Tag Archives: Keira Knightley

Review: The Nutcracker and the Four Realms (2018)

Berawal dari sebuah cerita pendek berjudul The Nutcracker and the Mouse King yang ditulis oleh penulis E.T.A. Hoffmann dan dirilis pada tahun 1816, The Nutcracker kemudian mendunia ketika kisah tersebut diadaptasi menjadi sebuah pertunjukan balet sukses berjudul sama oleh Marius Petipa dan Lev Ivanov dengan iringan musik dari Pyotr Ilyich Tchaikovsky yang juga menjelma menjadi salah satu gubahan musik paling familiar bagi banyak penikmat musik dunia. Keberhasilan tersebut tak pelak membuat pengisahan The Nutcracker kemudian diadaptasi ke dalam banyak bentuk media penceritaan lainnya – mulai dari drama panggung musikal, film layar lebar, serial televisi, bahkan hingga permainan video. Yang teranyar, Walt Disney Pictures merilis The Nutcracker and the Four Realms yang merupakan adaptasi mereka atas The Nutcracker and the Mouse King dan kisah yang disampaikan dalam pertunjukan balet The Nutcracker dengan memberikan sejumlah sentuhan baru pada beberapa bagian penceritaannya. Sebuah strategi yang mungkin sejalan dengan rilisan-rilisan mereka seperti Cinderella (Kenneth Branagh, 2015) atau Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017) yang juga memberikan interpretasi segar atas sebuah pengisahan klasik namun apakah Walt Disney Pictures mampu mempertahankan daya tarik magis dari The Nutcracker yang telah dicintai begitu banyak orang selama lebih dari satu abad? Continue reading Review: The Nutcracker and the Four Realms (2018)

Advertisements

Review: Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge (2017)

Enam tahun setelah perilisan Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides arahan Rob Marshall – yang meskipun meraih reaksi negatif dari banyak kritikus film namun tetap mampu mendapatkan kesuksesan komersial dengan menjadi film kedelapan dalam sejarah yang berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$1 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – Walt Disney Pictures kembali menghadirkan petualangan terbaru dari Captain Jack Sparrow lewat Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge. Dengan kursi penyutradaraan yang kini ditempati oleh duo Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Kon-Tiki, 2012), Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge secara mengejutkan mampu tampil begitu menyenangkan. Memang belum mampu melampaui dua seri pertama Pirates of the Caribbean namun jelas jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Pirates of the Caribbean: At World’s End (Gore Verbinski, 2007) atau Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides yang menjemukan sekaligus meluluhlantakkan reputasi seri film ini. Continue reading Review: Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge (2017)

Review: Collateral Beauty (2016)

How do you cope with grief and loss of your loved one? Dalam film terbaru arahan David Frankel (The Devil Wears Prada, 2006), Collateral Beauty, Will Smith berperan sebagai seorang eksekutif periklanan bernama Howard Inlet yang sedang berada dalam masa duka akibat kehilangan puteri satu-satunya yang meninggal dunia. Rasa duka tersebut telah merubah diri Howard sepenuhnya. Howard yang dulu adalah sosok pemimpin perusahaan yang optimistis dan mampu mendorong semangat orang-orang yang berada di sekitarnya kini berubah menjadi seseorang yang penyendiri, tertutup dan hampir tidak pernah berkomunikasi lagi dengan siapapun termasuk orang-orang terdekatnya. Perubahan tersebut secara perlahan akhirnya mempengaruhi kestabilan perusahaan yang dipimpin oleh Howard. Continue reading Review: Collateral Beauty (2016)

Review: Begin Again (2014)

begin-again-posterSalah satu rilisan terbaik Hollywood di sepanjang tahun 2014 lalu akhirnya mendapatkan kesempatan untuk disaksikan lebih banyak mata penikmat film di Indonesia pada tahun ini. Pertama kali diputar di ajang Toronto International Film Festival pada akhir tahun 2013 dengan judul Can a Song Save Your Life?, Begin Again kemudian dirilis di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 2014 dengan kisah yang mungkin akan mengingatkan banyak orang dengan film musikal arahan John Carney sebelumnya, Once (2007), namun dengan pengarahan Carney yang jauh, jauh lebih matang. Kematangan pengarahan Carney tersebut jelas sangat dapat dirasakan pada kemampuannya dalam mengalirkan jalan cerita, kualitas tata produksi yang begitu memikat serta, tentu saja, dukungan deretan lagu-lagu indie pop yang begitu catchy dan akan bertahan lama di kepala setiap penonton jauh setelah mereka menyaksikan film ini. Kombinasi yang membuat Begin Again terasa sederhana dalam bercerita namun sangat kuat dalam mempermainkan emosi penontonnya.

