Tag Archives: Judy Greer

Review: War for the Planet of the Apes (2017)

Sukses mengarahkan Dawn of the Planet of the Apes (2014) – setelah sebelumnya menggantikan posisi Rupert Wyatt yang mengarahkan Rise of the Planet of the Apes (2011), Matt Reeves kembali duduk di kursi penyutradaraan bagi film ketiga dalam seri film Planet of the Apes, War for the Planet of the Apes. Dengan naskah cerita yang ditangani Reeves bersama dengan Mark Bomback, War for the Planet of the Apes mengisahkan kelanjutan perjalanan Caesar (Andy Serkis – lewat penggunaan performance-capture technology) dan kawanannya yang berusaha untuk menemukan sebuah lokasi baru yang aman untuk mereka tinggali. Bukan sebuah persoalan yang mudah. Meskipun musuhnya, Koba (Toby Kebbell – lewat penggunaan performance-capture technology), telah tewas, namun para pengikutnya masih senantiasa mencoba untuk menjatuhkan Caesar dari singgasananya. Para pengikut Koba bahkan telah bekerjasama dengan pihak manusia – faksi militer yang menamakan dirinya Alpha-Omega yang bertujuan untuk memusnahkan populasi para kera yang dianggap memiliki potensi untuk menyebarkan sebuah penyakit berbahaya yang belum ditemukan obatnya. Dan ancaman tersebut kian nyata setelah pimpinan Alpha-Omega yang disebut sebagai The Colonel (Woody Harrelson) mulai mengetahui dimana letak persembunyian Caesar dan kawanan keranya. Continue reading Review: War for the Planet of the Apes (2017)

Advertisements

Review: Ant-Man (2015)

ant-man-posterJika barisan pahlawan super dan berbagai varian yang telah dikenal selama ini masih belum mampu memuaskan Anda… wellmeet Ant-Man. Seperti halnya Captain America: The Winter Soldier (Anthony Russo dan Joe Russo, 2014) atau Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2014) atau Avengers: Age of Ultron (Joss Whedon, 2015), Ant-Man juga merupakan satu karakter pahlawan super yang kisahnya diadaptasi dari seri komik terbitan Marvel Comics. Pertama kali dirilis ke hadapan publik pada tahun 1962, usaha untuk mengangkat kisah Ant-Man ke layar lebar sendiri telah dimulai semenjak akhir tahun 1980an. Namun, baru semenjak tahun 2003 ketika sutradara Edgar Wright (Scott Pilgrim vs. The World, 2010) bersama dengan rekan penulis naskahnya, Joe Cornish, memulai usaha untuk membangun penceritaan untuk Ant-Man, adaptasi kisah untuk versi layar lebar dari Ant-Man baru mulai benar-benar berjalan. Dengan naskah cerita final yang juga dibantu oleh sentuhan komedi Adam McKay (The Other Guys, 2010) dan Paul Rudd, Ant-Man akhirnya memulai masa produksinya pada akhir tahun 2014 dengan arahan sutradara Peyton Reed (Yes Man, 2008) untuk dipersiapkan sebagai salah satu sentuhan akhir bagi fase kedua dari Marvel Cinematic Universe.

Jika Peter Parker adalah Spider-Man dan Steve Rogers adalah Captain America dan Bruce Banner adalah Hulk, maka Scott Lang (Paul Rudd) adalah kepribadian yang berada di balik kostum Ant-Man. Who’s Scott Lang? Scott Lang adalah seorang mantan narapidana yang kemudian dipilih oleh seorang ilmuwan bernama Hank Pym (Michael Douglas) untuk mengenakan kostum Ant-Man yang ia ciptakan. Dengan kostum tersebut, Scott Lang memiliki kekuatan untuk mengecilkan tubuhnya setara dengan ukuran… well… semut, obviously, sekaligus berbagai kekuatan lainnya. Hank Pym sendiri memberikan kostum Ant-Man tersebut pada Scott Lang bukannya tanpa alasan. Hank Pym berniat untuk menghalangi proyek mantan muridnya, Darren Cross (Corey Stoll), yang meniru formula Ant-Man yang diciptakannya untuk kemudian dijual kepada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan dapat mengancam perdamaian dunia.

