Tag Archives: Keke Soeryo

Review: Anak Hoki (2019)

It’s quite hard not to feel sorry for Anak Hoki. Pertama kali diumumkan pada awal tahun lalu sebagai film yang akan mengadaptasi kisah kehidupan masa remaja dari mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, keberadaannya kemudian mulai tersaingi oleh A Man Called Ahok (Putrama Tuta, 2018) yang diangkat dari buku berjudul sama dan juga mengulik seputar kehidupan sang mantan Gubernur. A Man Called Ahok lantas mendapatkan masa rilis terlebih dahulu dan, bagaikan menabur garam di atas luka, berhasil meraih perhatian besar dan jumlah penonton yang signifikan – lebih dari 1.4 juta penonton hingga akhirnya film tersebut turun layar. Jelas sebuah pencapaian yang akan membayangi Anak Hoki pada masa tayangnya. Kini, tiga bulan setelah A Man Called Ahok dirilis, Anak Hoki akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bercerita. Dan… well… mungkin ada baiknya membiarkan A Man Called Ahok menjadi satu-satunya film yang berkisah tentang Basuki Tjahaja Purnama untuk saat ini. Continue reading Review: Anak Hoki (2019)

Review: Merry Go Round: Berputar atau Keluar (2013)

merry-go-round-header

Meskipun menggunakan nama salah satu wahana permainan popular sebagai judul filmnya, namun sama sekali tidak ada hal yang menyenangkan dari jalan cerita film yang diarahkan oleh Nanang Istiabudi (Bidadari Jakarta, 2010) ini. Sebagaimana Detik Terakhir (2005) yang juga pernah diarahkan oleh Nanang, Merry Go Round: Berputar Atau Keluar mencoba untuk mengeksplorasi kisah hidup mereka yang menjadi korban dari penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif. Bedanya, jika Detik Terakhir – dan kebanyakan film Indonesia bertema sama lainnya, lebih banyak menghabiskan durasi penceritaannya untuk menuturkan bagaimana pengaruh buruk NAPZA pada kehidupan sang pengguna, maka Merry Go Round: Berputar Atau Keluar mencoba untuk memaparkan mengenai bagaimana pengguna NAPZA juga secara perlahan mulai mempengaruhi kehidupan orang-orang yang berada di dekatnya dan bahkan turut menjebak mereka untuk turut larut dalam lingkaran penderitaan yang ia alami.

Continue reading Review: Merry Go Round: Berputar atau Keluar (2013)

Review: Kentut (2011)

Sindiran terhadap budaya, sosial dan politik yang biasa dapat ditemukan di dalam kehidupan Anda selama masih berbangsa, bernegara dan bertanah air Indonesia menjadi topik pembicaraan utama dalam Kentut, sebuah film arahan Aria Kusumadewa yang menjadi karyanya setelah memenangkan status sebagai Sutradara Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2009 lewat film Identitas (2009). Seperti halnya Identitas (2009), ada begitu banyak nada-nada satir yang dapat ditemukan dalam cara penceritaan Aria pada Kentut – yang membuat Aria semakin menjauhi gaya penceritaan simbolis yang dulu sempat melekat pada dirinya lewat dua karya pertamanya, Beth (2002) dan Novel Tanpa Huruf R (2003). Hanya saja, Aria kali ini terlihat lebih santai dalam bercerita. Dengan menggunakan komedi yang mengalir ringan dari deretan dialog yang disampaikan para karakter di film ini, Aria berhasil membuat setiap penonton menertawakan bagaimana kehidupan yang sebenarnya mereka jalani di setiap kesehariannya. Bagian tercerdasnya, tidak seorangpun yang sadar bahwa diri merekalah yang sedang ditertawakan.

Continue reading Review: Kentut (2011)