Dengan jalan cerita yang juga digarap oleh Carney, Begin Again berkisah tentang pertemuan dua karakter, seorang eksekutif perusahaan rekaman bernama Dan Mulligan (Mark Ruffalo) yang sedang mencoba untuk mempertahankan karirnya serta seorang penyanyi dan penulis lagu bernama Gretta James (Keira Knightley) yang baru saja mengalami patah hati akibat ditinggal pergi sang kekasih, Dave Kohl (Adam Levine). Pertemuan yang tidak disengaja pada sebuah bar tersebut kemudian berlanjut dengan penawaran yang dilakukan Dan kepada Gretta untuk bergabung dengan perusahaan rekamannya setelah mendengar kemampuan musik gadis yang berasal dari Inggris tersebut. Meskipun awalnya menolak, kesungguhan Dan akhirnya mampu meluluhkan hati Gretta. Segera, keduanya mulai mengumpulkan para musisi muda berbakat dari New York untuk memproduksi debut album musik Gretta yang tidak hanya akan berisi berbagai keluh kesah Gretta tentang patah hatinya namun juga memiliki konsep suara lingkungan kota New York dalam setiap lagu-lagunya.

Harus diakui, meskipun memiliki atmosfer penceritaan yang serupa dengan Once, Carney terlihat memiliki kepercayaan diri dan kematangan pengarahan yang lebih kuat pada Begin Again. Karakter-karakter yang tersaji dalam film ini dihadirkan dengan karakteristik yang begitu membumi namun kuat sekaligus mudah untuk disukai setiap penonton. Lihat bagaimana Carney mampu merangkai karakter Dan dan Gretta sebagai dua karakter yang sedang mencoba untuk memperjuangkan diri mereka dengan tanpa kehadiran dramatisasi yang berlebihan. Tidak hanya dari dua karakter utama yang diperankan Ruffalo dan Knightley, namun juga dari karakter-karakter pendukung yang hadir di sepanjang penceritaan film. Carney mampu menghindar dari berbagai penceritaan klise tentang seorang puteri yang sedang beranjak dewasa dalam menuliskan karakter puteri tunggal Dan, Violet (Hailee Steinfeld). Atau bagaimana karakter Dave Kohl tidak pernah digambarkan sebagai sosok yang harus benar-benar dibenci oleh karakter Gretta James meskipun ia telah berselingkuh dari dirinya. Atau persahabatan yang tulus yang mampu tergambar dari karakter Steve (James Corden). Hal inilah yang kemudian membantu jalan penceritaan Begin Again yang begitu sederhana mampu menjadi terasa nyaman sekaligus hangat untuk diikuti.

Sebagai sebuah musikal, Begin Again jelas juga terasa jauh lebih matang jika dibandingkan dengan Once. Bekerjasama dengan penyanyi sekaligus penulis lagu Gregg Alexander, Begin Again mampu dihadirkan dengan deretan lagu-lagu pop ringan dengan lirik lagu dan melodi yang tidak akan dengan mudah untuk dilupakan oleh penontonnya. Carney juga berhasil menempatkan setiap lagu dalam rangkaian pengadeganan yang tepat sehingga setiap lagu mampu mendukung sisi emosional dari setiap adegan dimana mereka ditampilkan. Sejujurnya, adalah cukup sulit untuk menemukan film dengan deretan lagu pengisi film yang mampu terkonsep lebih baik dari Begin Again dalam beberapa tahun terakhir. Lagu-lagu dalam film ini mampu menjadi jiwa dari penceritaan film sebanding dengan kekuatan setiap dialog yang ditulis Carney untuk keluar dari mulut para karakter dalam jalan cerita Begin Again.

