Tag Archives: Mentari De Marelle

Review: Rumah Malaikat (2016)

Cukup mudah untuk merasakan bahwa Billy Christian adalah salah satu sosok pembuat film Indonesia yang memiliki begitu banyak ide segar di kepalanya. Lihat saja film-film horor yang pernah ia garap seperti Tuyul – Part 1 (2015) atau Kampung Zombie (2015) yang mampu hadir dengan sentuhan kesegaran ide yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan kebanyakan film horor produksi pembuat film Indonesia lainnya. Bahkan pada film komedi seperti The Legend of Trio Macan (2013) atau drama romansa seperti 7 Misi Rahasia Sophie (2013), Christian tetap mampu menyelipkan sentuhan-sentuhan tersebut untuk membuat filmnya terasa lebih berisi meskipun dengan jalan cerita yang sebenarnya telah familiar. Continue reading Review: Rumah Malaikat (2016)

Review: LDR (2015)

ldr-posterFilm terbaru arahan Guntur Soeharjanto, LDR, memulai kisahnya ketika Carrie (Mentari De Marelle) yang semenjak kecil telah bermimpi untuk berkunjung ke Verona, Italia, akhirnya mendapatkan impiannya tersebut. Dalam perjalanannya menyusuri kota tempat kediaman Juliet dalam drama klasik karya William Shakespeare, Romeo & Juliet, tersebut, Carrie secara tidak sengaja berhasil mencegah tindakan bunuh diri yang akan dilakukan oleh Demas (Verrell Bramasta) akibat putusnya tali asmara antara dirinya dengan sang kekasih, Alexa (Aurelie Moeremans). Carrie kemudian berusaha membantu Demas untuk kembali mendapatkan perhatian Alexa yang juga tinggal di kota tersebut. Namun, di saat yang bersamaan, Carrie mulai merasakan bahwa ia mulai jatuh cinta kepada sosok Demas.

LDR sebenarnya memiliki potensi yang cukup untuk menjadi sebuah film drama romansa remaja yang mampu tampil menarik bahkan kepada mereka yang berada di luar pangsa pasar remaja yang menjadi target utama film ini. Paruh awal naskah cerita LDR yang digarap oleh Cassandra Massardi – yang sebelumnya juga pernah bekerjasama dengan Guntur Soeharjanto dalam Tampan Tailor (2013) – mampu membuktikan hal tersebut. Didukung dengan sajian sinematografi akan keindahan kota Verona, Italia yang kuat, paruh awal penceritaan LDR berhasil membangun awal perkenalan antara kedua karakter utamanya dengan cukup baik dan manis. Sayang, ketika hubungan antara karakter Carrie dan Demas telah mulai terbangun dengan baik dan ketika plot penceritaan mulai berpindah pada usaha karakter Carrie untuk membantu hubungan asmara antara karakter Demas dan Alexa, LDR mulai terasa begitu bertele-tele dalam penceritaannya.

Perubahan ritme penceritaan LDR yang lantas berjalan lamban tersebut jelas disebabkan atas keputusan untuk mengeksekusi naskah cerita LDR menjadi dua film yang berbeda. Akibatnya, bagian pertama dari LDR seringkali diisi dengan adegan maupun konflik yang sebenarnya terasa tidak memiliki kekuatan penceritaan yang mendalam dan dapat dihilangkan begitu saja. Keputusan untuk memanjang-manjangkan beberapa konflik yang tersaji dalam film ini juga tidak membuat penampilan LDR secara keseluruhan menjadi lebih baik. Seperti halnya Perahu Kertas (2012) arahan Hanung Bramantyo, adalah mudah untuk merasakan bahwa Naskah penceritaan LDR tidak memiliki materi pengisahan yang cukup untuk menjadikan dua film menjadi dua penceritaan yang sama-sama kuat dan tetap saling berhubungan satu sama lain.

Yang juga tidak cukup membantu kualitas presentasi keseluruhan film ini adalah pemilihan Verrel Bramasta dan Al Ghazali sebagai pemeran bagi dua sosok karakter dengan bagian kisah yang cukup krusial bagi LDR. Baiklah, adalah sangat dimengerti jika produser ingin memiliki dua aktor dengan penampilan fisik tampan guna menarik perhatian penonton remaja perempuan dalam menyaksikan film ini. Namun, dengan kemampuan akting keduanya yang (masih benar-benar) lemah, LDR menjadi terasa hadir tanpa detak kehidupan yang berarti. Datar. Chemistry yang dihasilkan oleh Verrell Bramasta dengan Mentari De Marelle benar-benar terasa gersang – suatu hal yang jelas seharusnya menjadi daya tarik utama dari film-film sejenis LDR. Verrell Bramasta dan Al Ghazali bahkan masih terlihat kaku di banyak adegan film – entah karena suhu Verona, Italia yang benar-benar membekukan mereka atau… yah… kemampuan akting mereka memang benar-benar hanya berada dalam tahapan begitu.

