Tag Archives: Joehana Sutisna

Review: Kata Hati (2013)

kata-hati-header

Kata Hati dimulai dengan kisah patah hati yang dialami oleh dua karakter utamanya: Randi (Boy Hamzah) yang baru saja ditinggal kekasihnya, Dera (Kimberly Ryder), karena lebih memilih untuk mengejar karirnya sebagai model serta Fila (Joanna Alexandra) yang baru menyadari bahwa sahabat yang telah ia kagumi selama 10 tahun, Adrian (Arnhezy Arczhanka), ternyata sedang menjalin cinta dengan orang lain. Satu pertemuan yang tidak disengaja di sebuah kafe akhirnya memperkenalkan dua orang yang sedang dilanda kegalauan hati tersebut satu sama lain. Dan seperti yang dapat diduga… perkenalan tersebutlah yang kemudian secara perlahan mulai menyembuhkan luka cinta di hati masing-masing.

Continue reading Review: Kata Hati (2013)

Advertisements

Review: Sang Pialang (2013)

sang-pialang-header

Sang Pialang memulai kisahnya dengan menceritakan persahabatan antara Mahesa (Abimana Arya) dengan Kevin (Christian Sugiono) yang sama-sama bekerja sebagai pialang saham di sebuah perusahaan sekuritas terbesar yang dimiliki oleh ayah Kevin, Rendra (Pierre Gruno). Walaupun bersahabat dekat, namun Mahesa dan Kevin memiliki pola pemikiran yang saling bertolak belakang, khususnya dalam menangani pekerjaan mereka. Mahesa dikenal sebagai sosok konservatif yang selalu berusaha sedapat mungkin untuk mengikuti dan mematuhi setiap prosedur serta peraturan yang ada. Sementara itu, Kevin adalah sosok yang lebih berani dalam melintasi aturan-aturan yang tergaris untuk mencapai keinginannya. Dua pemikiran yang berbeda inilah yang kemudian mulai menimbulkan friksi dalam hubungan persahabatan keduanya.

Continue reading Review: Sang Pialang (2013)

Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)

bidadari-bidadari-surga-header

Well… seperti yang dikatakan oleh banyak orang: You don’t mess with a winning formula! Karenanya, ketika Hafalan Shalat Delisa yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Tere Liye berhasil menjadi salah satu film Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbesar di sepanjang masa rilisnya pada tahun 2011, tidak mengherankan jika kemudian produser film tersebut mencoba kembali mengulang sukses tersebut dalam rilisan mereka berikutnya. Hasilnya… sebuah film lain yang diadaptasi dari novel Tere Liye – yang kali ini berjudul Bidadari-Bidadari Surga, masih dengan kisah bernuansa reliji, masih dengan kisah yang akan berusaha (baca: memaksa) penontonnya untuk tersentuh dan meneteskan air mata, masih disutradarai oleh Sony Gaokasak, masih menempatkan Nirina Zubir di barisan terdepan jajaran pengisi departemen aktingnya dan… Mike Lewis yang nanti hadir di pertengahan cerita. Hasilnya? Masih sama seperti Hafalan Shalat Delisa. Namun kali ini hadir dengan perjalanan yang terasa lebih menyakitkan.

Continue reading Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)

Review: I Love You Masbro (2012)

I Love You Masbro adalah sebuah film drama komedi yang menjadi debut penyutradaraan bagi Raymond Handaya – yang bersama dengan Cassandra Massardi (Bila, 2012) juga bertanggungjawab untuk penulisan naskah cerita film ini. Kisdahnya sendiri bercerita mengenai empat anak laki-laki dari keluarga Salman yang memiliki kepribadian yang saling bertolak belakang: Bagus (Andhika Pratama) yang memiliki masalah dalam kepercayaan dirinya ketika mendekati seorang wanita, Alim (Ramon Y Tungka) yang kelakuannya jauh dari arti nama yang ia miliki, Rizky (Cecep Reza) yang memiliki kecerdasan begitu terbatas serta Vina (Bobby Samuel) yang bersikap sedikit kewanita-wanitaan. Layaknya sebuah keluarga normal, pertengkaran dan perseteruan selalu terjadi diantara keempatnya. Pun begitu, Bagus, Alim, Rizky dan Vina sebenarnya saling menyadari kalau mereka begitu menyayangi para saudaranya.