Dengan tanpa adanya dramatisasi yang berlebihan bagi deretan konflik yang hadir dalam jalan cerita film, Begin Again mungkin tidaklah terlihat sebagai ajang untuk menyajikan penampilan akting yang kuat bagi para pemerannya. Meskipun begiu, deretan pengisi departemen akting film ini, yang berisi nama-nama seperti Mark Ruffalo, Keira Knightley, Adam Levine, James Corden, Hailee Steinfeld hingga Catherine Keener, mampu menyajikan penampilan akting mereka yang begitu sederhana namun sangat memikat. Chemistry yang terjalin antara sesama pemeran juga tampil meyakinkan. Carney juga berhasil menghadirkan filmnya dengan kualitas produksi yang berkelas. Tata sinematografi dari Yaron Orbach berhasil menangkap keindahan kota New York dan menjadikannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alur penceritaan Begin Again. Begitu pula dengan tata kostum yang dihadirkan dengan deretan warna-warna cerah yang sangat sesuai dengan atmosfer penceritaan Begin Again yang manis sekaligus hangat. Sebuah presentasi yang tidak akan jenuh disaksikan untuk berulang kali. [B]

Begin Again (2014)

Directed by John Carney Produced by Anthony Bregman, Tobin Armbrust, Judd Apatow Written by John Carney Starring Keira Knightley, Mark Ruffalo, Adam Levine, Catherine Keener, Hailee Steinfeld, James Corden, CeeLo Green, Yasiin Bey Music by Gregg Alexander Cinematography Yaron Orbach Editing by Andrew Marcus Studio Sycamore Pictures/Exclusive Media/Likely Story/Apatow Productions Running time 104 minutes Country United States Language English

Review: The Imitation Game (2014)

the-imitation-game-posterThe Imitation Game jelas akan terdengar sebagai sebuah presentasi yang cukup membosankan jika hanya digambarkan sebagai sebuah film biopik yang berkisah tentang kehidupan seorang ahli Matematika bernama Alan Turing. But it’s true. Ditulis oleh Graham Moore, naskah cerita The Imitation Game diadaptasi dari biografi berjudul Alan Turing: The Enigma yang memang memaparkan kehidupan ilmuwan asal Inggris yang berhasil merakit mesin yang menjadi cikal bakal mesin komputer yang kita kenal saat ini. Namun, kehidupan Turing sendiri jelas jauh dari kesan sederhana maupun biasa saja. Turing adalah ilmuwan yang berhasil memecahkan kode Enigma milik pasukan Jerman di kala Perang Dunia II dan membantu Pasukan Sekutu untuk meraih kemenangan mereka. Di saat yang bersamaan, kehidupan pribadi Turing juga begitu kompleks ketika Turing, yang merupakan seorang homoseksual, hidup di kala pilihan orientasi seksual tersebut masih dianggap sebagai sebuah kejahatan oleh negara kelahiran Turing.

Dengan mengambil potongan kisah kehidupan Turing dari masa sekolahnya di tahun 1927 hingga saat ia menjalani pemeriksaan dan menjalani hukuman atas kesalahan perbuatan yang kurang pantas untuk pilihan orientasi seksualnya di tahun 1950an, Moore mampu menggarap naskah cerita The Imitation Game dengan baik. Moore mampu menyusun setiap tahap kehidupan Turing secara seksama untuk membawakan tema-tema cerita yang secara tidak langsung masih terasa relevan di era sekarang. Moore bahkan tidak berusaha mengeksploitasi jalan cerita film untuk menyajikan kehidupan pribadi Turing secara mendalam dan memilih untuk menghadirkan Turing sebagai sosok cerdas yang memiliki begitu banyak ide brilian di dalam kepalanya.

Pengarahan Morten Tyldum (Headhunters, 2011) yang apik juga mendukung The Imitation Game untuk menjadi sebuah presentasi yang emosional tanpa pernah berusaha memaksa penonton untuk bersimpati pada Turing. Tyldum berhasil menyajikan penceritaan film dengan ritme yang begitu terjaga di sepanjang 114 menit durasi penceritaan The Imitation Game. Jalan cerita yang dipenuhi dengan adegan kilas balik juga mampu tergarap baik dengan dukungan tata produksi yang apik, termasuk tata musik arahan Alexandre Desplat yang mampu mendukung atmosfer penceritaan dengan penuh serta tata sinematografi arahan Óscar Faura yang menyajikan pilihan gambar-gambar indah untuk film ini.

