Tag Archives: Milo Ventimiglia

Review: Creed II (2018)

Dikabarkan akan menjadi seri terakhir dimana Sylvester Stallone memerankan karakter ikoniknya, Rocky Balboa, Creed II memiliki linimasa pengisahan yang memiliki latar belakang waktu tiga tahun semenjak deretan konflik yang dikisahkan pada Creed (Ryan Coogler, 2015). Dikisahkan, rentetan kemenangan yang berhasil diraih oleh petinju Adonis Creed (Michael B. Jordan) bersama dengan pelatihnya, Rocky Balboa (Stallone), ternyata menarik perhatian seseorang yang berasal dan berhubungan dengan masa lalu Adonis Creed dan Rocky Balboa. Seorang mantan petinju asal Rusia, Ivan Drago (Dolph Lundgren) – yang dahulu pernah melawan ayah Adonis Creed, Apollo Creed, dan menyebabkan kematiannya sebelum akhirnya berhasil dikalahkan oleh Rocky Balboa – menawarkan sebuah proposal kepada Adonis Creed agar dirinya melawan anaknya yang juga seorang petinju profesional, Viktor Drago (Florian Munteanu). Usulan tersebut ditentang oleh Rocky Balboa yang menilai bahwa Ivan Drago hanyalah berusaha mencari ketenaran bagi petinju yang dilatihnya sekaligus membalaskan dendam kekalahannya pada dirinya. Namun, kenangan akan kematian sang ayah yang disebabkan oleh Ivan Drago ternyata masih begitu besar membekas pada diri Adonis Creed. Walau tanpa restu Rocky Balboa, Adonis Creed meneriwa tawaran tersebut dan bersiap untuk melawan Viktor Drago. Continue reading Review: Creed II (2018)

Advertisements

Review: Wild Card (2015)

wild-card-posterLet’s be honest. Meskipun para produser meletakkan nama-nama besar seperti Stanley Tucci, Milo Ventimiglia, Hope Davis, Anne Heche, Jason Alexander dan Sofía Vergara di poster film hingga berusaha membesarkan fakta bahwa naskah film ini dikerjakan oleh William Goldman yang pernah dua kali memenangkan Academy Awards untuk naskah cerita Butch Cassidy and the Sundance Kid (1969) serta All the President’s Men (1976), alasan utama untuk menyaksikan Wild Card jelas adalah untuk menyaksikan penampilan Jason Statham. Well… Jason Statham dan aksinya yang membabi buta dalam menghancurkan setiap lawan yang dihadapinya. Lalu apakah Wild Card mampu memenuhi ekspektasi itu? Tentu saja!

Berada di bawah arahan Simon West untuk ketiga kalinya setelah The Mechanic (2011) dan The Expendables 2 (2012), Statham lagi-lagi berperan sebagai sosok pria tangguh yang memiliki talenta mampu berkelahi dengan berbagai perlengkapan yang ada di sekitar dirinya – tangan, kaki, senjata api, potongan kayu hingga sendok dan garpu. West dan Statham mampu menggarap setiap adegan aksi dalam Wild Card hadir dengan balutan tata koreografi aksi yang mengagumkan. Bagian terburuknya? Hanya ada tiga adegan aksi dalam film ini. Yep. Tiga adegan aksi yang masing-masing berdurasi kurang lebih dua menit dalam film yang secara keseluruhan berdurasi 92 menit. Cukup mengecewakan, khususnya jika Anda memang menyaksikan film ini hanya untuk menanti adegan aksi Statham.

Namun, terlepas dari berbagai ekspektasi tersebut, film yang diadaptasi Goldman dari novelnya sendiri yang berjudul Heat – dan sebelumnya telah pernah diangkat ke layar lebar dengan judul Heat (1986) yang dibintangi Burt Reynolds – Wild Card harus diakui tidak mampu menawarkan penceritaan menarik apapun kepada penontonnya. Jalan cerita Wild Card yang secara garis besar menghadirkan tiga plot cerita – hubungan karakter Nick Wild (Statham) dengan temannya Holly (Dominik Garcia-Lorido) yang kemudian menyebabkan permasalahan dengan seorang pemimpin mafia, Danny DeMarco (Milo Ventimiglia), tugas Nick dalam mengawal seorang milyuner muda, Cyrus Kinnick (Michael Angarano), serta masalah pribadi Nick yang kecanduan judi – gagal untuk dipresentasikan dengan baik. Setiap permasalahan dihadirkan begitu datar dengan tanpa adanya pendalaman kisah maupun karakter yang berarti. Hadir dan berlalu begitu saja.

Kedangkalan itulah yang menyebabkan kehadiran Tucci, Ventimiglia, Davis, Heche, Alexander dan Vergara sama sekali tidak berarti di film ini – plus karakter mereka juga hadir dalam durasi yang begitu singkat dan tidak memadai penceritaannya. Statham sendiri hadir dalam kapasitas… well… sebagaimana seorang Jason Statham yang dikenal publik umum. Karakter antagonis utama yang diperankan Ventimiglia hadir datar, bahkan seringkali terasa hanya hadir sebagai korban tanpa melakukan perlawanan yang berarti. Michael Angarano yang tampil dalam durasi penceritaan yang cukup banyak mampu mengimbangi penampilan Statham – meskipun chemistry keduanya masih tampil dalam kapasitas yang seadanya. Stanley Tucci justru mampu menunjukkan kelasnya sebagai seorang aktor handal dengan memberikan penampilan akting yang mengesankan meskipun dalam durasi yang begitu singkat. [D]

Wild Card (2015)

Directed by Simon West Produced by Jason Statham, Steve Chasman Written by William Goldman (screenplay), William Goldman (novel, Heat), William Goldman (1986 movie, Heat) Starring Jason Statham, Stanley Tucci, Sofía Vergara, Milo Ventimiglia, Michael Angarano, Anne Heche, Hope Davis, Jason Alexander, Cedric the Entertainer, Max Casella, Chris Browning, Dominik Garcia-Lorido, Arielle B. Brown, Boyana Balta, Lara Grice, Shanna Forrestall, D’arcy Allen, Codie Rimmer, Joshua Braud Music by Dario Marianelli Cinematography Shelly Johnson Edited by Padraic McKinley Production company Current Entertainment/Quad Films/SJ Pictures/Sierra / Affinity Running time 92 minutes Country United States Language English

Review: Killing Season (2013)

killing-season-header

Jika saja Killing Season dirilis sekitar dua dekade lalu, keberadaan nama Robert De Niro dan John Travolta pada jajaran pengisi departemen akting jelas akan mampu menarik perhatian begitu banyak orang. Sayangnya, dengan berbagai pilihan film berkualitas kurang mengesankan – jika tidak ingin menyebut beberapa film tersebut sebagai film-film yang berkualitas buruk – yang dilakoni oleh De Niro dan Travolta belakangan ini, keberadaan nama keduanya justru memberikan begitu banyak pertanyaan pada kualitas Killing Season secara keseluruhan. Well… sejujurnya, Killing Season sama sekali bukanlah sebuah presentasi yang benar-benar buruk. Kualitas ceritanya memang acapkali terasa dangkal akibat repetisi konflik yang terus terjadi di sepanjang film. Namun penampilan prima De Niro dan Travolta tetap mampu menjadikan Killing Season sebagai sebuah sajian yang cukup memuaskan terlepas dari berbagai kelemahannya.

Continue reading Review: Killing Season (2013)