Layaknya kebanyakan bagian awal dari sebuah seri film yang berkisah tentang seorang pahlawan super, Ant-Man juga menghabiskan sebagian durasi penceritaannya untuk menggali lebih dalam mengenai sosok karakter yang berada di balik tokoh Ant-Man sekaligus karakter-karakter lain yang berada di kehidupannya. Tentu, jika dibandingkan dengan kebanyakan film rilisan Marvel Studios sebelumnya yang tampil maksimal dalam penggarapan deretan adegan aksinya yang bombastis, tampilan Ant-Man yang hadir dengan ritme penceritaan yang sederhana dan lebih menekankan unsur drama akan memberikan sedikit kejutan bagi para penontonnya, khususnya mereka yang mungkin telah cukup familiar dengan film-film yang berada dalam Marvel Cinematic Universe. Buruk? Sama sekali tidak. Perubahan warna penceritaan yang dibawa Ant-Man justru memberikan kejutan yang menyegarkan sekaligus jeda yang mungkin memang dibutuhkan oleh sejenis.

Jangan khawatir. Ant-Man masih mampu menghadirkan deretan adegan aksi yang tergarap dengan cukup baik dalam banyak bagian penceritaannya. Namun, adalah unsur drama dan komedi yang menjadikan Ant-Man tampil begitu memikat. Jika selama ini unsur komedi hanya menjadi formula tambahan dalam film-film rilisan Marvel Studios, maka Ant-Man menjadikan formula tersebut sebagai bahan utamanya, meracik tiap adegan dan dialog dengan sentuhan komedi yang kental walaupun sama sekali tidak pernah melepaskan identitas sejatinya sebagai sebuah film bertemakan pahlawan super buatan Marvel Studios. Naskah cerita garapan Wright, Cornish, McKay dan Rudd mampu tersusun dengan baik untuk mengenalkan sang karakter pahlawan super kepada penonton. Begitu pula dengan eksekusi Reed atas naskah cerita tersebut yang – meskipun masih terasa datar pada bagian akhir paruh pertama hingga pertengahan paruh kedua penceritaan – menjadikan Ant-Man sebagai sebuah sajian kisah yang sangat menarik dan menghibur.

Kelihaian Marvel Studios dalam memilih deretan aktor yang tepat untuk menghidupkan karakter-karakter mereka juga sekali lagi menjadi poin keunggulan tersendiri bagi Ant-Man. Paul Rudd tampil begitu mengesankan sebagai Scott Lang/Ant-Man. Kharismanya yang kuat mampu membuat karakternya sebagai sosok pria/ayah/pahlawan super menjadi begitu humanis sekaligus mudah untuk disukai. Chemistry yang dijalin Rudd dengan para pemeran lain juga menjadikan naskah cerita Ant-Man yang cukup bergantung pada deretan dialognya tampil dinamis dalam presentasinya. Para pemeran pendukung seperti Michael Douglas, Evangeline Lilly hingga Corey Stoll juga hadir dengan penampilan akting yang prima. Namun adalah Michael Peña yang seringkali hadir dan mencuri perhatian dengan penampilan komikalnya. Peran Peña memang harus diakui cukup terbatas. Meskipun begitu, Peña mampu mengeksekusi setiap bagian kisahnya dengan begitu baik. [B-]

Ant-Man (2015)

Directed by Peyton Reed Produced by Kevin Feige Written by Edgar Wright, Joe Cornish, Adam McKay, Paul Rudd (screenplay), Edgar Wright, Joe Cornish (story), Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby (comic book, Ant-Man) Starring Paul Rudd, Evangeline Lilly, Corey Stoll, Bobby Cannavale, Michael Peña, Tip “T.I.” Harris, Anthony Mackie, Wood Harris, Judy Greer, David Dastmalchian, Michael Douglas, John Slattery, Hayley Atwell, Abby Ryder, Gregg Turkington, Martin Donovan, Garrett Morris, Stan Lee, Chris Evans, Sebastian Stan, Hayley Lovitt Music by Christophe Beck Cinematography Russell Carpenter Edited by Dan Lebental, Colby Parker, Jr. Studio Marvel Studios Running time 117 minutes Country United States Language English

