Tag Archives: Jonny Weston

Review: Beyond Skyline (2017)

Keputusan Greg dan Colin Strause – atau yang lebih dikenal dengan sebutan Brothers Strause – untuk memproduksi dan merilis film fiksi ilmiah arahan mereka yang berjudul Skyline di tahun 2010 sempat membuat berang Sony Pictures. Bagaimana tidak. Rumah produksi milik Brothers Strause, Hydraulx Filmz, saat itu sedang dipekerjakan oleh Sony Pictures untuk membuat sebuah film fiksi ilmiah berjudul World Invasion: Battle Los Angeles (Jonathan Liebesman, 2011) yang, seperti halnya Skyline, juga berkisah tentang invasi para makhluk luar angkasa ke Bumi. Walau ricuh pada awalnya, setelah melalui beberapa proses hukum, Brothers Strause dan Sony Pictures akhirnya sepakat untuk berdamai serta melanjutkan proyek mereka masing-masing. Baik Skyline dan World Invasion: Battle Los Angeles sendiri sama-sama mendapatkan penilaian buruk dari para kritikus film dunia ketika masa rilisnya – meskipun keduanya kemudian cukup berhasil dalam menarik perhatian penonton dan meraup sejumlah keuntungan komersial. Continue reading Review: Beyond Skyline (2017)

Advertisements

Review: The Divergent Series: Insurgent (2015)

insurgent-posterDirilis tepat setahun yang lalu, bagian pertama untuk adaptasi film layar lebar dari novel The Divergent Series karya Veronica Roth, Divergent, mampu mencuri perhatian penikmat film dunia ketika film arahan Neil Burger tersebut berhasil meraih kesuksesan komersial meskipun mendapatkan penilaian yang tidak terlalu memuaskan dari banyak kritikus film dunia. Bagian kedua dari adaptasi film layar lebar The Divergent Series sendiri, Insurgent, menghadirkan beberapa perubahan di belakang layar pembuatannya: kursi penyutradaraan kini beralih dari Burger ke Robert Schwentke (Red, 2010) dengan Brian Duffield, Akiva Goldsman dan Mark Bomback mengambil alih tugas penulisan naskah cerita dari Evan Daugherty dan Vanessa Taylor. Apakah perubahan-perubahan ini mampu memberikan nafas segar bagi penceritaan Insurgent? Tidak, sayangnya.

Insurgent sendiri masih mengikuti perjalanan dari Tris (Shailene Woodley) yang kini bersama dengan Four (Theo James), Peter (Miles Teller) dan Caleb (Ansel Elgort) bersembunyi di wilayah tempat tinggal kaum Amity setelah mereka diburu oleh pimpinan kelompok Erudite, Jeanine Matthews (Kate Winslet). Jeanine sendiri melakukan segala hal untuk berusaha menangkap Tris – mulai dari menugaskan pasukannya untuk memburu semua orang yang pernah berhubungan dengan gadis tersebut hingga melakukan pembunuhan terhadap orang-orang tak bersalah agar Tris mau keluar dari persembunyiannya. Benar saja. Meskipun dicegah oleh Four, Tris akhirnya memilih untuk meninggalkan persembunyiannya guna menghadapi Jeanine secara langsung.

Tidak seperti Divergent yang memperkenalkan dunia penceritaannya yang memiliki begitu banyak sisi dan konflik, Insurgent justru hadir hanya dengan satu permasalahan pokok: perburuan yang dilakukan karakter Jeanine Matthews terhadap Tris. Disinilah letak permasalahan utama dari film ini. Terlepas dari kehadiran sajian aksi yang lebih banyak dan mampu dieksekusi dengan baik oleh Schwentke, naskah cerita Insurgent tidak menawarkan apapun selain kisah perburuan yang dilakukan Jeanine Matthews tersebut. Duffield, Goldsman dan Bomback bahkan tidak berminat untuk menggali lebih dalam sisi romansa jalan cerita dari hubungan yang terjalin antara karakter Tris dan Four. Tentu saja, ketika jalan cerita dengan alur monoton dan tanpa tambahan plot pendukung yang kuat tersebut dihadirkan sepanjang 119 menit, Insurgent jelas berakhir datar dan gagal untuk menawarkan daya tarik yang berarti.

