Tag Archives: Matthew Beard

Review: Johnny English Strikes Again (2018)

He’s back! Merupakan film pertamanya dalam tujuh tahun, Rowan Atkinson kembali hadir untuk memerankan salah satu karakter ikoniknya – No, not that oneJohnny English, yang sebelumnya telah ia perankan lewat Johnny English (Peter Howitt, 2003) dan Johnny English Reborn (Oliver Parker, 2011). Masih mengedepankan ritme pengisahan sebagai parodi dari film-film aksi bertema spionase, Johnny English Strikes Again berkisah mengenai Johnny English (Atkinson), yang telah pensiun menjadi agen rahasia MI7 dan kini bekerja sebagai seorang guru, namun kemudian dipanggil kembali oleh negara melalui perintah sang Perdana Menteri (Emma Thompson) akibat terjadinya sebuah serangan siber yang menyerang dan kemudian membuka identitas seluruh agen rahasia milik MI7. Bersama dengan sahabatnya, Jeremy Bough (Ben Miller), Johnny English ditugaskan untuk menyelidiki siapa dalang dibalik terjadinya serangkaian serangan siber tersebut. Tugas tersebut membawa Johnny English ke Perancis dimana ia berkenalan dengan Ophelia (Olga Kurylenko), seorang wanita cantik yang ternyata juga merupakan agen rahasia asal Rusia dan berupaya agar Johnny English gagal dalam menjalankan misi spionasenya. Continue reading Review: Johnny English Strikes Again (2018)

Advertisements

Review: The Imitation Game (2014)

the-imitation-game-posterThe Imitation Game jelas akan terdengar sebagai sebuah presentasi yang cukup membosankan jika hanya digambarkan sebagai sebuah film biopik yang berkisah tentang kehidupan seorang ahli Matematika bernama Alan Turing. But it’s true. Ditulis oleh Graham Moore, naskah cerita The Imitation Game diadaptasi dari biografi berjudul Alan Turing: The Enigma yang memang memaparkan kehidupan ilmuwan asal Inggris yang berhasil merakit mesin yang menjadi cikal bakal mesin komputer yang kita kenal saat ini. Namun, kehidupan Turing sendiri jelas jauh dari kesan sederhana maupun biasa saja. Turing adalah ilmuwan yang berhasil memecahkan kode Enigma milik pasukan Jerman di kala Perang Dunia II dan membantu Pasukan Sekutu untuk meraih kemenangan mereka. Di saat yang bersamaan, kehidupan pribadi Turing juga begitu kompleks ketika Turing, yang merupakan seorang homoseksual, hidup di kala pilihan orientasi seksual tersebut masih dianggap sebagai sebuah kejahatan oleh negara kelahiran Turing.

Dengan mengambil potongan kisah kehidupan Turing dari masa sekolahnya di tahun 1927 hingga saat ia menjalani pemeriksaan dan menjalani hukuman atas kesalahan perbuatan yang kurang pantas untuk pilihan orientasi seksualnya di tahun 1950an, Moore mampu menggarap naskah cerita The Imitation Game dengan baik. Moore mampu menyusun setiap tahap kehidupan Turing secara seksama untuk membawakan tema-tema cerita yang secara tidak langsung masih terasa relevan di era sekarang. Moore bahkan tidak berusaha mengeksploitasi jalan cerita film untuk menyajikan kehidupan pribadi Turing secara mendalam dan memilih untuk menghadirkan Turing sebagai sosok cerdas yang memiliki begitu banyak ide brilian di dalam kepalanya.

Pengarahan Morten Tyldum (Headhunters, 2011) yang apik juga mendukung The Imitation Game untuk menjadi sebuah presentasi yang emosional tanpa pernah berusaha memaksa penonton untuk bersimpati pada Turing. Tyldum berhasil menyajikan penceritaan film dengan ritme yang begitu terjaga di sepanjang 114 menit durasi penceritaan The Imitation Game. Jalan cerita yang dipenuhi dengan adegan kilas balik juga mampu tergarap baik dengan dukungan tata produksi yang apik, termasuk tata musik arahan Alexandre Desplat yang mampu mendukung atmosfer penceritaan dengan penuh serta tata sinematografi arahan Óscar Faura yang menyajikan pilihan gambar-gambar indah untuk film ini.

Jika ada bagian yang terasa lemah dalam presentasi The Imitation Game, hal tersebut jelas akan terasa datang dari kurangnya eksplorasi yang dilakukan Moore dan Tyldum pada karakter-karakter pendukung yang berada di sekitar karakter Turing. Padahal, karakter-karakter tersebut juga memiliki peranan yang cukup krusial untuk mempengaruhi kehidupan Turing dalam jalan cerita film. Karena hal itulah, karakter-karakter pendukung yang diperankan oleh nama-nama seperti Keira Knightley, Matthew Goode, Mark Strong hingga Rory Kinnear tidak pernah tampil dengan porsi penceritaan yang memuaskan meskipun hadir dalam penampilan yang kuat dari setiap pemerannya.

The Imitation Game sendiri menjadi ajang pembuktian bagi kemampuan berakting Benedict Cumberbatch yang begitu berkelas. Lewat kemampuan aktingnya, karakter Alan Turing mampu dihadirkan dengan begitu hidup dan hadir dengan pesona yang kuat – meskipun karakteristik yang dihadirkan naskah cerita Graham Moore bagi karakter Turing adalah sosok yang anti-sosial dan sukar untuk disukai. Cumberbatch berhasil menterjemahkan dengan sempurna sesosok karakter yang begitu kompleks secara emosional untuk kemudian tampil sebagai karakter yang dengan mudah dapat terhubung dengan setiap penonton. Penampilan Cumberbatch serta deretan pengisi departemen akting The Imitation Game yang begitu kuat inilah yang menjadi kunci utama mengapa film ini mampu mengalir dengan baik dalam penceritaannya dan menjadi lebih dari sekedar film biopik biasa. [B]

The Imitation Game (2014)

Directed by Morten Tyldum Produced by Nora Grossman, Ido Ostrowsky, Teddy Schwarzman Written by Graham Moore (screenplay), Andrew Hodges (book, Alan Turing: The Enigma) Starring Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, Matthew Goode, Mark Strong, Charles Dance, Allen Leech, Matthew Beard, Rory Kinnear, Alex Lawther, Jack Bannon, Victoria Wicks, David Charkham, Tuppence Middleton, James Northcote, Steven Waddington Music by Alexandre Desplat Cinematography Óscar Faura Edited by William Goldenberg Production company Black Bear Pictures/FilmNation Entertainment/Bristol Automotive Running time 114 minutes Country United Kingdom, United States Language English

Review: One Day (2011)

Setelah sukses menyutradarai An Education (2009), yang berhasil mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia sekaligus memberikan Carey Mulligan nominasi Academy Awards perdananya, sutradara asal Denmark, Lone Scherfig, kembali duduk di kursi sutradara dengan mengarahkan One Day, sebuah film yang diadaptasi dari novel populer berjudul sama karya novelis asal Inggris, David Nicholls – yang juga bertanggungjawab terhadap proses penulisan naskah film ini. Menceritakan kisah persahabatan dan percintaan antara dua karakter utamanya, One Day memiliki momen-momen dimana film ini dapat tampil begitu hangat dan romantis. Namun, segmentasi yang dilakukan terhadap bagian-bagian jalan cerita serta beberapa karakter yang dihadirkan terlalu dangkal cukup mampu membuat One Day terkadang berkesan datar.

Continue reading Review: One Day (2011)