Tag Archives: Martin Freeman

Review: Ghost Stories (2018)

Diarahkan oleh Andy Nyman dan Jeremy Dyson, Ghost Stories bercerita mengenai Professor Phillip Goodman (Nyman) yang mendedikasikan hidupnya untuk membuka tabir kebohongan yang sering diungkapkan para cenayang palsu guna menipu dan mendapatkan keuntungan dari para orang-orang yang dengan mudah percaya begitu saja dengan berbagai hal-hal yang berbau supranatural. Suatu hari, Professor Phillip Goodman dihadapkan pada tiga kasus bernuansa mistis yang dihadapi oleh tiga orang yang berbeda: seorang penjaga malam bernama Tony Matthews (Paul Whitehouse), seorang remaja bernama Simon Rifkind (Alex Lather), serta seorang pengusaha bernama Mike Priddle (Martin Freeman). Professor Phillip Goodman percaya bahwa kasus-kasus mistis yang dihadapi oleh ketiga orang tersebut dapat dijelaskan secara rasional dan terjadi akibat refleksi ketakutan sekaligus tekanan mental yang mereka alami. Namun, seiring dengan semakin mendalamnya penelitian yang ia lakukan, Professor Phillip Goodman menemukan berbagai sisi supranatural yang kemudian menantang segala kepercayaan yang ia anut selama ini. Continue reading Review: Ghost Stories (2018)

Advertisements

Review: Black Panther (2018)

Ada sesuatu yang berbeda pada presentasi film pahlawan super terbaru garapan Marvel Studios yang berjudul Black Panther. Merupakan sebuah origin story yang memperkenalkan sosok pahlawan super baru dalam rangkaian pengisahan Marvel Cinematic Universe, Black Panther menghadirkan deretan karakter yang didominasi oleh karakter-karakter berkulit hitam dengan latar belakang lokasi penceritaan yang juga berada di benua Afrika. Tidak hanya itu. Dibandingkan dengan film-film pahlawan super lainnya yang telah dirilis oleh Marvel Studios, naskah cerita Black Panther yang ditulis oleh sutradara film ini, Ryan Coogler (Creed, 2015), bersama dengan Joe Robert Cole, juga menawarkan jalinan cerita yang memiliki nuansa politis yang cukup kental. Warna penceritaan yang cukup mampu memberikan nafas segar bagi kisah heroik a la Marvel Studios yang harus diakui telah terasa berjalan cukup monoton pada beberapa film garapan mereka akhir-akhir ini. Continue reading Review: Black Panther (2018)

Review: The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014)

The Hobbit: The Battle of the Five Armies (New Line Cinema/Metro-Goldwyn-Mayer/WingNut Films, 2014)The Hobbit: The Battle of the Five Armies‘ primarily brings with it a sensation of relief that the muddling and ultimately middling affair is finished.

While it lacks in stand-alone value is made up in its gaggle of spectacular set-pieces and a little story that directly leads into he Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring‘. At least the last prequel is a worthy companion piece to Peter Jackson’s much more superior trilogy.

It’s actually quite funny to see Jackson reflects himself into Thorin Oakenshield: Both has been suffering “dragon sickness”, a compulsive lust for gold. And thank God now Jackson can rest his tired mind, get on with new projects and move far, far away from the Middle Earth. [C]

The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014)

Directed by Peter Jackson Produced by Carolynne Cunningham, Zane Weiner, Fran Walsh, Peter Jackson Written by Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson, Guillermo del Toro (screenplay), J. R. R. Tolkien (book, The Hobbit) Starring Ian McKellen, Martin Freeman, Richard Armitage, Evangeline Lilly, Lee Pace, Luke Evans, Benedict Cumberbatch, Ken Stott, James Nesbitt, Cate Blanchett, Ian Holm, Christopher Lee, Hugo Weaving, Orlando Bloom Music by Howard Shore Cinematography Andrew Lesnie Edited by Jabez Olssen Studio New Line Cinema/Metro-Goldwyn-Mayer/WingNut Films Running time 144 minutes Country New Zealand, United States Language English

Review: The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)

The-Hobbit-The-Desolation-of-Smaug-header

So… where are we? Right! Dalam The Hobbit: The Desolation of Smaug, Bilbo Baggins (Martin Freeman) dan Gandalf (Ian McKellen) bersama dengan sekelompok kurcaci yang dipimpin oleh Thorin Oakenshield (Richard Armitage) melanjutkan perjalanan mereka menuju Lonely Mountain dengan memilih sebuah jalan pintas yakni melalui kawasan hutan Mirkwood. Tepat sebelum mereka memasuki kawasan hutan tersebut, Gandalf menemukan pesan rahasia yang terdapat pada sebuah reruntuhan bangunan tua. Penemuan tersebut membuat Gandalf memilih untuk meninggalkan Bilbo dan kawanannya tanpa memberitahukan alasan kepergiannya. Meskipun begitu, sebelum kepergiannya, Gandalf berpesan pada kelompok tersebut agar tetap mengikuti jalur jalanan yang telah tersedia di kawasan hutan Mirkwood dan menunggu kedatangan dirinya sebelum memasuki Lonely Mountain.

Continue reading Review: The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)

Review: The Hobbit: An Unexpected Journey (2012)

the-hobbit-header

Hampir satu dekade semenjak Peter Jackson merilis seri terakhir trilogi The Lord of the Rings, The Lord of the Rings: The Return of the King (2003), kini sutradara asal Selandia Baru tersebut bersiap untuk menggelar sebuah trilogi cerita lainnya dengan mengadaptasi novel The Hobbit yang menjadi prekuel dari seri The Lord of the Rings karya J. R. R. Tolkien. Benar… Jackson siap untuk membuat tiga film baru berdasarkan satu novel karya Tolkien. Rasa skeptis jelas akan membayangi banyak penonton atas keputusan Jackson tersebut. Apakah dunia membutuhkan sebuah perjalanan lain ke Middle Earth? Mampukah Jackson mengulangi daya tarik serta kesuksesan kualitas berkelas dari trilogi The Lord of the Rings (2001 – 2003)? Apakah The Hobbit hanyalah sebuah proyek yang bertujuan komersial belaka? Dan sayangnya, dengan apa yang disajikan Jackson pada seri pertama The Hobbit, The Hobbit: An Unexpected Journey, rasa skeptis tersebut sepertinya tidak akan begitu cepat menghilang dari benak banyak orang.

Continue reading Review: The Hobbit: An Unexpected Journey (2012)

Review: Wild Target (2010)

Dalam Wild Target, Bill Nighy berperan sebagai Victor Maynard, pria yang meneruskan bisnis keluarganya sebagai seorang pembunuh bayaran profesional. Dengan usia yang hampir menginjak 55 tahun, sebagai satu-satunya penerus generasi keluarganya yang hingga saat ini masih belum memiliki keluarga dan keturunan, wajar jika ibunya, Louisa (Eileen Atkins), mulai merasa khawatir dan mengira bahwa Victor adalah seorang homoseksual. Menyambut ulang tahun Victor, Louisa memberikannya sebuah buku berisi kumpulan artikel berita mengenai para korban yang telah berhasil dibunuh oleh Victor dan sebuah harapan bahwa Victor akan segera menemukan jodohnya. Louisa tentu saja tidak akan menyangka bahwa Victor akan segera menemukannya… dalam perwujudan seorang wanita yang seharusnya menjadi korban pembunuhannya.

Continue reading Review: Wild Target (2010)