Tag Archives: Kristen Bell

Review: Ralph Breaks the Internet (2018)

Merupakan kali pertama Walt Disney Animation Studios memproduksi sebuah sekuel bagi film animasinya setelah sebelumnya merilis Fantasia 2000 (Don Hahn, Pixote Hunt, Hendel Butoy, Eric Goldberg, James Algar, Francis Glebas, Paul Brizzi, Gaëtan Brizzi, 1999) yang merupakan sekuel dari Fantasia (Samuel Armstrong, James Algar, Bill Roberts, Paul Satterfield, Ben Sharpsteen, David D. Hand, Hamilton Luske, Jim Handley, Ford Beebe, T. Hee, Norman Ferguson, Wilfred Jackson, 1940), Ralph Breaks the Internet kembali menempatkan sutradara Wreck-It Ralph (2012), Richard Moore untuk duduk di kursi penyutradaraan dengan bantuan dari Phil Johnston yang juga bertugas sebagai penulis naskah film ini bersama dengan Pamela Ribon (Smurfs: The Lost Village, 2017). Layaknya sebuah sekuel, Ralph Breaks the Internet memberikan sebuah semesta pengisahan yang lebih luas bagi karakter-karakternya namun tetap mempertahankan elemen cerita tentang persahabatan yang telah menjadi fokus utama semenjak film pendahulunya. Tidak mengherankan bila Ralph Breaks the Internet mampu hadir dengan tata pengisahan dan karakterisasi yang lebih berwarna sekaligus dengan ikatan emosional kepada penonton yang lebih kuat. Continue reading Review: Ralph Breaks the Internet (2018)

Advertisements

Review: Teen Titans Go! To the Movies (2018)

Diadaptasi dari serial televisi animasi popular berjudul Teen Titans Go! yang telah tayang di jaringan televisi Cartoon Network semenjak tahun 2013 – yang sendirinya merupakan adaptasi dari seri komik rilisan DC Comics yang berjudul Teen Titans, Teen Titans Go! To the Movies berkisah mengenai lima orang pahlawan super  remaja, Robin (Scott Menville), Beast Boy (Greg Cipes), Cyborg (Khary Payton), Raven (Tara Strong), dan Starfire (Hynden Walch), yang merasa bahwa keberadaan mereka sebagai sosok pembela kebenaran sering dipandang sebelah mata. Agar kehadiran mereka dianggap serius – dan kehidupan mereka lantas akan diadaptasi menjadi sebuah film oleh Hollywood, Teen Titans beranggapan mereka harus berhadapan dengan sosok musuh tangguh yang dapat mereka kalahkan bersama. Keinginan tersebut terpenuhi ketika mereka menghadapi Slade (Will Arnett) yang sedang berusaha untuk mencuri sebuah kristal berkekuatan super. Sial, Slade bukanlah seorang penjahat yang mudah untuk dikalahkan begitu saja. Dengan berbagai trik yang dimilikinya, Slade berhasil terus menghindar dari kejaran Teen Titans. Bahkan, secara perlahan, Slade mampu menanamkan benih perpecahan pada kelompok pahlawan super remaja tersebut. Continue reading Review: Teen Titans Go! To the Movies (2018)

Review: A Bad Moms Christmas (2017)

Tidak berada jauh dari masa perilisan (dan kualitas pengisahan) Daddy’s Home Two (Sean Anders, 2017), duo sutradara, Jon Lucas dan Scott Moore, menghadirkan sekuel bagi film komedi dewasa mereka, Bad Moms, yang berjudul A Bad Moms Christmas. Seperti halnya Daddy’s Home (Anders, 2015), Bad Moms berhasil memberikan kejutan pada Hollywood ketika film komedi yang dibintangi trio Mila Kunis, Kristen Bell, dan Kathryn Hahn tersebut mampu meraih kesuksesan komersial luar biasa dengan raihan pendapatan sebesar lebih dari US$183 juta dari biaya produksi sebesar US$20 juta. Percaya atau tidak, A Bad Moms Christmas bahkan memiliki alur penceritaan yang hampir serupa dengan Daddy’s Home Two dengan Cheryl Hines, Christine Baranski, dan Susan Sarandon memerankan karakter ibu bagi ketiga karakter utama. Sial, juga seperti Daddy’s Home Two, A Bad Moms Christmas tampil inferior jika dibandingkan dengan film pendahulunya – meskipun masih memiliki beberapa momen menyenangkan maupun menyentuh yang tergarap dengan cukup baik. Continue reading Review: A Bad Moms Christmas (2017)