Untungnya film ini masih memiliki Mentari De Marelle. Layaknya nama yang disandangnya, Mentari mampu bersinar dan memberikan kehangatan tersendiri bagi kualitas departemen akting film ini. Begitu kuatnya penampilan Mentari, LDR lantas berjalan begitu semu setiap karakternya tidak berada dalam penceritaan film. Aurelie Moeremans sendiri juga tampil dengan kapasitas akting yang tidak mengecewakan. Namun, dengan porsi penceritaan yang tidak terlalu luas, jelas sulit bagi penampilan Aurelie untuk tampil lebih mengesankan bagi penonton.

Tidak banyak masalah yang ditemukan dari sisi teknikal LDR. Enggar Budiono berhasil memanfaatkan dengan maksimal keindahan kota Verona, Italia untuk menghadirkan gambar-gambar dengan kualitas membuai dalam keseluruhan presentasi LDR. Tata musik arahan Joseph S. Djafar yang tersaji dengan tambahan beberapa lagu pengiring yang pas juga mampu mengisi nuansa keromantisan film ini. Sedikit masalah mungkin dapat dirasakan dari proses dubbing film ini yang beberapa kali tampil tidak sesuai dengan gerak bicara dari karakter-karakter yang sedang berdialog. Cukup menarik untuk melihat apakah film kedua LDR nantinya akan mampu tampil dengan konflik yang lebih kuat atau malah turut tampil dengan deretan konflik yang terkesan dipanjang-panjangkan seperti yang tersaji dalam film pertamanya ini. [C-]

LDR (2015)

Directed by Guntur Soeharjanto Produced by Ody Mulya Hidayat Written by Cassandra Massardi Starring Al Ghazali, Verrell Bramasta, Aurelie Moeremans, Mentari De Marelle, Luthya Suri Music by Joseph S. Djafar Cinematography Enggar Budiono Editing by Ryan Purwoko Studio Maxima Pictures Running time 84 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Bulan di Atas Kuburan (2015)

bulan-di-atas-kuburan-posterBulan di Atas Kuburan merupakan sebuah film drama yang diadaptasi dari film Indonesia berjudul sama arahan Asrul Sani yang sebelumnya sempat dirilis pada tahun 1973. Asrul Sani sendiri mendapatkan inspirasi untuk menuliskan naskah cerita dari film yang berhasil memenangkan dua penghargaan di ajang Festival Film Indonesia pada tahun 1975 tersebut dari sebuah puisi karya Sitor Situmorang yang berjudul Malam Lebaran – sebuah puisi yang hanya berisikan frase “Bulan di atas kuburan” sebagai bait satu-satunya. Untuk versi teranyarnya, naskah cerita Bulan di Atas Kuburan dikerjakan oleh Dirmawan Hatta (Optatissimus, 2013) dengan melakukan pembaharuan pada linimasa penceritaan yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan politik masyarakat Indonesia di era modern. Edo WF Sitanggang, yang sebelumnya bertugas sebagai penata suara bagi film-film semacam Emak Ingin Naik Haji (2009), Toilet Blues (2013) dan Selamat Pagi, Malam (2014), melakukan debut pengarahannya bagi film ini.

Bulan di Atas Kuburan sendiri berkisah tentang tiga pemuda yang berasal dari tanah Samosir, Sumatera Utara, Sahat (Rio Dewanto), Tigor (Donny Alamsyah) dan Sabar (Tio Pakusadewo). Setelah melihat kesuksesan Sabar dalam merantau ke Jakarta, Sahat dan Tigor yang saling bersahabat lantas memutuskan untuk mencoba peruntungan mereka dengan turut datang ke ibukota. Lagipula, Sahat yang semenjak lama berniat untuk menjadi seorang penulis, baru saja mendapatkan kabar kalau naskah tulisannya akan diterbitkan oleh salah satu penerbit populer disana. Sayang, setibanya di Jakarta, Sahat dan Tigor harus berhadapan dengan realita kehidupan yang begitu keras di kota tersebut. Sabar yang dikira telah menjalani hidup enak ternyata hanyalah seorang kriminal kecil berdasi yang hidup pas-pasan. Naskah tulisan Sahat sendiri gagal untuk diterbitkan dan lantas terjebak dalam permainan politik seorang politikus (Remy Silado) yang berniat mencalonkan dirinya sebagai seorang presiden. Sementara Tigor harus kembali menjalani pekerjaannya seperti dahulu di Samosir, menjadi seorang sopir, dengan kondisi persaingan yang lebih berat dan bahkan harus berhadapan dengan deretan kriminal jalanan di Jakarta.

