Tag Archives: Kyle Chandler

Review: First Man (2018)

That’s one small step for [a] man, one giant leap for mankind.”

Sebagai sebuah film yang berkisah tentang kehidupan Neil Armstrong – seorang astronot asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai manusia pertama yang menjejakkan kakinya di Bulan, tentu mudah untuk membayangkan jika First Man digarap layaknya Apollo 13 (Ron Howard, 1995) atau film-film bertema angkasa luar lainnya atau malah film-film lain yang bercerita tentang pasang surut kehidupan seorang karakter nyata sebelum ia mencapai kesuksesannya. Namun, hal yang berkesan biasa jelas bukanlah presentasi yang diinginkan oleh sutradara berusia 33 tahun, Damien Chazelle, yang pada usianya ke 32 tahun berhasil memenangkan sebuah Academy Award untuk kategori Best Director lewat film musikal arahannya, La La Land (2016), dan menjadikannya sebagai sutradara termuda di sepanjang catatan sejarah yang berhasil meraih gelar tersebut. Alih-alih mengemas biopik yang diadaptasi dari buku karya James R. Hansen berjudul First Man: The Life of Neil A. Armstrong ini menjadi sebuah biopik dengan standar pengisahan familiar a la Hollywood, Chazelle memilih untuk menjadikan First Man sebagai sebuah ajang bermain bagi kecerdasan visual dan teknikalnya sekaligus, di saat yang bersamaan, tempatnya bermeditasi mengenai arti sebuah perjalanan hidup. Sounds a bit too deep eh? Continue reading Review: First Man (2018)

Advertisements

Review: Game Night (2018)

Jum’at malam itu harusnya berlangsung layaknya Jum’at malam lainnya bagi pasangan suami istri, Max (Jason Bateman) dan Annie (Rachel McAdams), yang selalu menghabiskan malam akhir pekan mereka bermain berbagai jenis permainan bersama dengan teman-teman mereka, Ryan (Billy Magnussen), Sarah (Sharon Hogan), Kevin (Lamorne Morris), dan Michelle (Kylie Bunbury). Namun, kedatangan abang kandung Max, Brooks (Kyle Chandler), akhirnya mengubah rencana tersebut. Brooks mengusulkan agar mereka melakukan sebuah permainan peran: salah seorang pemain akan menjadi korban penculikan sementara para pemain lainnya akan berusaha menemukan dimana keberadaan korban penculikan tersebut. Brooks bahkan menjanjikan untuk memberikan mobil mewahnya bagi pemain yang berhasil keluar sebagai pemenang pada permainan tersebut. Dengan bantuan beberapa aktor yang berperan sebagai penculik dan detektif yang memberikan petunjuk kepada para pemain, Max, Annie, dan teman-temannya awalnya merasa senang saja dengan permainan tersebut. Sial, setelah beberapa lama terlibat dalam permainan tersebut, Max, Annie, dan teman-temannya mulai menyadari bahwa mereka sedang terlibat dalam sebuah aksi kejahatan yang jelas dapat membahayakan nyawa mereka. Continue reading Review: Game Night (2018)

Review: Argo (2012)

argo-header

Diadaptasi oleh Chris Terrio dari buku The Master of Disguise (Antonio J. Mendez, 2000) dan artikel majalah Wired, Escape from Tehran: How the CIA Used a Fake Sci-Fi Flick to Rescue Americans from Iran (Joshuah Bearman, 2007), Argo bercerita tentang kisah nyata mengenai Revolusi Iran yang terjadi pada tahun 1979. Saat itu, hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat sedang berada di ujung tanduk akibat keputusan pemerintah Amerika Serikat yang memberikan suaka politik bagi mantan pemimpin Iran yang dianggap telah memberikan banyak kesengsaraan bagi rakyat negaranya, Mohammad Reza Pahlavi. Puncaknya, pada tanggal 4 November 1979, ribuan demonstran anti pemerintahan Amerika Serikat menyerbu masuk ke dalam gedung kedutaan besar Amerika Serikat di Tehran, Iran. Lebih dari 50 pegawai kedutaan besar Amerika Serikat kemudian dijadikan sebagai tawanan. Namun, enam orang diantaranya berhasil melarikan diri dan kemudian bersembunyi di kediaman Duta Besar Kanada untuk Iran, Ken Taylor (Victor Garber).

Continue reading Review: Argo (2012)

Review: Broken City (2013)

Broken-City-header

Broken City memulai kisahnya dengan sebuah proses peradilan yang dialami oleh seorang anggota New York Police Department, Billy Tagart (Mark Wahlberg), akibat tuduhan pembunuhan yang dilakukannya pada seorang tersangka kejahatan pemerkosaan serta pembunuhan. Berkat bantuan rekannya di kepolisian, Captain Carl Fairbanks (Jeffrey Wright), kasus Billy kemudian mendapatkan sokongan dari Walikota New York, Nicholas Hostetler (Russell Crowe), yang menganggap bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Billy terjadi karena pembelaan diri. Meski banyak pihak yang meragukan pernyataan tersebut, namun pengadilan akhirnya memutuskan untuk menghentikan proses hukum terhadap Billy serta menyatakannya sebagai pihak yang tidak bersalah.

Continue reading Review: Broken City (2013)

Review: Super 8 (2011)

Mereka yang menyukai film-film karya Steven Spielberg seperti Close Encounters of the Third Kind (1977) atau E.T.: The Extra-Terrestrial (1982), sepertinya akan dengan mudah menemukan diri mereka terbuai dan jatuh cinta dengan Super 8, sebuah film yang menjadi kelanjutan karir J. J. Abrams sebagai seorang sutradara film layar lebar setelah kesuksesannya dalam menggarap ulang Star Trek di tahun 2009 lalu. Tidak mengherankan, sebenarnya. Untuk film ini, Abrams untuk pertama kalinya bekerjasama dengan Spielberg – yang semenjak lama telah dianggap Abrams sebagai salah satu tokoh yang paling ia idolakan dan berpengaruh dalam karir filmnya – dan karenanya, mungkin adalah tepat untuk melihat Super 8 sebagai sebuah penghormatan terhadap film-film science fiction karya Spielberg yang selalu dapat tampil menarik, hangat dan selalu dengan mudah menemukan tempat di hati para penontonnya.

Continue reading Review: Super 8 (2011)