Tag Archives: Matt Gerald

Review: Rampage (2018)

Merupakan kali ketiga sutradara Brad Peyton mengarahkan aktor Dwayne Johnson – setelah Journey 2: The Mysterious Island (2012) dan San Andreas (2015) yang sama-sama mendapatkan tinjauan buruk dari mayoritas kritikus film dunia namun berhasil meraih kesuksesan komersial yang cukup besar sepanjang masa rilisnya, Rampage merupakan sebuah film yang deretan karakter dan konfliknya diadaptasi dari permainan video popular berjudul sama yang diproduksi oleh Midway Games. Well… mereka yang tidak begitu menggemari dua film hasil kerjasama Peyton dan Johnson sebelumnya seharusnya tidak berharap banyak pada Rampage. Seperti halnya Journey 2: The Mysterious Island dan San Andreas, Rampage menitikberatkan presentasi ceritanya pada tampilan visual yang megah dengan seringkali mengenyampingkan fungsi kehadiran cerita dan karakter. Terdengar menyenangkan? Continue reading Review: Rampage (2018)

Advertisements

Review: San Andreas (2015)

san-andreas-posterIt looks like Dwayne Johnson is going to have quite a marvelous year. Setelah membintangi Fast and Furious 7 arahan James Wan yang dirilis pada April lalu – dan kini sedang mendekati The Avengers (Joss Whedon, 2012) sebagai film dengan raihan pendapatan komersial terbesar ketiga di seluruh dunia, Johnson hadir lagi dalam sebuah film musim panas dengan formula yang sepertinya akan menarik minat banyak perhatian penikmat film dunia: sebuah film tentang bencana alam yang membahayakan keberadaan manusia di atas pemukaan Bumi. Yum. Diarahkan oleh Brad Peyton yang sebelumnya pernah mengarahkan Johnson dalam Journey 2: The Mysterious Island (2012), San Andreas tampil dengan segala kejayaan yang dapat dihadirkan oleh kekuatan efek visual yang canggih. Namun, lebih dari itu, San Andreas sayangnya terasa kosong akibat jalan cerita yang dikembangkan secara dangkal dengan berbagai konflik klise yang biasa hadir dalam film-film sejenis buatan Hollywood.

Tidak banyak hal yang dapat diceritakan dari jalan cerita San Andreas. Hanyalah sebuah variasi dari berbagai sajian drama yang hadir dalam sebuah film tentang bencana alam sebelum film tersebut menghadirkan pameran efek visual di layar lebar bagi para penontonnya. Raymond Gaines (Johnson) adalah seorang pilot helikopter penyelamat dari Los Angeles Fire Department yang kini sedang berada dalam proses perceraian dari istrinya, Emma (Carla Gugino). Ray seharusnya berangkat bersama puteri tunggalnya, Blake (Alexandra Daddario), ke San Fransisco sebelum akhirnya sebuah gempa yang terjadi di kawasan Arizona memaksanya untuk kembali bertugas. Tidak disangka, gempa tersebut ternyata hanyalah awal dari sebuah gempa besar yang siap mengancam nyawa orang-orang di berbagai kawasan Amerika Serikat, termasuk nyawa istri dan anak Ray yang sedang berada di sekitar pusat gempa tersebut.

San Andreas sepertinya memang hanya ditujukan sebagai ajang pameran kecanggihan efek visual dalam menghadirkan deretan gambar tentang bencana alam untuk dapat memanjakan mata para penontonnya. Dari sisi cerita? Penulis naskah cerita Carlton Cuse hanyalah mengikuti sederetan formula konflik dan karakter yang hadir dalam film-film sejenis bahkan tanpa pernah terasa untuk berusaha menyajikan sesuatu yang berbeda di dalamnya. Seorang ilmuwan yang memperingatkan tentang keberadaan bencana alam lalu tidak dipedulikan oleh orang lain? Check. Seorang pria protagonis utama dengan masalah keluarga yang dihadapinya? Check. Seorang karakter antagonis yang hanya memikirkan diri sendiri? Check. Kisah cinta antara dua sosok karakter yang bertemu ketika lingkungan sekitarnya sedang menghadapi bencana? Check. Masalah keluarga yang lantas mulai dapat diselesaikan setelah menghadapi masalah bersama? Check. Bencana alam mulai dari gempa besar hingga kehadiran tsunami setinggi gedung pencakar langit? Check. Sama sekali tidak ada yang baru dalam barisan konflik dan penceritaan San Andreas. Anda dapat menutup mata dan mendengarkan dialog yang ada di film ini dan Anda dapat dengan mudah masih mengikuti jalan penceritaan film ketika Anda kemudian membuka mata.

Kemalasan sang penulis naskah dalam menggarap jalan ceritanya juga dapat dirasakan pada penggambaran karakter-karakter yang hadir di sepanjang jalan penceritaan San Andreas. Beruntung, film ini masih diberkahi dengan barisan pengisi departemen akting yang dapat diandalkan. Dwayne Johnson hadir dengan kharisma pahlawan super yang biasa ia hadirkan dengan sangat meyakinkan dalam film ini. Chemistry yang ia bangun bersama Carla Gugino dan Alaxandra Daddario sebagai sebuah bagian keluarga juga terasa kuat. Begitu pula dengan beberapa pemeran pendukung lainnya seperti paul Giamatti, Archie Panjabi hingga Ioan Gruffudd yang masih tetap berusaha profesional dalam kemampuan akting mereka meskipun dengan karakter yang benar-benar terbatas fungsi penceritaannya.

