bulannya sendiri. Continue reading Review: Moon Cake Story (2017)

Review: Tuyul – Part 1 (2015)

tuyul-part-1-posterMungkin karena perwujudannya yang berupa manusia bertubuh kerdil dengan kepala plontos dan bersifat kekanak-kanakan, film-film horor Indonesia yang menampilkan karakter tuyul seringkali dibumbui dengan nuansa komedi, seperti yang disajikan Tuyul (T. Bonawi, 1978). Dua film Indonesia tentang tuyul lainnya, Tuyul Eee Ketemu Lagi (Suhardja Widirga, 1979) dan Tuyul Perempuan (Bay Isbahi, 1979), serta sebuah serial televisi berjudul Tuyul dan Mbak Yul (1997 – 2002) bahkan lebih menggali unsur komedi dari karakter mitos Indonesia tersebut daripada sisi horornya. Jangan khawatir! Keadilan horor telah ditegakkan dengan hadirnya Tuyul – Part 1 arahan Billy Christian (Kampung Zombie, 2015) yang kembali menyajikan karakter mistis yang juga digambarkan suka mencuri tersebut sebagai sosok karakter horor – lengkap dengan visualisasi akan sosok tuyul yang errr… lebih modern, kelam dan mencekam.

Dikonsepkan sebagai sebuah trilogi, bagian pertama dari kisah Tuyul dimulai ketika pasangan Daniel (Gandhi Fernando) dan istrinya yang sedang hamil, Mia (Dinda Kanya Dewi), pindah ke rumah lama yang pernah ditempati Mia dan ibunya semasa kecil. Mia sendiri tidak begitu senang akan pilihan tersebut karena berbagai kenangan buruk yang ia miliki selama berada di rumah itu. Tuntutan pekerjaan Daniel yang kemudian memaksanya untuk menerima fakta bahwa ia harus kembali menjalani kehidupannya disana. Awal kepindahan Daniel dan Mia sendiri berjalan lancar. Namun, seiring dengan kesibukan Daniel yang semakin padat, kehidupan pernikahan mereka mulai menghadapi banyak rintangan. Parahnya, Mia kini harus menghadapi teror mistis yang sepertinya tidak hanya berniat untuk mengganggu dirinya namun juga mengganggu bayi yang sedang dikandungnya.

Harus diakui, seperti halnya Kampung Zombie yang juga digarap Billy Christian dan dirilis pada pertengahan bulan lalu, Tuyul – Part 1 merupakan salah satu dari segelintir film horor Indonesia yang mampu tergarap dengan cukup baik. Terlepas dari adanya gangguan dari tata musik arahan Andhika Triyadi yang hadir dengan kualitas standar film horor Indonesia – tampil dengan volume dan frekuensi tinggi guna memberikan efek kejutan bagi para penonton film – pada paruh awal penceritaan, departemen produksi Tuyul – Part 1 tersaji dengan kualitas yang cukup memuaskan. Mulai dari desain ulang penampilan karakter tuyul, desain produksi latar belakang lokasi hingga tata sinematografi benar-benar dihadirkan guna mendukung atmosfer penceritaan film yang berkesan gloomy. Jelas berada di kelas yang masih sulit untuk dijangkau banyak film horor Indonesia lainnya.

Sayangnya, Tuyul – Part 1 masih menghadapi masalah yang sama dengan kebanyakan film-film horor Indonesia lainnya: naskah cerita yang cenderung lemah. Naskah cerita garapan Luvie Melati, Billy Christian dan Gandhi Fernando seperti mencoba untuk mencakup (terlalu) banyak hal dalam pengisahannya, mulai dari kisah personal dari hubungan dua karakter utamanya, kisah masa lalu kelam dari karakter Mia dan ibunya, permasalahan yang dihadapi karakter Daniel di bidang pekerjaannya hingga kisah tentang tetangga baru karakter Daniel dan Mia yang mencurigakan kehadirannya. Memang, masing-masing plot tersebut saling terhubung dan memicu kehadiran satu sama lain. Namun, penggarapan yang kurang mendalam membuat kehadiran beberapa plot tersebut menjadi datar dan jauh dari kesan menarik untuk diikuti kisahnya. Tuyul – Part 1 mungkin akan bekerja jauh lebih baik jika film ini hadir dengan pendekatan lebih personal – menggali kembali masa lalu karakter Mia dan keluarganya – dan membuang jauh karakter-karakter pendukung yang kurang berarti fungsinya dalam jalan cerita. Lebih banyak kisah tentang para tuyul, mungkin?