Review: Entourage (2015)

entourage-posterEmpat tahun setelah masa tayangnya berakhir di saluran televisi kabel HBO, kreator serial televisi Entourage, Doug Ellin, akhirnya membawa kisah persahabatan antara lima orang pria dalam usaha mereka untuk bertahan dalam kerasnya kehidupan serta persaingan di Hollywood ke layar lebar. Kembali bekerjasama dengan Mark Wahlberg dan Stephen Levinson yang turut memproduseri serial televisi yang sempat tayang selama delapan musim tersebut, Ellin menyajikan Entourage dalam formula penceritaan familiar yang jelas akan sangat mampu mengobati kerinduan para penggemar kepada kelima karakter utama dalam serial televisi tersebut. Apakah hal tersebut berarti bahwa versi film dari Entourage akan mengalienasi mereka yang sama sekali belum familiar dengan serial pemenang Emmy Awards tersebut? Tidak. Ellin cukup cerdas untuk merangkai naskah cerita Entourage untuk menjadi sebuah kisah intrik dunia perfilman Hollywood yang mampu bercerita dalam skala yang cukup luas.

Versi film dari Entourage sendiri memulai kisahnya ketika aktor Vincent Chase (Adrian Grenier) memutuskan untuk bercerai dari istri yang baru saja dinikahinya selama sembilan hari. Momen tersebut dimanfaatkan Vincent untuk melakukan beberapa perubahan dalam kehidupannya – termasuk ingin mencoba beberapa hal baru dalam karirnya sebagai seorang aktor Hollywood. Vincent lantas menghubungi sahabat sekaligus mantan agennya, Ari Gold (Jeremy Piven), yang kini telah menjabat sebagai seorang pimpinan sebuah rumah produksi. Ari lantas menawarkan Vincent sebuah peran dalam film berjudul Hyde yang akan menjadi film perdana yang ia produksi. Vincent menerima tawaran tersebut… namun dengan sebuah persyaratan: ia setuju untuk tampil jika Ari juga membiarkannya menjadi sutradara film tersebut. Walau awalnya ragu, dan dibayang-bayangi konflik dengan pemegang saham lain yang menilai Vincent belum layak untuk menjadi seorang sutradara, Ari akhirnya setuju akan persyaratan yang diberikan sahabatnya tersebut. Karir baru Vincent Chase sebagai seorang sutradara akhirnya dimulai.

Tidak ada yang begitu istimewa dalam jalan cerita Entourage. Mereka yang merupakan penggemar setia serial televisi tersebut atau gemar dengan film-film satir tentang kehidupan selebritis Hollywood jelas akan menemukan bahwa film ini hadir dengan kualitas penceritaan yang seadanya. Namun bukan berarti naskah cerita garapan Ellin berkualitas buruk. Ellin masih mampu merangkai kisah familiar tersebut dengan konflik-konflik pendukung tentang persahabatan dan kehidupan pribadi masing-masing karakter utama dalam Entourage dengan cukup hangat. Untuk mereka yang masih belum familiar dengan Vincent Chase, Ari Gold, Johnny “Drama” Chase, Eric Murphy maupun Turtle, Ellin secara cerdas menghadirkan sebuah dokumenter singkat tentang masing-masing karakter yang akan membuat mereka yang masih asing dengan Entourage menjadi setidaknya cukup mengenal karakter kelima sahabat tersebut.

Seperti serial televisinya, kekuatan utama Entourage berada pada kemampuannya untuk merayakan kebesaran maupun kemewahan kehidupan Hollywood sekaligus memberikannya sebuah sindiran tajam di saat yang bersamaan. Ellin berhasil mengisi jalan cerita Entourage dengan dialog-dialog yang berisi banyak referensi mengenai kultur pop modern – sekaligus menghadirkan banyak kameo dari wajah-wajah familiar Hollywood mulai dari Armie Hammer, Mark Wahlberg, Jessica Alba, Emily Ratajkowski hingga Thierry Henry, Calvin Harris dan James Cameron. Kisah perjuangan karakter Vincent Chase dan Ari Gold dalam memperjuangkan film yang mereka produksi juga mampu digarap dengan baik meskipun terkadang hadir dengan eksekusi ritme cerita yang terlalu lamban. Ellin juga berbaik hati untuk membagi porsi penceritaan terhadap masing-masing karakter utama film sehingga tidak hanya berfokus pada karakter Vincent Chase. Meskipun tidak seluruhnya hadir dengan penyajian yang menarik namun tetap berhasil menghadirkan warna kisah persahabatan yang solid pada kualitas jalan cerita film secara keseluruhan.