Jika ada bagian yang terasa lemah dalam presentasi The Imitation Game, hal tersebut jelas akan terasa datang dari kurangnya eksplorasi yang dilakukan Moore dan Tyldum pada karakter-karakter pendukung yang berada di sekitar karakter Turing. Padahal, karakter-karakter tersebut juga memiliki peranan yang cukup krusial untuk mempengaruhi kehidupan Turing dalam jalan cerita film. Karena hal itulah, karakter-karakter pendukung yang diperankan oleh nama-nama seperti Keira Knightley, Matthew Goode, Mark Strong hingga Rory Kinnear tidak pernah tampil dengan porsi penceritaan yang memuaskan meskipun hadir dalam penampilan yang kuat dari setiap pemerannya.

The Imitation Game sendiri menjadi ajang pembuktian bagi kemampuan berakting Benedict Cumberbatch yang begitu berkelas. Lewat kemampuan aktingnya, karakter Alan Turing mampu dihadirkan dengan begitu hidup dan hadir dengan pesona yang kuat – meskipun karakteristik yang dihadirkan naskah cerita Graham Moore bagi karakter Turing adalah sosok yang anti-sosial dan sukar untuk disukai. Cumberbatch berhasil menterjemahkan dengan sempurna sesosok karakter yang begitu kompleks secara emosional untuk kemudian tampil sebagai karakter yang dengan mudah dapat terhubung dengan setiap penonton. Penampilan Cumberbatch serta deretan pengisi departemen akting The Imitation Game yang begitu kuat inilah yang menjadi kunci utama mengapa film ini mampu mengalir dengan baik dalam penceritaannya dan menjadi lebih dari sekedar film biopik biasa. [B]

The Imitation Game (2014)

Directed by Morten Tyldum Produced by Nora Grossman, Ido Ostrowsky, Teddy Schwarzman Written by Graham Moore (screenplay), Andrew Hodges (book, Alan Turing: The Enigma) Starring Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, Matthew Goode, Mark Strong, Charles Dance, Allen Leech, Matthew Beard, Rory Kinnear, Alex Lawther, Jack Bannon, Victoria Wicks, David Charkham, Tuppence Middleton, James Northcote, Steven Waddington Music by Alexandre Desplat Cinematography Óscar Faura Edited by William Goldenberg Production company Black Bear Pictures/FilmNation Entertainment/Bristol Automotive Running time 114 minutes Country United Kingdom, United States Language English

The 87th Annual Academy Awards Nominations List

The nominations are in! Dan hasilnya… film arahan Alejandro González Iñárritu, ‘Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)’ dan film arahan Wes Anderson, ‘The Grand Budapest Hotel’, sama-sama memimpin daftar nominasi The 87th Annual Academy Awards dengan meraih sembilan nominasi. Keduanya akan bersaing dalam memperebutkan gelar Best Picture bersama dengan American Sniper, Boyhood, The Imitation Game, Selma, The Theory of Everything dan Whiplash. Raihan sembilan nominasi yang diraih Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) dan The Grand Budapest Hotel diikuti oleh The Imitation Game yang meraih delapan nominasi serta American Sniper dan Boyhood yang masing-masing meraih enam nominasi.

Academy of Motion Picture Arts and Sciences juga memberikan beberapa kejutan dalam daftar nominasinya dengan tidak menominasikan beberapa nama maupun judul yang selama ini telah menjadi favorit beberapa ajang penghargaan seperti Gone Girl yang hanya meraih nominasi Best Actress in a Leading Role untuk Rosamund Pike, Selma yang meraih nominasi Best Picture namun ditinggalkan di kategori lain kecuali Best Original Song, Jake Gyllenhaal yang gagal meraih nominasi untuk penampilannya yang begitu kuat dalam Nightcrawler serta The LEGO Movie yang gagal meraih nominasi Best Animated Feature. Meskipun begitu, Academy of Motion Picture Arts and Sciences juga memberikan kejutan manis dengan memberikan nominasi pada Marion Cotillard (Best Actress in a Leading Role, Two Days, One Night), Laure Dern (Best Actress in a Supporting Role, Wild), Bennett Miller (Best Director, Foxcatcher) serta Bradley Cooper yang sepertinya kini telah menjadi aktor favorit Academy of Motion Picture Arts and Sciences dengan kembali memberikannya nominasi di kategori Best Actor in a Leading Role untuk film American Sniper.