Entah karena ditangani oleh barisan penulis naskah yang baru, Insurgent sendiri terasa amat bergantung pada pengalaman para penontonnya dalam menyaksikan Divergent untuk dapat benar-benar mencerna konflik yang dihadirkan dalam film ini. Banyak bagian kisah yang melibatkan deskripsi kelas-kelas pada dunia penceritaan The Divergent Series sekaligus karakter-karakter yang terlibat di dalamnya gagal untuk disajikan secara jelas. Insurgent jelas bukan sebuah film yang dapat berdiri sendiri dan akan memberikan kebingungan yang cukup mendalam bagi mereka yang memutuskan untuk menyaksikan film ini sebelum menikmati seri pendahulunya. Dengan kondisi seperti ini, keputusan untuk menghadirkan seri terakhir The Divergent Series, Allegiant, dalam dua bagian film jelas terdengar cukup mengkhawatirkan.

Meskipun hadir dengan kapasitas kualitas penceritaan yang lebih terbatas dari Divergent, Insurgent setidaknya mampu hadir dengan penampilan akting yang begitu berkelas dari para barisan pengisi departemen aktingnya. Woodley jelas memegang penuh perhatian penonton pada kehadirannya dalam setiap adegan film. Begitu juga dengan Winslet yang semakin mampu membuat karakter antagonis Jeanine Matthews akan dibenci para penonton. Barisan pemeran lain seperti James, Teller, Elgort dan Jai Courtney juga tampil solid. Naomi Watts dan Octavia Spencer yang kini hadir memperkuat departemen akting Insurgent juga mampu memberikan warna tersendiri bagi kualitas film – meskipun dengan karakter yang begitu terbatas penceritaannya. [C]

The Divergent Series: Insurgent (2015)

Directed by Robert Schwentke Produced by Douglas Wick, Lucy Fisher, Pouya Shabazian Written by Brian Duffield, Akiva Goldsman, Mark Bomback (screenplay), Veronica Roth (novel, Insurgent) Starring Shailene Woodley, Theo James, Octavia Spencer, Jai Courtney, Ray Stevenson, Zoë Kravitz, Miles Teller, Ansel Elgort, Maggie Q, Naomi Watts, Kate Winslet, Mekhi Phifer, Ashley Judd, Daniel Dae Kim, Keiynan Lonsdale, Suki Waterhouse, Rosa Salazar, Emjay Anthony, Janet McTeer, Jonny Weston Music by Joseph Trapanese Cinematography Florian Ballhaus Edited by Nancy Richardson, Stuart Levy Production company Red Wagon Entertainment/Summit Entertainment/Mandeville Films Running time 119 minutes Country United States Language English

Review: Project Almanac (2015)

project-almanac-posterMasih ingat dengan Chronicle (2012)? Film arahan Josh Trank yang berhasil meraih sukses besar-besaran – baik secara kritikal maupun secara komersial – tersebut berkisah mengenai tiga orang pemuda yang secara tidak sengaja menemukan sebuah kekuatan aneh yang kemudian mulai mengubah kehidupan serta ikatan persahabatan diantara mereka. Project Almanac, disengaja atau tidak, berada dalam alur penceritaan yang hampir serupa dengan Chronicle. Bedanya, jika Chronicle bermain-main dengan kakuatan aneh yang berasal dari luar Bumi maka para karakter di film yang diproduseri oleh Michael Bay ini dikisahkan bermain api dengan waktu. Mesin waktu, untuk tepatnya.

Selain memiliki konsep penceritaan yang hampir serupa, Project Almanac juga memiliki konsep produksi yang tidak jauh berbeda dari Chronicle. Project Almanac merupakan film layar lebar perdana yang diarahkan oleh sutradara muda, Dean Israelite, yang mengarahkan naskah cerita layar lebar perdana dari duo Jason Harry Pagan dan Andrew Deutschman. Jajaran departemen akting film ini juga diisi oleh wajah-wajah muda yang jelas masih jauh dari kesan familiar bagi banyak penikmat film dunia. Sayangnya, dari ukuran talenta, tak satupun dari nama-nama tersebut memiliki kekuatan yang cukup untuk membawa kualitas Project Almanac berada di atas atau bahkan menyamai Chronicle. Hal inilah yang menyebabkan Project Almanac secara keseluruhan masih terasa begitu mentah meskipun memiliki konsep yang cukup menarik.