Entourage jelas juga terbantu dengan performa para pemerannya yang tampil dengan penampilan yang prima dan chemistry yang (masih cukup) hangat tercipta diantara mereka. Grenier dan Piven bersama dengan Kevin Connolly, Kevin Dillon dan Jerry Ferrara tampil masih dengan keakraban yang sama seperti yang tersaji dalam serial televisi mereka terdahulu. Namun, kejutan utama dari Entourage jelas datang dari Haley Joel Osment. Yep. Masih ingat dengan bocah dalam The Sixth Sense (M. Night Shyamalan, 1999)? Osment yang kini telah berusia 27 tahun tampil sebagai seorang anak investor film yang arogan dan dia mampu mengeksekusi setiap adegan karakternya dengan sangat baik. Sangat mampu mencuri perhatian. Pemeran pendukung lain juga tampil dalam kualitas yang tidak mengecewakan dan jelas akan mendukung kualitas Entourage sebagai sebuah satir Hollywood yang benar-benar mampu menghibur penontonnya. [B-]

Entourage (2015)

Directed by Doug Ellin Produced by Doug Ellin, Stephen Levinson, Mark Wahlberg Written by Doug Ellin (screenplay), Doug Ellin, Rob Weiss (story) Starring Adrian Grenier, Kevin Connolly, Kevin Dillon, Jerry Ferrara, Jeremy Piven, Perrey Reeves, Rex Lee, Debi Mazar, Constance Zimmer, Billy Bob Thornton, Haley Joel Osment, Emmanuelle Chriqui, Scott Mescudi, Rhys Coiro, Nora Dunn, Alan Dale, Martin Landau, James Cameron, Nina Agdal, Jessica Alba, David Arquette, Shayna Baszler, Tom Brady, Warren Buffett, Gary Busey, Andrew Dice Clay, Linda Cohn, Tameka Cottle, Common, Mark Cuban, Baron Davis, Jessamyn Duke, Julian Edelman, David Faustino, Jon Favreau, Kelsey Grammer, Jim Gray, Rob Gronkowski, Armie Hammer, Calvin Harris, Thierry Henry, Terrence J., Cynthia Kirchner, Matt Lauer, Greg Louganis, Chad Lowe, Clay Matthews III, Maria Menounos, Alyssa Miller, Piers Morgan, Liam Neeson, Ed O’Neill, Emily Ratajkowski, Mike Richards, Stevan Ridley, Ronda Rousey, Bob Saget, Saigon, Richard Schiff, David Spade, George Takei, T.I., Steve Tisch, Mike Tyson, Mark Wahlberg, Pharrell Williams, Russell Wilson, Judy Greer Cinematography Steven Fierberg Editing by Jeff Groth Studio HBO/Closest to the Hole Productions/Leverage Entertainment Running time 104 minutes Country United States Language English

Review: Jurassic World (2015)

jurassic-world-posterKetika Steven Spielberg merilis Jurassic Park pada tahun 1993, Spielberg berhasil menghadirkan sebuah keajaiban sinema yang masih terasa begitu relevan bahkan hingga saat ini. Di era ketika komputer masih belum menjadi tumpuan utama para pembuat film untuk menghasilkan gambar-gambar dengan efek visual yang begitu mengagumkan, Spielberg mampu membawa penonton selama 127 menit untuk merasakan kesenangan/kekaguman/ketegangan/ketakutan hidup di tengah kawanan dinosaurus dan menjadikan perjalanan tersebut sebagai sebuah pengalaman sinema yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Tidak mengherankan jika film dengan sentuhan terobosan teknologi tinggi tersebut kemudian sempat menjadi film dengan pendapatan komersial terbesar sepanjang masa – sebelum akhirnya digeser oleh Titanic (James Cameron, 1997), meraih begitu banyak penghargaan termasuk tiga Academy Awards serta diikuti oleh dua sekuel, The Lost World (1997) yang masih diarahkan oleh Spielberg dan Jurassic Park III (2001) yang kemudian diarahkan oleh Joe Johnston.