Continue reading Review: I Love You Masbro (2012)

Review: Radio Galau FM (2012)

Karena satu dan lain hal, sebuah film yang berjudul Radio Galau FM sama sekali tidak berkisah maupun menyinggung mengenai kehidupan di dunia radio. Satu-satunya hal yang berkaitan dengan radio di film ini adalah ketika karakter utamanya mendengarkan sebuah program radio yang penyiarnya berusaha untuk mengumpulkan para pendengarnya yang sedang mengalami kegalauan hati. Radio Galau FM justru merupakan sebuah drama komedi romantis yang berorientasi pada kehidupan percintaan di usia remaja yang dialami para karakternya. Menjadi remaja – suatu periode ketika manusia sedang berusaha mencari jati dirinya – memang bukanlah sebuah proses yang mudah untuk dijalani. But seriously… apakah romansa di kalangan remaja modern memang semengerikan apa yang digambarkan di dalam film ini?

Continue reading Review: Radio Galau FM (2012)

Review: Mama Cake (2012)

Nama sutradara film Mama Cake, Anggy Umbara, mungkin masih cukup asing ditelinga para penikmat film Indonesia. Di industri hiburan tanah air, nama Anggy memang lebih dikenal sebagai seorang sutradara puluhan video musik sekaligus sebagai salah satu personel kelompok musik Purgatory – kelompok musik beraliran death metal asal Jakarta yang lirik lagunya seringkali membawakan pesan-pesan relijius. Tidak mengherankan jika kemudian Mama Cake – film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Anggy bersama Hilman Mutasi dan Sofyan Jambul – juga memiliki nafas relijius yang kuat di berbagai sudut penceritaannya. Namun untungnya, dengan pengemasan cerita dan visual yang lebih atraktif, Anggy cukup berhasil menghantarkan sebuah film drama komedi bernuansa relijius yang mungkin seharusnya dipelajari Chaerul Umam agar film-filmnya mampu lebih banyak menarik perhatian penonton yang berusia lebih muda.

Continue reading Review: Mama Cake (2012)

Review: Hafalan Shalat Delisa (2011)

Bertepatan dengan peringatan tujuh tahun terjadinya bencana tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 yang lalu, sebuah film drama keluarga berlatar belakang salah satu tragedi alam terbesar yang pernah dialami umat manusia tersebut dirilis di banyak layar bioskop Indonesia. Berjudul Hafalan Shalat Delisa, yang diangkat dari sebuah novel berjudul sama karya Tere Liye, film ini sekaligus menandai kali kedua Sony Gaokasak untuk duduk di kursi penyutradaraan sebuah film layar lebar setelah sebelumnya mengarahkan Tentang Cinta (2007). Berkisah mengenai usaha seorang anak yang selamat dari hantaman tsunami untuk terus melanjutkan kehidupannya, Hafalan Shalat Delisa harus diakui memiliki beberapa momen yang dapat membuat penontonnya terhenyak dan bersimpati atas segala cobaan yang dilalui karakter-karakter yang hadir di dalam jalan cerita film ini. Pun begitu, seringnya naskah cerita Hafalan Shalat Delisa berusaha terlalu keras untuk menjadikan film ini sebagai sebuah tearjerker yang inspiratif membuat banyak adegan di film ini terasa berjalan tidak alami dan kurang mengesankan.