As usual… untuk Anda para penggemar statistik… here you go:

  • Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) – 9 nominasi
  • The Grand Budapest Hotel – 9 nominasi
  • The imitation Game – 8 nominasi
  • American Sniper – 6 nominasi
  • Boyhood – 6 nominasi
  • Foxcatcher – 5 nominasi
  • Interstellar – 5 nominasi
  • The Theory of Everything – 5 nominasi
  • Whiplash – 5 nominasi
  • Mr. Turner – 4 nominasi
  • Into the Woods – 3 nominasi
  • Unbroken – 3 nominasi
  • Guardians of the Galaxy – 2 nominasi
  • Ida – 2 nominasi
  • Inherent Vice – 2 nominasi
  • Selma – 2 nominasi
  • Wild – 2 nominasi

Para pemenang The 87th Annual Academy Awards akan diumumkan pada tanggal 22 Februari 2015 mendatang.

Berikut daftar lengkap nominasi The 86th Annual Academy Awards:

Best Picture

  • American Sniper – Clint Eastwood, Robert Lorenz, Andrew Lazar, Bradley Cooper and Peter Morgan
  • Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) – Alejandro González Iñárritu, John Lesher and James W. Skotchdopole
  • Boyhood – Richard Linklater and Cathleen Sutherland
  • The Grand Budapest Hotel – Wes Anderson, Jeremy Dawson, Steven M. Rales and Scott Rudin
  • The Imitation Game – Nora Grossman, Ido Ostrowsky and Teddy Schwarzman
  • Selma – Dede Gardner, Jeremy Kleiner, Christian Colson and Oprah Winfrey
  • The Theory of Everything – Tim Bevan, Eric Fellner, Lisa Bruce and Anthony McCarten
  • Whiplash – Jason Blum, Helen Estabrook and David Lancaster

Best Director

  • Wes Anderson – The Grand Budapest Hotel
  • Alejandro González Iñárritu – Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)
  • Richard Linklater – Boyhood
  • Bennett Miller – Foxcatcher
  • Morten Tyldum – The Imitation Game

Best Actor

  • Steve Carell – Foxcatcher as John du Pont
  • Bradley Cooper – American Sniper as Chris Kyle
  • Benedict Cumberbatch – The Imitation Game as Alan Turing
  • Michael Keaton – Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) as Riggan Thomson
  • Eddie Redmayne – The Theory of Everything as Stephen Hawking

Best Actress

  • Marion Cotillard – Two Days, One Night as Sandra Bya
  • Felicity Jones – The Theory of Everything as Jane Wilde Hawking
  • Julianne Moore – Still Alice as Alice Howland
  • Rosamund Pike – Gone Girl as Amy Elliot-Dunne
  • Reese Witherspoon – Wild as Cheryl Strayed

Best Supporting Actor

  • Robert Duvall – The Judge as Joseph Palmer
  • Ethan Hawke – Boyhood as Mason Evans, Sr.
  • Edward Norton – Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) as Michael Shiner
  • Mark Ruffalo – Foxcatcher as Dave Schultz
  • J. K. Simmons – Whiplash as Terence Fletcher

Best Supporting Actress

  • Patricia Arquette – Boyhood as Olivia Evans
  • Laura Dern – Wild as Bobbi Grey
  • Keira Knightley – The Imitation Game as Joan Clarke
  • Emma Stone – Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) as Samantha Thomson
  • Meryl Streep – Into the Woods as The Witch

Best Adapted Screenplay

  • American Sniper – Jason Hall from American Sniper by Chris Kyle, Scott McEwen & Jim DeFelice
  • The Imitation Game – Graham Moore from Alan Turing: The Enigma by Andrew Hodges
  • Inherent Vice – Paul Thomas Anderson from Inherent Vice by Thomas Pynchon
  • The Theory of Everything – Anthony McCarten from Travelling to Infinity: My Life with Stephen by Jane Wilde Hawking
  • Whiplash – Damien Chazelle from his short film of the same name