Kini, lebih dua dekade dari perilisan Jurassic Park dan lebih dari satu dekade setelah perilisan sekuel keduanya, Hollywood kembali berusaha untuk menghadirkan keajaiban tersebut dengan merilis sekuel ketiga bagi Jurassic Park yang diberi judul Jurassic World. Film ini sendiri awalnya telah direncanakan untuk dirilis pada satu dekade lalu dengan Spielberg hanya bertugas sebagai produser eksekutif – seperti yang ia lakukan pada Jurassic Park III. Namun, naskah cerita yang masih belum mampu terasa memuaskan serta berbagai masalah teknikal lainnya kemudian membuat Jurassic World terus mengalami penundaan produksi. Secara perlahan, usaha Spielberg untuk mewujudkan Jurassic World akhirnya mulai membuahkan hasil dan benar-benar memasuki masa produksi pada tahun 2014 dengan naskah cerita yang digarap oleh trio Rick Jaffa, Amanda Silver dan Derek Connolly bersama dengan Colin Trevorrow yang juga duduk di kursi penyutradaraan film.

Jurassic World sendiri memulai kisahnya ketika dua orang anak, Zach (Nick Robinson) dan Gray Mitchell (Ty Simpkins), diundang oleh bibinya, Claire Dearing (Bryce Dallas Howard), yang bekerja sebagai manajer operasi dari Jurassic World untuk datang dan berliburan ke pulau yang menjanjikan hiburan dan kesenangan akan hidup bersama para dinosaurus. Liburan yang awalnya berjalan lancar sesuai rencana tersebut sayangnya kemudian berubah menjadi bencana ketika salah satu dinosaurus yang dibuat dengan rekayasa genetik dan dinamakan Indominus rex berhasil melarikan diri dari kandangnya. Jelas, kepanikan lantas mulai menyebar diantara para pengunjung taman wisata tersebut, termasuk Zach dan Gray yang terjebak di dalamnya. Bersama dengan Owen Grady (Chris Pratt) yang bertugas sebagai tenaga ahli di Jurassic World, Claire mulai menelusuri seluruh taman guna menemukan dan menyelamatkan dua keponakannya tersebut.

Dalam satu bagian penceritaannya, karakter Claire Dearing sempat mengucapkan dialog bahwa generasi modern kini tidak lagi merasa begitu tertarik dengan eksistensi dinosaurus dari era purbakala – sebuah pernyataan yang menjadi dasar para ilmuwan yang bekerja di laboratorium Jurassic World untuk menghasilkan sosok dinosaurus yang lebih besar, lebih menakutkan dengan suara yang lebih menggelegar dan deretan gigi yang lebih banyak. WellJurassic World sendiri seperti menjadi perwujudan nyata akan pernyataan tersebut. Deretan dinosaurus yang tampil dalam film ini dihadirkan dalam skala besar. Skala film-film blockbuster modern, untuk lebih tepatnya. Namun apakah keberadaan sosok dinosaurus yang lebih besar dengan sentuhan teknologi komputer yang lebih kompleks tersebut mampu menyaingi para dinosaurus yang dihadirkan Spielberg dalam Jurassic Park? Belum tentu.

Salah satu hal yang membuat Jurassic Park begitu mampu melekat di benak penontonnya hingga saat ini adalah Spielberg mampu menciptakan deretan dinosaurus yang terlihat dan terasa begitu nyata ketika dihadirkan di dalam jalan penceritaan. Teknologi komputer saat ini memang mampu menyajikan tampilan visual dinosaurus yang sama (atau bahkan lebih) nyata dalam Jurassic World. Sayangnya, pengembangan cerita yang cenderung lemah justru membuat kehadiran para dinosaurus dalam film ini terasa hanya seperti makhluk buas yang dapat membunuh siapa saja dan harus segera dienyahkan tanpa pernah diberikan lapisan penceritaan yang membuat kehadirannya lebih berkesan. Hasilnya, daripada mampu memberikan ketegangan dan kekaguman pada penonton ketika muncul di layar penceritaan, deretan dinosaurus dalam Jurassic World kini tampil tanpa kejutan berarti yang dapat membuatnya terasa istimewa.

Olahan naskah cerita yang disediakan untuk Jurassic World juga terasa cukup mengecewakan. Dengan pakem cerita yang terasa begitu mengikuti berbagai formula yang telah diterapkan tiga seri Jurassic Park sebelumnya, Jurassic World jelas tidak akan begitu mampu menawarkan sesuatu yang baru dalam pengisahannya. Sayang, formula familiar tersebut juga mendapatkan pengembangan yang begitu dangkal. Banyak karakter yang hadir tanpa porsi cerita yang maksimal, dialog-dialog yang terdengar cukup menggelikan serta konflik yang gagal untuk tersaji dengan menarik. Hal ini begitu terasa pada dua paruh awal penceritaan Jurassic World dimana konflik dan karakter-karakter cerita yang dihadirkan terasa begitu berantakan, hadir dan datang dari berbagai penjuru tanpa pernah mampu terasa memiliki tujuan penceritaan yang kuat. Arahan Colin Trevorrow juga terasa lemah dalam mengendalikan ritme cerita serta karakter-karakter yang ada dalam filmnya. Beruntung, meskipun terasa sedikit terlambat, Trevorrow mampu menyajikan paruh ketiga penceritaan yang benar-benar kuat, berjalan dengan cepat dan mampu menghadirkan ketegangan yang terasa begitu maksimal.

