Tag Archives: Michelle Monaghan

Review: Mission: Impossible – Fallout (2018)

Kembali diarahkan oleh sutradara Mission: Impossible – Rogue Nation (2015), Christopher McQuarrie – yang menjadikan McQuarrie sebagai sutradara pertama yang mengarahkan dua film bagi seri Mission: Impossible, Mission: Impossible – Fallout memiliki latar belakang waktu pengisahan dua tahun semenjak berakhirnya konflik yang dikisahkan pada seri sebelumnya. Kini, kelompok kriminal The Syndicate pimpinan Solomon Lane (Sean Harris) yang telah ditangkap oleh Ethan Hunt (Tom Cruise) dan rekan-rekan agen rahasia Impossible Missions Force-nya berevolusi menjadi sebuah kelompok teroris yang menyebut dirinya sebagai The Apostles. Kelompok teroris tersebut kemudian berhasil mencuri seperangkat senjata nuklir yang mereka rencanakan akan digunakan jika Ethan Hunt tidak mengembalikan Solomon Lane kepada mereka. Jelas bukan sebuah permintaan yang akan diikuti oleh Ethan Hunt dan pihak Impossible Missions Force begitu saja. Bersama dengan dua rekan kepercayaannya, Luther Stickell (Ving Rhames) dan Benjamin Dunn (Simon Pegg), serta seorang agen rahasia Central Intelligence Agency, August Walker (Henry Cavill), yang ditugaskan untuk mengawasi kinerja mereka, Ethan Hunt mulai menyusuri jejak keberadaan The Apostles untuk dapat menemukan kembali senjata nuklir yang telah mereka curi sekaligus melenyapkan orang-orang yang terlibat dalam organisasi tersebut. Continue reading Review: Mission: Impossible – Fallout (2018)

Advertisements

Review: Patriots Day (2016)

Merupakan kali ketiga sutradara Peter Berg bekerjasama dengan aktor Mark Wahlberg setelah Lone Survivor (2013) dan Deepwater Horizon (2016), Patriots Day berkisah mengenai tragedi pengeboman bermotif terorisme yang dilakukan Dzhokhar Tsarnaev dan Tamerlan Tsarnaev pada Boston Marathon yang berlangsung di kota Boston, Amerika Serikat di tahun 2013 lalu. Dengan mendasarkan kisahnya pada buku berjudul Boston Strong yang ditulis oleh Casey Sherman dan Dave Wedge, Patriots Day juga memfokuskan kisahnya pada proses pengejaran yang dilakukan pihak kepolisian untuk menangkap Tsarnaev bersaudara yang berlangsung dramatis sekaligus kisah-kisah para korban dari tragedi tersebut dalam usaha mereka untuk melanjutkan hidup. Secara mengejutkan, Berg mampu menggarap Patriots Day dengan penuh kelembutan – berbeda dengan kebanyakan filmnya yang seringkali tampil dengan aura kemaskulinan yang kuat. Sebuah sentuhan yang membuat film ini terasa hangat sekaligus sensitif dalam membawakan pesan-pesannya tentang perdamaian yang seringkali terasa menghilang dari banyak elemen kehidupan manusia akhir-akhir ini. Continue reading Review: Patriots Day (2016)

Review: Mission: Impossible – Ghost Protocol (2011)

Berbeda dengan tiga seri dalam franchise Mission: Impossible (1996 – 2006) sebelumnya, Mission: Impossible – Ghost Protocol berhasil meningkatkan performa deretan aksi yang disajikan. Tidak hanya disajikan dalam porsi yang lebih banyak, adegan-adegan aksi tersebut juga mampu ditampilkan dengan tingkat intensitas yang lebih tinggi dan akan mampu memacu adrenalin setiap penontonnya. Walaupun begitu, Mission: Impossible – Ghost Protocol juga bukanlah seri yang paling serius diantara seri lain dari franchise yang diangkat dari sebuah serial televisi ini. Berbekal pengalamannya dalam mengarahkan dua film animasi, The Incredibles (2004) dan Ratatouille (2006), yang tetap mampu tampil komikal di tengah-tengah keseriusan jalan cerita yang disampaikan, Brad Bird berhasil mengarahkan sisi komedi dari Mission: Impossible – Ghost Protocol untuk dapat tampil sama maksimalnya dengan sisi aksi film ini dan membuat Mission: Impossible – Ghost Protocol menjadi sebuah sajian aksi yang tidak hanya menegangkan, namun juga berhasil tampil sangat menghibur.

