Tag Archives: Lynn Cohen

Review: The Cobbler (2015)

COBB_OneSheet_FM1.inddBagi para penikmat film, frase “film yang dibintangi oleh Adam Sandler” memberikan pengaruh yang sama kuatnya dengan frase “film yang dibintangi Jason Statham” atau “film yang diarahkan oleh Michael Bay”. Penonton dengan jelas akan mendapatkan ide film seperti apa yang akan mereka saksikan ketika mereka memilih untuk menonton film-film yang menggunakan frase tersebut dalam penggambarannya. The Cobbler sendiri masih menempatkan Sandler dalam sajian komedi yang memang menjadi kehandalannya. Namun, jangan berharap The Cobbler untuk tampil sehisteris film-film komedi Sandler ketika ia berada dibawah arahan Dennis Dugan seperti Grown Ups (2010), Jack and Jill (2011) atau bahkan Just Go With It (2011). The Cobbler adalah sebuah bentuk eksplorasi Sandler atas kemampuan komedinya yang juga menyentuh wilayah drama dalam porsi lebih besar – seperti halnya Punch-Drunk Love (Paul Thomas Anderson, 2002), Reign Over Me (Mike Binder, 2007) atau Funny People (Judd Apatow, 2009). Apakah The Cobbler mampu tampil semenarik film-film tersebut?

Diarahkan oleh Thomas McCarthy, The Cobbler berkisah tentang Max Simkin (Sandler), seorang tukang sepatu dengan kehidupan yang ia nilai begitu membosankan. Max sebenarnya ingin sekali meninggalkan rutinitas hariannya sebagai seorang tukang sepatu dan mencoba hal-hal baru. Namun, ia merasa tidak dapat meninggalkan toko perbaikan sepatu warisan ayahnya serta ibunya yang sedang berada dalam kondisi sakit-sakitan begitu saja. Suatu hari, keajaiban menghampiri kehidupan Max ketika ia menyadari bahwa ia memiliki kekuatan untuk dapat menjadi siapa saja dengan mengenakan sepatu orang tersebut. Jelas, Max kemudian bersenang-senang dengan kekuatan barunya. Tentu saja… with great power comes great responsibility. Berbagai masalah mulai hadir dalam kehidupan Max ketika ia memilih untuk menggunakan kekuatannya secara sembarangan.

Sejujurnya, adalah cukup mengejutkan untuk mengetahui bahwa The Cobbler datang dari seorang sutradara yang sebelumnya pernah mengarahkan The Station Agent (2003), The Visitor (2008) dan Win Win (2011). Tidak seperti ketiga film tersebut, The Cobbler terasa hadir tanpa penceritaan yang kuat. Naskah cerita film yang ditulis oleh McCarthy dan Paul Sado sebenarnya memiliki beberapa sentuhan emosional yang ingin berkisah tentang nilai-nilai keluarga dan rasa saling menghargai satu sama lain. Namun, dalam eksekusinya, The Cobbler terlihat kebingungan dalam bercerita. Dalam beberapa bagian, film ini hadir bagaikan film komedi khas Sandler yang kekurangan semangat sementara di bagian lain film ini tampil terlalu lemah untuk terlihat menarik sebagai sebuah drama. Tidak mengherankan jika The Cobbler kemudian terasa hambar dalam keseluruhan presentasinya.

Hal lain yang begitu membedakan The Cobbler dari karya-karya McCarthy lainnya adalah film ini hadir dengan karakter-karakter yang jauh dari kesan humanis dan mudah untuk disukai. Selain dari karakter Max Simkin yang diperankan oleh Sandler, nyaris seluruh karakter lain yang tampil dalam jalan cerita film ini hadir dengan ruang penceritaan yang terbatas. Pemanfaatan dari karakter-karakter pendukung tersebut juga tidak pernah lebih dari sekedar katalis dalam eksekusi elemen komedi dalam jalan cerita film. Tidak lebih. Kehadiran sebuah kejutan di akhir kisah yang disajikan oleh McCarthy juga tidak menjadikan The Cobbler menjadi lebih baik. Kejutan tersebut bahkan terasa hanya sebagai jalan pintas untuk menghasilkan sentuhan sentimental kepada para penonton film tanpa pernah mau berusaha keras untuk mengeksekusinya.

Departemen akting The Cobbler sendiri harus diakui hadir dengan kualitas yang cukup solid. Meskipun telah berulangkali memainkan karakter peran yang serupa, Sandler masih terlihat meyakinkan dalam perannya sebagai sosok pria dewasa penyendiri. Pemeran lain seperti Steve Buscemi, Dustin Hoffman, Clifford Smith hingga Dan Stevens dan Ellen Barkin juga hadir tidak mengecewakan. Namun, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, karakter-karakter yang mereka mainkan tampil begitu terbatas sehingga sulit menikmati kualitas akting yang mereka tampilkan secara sepenuhnya. [C-]

The Cobbler (2015)

Directed by Thomas McCarthy Produced by Mary Jane Skalski Written by Thomas McCarthy, Paul Sado Starring Adam Sandler, Dan Stevens, Dustin Hoffman, Steve Buscemi, Melonie Diaz, Ellen Barkin, Clifford “Method Man” Smith, Sondra James, Dascha Polanco, Lynn Cohen Music by John Debney, Nick Urata Cinematography W. Mott Hupfel III Editing by Tom McArdle Studio Voltage Pictures Running time 99 minutes Country United States Language English

Review: The Hunger Games: Catching Fire (2013)

the-hunger-games-catching-fire-header

Ketika The Hunger Games dirilis tahun lalu, dunia dengan sesegera mungkin membandingkannya dengan seri film The Twilight Saga. Tidak mengherankan memang. Selain karena kedua jalan ceritanya dipimpin oleh sosok karakter utama wanita yang begitu dominan, baik The Hunger Games dan seri film The Twilight Saga (2008 – 2012) juga melibatkan jalinan kisah cinta segitiga yang, tentu saja, tampil begitu menggiurkan bagi kalangan penonton young adult yang memang menjadi target penonton utama bagi kedua seri film ini. Meskipun begitu, The Hunger Games kemudian membuktikan kekuatannya ketika berhadapan dengan  faktor kritikal maupun komersial: The Hunger Games tidak hanya mampu menarik perhatian penonton dalam skala besar – total pendapatan sebesar lebih dari US$ 691 juta dari biaya produksi yang “hanya” mencapai US$78 juta – namun juga berhasil meraih pujian luas dari para kritikus film dunia, khususnya atas susunan cerita yang lebih kompleks dan menegangkan daripada The Twilight Saga serta penampilan Jennifer Lawrence yang begitu memikat.

Continue reading Review: The Hunger Games: Catching Fire (2013)

Review: Sex and the City 2 (2010)

Enam tahun seusai masa penayangannya di televisi berakhir dan dua tahun seusai film pertama dari serial tersebut dirilis, dan meraih kesuksesan komersial luar biasa, empat wanita stylish asal New York kembali hadir mengunjungi para penggemarnya. Dan bukan main-main, Sex and City 2 dibuat dengan biaya produksi sebesar US$95 juta, yang berarti US$30 juta lebih besar dari film pertamanya, untuk membuat sebuah sekuel yang lebih besar, lebih mewah dan… lebih panjang durasi penayangannya.

Continue reading Review: Sex and the City 2 (2010)