Terlepas dari berbagai kelemahan tersebut, mereka yang menyaksikan Jurassic World untuk kembali mendapatkan berbagai kenangan indah akan Jurassic Park sepertinya juga masih akan dapat cukup terpuaskan. Tata musik arahan Michael Giacchino yang beberapa kali menghadirkan komposisi musik orisinal arahan John Williams mampu memberikan ketegangan tersendiri. Begitu pula dengan sinematografi arahan John Schwartzman yang membuat setiap kepingan gambar dalam film ini terasa megah. Dari departemen akting, Chris Pratt dan Bryce Dallas Howard mampu tampil prima dengan chemistry antara satu sama lain yang benar-benar tercipta begitu meyakinkan. Sayangnya pengembangan karakter pendukung yang dangkal tidak memberikan ruang yang cukup bagi para pemeran lain untuk mampu tampil dengan ruang yang lebih luas. Jurassic World secara keseluruhan masih mampu tampil sebagai sebuah film blockbuster modern yang cukup menyenangkan dengan beberapa ketegangan yang tersaji cukup baik. Namun, lebih dari itu, film ini gagal untuk tampil dengan pengisahan yang lebih mengesankan, khususnya untuk sebuah film yang berada dalam barisan seri film Jurassic Park yang begitu monumental tersebut. [C]

Jurassic World (2015)

Directed by Colin Trevorrow Produced by Frank Marshall, Patrick Crowley Written by Rick Jaffa, Amanda Silver, Derek Connolly, Colin Trevorrow (screenplay), Rick Jaffa, Amanda Silver (story), Michael Crichton (charactersStarring Chris Pratt, Bryce Dallas Howard, Vincent D’Onofrio, Ty Simpkins, Nick Robinson, Omar Sy, B. D. Wong, Irrfan Khan, Jake Johnson, Brian Tee, Lauren Lapkus, Katie McGrath, Judy Greer, Andy Buckley, James DuMont, Jimmy Fallon Music by Michael Giacchino Cinematography John Schwartzman Editing by Kevin Stitt Studio Amblin Entertainment/Legendary Pictures Running time 124 minutes Country United States Language English

Review: Tomorrowland (2015)

tomorrowland-posterLayaknya Mission to Mars (Brian De Palma, 2000), Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (Gore Verbinski, 2003) dan The Haunted Mansion (Rob Minkoff, 2003), Tomorrowland adalah sebuah film yang dikembangkan berdasarkan taman bermain yang dimiliki oleh The Walt Disney Company. Namun, dengan pengarahan yang diberikan oleh Brad Bird (Mission: Impossible – Ghost Protocol, 2011) atas naskah cerita yang digarapnya bersama dengan Damon Lindelof (Prometheus, 2012), Tomorrowland jelas memiliki banyak hal yang ingin disajikan selain untuk menghibur para penontonnya. Benar saja. Bird dan Lindelof mengembangkan Tomorrowland dengan berbagai ide besar tentang kondisi dunia dan umat manusia modern sekaligus menyajikannya dengan tampilan futuristik yang benar-benar mewah. Ide-ide besar Bird dan Lindelof tersebut, sayangnya, tidak selalu mampu diterjemahkan dalam penceritaan yang lancar. Namun, bahkan di momen-momen terlemahnya, Tomorrowland akan tetap mampu menghasilkan rasa kagum atas penggarapan keseluruhannya yang benar-benar apik.