Permasalahan pertama film ini jelas berada pada naskah cerita. Project Almanac memaparkan kisah persahabatan antara tiga pemuda – yang nantinya akan berkembang dengan tambahan adik dan gadis yang ditaksir oleh salah seorang karakter – yang digambarkan sebagai sosok-sosok pemuda cerdas yang kemudian berhasil mengembangkan dan membangun konsep mesin waktu yang telah mereka temukan secara tidak sengaja. Film ini dimulai dengan ritme penceritaan yang (cukup) lamban dalam mengenalkan setiap karakter dan berbagai permasalahan dalam kehidupan mereka. Paruh kedua film, dimana para karakter berhasil membangun mesin waktu dan menggunakannya, jelas adalah letak kehidupan utama bagi film ini. Di bagian inilah Project Almanac terasa begitu cerdas, menegangkan sekaligus menyenangkan.

Sayang hal tersebut tidak berlangsung lama. Di akhir paruh kedua, ketika naskah cerita mulai membenturkan para karakter dengan konsekuensi dari permainan waktu yang mereka bentuk, naskah cerita film mulai terasa berputar-putar, tidak mengerti bagaimana memberikan penjelasan yang akurat mengenai “konsep konsekuensi” yang telah dilemparkan, tidak tahu bagaimana arah yang tepat untuk membawa dan menyelesaikan permasalahan tersebut untuk akhirnya memberikan sebuah ending cerita yang benar-benar tidak memuaskan.

Pengarahan yang diberikan oleh Dean Israelite sebenarnya tidak dapat digolongkan sebagai sebuah pengarahan yang sangat lemah. Namun Israelite jelas tidak memberikan kontribusi yang cukup untuk mengarahkan jalan cerita maupun deretan pengisi departemen aktingnya untuk memberikan penampilan yang lebih kuat. Oh. Dan tahukan Anda kalau film ini juga dihadirkan dalam konsep found footage? Jika Anda merasa terganggu dengan konsep tersebut maka teknik found footage yang dihadirkan film ini bahkan akan mengganggu Anda lima kali lebih banyak. Penggunaan found footage dalam film yang sempat diberi judul Welcome to Yesterday ini seringkali terasa hanya sebagai gimmick agar para pembuatnya mampu meloloskan beberapa plothole yang hadir dalam naskah cerita film. Tricky namun tidak cukup cerdas untuk menjadikannya berfungsi secara benar bagi kualitas film secara keseluruhan.

Yang juga tidak cukup membantu kualitas Project Almanac adalah keberadaan karakter-karakter dengan kepribadian monoton yang dihadirkan di sepanjang film. Karakter-karakter ini digambarkan sebagai sosok-sosok cerdas yang memiliki kemampuan untuk berkreasi dan menciptakan banyak hal. Namun, berdasarkan berbagai tindakan yang mereka tampilkan di sepanjang film, adalah sangat sulit untuk meyakini bahwa mereka lebih cerdas daripada karakter-karakter yang ada dalam trilogi The Hangover (2009 – 2013). Kelemahan ini masih dipersulit dengan kemampuan para pengisi jajaran departemen akting film yang masih dapat dikatakan seadanya – jika tidak mau disebut mengecewakan. Bahkan chemistry antara pemeran seringkali terasa hambar untuk dapat meyakini bahwa karakter-karakter yang mereka perankan adalah para sahabat, bersaudara atau bahkan terlibat jalinan cinta. Medioker. [C-]

Project Almanac (2015)

Directed by Dean Israelite Produced by Andrew Form, Bradley Fuller, Michael Bay Written by Jason Harry Pagan, Andrew Deutschman Starring Jonny Weston, Sofia Black D’Elia, Sam Lerner, Allen Evangelista, Virginia Gardner, Amy Landecker, Michelle DeFraites, Patrick Johnson, Gary Grubbs, Katie Garfield Cinematography Matthew J. Lloyd Edited by Julian Clarke, Martin Bernfeld Production company Insurge Pictures/Platinum Dunes/MTV Films Running time 106 minutes Country United States Language English

Review: Tak3n (2015)

tak3n-posterKetika Liam Neeson akhirnya setuju untuk terlibat dalam pembuatan film action thriller Taken (Pierre Morel, 2008) yang diproduseri oleh Luc Besson, Neeson jelas tidak akan menduga bahwa film tersebut akan meraih kesuksesan luar biasa di seluruh belahan dunia. Tidak hanya berhasil meraih kesukesan komersial dan menjadi sebuah titik balik bagi karirnya sebagai seorang aktor – sebuah titik balik yang mengubah imej Neeson dari seorang aktor drama menjadi seorang bintang film aksi yang begitu menjual, kesuksesan Taken juga menyihir Hollywood untuk kembali melirik para aktor-aktornya yang telah berusia matang serta, layaknya Neeson, menjual mereka kembali sebagai seorang bintang film-film aksi (Halo, Sly! Halo, Arnie! Halo, Sly & Arnie!).