Sebagai sebuah film yang bertumpu pada kekuatan penataan efek visualnya, San Andreas harus diakui mampu menghadirkan momen-momen kuat dalam setiap gambarnya. Bukanlah sebuah sajian yang sangat istimewa namun jelas masih akan mampu memberikan sentuhan emosional tersendiri – suatu hal yang tidak akan pernah dapat dicapai oleh kualitas penulisan naskah film ini. Brad Peyton sebagai sutradara film juga cukup mampu merangkai filmnya dengan ritme penceritaan yang cepat. Di menit ketika San Andreas mulai menyajikan rangkaian bencana yang memang menjadi menu utama filmnya, Peyton langsung menaikkan tempo penceritaan tanpa pernah mau melambatkannya lagi. Presentasi yang buruk? Tidak juga. Malas? Pastinya. [C-]

San Andreas (2015)

Directed by Brad Peyton Produced by Beau Flynn, Hiram Garcia, Tripp Vinson Written by Carlton Cuse (screenplay), Andre Fabrizio, Jeremy Passmore (story) Starring Dwayne Johnson, Carla Gugino, Alexandra Daddario, Ioan Gruffudd, Archie Panjabi, Paul Giamatti, Hugo Johnstone-Burt, Art Parkinson, Will Yun Lee, Kylie Minogue, Colton Haynes, Todd Williams, Matt Gerald Music by Andrew Lockington Cinematography Steve Yedlin Editing by Bob Ducsay Studio New Line Cinema/Flynn Picture Company/Village Roadshow Pictures/RatPac-Dune Entertainment Running time 114 minutes Country United States Language English

Review: Freelancers (2012)

Freelancers (Grindstone Entertainment Group/Cheetah Vision/Emmett/Furla Films/Paradox Entertainment, Inc./Action Jackson Films/Rick Jackson Films/Envision Entertainment, 2012)
Freelancers (Grindstone Entertainment Group/Cheetah Vision/Emmett/Furla Films/Paradox Entertainment, Inc./Action Jackson Films/Rick Jackson Films/Envision Entertainment, 2012)

Siapa yang bilang kalau uang tidak dapat membeli segalanya? Well… setidaknya uang mampu memberikan Curtis Jackson – atau yang lebih dikenal sebagai seorang penyanyi rap dengan nama panggung 50 Cent – sebuah kesempatan yang cukup luas untuk tampil berakting di banyak film yang ia inginkan. Bersama dengan produser Randall Emmet, Jackson menginvestasikan uangnya dengan mendirikan rumah produksi Cheetah Vision yang hebatnya kemudian berhasil mengumpulkan beberapa investor lain yang mau turut berkontribusi sejumlah total US$200 juta untuk membiayai sepuluh film yang diproduksi rumah produksi tersebut semenjak awal tahun 2011. Hasilnya? Cheetah Vision memproduksi film-film seperti Fire with Fire (2012), The Frozen Ground (2013) dan Empire State (2013) yang berkualitas cukup menyedihkan dan kebanyakan langsung dirilis dalam bentuk home video namun tetap mampu menarik nama-nama aktor popular maupun pemenang penghargaan film untuk membintangi film-film tersebut.

Continue reading Review: Freelancers (2012)

Review: G.I. Joe: Retaliation (2013)

G.I.-Joe-Retaliation-Header

Disutradarai oleh Jon M. Chu (Justin Bieber: Never Say Never, 2011) – yang menggantikan sutradara di seri sebelumnya, Stephen Sommers – atas naskah cerita yang ditulis oleh Rhett Reese dan Paul Wernick (Zombieland, 2009), G.I. Joe: Retaliation berkisah pada latar belakang waktu beberapa bulan setelah deretan kejadian yang digambarkan pada G.I. Joe: The Rise of Cobra (2009). Kini, G.I. Joe dipimpin oleh Duke (Channing Tatum) yang mengendalikan pasukan tersebut bersama sahabatnya, Roadblock (Dwayne Johnson), serta beberapa prajurit terlatih seperti Flint (D.J. Cotrona) dan Lady Jaye (Adrianne Palicki). Oleh pemerintah Amerika Serikat, G.I. Joe terus dipercaya sebagai pasukan penjaga perdamaian yang selalu dapat diandalkan untuk melakukan tugas-tugas negara. Namun, sebuah pengkhianatan besar siap untuk menghancurkan mereka.

Continue reading Review: G.I. Joe: Retaliation (2013)

Review: Faster (2010)

Ketika mantan bintang World Wrestling Entertainment, Dwayne Johnson atau yang pada masa itu dikenal sebagai The Rock, memulai karir aktingnya di film layar lebar, mungkin tidak ada seorangpun yang akan menyangka bahwa dirinya akan membintangi film semacam The Game Plan (2007), Race to Witch Mountain (2009) atau Tooth Fairy (2010), yang notabene merupakan film-film yang dipasarkan untuk kalangan keluarga. Johnson mungkin melakukannya atas nama variasi peran, namun sayangnya, kualitas film-film tersebut yang seringkali patut dipertanyakan, justru membuat nama Johnson menjadi terpuruk dengan kemampuan aktingnya yang semakin diragukan.

Continue reading Review: Faster (2010)