Review: Frozen (2013)

frozen-header

Berbeda dengan Pixar Animation Studios yang belakangan terlihat mengalami sedikit kesulitan dalam menghadapi para kompetitornya – semaniak apapun Anda terhadap rumah produksi film animasi ini, Anda harus mengakui bahwa tak satupun karya mereka semenjak Toy Story 3 (2010) mampu meraih kredibilitas kualitas yang sekuat film-film pendahulunya – Walt Disney Animation Studios justru berhasil bangkit setelah bertahun-tahun dinilai semakin tidak relevan dengan dunia modern. Dimulai dengan Tangled (2010) dan diikuti Wreck-It Ralph (2012), rumah produksi bermaskot Mickey Mouse tersebut secara perlahan meraih kembali masa-masa kejayaan film-film animasi mereka terdahulu. Di tahun 2013, Walt Disney Animation Studios merilis Frozen, yang sekaligus menjadi film animasi ke-53 yang mereka produksi. Layaknya Tangled, Frozen diadaptasi dari sebuah kisah klasik dan disajikan dengan penceritaan musikal yang humoris serta hangat yang tentunya akan mengingatkan para penontonnya pada film-film animasi klasik karya Walt Disney Animation Studios.

Continue reading Review: Frozen (2013)

Review: Scream 4 (2011)

Lima belas tahun setelah merilis sebuah virus bernama Scream (1996) yang berhasil menebarkan kembali tren slasher horror di Hollywood – dan dua sekuel (1997, 2000) yang berhasil memperoleh kepopuleran yang cukup setara, mengarahkan Meryl Streep dalam Music of the Heart (1999) serta beberapa kegagalan yang datang dalam bentuk Cursed (2005) dan My Soul to Take (2010) berada diantara masa tersebut – Wes Craven memutuskan bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk kembali membawa teror dalam kehidupan Sidney Prescott dan merilis Scream 4. Kembali mengarahkan naskah yang ditulis oleh Kevin Williamson – dengan beberapa revisi yang datang dari Ehren Kruger (Scream 3) – Craven berhasil membawa kembali semangat sebuah slasher horror yang dulu pernah ia bawakan pada Scream sekaligus memberikan sindiran-sindiran tajam pada berbagai remake film horor yang banyak dirilis akhir-akhir ini.

Continue reading Review: Scream 4 (2011)

Review: Burlesque (2010)

Burlesque merupakan debut penyutradaraan layar lebar bagi Steven Antin, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai seorang aktor dan sutradara dari beberapa video musik. Selain menjadi seorang sutradara, Antin juga menulis naskah film ini bersama Diablo Cody (Juno, 2008), sebelum akhirnya naskah tersebut mendapatkan revisi dan diedit kembali oleh Susannah Grant (Erin Brockovich, 2000). Sayangnya, meskipun telah ditangani oleh dua penulis naskah kaliber Academy Awards, naskah cerita Burlesque masih menyerupai naskah cerita yang ditulis oleh seorang amatiran: berisi jalan cerita dan karakterisasi yang dangkal serta deretan dialog yang kadang terdengar sangat konyol.

Continue reading Review: Burlesque (2010)

Review: You Again (2010)

You Again mungkin mampu mengumpulkan nama-nama besar seperti Sigourney Weaver dan Jamie Lee Curtis untuk bergabung di dalam jajaran pemeran filmnya. Namun, tentu saja nama besar kedua aktris ini bukan jaminan bahwa You Again akan mampu bersinar menjadi sebuah film komedi yang menjanjikan. Bahkan, adalah cukup wajar jika setelah menyaksikan You Again beberapa orang akan berpendapat bahwa Weaver dan Curtis telah melakukan pilihan yang salah untuk turut bergabung dalam film ini. Continue reading Review: You Again (2010)

Review: When In Rome (2010)

Pertanyaan: Apakah membuat sebuah film romantic comedy yang benar-benar lucu namun tetap romantis adalah sebuah hal yang sangat sulit dilakukan di zaman kemajuan internet seperti saat ini? Mungkin saja. Namun yang jelas, Hollywood sepertinya semakin kesulitan untuk menghasilkan film-film romantic comedy berkelas yang mampu menyaingi kualitas While You Were Sleeping (1995), When Harry Met Sally… (1989) atau mungkin Notting Hill (1999).

Continue reading Review: When In Rome (2010)