Lewat Bulan di Atas Kuburan, Dirmawan Hatta mencoba bercerita mengenai banyak hal melalui naskah cerita yang digarapnya. Berbagai sindiran sosial dan politik seperti kesenjangan antara si miskin dan si kaya, berbagai mimpi (mitos?) mengenai tanah Jakarta yang begitu menjanjikan, sikap sukuisme hingga obsesi untuk menjadi yang paling berkuasa – baik di jalanan maupun di ranah politik – disajikan dalam drama berdurasi 120 menit ini. Sayangnya, dengan konten yang terlalu padat, jalan cerita Bulan di Atas Kuburan gagal dipresentasikan dengan ritme penceritaan yang tepat. Selain kadang terasa terlalu lamban berjalan akibat dibebani terlalu banyak detil cerita yang sebenarnya kurang begitu diperlukan, Bulan di Atas Kuburan juga hadir dengan linimasa penceritaan yang terlalu acak. Dengan banyaknya konflik dan karakter, sulit untuk mengikuti perkembangan sudut pandang dari satu karakter ketika film ini memutuskan untuk meleburkan keseluruhan elemen ceritanya pada satu titik daripada berusaha menyajikannya dengan ritme penceritaan yang telabih beraturan.

Departemen akting Bulan di Atas Kuburan sendiri hadir dengan kualitas yang memuaskan. Meski hadir dengan chemistry yang jauh dari kesan meyakinkan ketika tampil dalam satu adegan bersama Atiqah Hasiholan, penampilan Rio Dewanto sebagai sosok pemuda berdarah Batak hadir dengan memuaskan. Transformasinya sebagai sosok pemuda daerah yang kemudian terjebak dalam rutinitas ibukota berhasil disajikan dengan baik. Begitu pula dengan Donny Alamsyah dan Tio Pakusadewo yang masing-masing mampu memberikan karakter mereka kompleksitas tersendiri atas berbagai konflik yang mereka hadapi dalam kehidupan. Para pemeran lain seperti Ria Irawan, Atiqah Hasiholan, Andre Hehanusa, Arthur Tobing, Nungky Kusumastuti hingga deretan kameo yang datang dari Amink, Meriam Bellina, Dayu Wijanto dan Denada Tambunan menambah solid kualitas departemen akting dari Bulan di Atas Kuburan.

Bulan di Atas Kuburan juga mampu tampil dengan kualitas teknikal yang kuat. Yang paling menonjol adalah tata sinematografi arahan Donny H. Himawan Nasution dan Samuel Uneputty yang mampu menyajikan gambar-gambar yang begitu indah namun tetap sesuai dengan atmosfer penceritaan yang dibutuhkan film ini. Begitu juga dengan aransemen musik bernuansa Batak arahan Willy Haryadi yang dibantu dengan Vicky Sianipar. Tampil begitu kuat dalam mengisi elemen emosional dari jalan cerita yang seringkali terasa kurang begitu mampu ditonjolkan. [C]

Bulan di Atas Kuburan (2015)

Directed by Edo WF Sitanggang Produced by Tim Matindas, Dennis Chandra, Leonardo A. Taher Written by Dirmawan Hatta (screenplay), Asrul Sani (previous screenplay, Bulan di Atas Kuburan) Starring Rio Dewanto, Tio Pakusadewo, Donny Alamsyah, Atiqah Hasiholan, Andre Hehanusa, Annisa Pagih, Ria Irawan, Ray Sahetapy, Arthur Tobing, Nungky Kusumastuti, Remy Sylado, Mutiara Sani, Mentari De Marelle, Meriam Bellina, Monica Setiawan, Otis Pamutih, Dayu Wijanto, Alfridus Godfred, Ferry Salim, Amink, Denada Tambunan Music by Willy Haryadi Cinematography Donny H. Himawan Nasution, Samuel Uneputty Editing by Edo Dunggio, Thomson Sianturi Studio Sunshine Pictures/MAV Production/FireBird Films Running time 120 minutes Country Indonesia Language Indonesian