Enam tahun setelah perilisan film pertama, dan setelah merilis sebuah sekuel arahan Olivier Megaton di tahun 2012 yang bahkan berhasil meraih kesuksesan komersial lebih besar dari Taken, Neeson kembali melanjutkan petualangan aksinya lewat Taken 3 – bagian yang menurut Neeson akan menjadi penutup dalam seri film ini. Taken 3 masih menggunakan formula lama yang telah begitu familiar dengan Luc Besson masih bertanggung jawab sebagai produser sekaligus penulis naskah bersama Robert Mark Kamen serta jajaran pemerannya yang masih menampilkan Neeson bersama Maggie Grace dan Famke Janssen. Lalu apakah Taken 3 masih menarik perhatian sekuat dua seri pendahulunya?

Tidak, sayangnya. Setelah dua kali penampilan karakter Bryan Mills yang tangguh dan mampu menghadapi hambatan serta rintangan apapun tersebut, kali ini karakter tersebut telah kehilangan daya tariknya. Kejutan yang dulu datang ketika melihat seorang sosok karakter ayah dan suami (dalam usia yang tidak lagi muda) yang dalam segala keputusasaannya mampu berbuat apa saja dan melawan siapa saja demi menyelamatkan orang-orang yang begitu dicintainya kini telah terasa pudar. Penonton jelas telah memahami bahwa karakter Bryan Mills yang diperankan Neeson adalah karakter yang… well… tidak akan kalah oleh siapapun dalam setiap pertempurannya: mampu menghindar dari berbagai serangan senjata api, melawan dalam setiap pertarungan sekaligus menghilang dan bersembunyi dengan sempurna ketika dirinya berada dalam incaran. Even Superman got nothing compares to this old guy! Really! Hal inilah yang menjadi faktor utama mengapa menyaksikan perjuangan Bryan Mills dalam Taken 3 tidak lagi memberikan sensasi kesenangan yang sama seperti yang dahulu sempat mampu diberikan dua sekuel pendahulunya.

Usaha Besson dan Kamen untuk memberikan sedikit rekonstruksi cerita dalam Taken 3 – dimana kali ini karakter Bryan Mills turut menjadi karakter yang dikejar daripada murni hanya melakukan sebuah pengejaran – juga tidak memberikan pengaruh yang besar pada kualitas penceritaan film secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena minimnya pengembangan cerita dan karakter di luar dari cerita dan karakter personal Bryan Mills sendiri. Jelas tidak mengherankan jika kemudian penampilan aktor pemenang Academy Awards, Forest Whitaker, terlihat sia-sia kehadirannya dalam berperan sebagai Inspector Franck Dotzler. Begitu juga dengan Dougray Scott yang berperan sebagai Stuart, suami dari mantan istri Bryan Mills, yang memiliki plot cerita yang cukup menarik namun gagal untuk dikembangkan dengan baik sehingga justru menjadi terasa dipaksakan kehadirannya. Arahan Megaton juga tidak banyak memberikan pengaruh positif pada Taken 3. Banyak adegan aksi yang seharusnya dapat menjadi sisi-sisi kuat film justru terasa mentah akibat tata gambar maupun pengarahan yang begitu lemah.

To be fair, Taken 3 bukanlah sebuah presentasi yang buruk secara keseluruhan. Namun dengan perkembangan film aksi yang semakin kuat di sepanjang tahun lalu – The Raid 2: Berandal dan John Wick sebagai beberapa contoh kuatnya – formula statis yang dihadirkan Luc Besson dan Robert Mark Kamen jelas menjadi terasa basi untuk disaksikan sekarang. No longer fun. No longer thrilling. [C-]

Tak3n (2015)

Directed by Olivier Megaton Produced by Luc Besson Written by Luc Besson, Robert Mark Kamen Starring Liam Neeson, Forest Whitaker, Famke Janssen, Maggie Grace, Dougray Scott, Sam Spruell, Leland Orser, Jon Gries, Jonny Weston, Dylan Bruno Music by Nathaniel Méchaly Cinematography Eric Kress Edited by Audrey Simonaud, Nicolas Trembasiewicz Studio EuropaCorp Running time 109 minutes Country France Language English