Continue reading Review: Hafalan Shalat Delisa (2011)

Review: (Masih) Bukan Cinta Biasa (2011)

Seorang pria remaja bernama Vino (Axel Andaviar) suatu hari datang ke hadapan Tommy (Ferdy Taher), seorang mantan vokalis grup musik rock papan atas di Indonesia, The Boxis, dan kemudian mengaku bahwa dirinya adalah anak kandung dari Tommy. Terdengar seperti jalan cerita dari sebuah film Indonesia yang pernah dirilis sebelumnya? Memang, (Masih) Bukan Cinta Biasa adalah sekuel dari film drama, Bukan Cinta Biasa, yang secara mengejutkan cukup mampu tampil menghibur penontonnya ketika dirilis pada tahun 2009 lalu. Masih menghadirkan jajaran pemeran yang sama, dengan naskah dan arahan yang masih datang dari Benni Setiawan, (Masih) Bukan Cinta Biasa dapat dipandang sebagai versi kisah alternatif dari film pendahulunya. Tergarap dengan cukup baik pada kebanyakan bagian, (Masih) Bukan Cinta Biasa tetap saja kekurangan banyak faktor esensi pembeda yang dapat memberikan penjelasan mengenai eksistensi dari perilisan film ini. Kecuali faktor keuntungan komersial, tentu saja.

Continue reading Review: (Masih) Bukan Cinta Biasa (2011)

Review: Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap (2011)

Sukses dengan 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010) yang berhasil memberikannya dua Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik dan Penulis Skenario Cerita Adaptasi Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2010, Benni Setiawan kini bekerjasama dengan sutradara Indrayanto Kurniawan (Saus Kacang, 2008) dalam film Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap. Jangan salah, meskipun judul serta penampilan aktris Lydia Kandou di film ini akan mengingatkan setiap pecinta film Indonesia pada film Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985), namun Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap sama sekali tidak memiliki hubungan cerita dengan film komedi legendaris tersebut. Pun begitu, didukung dengan akting para pemerannya yang solid, Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap cukup mampu tampil sebagai sebuah hiburan yang berkualitas.

Continue reading Review: Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap (2011)

Review: The Tarix Jabrix 3 (2011)

Petualangan geng motor yang penuh sopan santun dan patuh terhadap perintah orangtua, The Tarix Jabrix, yang berasal dari Bandung ini akhirnya mencapai seri ketiganya! Ketika seri pertamanya dirilis pada tahun 2008 silam, mungkin sebagian orang memandang The Tarix Jabrix tak lebih dari sekedar sebuah usaha sebuah perusahaan rekaman untuk mempopulerkan salah satu kelompok musik yang berada di bawah naungannya. Namun, dengan jalan cerita drama komedi yang pas serta pengarahan Iqbal Rais (Senggol Bacok, 2010) yang cukup mumpuni, The Tarix Jabrix ternyata mampu tampil memikat hati banyak penonton film Indonesia sekaligus menempatkan nama The Changcuters ke jajaran kelompok musik populer di negeri ini.

Continue reading Review: The Tarix Jabrix 3 (2011)

Review: Senggol Bacok (2010)

Dengan secara konsisten merilis dua film di setiap tahunnya, tidaklah begitu sulit bagi sutradara muda, Iqbal Rais, untuk menambah panjang jajaran filmografinya yang dimulai dengan catatan sukses perilisan Tarix Jabrix pada tahun 2008 yang lalu. Setia di jalur drama komedi, setelah merilis Sehidup (Tak) Semati yang kurang mendapatkan begitu banyak perhatian publik pada awal tahun ini, Iqbal kini merilis Senggol Bacok dengan mengedepankan nama Fathir Muchtar, Ringgo Agus Rahman dan Kinaryosih.

Continue reading Review: Senggol Bacok (2010)

Review: Red CobeX (2010)

Walaupun memulai debut penyutradaraannya pada film 30 Hari Mencari Cinta (2004) yang sangat bertema girly, nama Upi Avianto sendiri mungkin lebih banyak dikenal melalui film-film bertema maskulin dan keras yang ia kerjakan selanjutnya, seperti Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006), Radit dan Jani (2008) serta Serigala Terakhir (2009). Lewat Red CobeX, sebuah film komedi yang ia rilis tahun ini, Upi sepertinya mencoba sebuah tema baru yang ingin ia tawarkan pada penikmat film Indonesia.

Continue reading Review: Red CobeX (2010)