Jalan cerita Tomorrowland sendiri berkisah tentang dua orang jenius yang berasal dari dua era dan kepribadian yang berbeda, seorang pria paruh baya bernama Frank Walker (George Clooney) yang hidup dengan kesinisannya dalam memandang masa depan dunia serta seorang remaja bernama Casey Newton (Britt Robertson) yang selalu optimis bahwa dunia dapat diubah menjadi sebuah tempat tinggal yang lebih baik terlepas dari berbagai kekurangannya. Keduanya lantas dipertemukan oleh seorang gadis misterius bernama Athena (Raffey Cassidy) yang berniat untuk mempersatukan kecerdasan yang dimiliki keduanya untuk melakukan sebuah misi rahasia yang dapat mencegah kehancuran dunia. Meskipun awalnya skeptis dengan apa yang disampaikan Athena, Frank dan Casey akhirnya mampu mengesampingkan perbedaan mereka dan akhirnya saling bekerjasama dalam menjalankan misi tersebut.

Terdengar sebagai sebuah plot film petualangan bernuansa fiksi ilmiah yang begitu generik? Jangan khawatir. Lebih sedikit yang Anda ketahui tentang apa yang akan disajikan Bird dan Lindelof dalam Tomorrowland, lebih besar kemungkinan Anda akan merasa kagum akan pencapaian yang diberikan keduanya untuk film ini. Jalan cerita Tomorrowland sendiri sepertinya begitu diinspirasi oleh sebuah legenda kaum Indian Cherokee tentang pertarungan antara dua ekor serigala – satu ekor serigala yang hidup dengan pesimisme, amarah, ego dan penderitaan serta seekor serigala lainnya yang hidup dengan optimisme, cinta, damai dan pengharapan. Bird dan Lindelof kemudian membangun Tomorrowland sebagai sebuah persembahan kepada sang serigala yang hidup dengan segala optimisme-nya. Tomorrowland lantas dikemas sebagai sebuah film yang cerdas, penuh dengan ironi tentang permasalahan kehidupan sosial modern – dan terasa berusaha untuk memberikan sugesti bahwa segala permasalahan tersebut dapat diatasi jika manusia mau melakukannya – namun disampaikan dengan jelas dan, tentu saja, kehangatan khas film-film keluarga buatan Walt Disney Pictures.

Hasrat pencapaian tinggi dalam penceritaan Bird dan Lindelof sendiri tidak lantas berjalan dengan sangat lancar. Adalah sangat jelas terasa pada beberapa bagian film Bird terlihat kebingungan untuk mengembangkan dengan seksama ide-ide besar yang diemban naskah ceritanya. Hal inilah yang membuat Tomorrowland sempat beberapa kali terasa gagal untuk berpadu antara beberapa adegannya – dan begitu dapat dirasakan pada paruh kedua serta awal paruh ketiga film. Kehadiran karakter antagonis yang tidak benar-benar antagonis juga sepertinya membuat Tomorrowland terkesan kekurangan amunisi penceritaannya. Dengan tatanan kisah yang berisi sebuah pembahasan futuristik yang kompleks dan eksekusi yang begitu modern adalah cukup mengherankan jika kemudian Bird dan Lindelof memilih untuk menghadirkan sosok antagonis yang well… terlalu lembut karakteristiknya. Mungkin keduanya berniat untuk tetap menjaga Tomorrowland sebagai sebuah sajian yang dapat disaksikan seluruh keluarga namun kehadiran beberapa adegan kekerasan dalam jalan cerita film ini jelas berkata bahwa Bird memang meniatkan filmnya menjadi sebuah film fiksi ilmiah dengan bumbu petualangan dan aksi yang cukup tegas.

Terlepas dari beberapa kelemahannya, Tomorrowland tetap mampu membuktikan bahwa Bird merupakan salah seorang sutradara tercerdas yang dimiliki oleh Hollywood saat ini. Pengarahannya terhadap jalan cerita berjalan cukup efektif. Begitu pula dengan visi yang ia miliki tentang tema futuristik yang dibawakan Tomorrowland. Bird mampu merangkai desain produksi yang benar-benar mengagumkan yang akan sanggup membuat para penontonnya merasa seperti anak-anak yang baru pertama kali menyaksikan hal-hal berbau masa depan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Sinematografer Life of Pi (Ang Lee, 2012) memberikan kontribusi yang luar biasa atas visi Bird futuristik tersebut. Deretan gambar-gambar indah Miranda dalam Tomorrowland adalah salah satu alasan mengapa film ini mampu tampil begitu spektakuler. Rangkaian tata musik arahan Michael Giacchino juga bekerja dengan baik dalam mengisi setiap adegan dengan energi yang mengalir kuat dan emosional.