Best Original Screenplay

  • Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) – Alejandro González Iñárritu, Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, Jr. & Armando Bo
  • Boyhood – Richard Linklater
  • Foxcatcher – E. Max Frye & Dan Futterman
  • The Grand Budapest Hotel – Wes Anderson & Hugo Guinness
  • Nightcrawler – Dan Gilroy

Best Animated Feature Film

  • Big Hero 6 – Don Hall, Chris Williams and Roy Conli
  • The Boxtrolls – Anthony Stacchi, Graham Annable and Travis Knight
  • How to Train Your Dragon 2 – Dean DeBlois and Bonnie Arnold
  • Song of the Sea – Tomm Moore and Paul Young
  • The Tale of the Princess Kaguya – Isao Takahata and Yoshiaki Nishimura

Best Foreign Language Film

  • Ida (Poland) in Polish  – Paweł Pawlikowski
  • Leviathan (Russia) in Russian – Andrey Zvyagintsev
  • Tangerines (Estonia) in Estonian – Zaza Urushadze
  • Timbuktu (Mauritania) in French  – Abderrahmane Sissako
  • Wild Tales (Argentina) in Spanish  – Damián Szifrón

Best Documentary – Feature

  • Citizenfour – Laura Poitras, Mathilde Bonnefoy and Dirk Wilutsky
  • Finding Vivian Maier – John Maloof and Charlie Siskel
  • Last Days in Vietnam – Rory Kennedy and Keven McAlester
  • The Salt of the Earth – Wim Wenders, Lélia Wanick Salgado, David Rosier, Julia de Abreu, Fakhrya Fakhry, Andrea Gambetta and Christine Ponelle
  • Virunga – Orlando von Einsiedel, Joanna Natasegara and Jon Drever

Best Documentary – Short Subject

  • Crisis Hotline: Veterans Press 1 – Ellen Goosenberg Kent and Dana Perry
  • Joanna – Aneta Kopacz
  • Our Curse – Tomasz Śliwiński and Maciej Ślesicki
  • The Reaper (La Parka) – Gabriel Serra Arguello
  • White Earth – J. Christian Jensen

Best Live Action Short Film

  • Aya – Oded Binnun and Mihal Brezis
  • Boogaloo and Graham – Aneta Kopacz
  • Butter Lamp (La Lampe Au Beurre De Yak) – Tomasz Śliwiński and Maciej Ślesicki
  • Parvaneh – Gabriel Serra Arguello
  • The Phone Cell – J. Christian Jensen

Best Animated Short Film

  • The Bigger Picture – Daisy Jacobs and Christopher Hees
  • The Dam Keeper – Robert Kondo and Dice Tsutsumi
  • Feast – Patrick Reed and Kristina Reed
  • Me and My Moulton – Torill Kove
  • A Single Life – Joris Oprins

Best Original Score

  • The Grand Budapest Hotel – Alexandre Desplat
  • The Imitation Game – Alexandre Desplat
  • Interstellar – Hans Zimmer
  • Mr. Turner – Gary Yershon
  • The Theory of Everything – Jóhann Jóhannsson

Best Original Song

  • “Everything Is Awesome” from The Lego Movie – Shawn Patterson
  • “Glory” from Selma – John Stephens and Lonnie Lynn
  • “Grateful” from Beyond the Lights – Diane Warren
  • “I’m Not Gonna Miss You” from Glen Campbell: I’ll Be Me – Glen Campbell and Julian Raymond
  • “Lost Stars” from Begin Again – Gregg Alexander and Danielle Brisebois

Best Film Editing

  • American Sniper – Joel Cox and Gary D. Roach
  • Boyhood – Sandra Adair
  • The Grand Budapest Hotel – Barney Pilling
  • The Imitation Game – William Goldenberg
  • Whiplash – Tom Cross

Best Cinematography

  • Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) – Emmanuel Lubezki
  • The Grand Budapest Hotel – Robert Yeoman
  • Ida – Łukasz Żal & Ryszard Lenczewski
  • Mr. Turner – Dick Pope
  • Unbroken – Roger Deakins

