Tag Archives: Mandy Moore

Review: Midway (2019)

Masih ingat dengan peristiwa pengeboman Pangkalan Angkatan Laut Pearl Harbor milik Amerika Serikat oleh Angkatan Laut Jepang di tahun 1941 yang lantas memicu keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam Perang Dunia II? Atau… well… masih ingat dengan konflik yang dikisahkan oleh film Pearl Harbor (2001) arahan Michael Bay yang dibintangi Ben Affleck, Kate Beckinsale, dan Josh Hartnett yang mampu mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$450 juta terlepas dari kritikan tajam yang dialamatkan oleh banyak kritikus film dunia? Midway menghadirkan kisah bersejarah tentang keberhasilan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk meredam serangan Angkatan Laut Jepang di Kepulauan Midway yang terjadi enam bulan setelah terjadinya serangan terhadap Pangkalan Angkatan Laut Pearl Harbor. Pertempuran Midway mungkin tidak sepopular Pengeboman Pearl Harbor bagi kebanyakan masyarakat dunia namun, tetap saja, kisah kepahlawanan pasukan Angkatan Laut Amerika Serikat dalam melawan serangan pasukan Jepang masih layak untuk diceritakan. Continue reading Review: Midway (2019)

Review: Ralph Breaks the Internet (2018)

Merupakan kali pertama Walt Disney Animation Studios memproduksi sebuah sekuel bagi film animasinya setelah sebelumnya merilis Fantasia 2000 (Don Hahn, Pixote Hunt, Hendel Butoy, Eric Goldberg, James Algar, Francis Glebas, Paul Brizzi, Gaëtan Brizzi, 1999) yang merupakan sekuel dari Fantasia (Samuel Armstrong, James Algar, Bill Roberts, Paul Satterfield, Ben Sharpsteen, David D. Hand, Hamilton Luske, Jim Handley, Ford Beebe, T. Hee, Norman Ferguson, Wilfred Jackson, 1940), Ralph Breaks the Internet kembali menempatkan sutradara Wreck-It Ralph (2012), Richard Moore untuk duduk di kursi penyutradaraan dengan bantuan dari Phil Johnston yang juga bertugas sebagai penulis naskah film ini bersama dengan Pamela Ribon (Smurfs: The Lost Village, 2017). Layaknya sebuah sekuel, Ralph Breaks the Internet memberikan sebuah semesta pengisahan yang lebih luas bagi karakter-karakternya namun tetap mempertahankan elemen cerita tentang persahabatan yang telah menjadi fokus utama semenjak film pendahulunya. Tidak mengherankan bila Ralph Breaks the Internet mampu hadir dengan tata pengisahan dan karakterisasi yang lebih berwarna sekaligus dengan ikatan emosional kepada penonton yang lebih kuat. Continue reading Review: Ralph Breaks the Internet (2018)

Review: 47 Meters Down (2017)

Diarahkan oleh Johannes Roberts (The Other Side of the Door, 2016), 47 Meters Down berkisah mengenai pasangan kakak beradik yang mengalami kecelakaan ketika sedang berliburan di lautan Meksiko yang kemudian memaksa mereka untuk bertahan hidup dari kumpulan hiu yang siap untuk menyerang mereka. Well… dirilis setahun setelah sukses besar yang diraih The Shallows yang memiliki pola pengisahan yang cukup serupa – karakter wanita yang harus berjuang di tengah lautan dari serangan kawanan hiu – perbandingan pada film arahan Jaume Collet-Serra tersebut jelas tidak dapat dihindari.  47 Meters Down, sayangnya, tidak memiliki bangunan karakter sebaik bangunan karakter yang diciptakan untuk karakter yang diperankan Blake Lively dalam The Shallows. Meskipun begitu, seperti halnya Collet-Serra, Roberts mampu menggarap 47 Meters Down dengan pengarahan yang apik sehingga film ini berhasil hadir dengan deretan momen menegangkan yang jelas akan sukses membuat penonton menahan nafas mereka. Continue reading Review: 47 Meters Down (2017)

Review: Love, Wedding, Marriage (2011)

Belajar dari pengalamannya dalam membintangi film-film drama komedi romantis seperti My Best Friend’s Wedding (1997), The Wedding Date, The Family Stone dan Must Love Dogs (yang ketiganya dirilis pada tahun 2005), aktor Dermot Mulroney melakukan debut penyutradaraannya lewat film Love, Wedding, Marriage. Mulroney, sayangnya, bukanlah seorang aktor yang memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi seorang sutradara yang inovatif. Dalam film perdananya, Mulroney terkesan hanya ‘bermain aman’ dengan mengikuti berbagai formula drama komedi romantis yang telah ada dan menolak untuk berusaha menampilkan sebuah sudut pandang baru dalam jalan cerita filmnya. Hasilnya, selain terasa begitu repetitif, Love, Wedding, Marriage jelas terlihat sebagai sebuah usaha penyutradaraan yang sama sekali gagal untuk dapat ditampilkan bagi banyak orang.

Continue reading Review: Love, Wedding, Marriage (2011)

Review: Tangled (2010)

Walt Disney mungkin adalah nama yang cukup disegani di industri perfilman Hollywood – khususnya ketika membicarakan mengenai film-film animasi. Namun tidak dapat disangkal, tanpa adanya bantuan dari Pixar Animation Studios, mungkin nama Walt Disney di industri film animasi Hollywood telah lama tenggelam. Mereka sebenarnya tidak pernah tampil mengecewakan, tapi di luar film-film karya Pixar yang mereka distribusikan dan semenjak merilis The Lion King di tahun 1994, Walt Disney Animation Studios lebih sering merilis film-film animasi berkualitas ‘menengah’ daripada film-film animasi berkualitas klasik seperti yang dahulu pernah mereka hasilkan lewat Snow White and the Seven Dwarfs (1937), The Little Mermaid (1989), Beauty and the Beast (1990) atau Aladdin (1992).

Continue reading Review: Tangled (2010)