Tag Archives: Jim Sturgess

Review: Geostorm (2017)

Merupakan film yang menjadi debut pengarahan bagi Dean Devlin, Geostorm adalah sebuah disaster movie yang patuh dalam mengikuti seluruh aturan film-film sejenis yang sering diproduksi Hollywood. Kisahnya sendiri bermula di tahun 2019 dimana setelah terjadinya serangkaian bencana alam di berbagai belahan dunia, 18 negara kemudian saling bekerjasama untuk membangun sebuah satelit yang dapat memberikan perlindungan bagi Bumi dari berbagai bencana alam. Tiga tahun kemudian, setelah terjadinya sebuah anomali cuaca yang menewaskan seluruh penduduk pada sebuah desa di Afghanistan, para peneliti menilai telah terjadi sebuah malafungsi pada satelit tersebut. Tidak ingin peristiwa tersebut diketahui oleh masyarakat dunia, Presiden Amerika Serikat, Andrew Palma (Andy García), kemudian menugaskan arsitek perancang satelit, Jake Lawson (Gerard Butler), untuk kembali ke angkasa luar dan meneliti apa yang menyebabkan terjadinya malafungsi. Meski awalnya menilai tidak mungkin terjadi kerusakan pada satelit yang telah dirancangnya, Jake Lawson akhirnya menemukan sebuah konspirasi yang berniat untuk mengambil alih satelit tersebut dan kemudian menggunakannya untuk menghancurkan dunia. Continue reading Review: Geostorm (2017)

Advertisements

Review: Cloud Atlas (2012)

cloud-atlas-header

Diangkat dari novel berjudul sama karya David Mitchell, Cloud Atlas mengisahkan enam cerita yang berjalan pada enam era yang berbeda – tepatnya terjadi sepanjang hampir 500 tahun masa kehidupan karakter-karakternya, dimulai dari tahun 1849 hingga tahun 2321. Terdengar seperti premis film-film yang menawarkan banyak cerita kebanyakan? Mungkin saja. Namun oleh tiga sutradaranya, duo Lana dan Andy Wachowski (trilogi The Matrix, 1999 – 2003) serta Tom Tykwer (The International, 2009), premis tersebut mampu dikembangkan menjadi salah satu presentasi film paling ambisius selama beberapa tahun terakhir: digerakkan dengan gaya penceritaan interwoven, diperankan oleh deretan pengisi departemen akting yang sama serta dihadirkan dengan kualitas tata produksi yang begitu memukau. Dan yang lebih mengagumkan lagi, terlepas dari berbagai tampilan audio visualnya yang megah, Cloud Atlas tetap mampu menghadirkan sentuhan emosional yang kuat dari setiap sisi ceritanya.

Continue reading Review: Cloud Atlas (2012)

Review: One Day (2011)

Setelah sukses menyutradarai An Education (2009), yang berhasil mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia sekaligus memberikan Carey Mulligan nominasi Academy Awards perdananya, sutradara asal Denmark, Lone Scherfig, kembali duduk di kursi sutradara dengan mengarahkan One Day, sebuah film yang diadaptasi dari novel populer berjudul sama karya novelis asal Inggris, David Nicholls – yang juga bertanggungjawab terhadap proses penulisan naskah film ini. Menceritakan kisah persahabatan dan percintaan antara dua karakter utamanya, One Day memiliki momen-momen dimana film ini dapat tampil begitu hangat dan romantis. Namun, segmentasi yang dilakukan terhadap bagian-bagian jalan cerita serta beberapa karakter yang dihadirkan terlalu dangkal cukup mampu membuat One Day terkadang berkesan datar.

Continue reading Review: One Day (2011)

Review: The Way Back (2010)

Peter Weir bukanlah Woody Allen, yang sepertinya selalu merasa bahwa ia wajib memenuhi kuota untuk merilis satu film di setiap tahunnya. Weir, yang berhasil mengoleksi enam nominasi Academy Awards, sepertinya senang untuk membuat para peminat filmnya untuk menunggu. Namun, penantian tersebut jelas karena Weir adalah seorang sutradara yang menginginkan setiap karyanya untuk dapat tampil sesempurna mungkin. Ini dapat dibuktikan melalui The Way Back, film pertama Weir setelah merilis Master and Commander: The Far Side of the World pada tujuh tahun silam. Dengan dukungan jajaran pemeran yang solid serta tata teknis yang apik, The Way Back menjelma menjadi sebuah film yang megah, terlepas dari kurangnya faktor emosional yang mengikat di dalam jalan cerita film ini.

Continue reading Review: The Way Back (2010)

Review: Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole (2010)

Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole menandai kali pertama sutradara Zack Snyder (300 (2007), Watchmen (2009)) menangani sebuah film yang bergenre animasi dengan jalan cerita yang ditujukan bagi penonton kalangan keluarga. Hal ini tentu saja adalah merupakan sebuah dunia yang sangat baru bagi Snyder – yang selama ini mengerjakan film-film dengan genre dewasa yang seringkali mengandung unsur kekerasan dan seksual yang tinggi. Walau begitu, melihat apa yang dicapai oleh Snyder lewat Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole – dengan tetap menggunakan beberapa teknik khasnya, seperti gerakan slow motion yang dramatis – terbukti kalau Snyder sangatlah mudah untuk beradaptasi dengan dunia baru tersebut.

Continue reading Review: Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole (2010)