Best Sound Mixing

  • American Sniper – John Reitz, Gregg Rudloff and Walt Martin
  • Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) – Jon Taylor, Frank A. Montaño and Thomas Varga
  • Interstellar – Gary A. Rizzo, Gregg Landaker and Mark Weingarten
  • Unbroken – Jon Taylor, Frank A. Montaño and David Lee
  • Whiplash – Craig Mann, Ben Wilkins and Thomas Curley

Best Sound Editing

  • American Sniper – Alan Robert Murray and Bub Asman
  • Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) – Martin Hernández and Aaron Glascock
  • The Hobbit: The Battle of the Five Armies – Brent Burge and Jason Canovas
  • Interstellar – Richard King
  • Unbroken – Becky Sullivan and Andrew DeCristofaro

Best Visual Effects

  • Captain America: The Winter Soldier – Dan DeLeeuw, Russell Earl, Bryan Grill and Dan Sudick
  • Dawn of the Planet of the Apes – Joe Letteri, Dan Lemmon, Daniel Barrett and Erik Winquist
  • Guardians of the Galaxy – Stephane Ceretti, Nicolas Aithadi, Jonathan Fawkner and Paul Corbould
  • Interstellar – Paul Franklin, Andrew Lockley, Ian Hunter and Scott Fisher
  • X-Men: Days of Future Past – Richard Stammers, Lou Pecora, Tim Crosbie and Cameron Waldbauer

Best Costume Design

  • The Grand Budapest Hotel – Milena Canonero
  • Inherent Vice – Mark Bridges
  • Into the Woods – Colleen Atwood
  • Maleficent – Anna B. Sheppard and Jane Clive
  • Mr. Turner – Jacqueline Durran

Best Production Design

  • The Grand Budapest Hotel – Adam Stockhausen (Production Design); Anna Pinnock (Set Decoration)
  • The Imitation Game – Maria Djurkovic (Production Design); Tatiana Macdonald (Set Decoration)
  • Interstellar – Nathan Crowley (Production Design); Gary Fettis (Set Decoration)
  • Into the Woods – Dennis Gassner (Production Design); Anna Pinnock (Set Decoration)
  • Mr. Turner – Suzie Davies (Production Design); Charlotte Watts (Set Decoration)

Best Makeup & Hairstyling

  • Foxcatcher – Bill Corso and Dennis Liddiard
  • The Grand Budapest Hotel – Frances Hannon and Mark Coulier
  • Guardians of the Galaxy – Elizabeth Yianni-Georgiou and David White

Review: Jack Ryan: Shadow Recruit (2014)

Jack Ryan: Shadow Recruit (Paramount Pictures/Skydance Productions/Mace Neufeld Productions/Di Bonaventura Pictures/Buckaroo Entertainment/Etalon Film/Translux, 2014)
Jack Ryan: Shadow Recruit (Paramount Pictures/Skydance Productions/Mace Neufeld Productions/Di Bonaventura Pictures/Buckaroo Entertainment/Etalon Film/Translux, 2014)

Seperti halnya Casino Royale (2006) bagi seri film James Bond, Jack Ryan: Shadow Recruit adalah sebuah film yang menandai dimulainya proses reboot untuk seri film Jack Ryan yang dahulu telah dimulai dengan The Hunt for Red October (1990) dan kemudian berlanjut dengan Patriot Games (1992), Clear and Present Danger (1994) serta The Sum of All Fears (2002) – yang juga dimaksudkan sebagai sebuah reboot namun kemudian gagal untuk mendapatkan pengembangan lebih lanjut. Sebagai sebuah seri yang akan menjadi dasar bagi kelanjutan kisah Jack Ryan berikutnya, Jack Ryan: Shadow Recruit harus diakui mampu memberikan kesempatan yang begitu luas bagi penonton untuk mengenal karakter yang diadaptasi dari seri novel karya Tom Clancy tersebut secara lebih dekat. Sayangnya, pengembangan cerita serta beberapa karakter pendukung yang dilakukan secara minimalis membuat Jack Ryan: Shadow Recruit terasa begitu medioker dan gagal tampil istimewa dalam penyampaian ceritanya.

