Tag Archives: Michael Adamthwaite

Review: War for the Planet of the Apes (2017)

Sukses mengarahkan Dawn of the Planet of the Apes (2014) – setelah sebelumnya menggantikan posisi Rupert Wyatt yang mengarahkan Rise of the Planet of the Apes (2011), Matt Reeves kembali duduk di kursi penyutradaraan bagi film ketiga dalam seri film Planet of the Apes, War for the Planet of the Apes. Dengan naskah cerita yang ditangani Reeves bersama dengan Mark Bomback, War for the Planet of the Apes mengisahkan kelanjutan perjalanan Caesar (Andy Serkis – lewat penggunaan performance-capture technology) dan kawanannya yang berusaha untuk menemukan sebuah lokasi baru yang aman untuk mereka tinggali. Bukan sebuah persoalan yang mudah. Meskipun musuhnya, Koba (Toby Kebbell – lewat penggunaan performance-capture technology), telah tewas, namun para pengikutnya masih senantiasa mencoba untuk menjatuhkan Caesar dari singgasananya. Para pengikut Koba bahkan telah bekerjasama dengan pihak manusia – faksi militer yang menamakan dirinya Alpha-Omega yang bertujuan untuk memusnahkan populasi para kera yang dianggap memiliki potensi untuk menyebarkan sebuah penyakit berbahaya yang belum ditemukan obatnya. Dan ancaman tersebut kian nyata setelah pimpinan Alpha-Omega yang disebut sebagai The Colonel (Woody Harrelson) mulai mengetahui dimana letak persembunyian Caesar dan kawanan keranya. Continue reading Review: War for the Planet of the Apes (2017)

Advertisements

Review: Horns (2014)

horns-posterDikenal dengan film-film semacam Haute Tension (2003), The Hills Have Eyes (2006) dan Piranha 3D (2010) yang menawarkan kengerian dengan menampilkan darah dan potongan-potongan tubuh kepada para penontonnya, sutradara asal Perancis, Alexandre Aja, mencoba untuk bermain dalam sebuah wilayah pengarahan yang sedikit berbeda dalam film terbarunya, Horns. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Keith Bunin berdasarkan novel berjudul sama karya Joe Hill, Horns masih menempatkan Aja pada nada penceritaan yang cukup familiar – supernatural thriller dengan bumbu black comedy yang kental – namun hadir dalam jalinan kisah mengenai cinta, keluarga, persahabatan dan agama yang membuat film ini tampil sedikit lebih kompleks jika dibandingkan dengan film-film arahan Aja sebelumnya. Dan, sayangnya, hal itulah yang secara perlahan menjerat Aja dan membuatnya terasa sedikit kebingungan bagaimana menampilkan kekayaan konten ceritanya tersebut secara merata.

Bukan bermaksud untuk menyatakan bahwa Horns adalah sebuah presentasi yang buruk. Dalam banyak kesempatan di 120 menit durasi penceritaannya, Horns mampu hadir sebagai dengan deretan ide yang brilian dan mampu dieksekusi dengan baik melalui imajinasi visual Aja yang berani. Horns juga seringkali berhasil menjadi sebuah character study bagi tema-tema cerita yang ingin dibawakannya. Dan Aja masih dapat memberikan kesenangan yang melimpah bagi penontonnya melalui satir dalam jalan ceritanya serta deretan adegan kekerasan yang, tentu saja, akan mengingatkan penonton mengenai berbagai karya Aja di masa lampau.

Bagian yang menjebak Horns untuk gagal menjadi sebuah sajian yang lebih kuat lagi adalah kegagalan Aja dalam menyajikan ceritanya melalui ritme penceritaan yang tepat. Seringkali, Horns terasa begitu lamban dalam pengisahannya untuk kemudian menyeret penonton ke berbagai detil yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan dalam penceritaan. Beberapa alur penceritaan yang menampilkan adegan cerita di masa lampau juga tidak dipungkiri kurang mampu ditempatkan dengan baik oleh Aja yang menjadikan narasi cerita menjadi kurang kuat serta, yang lebih fatal, beberapa misteri kemudian menjadi “terselesaikan” sebelum waktunya.

Terlepas dari kekurangannya tersebut, Horns hadir dalam satuan penampilan akting yang kuat dari deretan pengisi departemen aktingnya, khususnya dari sang pemeran utama, Daniel Radcliffe. Dengan penceritaan karakter yang digambarkan sebagai sosok yang moody, datar dan cenderung melakukan pemilihan keputusan yang salah – alias cukup sukar untuk disukai, Radcliffe justru tetap mampu membuat penonton memberikan simpati kepada karakter yang ia perankan dan terus mengajak mereka untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi. Dengan kharismanya yang begitu kuat, Radcliffe menjadi tombak utama bagi Horns untuk tetap mampu mengalir dalam penceritaan yang cukup mengikat.

Selain karakter yang diperankan Radcliffe, harus diakui naskah cerita Horns tidak memberikan ruang yang cukup bagi karakter-karakter lain untuk berkembang. Pada kebanyakan bagian, keberadaan karakter-karakter minor lain terkesan hanya dijadikan sebagai alat agar penceritaan tetap berwarna dan berjalan. Tidak lebih. Meskipun begitu, karakter-karakter pendukung tersebut tetap mampu tampil mencolok berkat penampilan akting yang kuat dari para pemainnya. Mulai dari Juno Temple, Max Minghella, Joe Anderson, Heather Graham, Kelli Garner hingga David Morse mampu memberikan penampilan akting terbaik mereka sekaligus menjadi salah satu faktor kuat mengapa Horns masih layak untuk dinikmati terlepas dari beberapa kelemahan krusialnya. [C]

Horns (2014)

Directed by Alexandre Aja Produced by Alexandre Aja, Riza Aziz, Joey McFarland, Cathy Schulman, Joe Hill Written by Keith Bunin (screenplay), Joe Hill (novel, Horns) Starring Daniel Radcliffe, Max Minghella, Joe Anderson, Juno Temple, Kelli Garner, James Remar, Kathleen Quinlan, Heather Graham, David Morse, Alex Zahara, Kendra Anderson, Michael Adamthwaite, Desiree Zurowski, Mitchell Kummen, Dylan Schmid, Jared Ager-Foster, Sabrina Carpenter, Laine MacNeil, Erik McNamee Music by Robin Coudert Cinematography Frederick Elmes Edited by Baxter Production company Red Granite Pictures/Mandalay Pictures Running time 120 minutes Country United States, Canada Language English