Arahan Billy Christian terhadap jalan cerita Tuyul – Part 1 sendiri juga bukannya hadir tanpa masalah. Semenjak awal penceritaan, Billy terasa seperti kesulitan untuk menetapkan ritme penceritaan yang tepat bagi film ini – apakah harus berjalan lamban dan membiarkan penonton menyerap sendiri atmosfer kelam dari jalan cerita film atau hadir dengan irama cepat guna memberikan beberapa kejutan khas film horor Indonesia di beberapa bagian penceritaan. Inkonsistensi ini baru terasa menemui akhir di paruh ketiga penceritaan ketika Billy sepertinya benar-benar membiarkan Tuyul – Part 1 bercerita lepas dengan ritme yang cukup cepat. Bukan sebuah gangguan yang benar-benar besar namun jelas memberikan kontribusi tersendiri bagi beberapa momen hambar yang hadir dalam penceritaan film.

Tidak banyak hal yang menonjol dari departemen akting film ini, kecuali penampilan Dinda Kanya Dewi sebagai Mia yang benar-benar mencuri penuh perhatian penonton pada setiap kehadirannya dalam jalan cerita. Dinda secara meyakinkan benar-benar mampu menghidupkan sosok karakter Mia yang depresif dengan segala tantangan yang ia hadapi. Sayangnya, penampilan Dinda gagal untuk diimbangi dengan baik oleh jajaran pengisi departemen akting lainnya. Gandhi Fernando seringkali terlihat kaku pada banyak penampilannya. Chemistry yang ia jalin dengan Dinda Kanya Dewi juga terlihat datar. Penampilan Ingrid Widjanarko juga seperti dibuat-buat sebagai sosok pelayan misterius. Terkesan tertahan dan jauh dari meyakinkan. Entah bagaimana konsep penceritaan trilogi yang ada di benak para produser film ini. Namun, berdasarkan kualitas yang ditunjukkan oleh bagian pertama film, Tuyul jelas masih menyisakan ruang kualitas yang cukup besar untuk ditingkatkan lagi pada seri berikutnya. [C]

Tuyul – Part 1 (2015)

Directed by Billy Christian Produced by Gandhi Fernando, Laura Karina Written by Luvie Melati, Billy Christian, Gandhi Fernando Starring Dinda Kanya Dewi, Gandhi Fernando, Citra Prima, Karina Nadila, Ingrid Widjanarko, Allan Wangsa, Dicky Topan, Dini Vitri, Neni Anggraeni, Bubah Alfian, Dimas Harry, Frans Nicholas Music by Andhika Triyadi Cinematography Gunung Nusa Pelita Editing by Heytuta Masjhur Studio Renee Pictures Running time 97 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: 7 Misi Rahasia Sophie (2014)

7 Misi Rahasia Sophie (Starvision Plus, 2014)
7 Misi Rahasia Sophie (Starvision Plus, 2014)

Setelah The Legend of Trio Macan (2013), Billy Christian melanjutkan karir penyutradaraan film layar lebarnya dengan sebuah film drama romansa remaja berjudul 7 Misi Rahasia Sophie. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Anggoro Saronto (Sang Kiai, 2013), 7 Misi Rahasia Sophie mencoba untuk menelusuri kisah persahabatan antara dua remaja yang dibalut dengan satir mengenai kegemaran kaum muda modern untuk mendokumentasikan diri dan kegiatan mereka di dunia maya. Sebuah ide cerita yang sebenarnya begitu sederhana namun masih cukup menarik. Sayangnya, kesederhanaan ide cerita tersebut kemudian gagal untuk mendapatkan pengembangan yang kuat. Akhirnya, di sepanjang 98 menit durasi penceritaan filmnya, 7 Misi Rahasia Sophie seringkali terasa datar secara emosional dalam penyajian kisahnya.

Continue reading Review: 7 Misi Rahasia Sophie (2014)

Review: The Legend of Trio Macan (2013)

the-legend-of-trio-macan-header

Dengan naskah yang ditulis oleh Toha Essa (Sumpah, (Ini) Pocong!, 2009), The Legend of Trio Macan memiliki latar belakang lokasi cerita di sebuah kampung China Peranakan pada masa seratus tahun silam. Dikisahkan, Bu Beng Chot alias A Chot memiliki segala hal untuk dapat menjadi seorang ketua perguruan silat yang disegani khalayak luas… kecuali tinggi tubuhnya. Akibat sebuah kutukan yang dijatuhkan pada dirinya, A Chot memiliki tinggi tubuh yang jauh lebih pendek dari ukuran pria dewasa dan seringkali membuatnya menjadi bahan tertawaan banyak orang. Untuk dapat menghilangkan kutukan tersebut, A Chot kemudian diharuskan untuk menikahi seorang gadis perawan yang terlahir dengan sebuah tanda lahir khusus berbentuk macan di tubuhnya sebelum berlangsungnya malam Imlek di tahun tersebut. Pencarian A Chot yang dibantu dengan dua asistennya kemudian berakhir setelah mereka menemukan seorang gadis cantik bernama Iva.

Continue reading Review: The Legend of Trio Macan (2013)