Continue reading Review: Jack Ryan: Shadow Recruit (2014)

Review: Anna Karenina (2012)

anna-karenina-header

Dikenal dengan kemampuannya dalam mengeksplorasi kisah-kisah period dan costume drama­ yang telah dibuktikannya lewat Pride and Prejudice (2005) serta Atonement (2007), mungkin tidak akan ada banyak orang yang terkejut ketika mendengar Joe Wright memutuskan untuk mengadaptasi Anna Karenina sebagai proyek film yang akan ia produksi berikutnya. Diangkat dari novel legendaris berjudul sama karya penulis asal Rusia, Leo Tolstoy, yang pertama kali dirilis pada tahun 1873, Wright bukanlah orang pertama yang membawa kisah Anna Karenina ke layar lebar. Tercatat, Anna Karenina telah diadaptasi ke dalam bentuk film layar lebar semenjak tahun 1914 dengan nama-nama aktris legendaris seperti Greta Garbo, Vivien Leigh, Jacqueline Bisset, Sophie Marceau hingga Helen McCrory pernah memerankan karakter tersebut. Lalu… apa yang ditawarkan Wright pada adaptasi Anna Karenina yang diproduksinya?

Continue reading Review: Anna Karenina (2012)

Review: Last Night (2010)

Debut penyutradaraan Massy Taedjedin, Last Night, adalah sebuah karya yang akan mewujudkan impian setiap pecinta kisah drama dewasa semenjak mereka menyaksikan Closer (2004). Berbicara mengenai pernikahan dan rasa kesetiaan yang terbentuk antara dua orang yang terlibat dalam lembaga tersebut, Taedjedin menggambarkan karakter-karakternya dengan begitu sederhana namun akan mampu membuat setiap orang merasa terhubung dengan mereka, khususnya setiap orang yang sedang berada dalam sebuah hubungan cinta. Apakah perselingkuhan itu? Apa yang mendorong seseorang untuk melakukannya? Apakah Anda sendiri pernah tergoda untuk melakukannya? Berbagai pertanyaan yang berusaha dijabarkan oleh Taedjedin dalam Last Night… dan dilakukan dengan sangat, sangat sempurna.

Continue reading Review: Last Night (2010)

Review: London Boulevard (2010)

William Monahan dikenal di industri film Hollywood sebagai salah satu penulis naskah dengan reputasi yang cukup meyakinkan. Naskah-naskah cerita yang ia kerjakan telah menarik perhatian begitu banyak sutradara besar seperti Ridley Scott (Kingdom of Heaven (2005) dan Body of Lies (2008)), Martin Scorsese (The Departed, 2006 – yang memberikannya sebuah Academy Awards untuk Best Adapted Screenplay), serta Martin Campbell (Edge of Darkness, 2010). Kesuksesannya sebagai seorang penulis naskah mungkin membuat Monahan merasa sedikit tertantang untuk mengarahkan sebuah film. Namun, seperti yang dibuktikan oleh London Boulevard dan sebagian film debut penyutradaraan para penulis naskah lainnya, beberapa penulis naskah seharusnya lebih memilih untuk menyerahkan hasil karya mereka untuk diterjemahkan secara audio visual oleh seorang sutradara profesional.

Continue reading Review: London Boulevard (2010)

Review: Never Let Me Go (2010)

Berisi begitu banyak eksplorasi terhadap struktur sosial dan politik dalam kehidupan manusia, novel Never Let Me Go karya penulis asal Inggris, Kazuo Ishiguro, yang dirilis pada tahun 2005, mendapatkan pujian luas dari banyak kritikus literatur dunia yang kemudian membuat TIME Magazine menggelari novel tersebut sebagai novel terbaik di tahun 2005 dan memasukkannya dalam daftar TIME 100 Best English-Language Novel from 1923 to 2005. Sebuah pencapaian yang tentunya akan cukup sulit untuk diterjemahkan dalam bentuk audio visual, namun usaha yang dilakukan oleh sutradara Mark Romanek (One Hour Photo, 2002) ternyata tidak begitu mengecewakan.

Continue reading Review: Never Let Me Go (2010)