Tag Archives: Marisa Tomei

Review: Spider-Man: Homecoming (2017)

Spider-Man: Homecoming adalah usaha terbaru dari Columbia Pictures untuk memberikan penyegaran (sekaligus mempertahankan) seri film Spider-Man dalam daftar rilisan rumah produksi tersebut. Hal ini bukanlah kali pertama Columbia Pictures melakukannya. Dalam rentang waktu tahun 2012 hingga 2014, rumah produksi milik Sony Pictures Entertainment tersebut merilis dwilogi The Amazing Spider-Man garapan Marc Webb yang dimaksudkan sebagai reboot bagi trilogi Spider-Man arahan Sam Raimi yang berhasil meraih sukses besar ketika dirilis dari tahun 2002 hingga 2007. Sayangnya, baik The Amazing Spider-Man maupun The Amazing Spider-Man 2 gagal untuk meraih kesuksesan yang sama besarnya dengan trilogi Spider-Man milik Raimi. Belajar dari “kesalahan” tersebut, Columbia Pictures lantas memilih untuk turut melibatkan langsung Marvel Studios dalam pembuatan Spider-Man: Homecoming – sebuah kerjasama yang dimulai dengan kehadiran sang manusia laba-laba pada Captain America: Civil War (Anthony Russo, Joe Russo, 2016). Penampilan singkat Spider-Man dalam Captain America: Civil War memang berhasil mencuri perhatian tapi apakah keberadaan Marvel Studios mampu memberikan dorongan positif bagi performa Spider-Man dalam film tunggalnya? Continue reading Review: Spider-Man: Homecoming (2017)

Advertisements

Review: Parental Guidance (2012)

parental-guidance-header

Baiklah… apa yang Anda harapkan untuk sebuah film drama komedi keluarga yang dibintangi oleh nama-nama seperti Billy Crystal dan Bette Midler? Well… rasanya semua orang yang memilih untuk menyaksikan film ini akan tahu pasti apa yang akan mereka dapatkan: sebuah film keluarga dengan jalan cerita yang sudah pasti akan dapat dengan mudah ditebak dan diisi dengan deretan guyonan yang mungkin telah digunakan berulang kali namun masih tetap terdengar lucu sekaligus dengan momen-momen hangat yang dapat menyentuh setiap orang. Klise? Tradisional mungkin adalah kata yang lebih tepat. Namun kehangatan chemistry yang dihadirkan oleh jajaran pengisi departemen akting Parental Guidance sepertinya akan terlalu sulit untuk ditolak dan akan mampu membuat setiap orang dengan mudah untuk menyukai film ini.

Continue reading Review: Parental Guidance (2012)

Review: The Ides of March (2011)

Dalam drama Julius Caesar yang ditulis oleh William Shakespeare, seorang peramal mengingatkan akan datangnya sebuah bahaya terhadap kekuasaan dan keselamatan Julius Caesar dengan mengucapkan kalimat, “Beware of the ides of March.” Istilah the ides of March, yang arti awalnya merupakan sebuah sebutan bagi masa ketika penanggalan bulan Maret telah mencapai masa pertengahannya, kemudian memiliki pergeseran arti ketika Julius Caesar akhirnya menemui the ides of March tersebut: ia dikhianati dan dibunuh oleh sekelompok anggota senat yang dipimpin oleh Marcus Junius Brutus. The Ides of March, yang menandai kali keempat aktor pemenang Academy Awards, George Clooney, menyutradarai sebuah film layar lebar, bukanlah sebuah film yang mengadaptasi Julius Caesar. Namun, The Ides of March berbagi tema yang serupa dengan karya klasik Shakespeare tersebut: sebuah cerita yang berisi intrik politik hitam dimana deretan karakternya saling berkonspirasi, melakukan pengkhianatan dan berusaha untuk menjatuhkan satu sama lain.

Continue reading Review: The Ides of March (2011)

Review: Crazy, Stupid, Love. (2011)

Sesuai dengan kesan yang akan didapatkan penonton ketika membaca judul film ini, Crazy, Stupid, Love. mencoba untuk menggabungkan elemen drama, komedi dan romansa ke dalam sebuah jalinan kisah yang berdurasi sepanjang 118 menit. Berhasil? Sebagai sebuah komedi, Crazy, Stupid, Love. cukup mampu untuk tampil stabil di berbagai bagian ceritanya. Didukung dengan penampilan apik para jajaran pemerannya serta naskah cerita yang berisi deretan dialog menghibur dan ditulis oleh Dan Fogelman (Cars 2, 2011), Crazy, Stupid, Love. harus diakui berhasil memberikan banyak momen-momen menyenangkan bagi penontonnya. Sayangnya, usaha untuk melebarkan sayap ke wilayah drama romansa seringkali berakhir dengan kegagalan akibat terlalu banyaknya sisi cerita yang ingin dikembangkan yang berakibat kurang fokusnya penceritaan yang disampaikan kepada penonton.

Continue reading Review: Crazy, Stupid, Love. (2011)

Review: The Lincoln Lawyer (2011)

Walau lebih dikenal sebagai aktor yang kebanyakan memilih untuk berperan dalam film-film komedi romantis — dimana ia seringkali mendapatkan kesempatan untuk menampilkan tubuhnya yang atletis serta kehandalannya dalam memikat sang pemeran utama wanita — kisah drama persidangan seperti The Lincoln Lawyer bukanlah sebuah hal yang baru bagi aktor Matthew McConaughey. Sebelumnya, ia sukses mendapatkan pujian banyak kritikus film dunia ketika berperan sebagai seorang pengacara dalam A Time to Kill (1996). Dan kini, dengan memanfaatkan daya tarik yang selama ini sering ia tampilkan – sebagai seorang pria dengan rasa percaya diri yang luar biasa tinggi – McConaughey sukses membawakan The Lincoln Lawyer tampil begitu menarik dan mengesankan, walaupun dalam balutan kisah yang cukup melelahkan untuk disimak.

Continue reading Review: The Lincoln Lawyer (2011)