Tidak lupa, Tomorrowland juga didukung oleh penampilan apik para pengisi departemen aktingnya. Ketiga pemeran utamanya, George Clooney, Britt Robertson dan Raffey Cassidy mampu tampil dengan tanpa cela dalam menghidupkan karakter-karakter yang mereka perankan. Clooney adalah salah seorang aktor paling berbakat pada generasinya namun catatan khusus jelas layak disematkan pada Robertson dan Cassidy. Robertson mampu membawa energi tersendiri pada setiap kehadirannya dalam setiap adegan. Seperti halnya Shailene Woodley yang mendampingi Clooney dalam The Descendants (Alexander Payne, 2011), Robertson kemungkinan besar akan menjadi aktris muda dengan karir yang besar dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Cassidy sendiri berhasil mencuri perhatian dengan penampilannya. Chemistry-nya dengan Clooney juga begitu erat dan mampu memberikan hantaman emosional yang cukup mendalam pada salah satu adegan di akhir film. Kualitas departemen akting yang solid untuk mendukung sebuah film yang tidak sempurna namun sangat cerdas untuk mampu memprovokasi jalan pemikiran setiap penontonnya dengan apa yang disajikan dalam jalan ceritanya. And these days, that’s definitely something worth cheering about. [B]

Tomorrowland (2015)

Directed by Brad Bird Produced by Brad Bird, Damon Lindelof, Jeffrey Chernov Written by Damon Lindelof, Brad Bird (screenplay), Damon Lindelof, Brad Bird, Jeff Jensen (story) Starring George Clooney, Hugh Laurie, Britt Robertson, Raffey Cassidy, Tim McGraw, Kathryn Hahn, Keegan-Michael Key, Chris Baur, Pierce Gagnon, Matthew Maccaull, Judy Greer, Garry Chalk, Thomas Robinson Music by Michael Giacchino Cinematography Claudio Miranda Editing by Walter Murch Studio Walt Disney Pictures Running time 130 minutes Country United States Language English

Review: The Descendants (2011)

Tujuh tahun setelah kesuksesannya dalam mengarahkan Sideways (2004), sutradara Alexander Payne kembali duduk di kursi sutradara untuk mengarahkan The Descendants, sebuah film drama komedi yang naskahnya ia adaptasi dari novel berjudul sama karya Kaui Hart Hemmings. Dengan jalan cerita yang berlatar belakang tempat di wilayah Hawaii, Amerika Serikat, The Descendants adalah sebuah film yang akan dengan mudah disukai banyak orang. Entah itu karena keberhasilan Payne – yang bekerjasama dengan Nat Faxon dan Jim Rash – dalam menghasilkan sebuah naskah cerita yang ringan namun penuh dengan makna kehidupan yang mendalam, perpaduan antara sinematografi alam Hawaii yang indah dengan penggunaan musik-musik tradisional yang memikat, karena para jajaran pemerannya yang benar-benar mampu tampil natural dan mengesankan atau karena perpaduan berbagai elemen tersebut yang kemudian membuat The Descendants mampu hadir sebagai sebuah presentasi yang manis dan sangat menyentuh.

Continue reading Review: The Descendants (2011)

Review: Love and Other Drugs (2010)

Komedi romantis. Sebuah genre yang sama halnya seperti horor, terlalu sering mendapat eksplorasi dari para pembuat film yang sebenarnya tidak mampu melakukannya dan berakhir sebagai sebuah genre yang seringkali melahirkan film-film berkualitas kacangan… kalau tidak mau dikatakan buruk. Hollywood sendiri lebih sering merilis film komedi romantis yang diperuntukkan untuk kalangan muda. Adalah sangat langka untuk melihat sebuah film komedi romantis dengan naskah cerita bernada dewasa yang mampu menghibur sekaligus menghanyutkan setiap penontonnya akhir-akhir ini.

Continue reading Review: Love and Other Drugs (2010)

Review: Love Happens (2009)

Jennifer Aniston. Mungkin bukan kesalahan semua orang jika ketika mendengar nama aktris yang populer lewat serial televisi Friends ini langsung terbayang akan berbagai film komedi romantis yang sayangnya kebanyakan dinilai dangkal dan kurang efektif. Dengan judul Love Happens dan sebuah poster yang kurang menarik, penilaian itu mungkin akan semakin tajam terbentuk, bahkan sebelum kebanyakan penonton menyaksikan film ini.

Continue reading Review: Love Happens (2009)