Continue reading Review: Mission: Impossible – Ghost Protocol (2011)

Review: Machine Gun Preacher (2011)

Machine Gun Preacher adalah sebuah film yang jalan ceritanya diinspirasi dari kisah nyata kehidupan Sam Childers, seorang pria mantan penjahat/pengedar/pengguna narkotika dan obat-obatan terlarang yang kemudian berhasil ‘menemukan’ Tuhan ketika ia sedang berada dalam titik terendah dalam kehidupan yang ia jalani. Merasa terpanggil oleh Tuhan, Childers lalu berangkat untuk menolong warga Sudan Selatan yang sedang terjebak dalam sebuah konflik perang. Kehidupan Childers dipenuhi dengan berbagai drama emosional yang akan mampu menyentuh dan menginspirasi banyak orang yang mendengarnya. Sementara itu, Machine Gun Preacher, film arahan Marc Forster (Quantum of Solace, 2008), yang mengadaptasi sekelumit kisah hidup Childers, sayangnya terjebak dengan begitu banyak formula penceritaan tradisional dari film-film yang bertema sama dan akhirnya justru gagal menyampaikan ikatan emosional dari kisah hidup Childers pada penonton film ini.

Continue reading Review: Machine Gun Preacher (2011)

Review: Source Code (2011)

Ketika Captain Colter Stevens (Jake Gyllenhaal) terbangun dari tidurnya dalam sebuah perjalanan di kereta api, ia merasa bahwa dirinya tidak seperti dirinya yang biasa. Seorang wanita cantik yang duduk di hadapannya (Michelle Monaghan) terus menerus berbicara dengan dirinya seolah-olah telah mengenal dirinya dengan baik. Kenyataannya, sang wanita tersebut sama sekali tidak mengenal pria yang terus menerus ia panggil dengan sebutan Sean tersebut. Bahkan Captain Colter Stevens sendiri tidak mengenal siapa dirinya ketika ia melihat wajahnya di permukaan cermin. Wajar jika kemudian Colter merasa panik. Namun, ia tidak memiliki waktu yang lama untuk merasa panik. Beberapa menit kemudian, sebuah bom meledak, menewaskan dirinya, sang wanita tersebut serta seluruh penumpang yang sedang berada di atas kereta api tersebut.

Continue reading Review: Source Code (2011)

Review: Somewhere (2010)

Dalam adegan pembuka yang dihadirkan dalam film keempat karya sutradara Sofia Coppola, Somewhere, sebuah mobil Ferrari berwarna hitam digambarkan sedang dikemudikan mengelilingi sebuah wilayah. Mobil itu berhasil mengelilingi wilayah tersebut sekali. Mobil itu kemudian berhasil untuk mengelilingi wilayah tersebut dua kali. Penonton kemudian mulai bertanya-tanya mengenai apa yang akan terjadi pada mobil dan pengendara mobil tersebut. Akankah terjadi sebuah ledakan? Akankah terjadi sebuah perampokan? Mobil tersebut akhirnya berhenti? Bahkan ketika deretan pertanyaan penonton tersebut belum terjawab, mobil Ferrari hitam tersebut melakukan putarannya yang ketiga. Dan kemudian melanjutkan putaran keempatnya.

Continue reading Review: Somewhere (2010)

Review: Due Date (2010)

Lepas dari kesuksesan luar biasa The Hangover (2009), dan sebelum ia merilis sekuel film komedi tersebut tahun depan, sutradara Todd Phillips merilis Due Date, sebuah film komedi yang bertemakan road trip dengan Robert Downey, Jr. dan Zach Galifianakis sebagai bintang utamanya. Sebagai sutradara, jika melirik daftar filmografinya, Phillips bukanlah seorang sutradara yang selalu konsisten dalam menghantarkan kualitas filmnya. Banyak yang berhasil meraih pujian baik dari kritikus film maupun penonton, namun tidak sedikit pula yang berakhir sebagai sebuah kekecewaan. Walau tidak sampai pada tahap mengecewakan, sayangnya Due Date bukanlah sebuah film yang akan dianggap sebagai bagian dari momen terbaik karir penyutradaraan Todd Phillips.

Continue reading Review: Due Date (2010)