Tag Archives: Jerry Ferrara

Review: Entourage (2015)

Empat tahun setelah masa tayangnya berakhir di saluran televisi kabel HBO, kreator serial televisi Entourage, Doug Ellin, akhirnya membawa kisah persahabatan antara lima orang pria dalam usaha mereka untuk bertahan dalam kerasnya kehidupan serta persaingan di Hollywood ke layar lebar. Kembali bekerjasama dengan Mark Wahlberg dan Stephen Levinson yang turut memproduseri serial televisi yang sempat tayang selama delapan musim tersebut, Ellin menyajikan Entourage dalam formula penceritaan familiar yang jelas akan sangat mampu mengobati kerinduan para penggemar kepada kelima karakter utama dalam serial televisi tersebut. Apakah hal tersebut berarti bahwa versi film dari Entourage akan mengalienasi mereka yang sama sekali belum familiar dengan serial pemenang Emmy Awards tersebut? Tidak. Ellin cukup cerdas untuk merangkai naskah cerita Entourage untuk menjadi sebuah kisah intrik dunia perfilman Hollywood yang mampu bercerita dalam skala yang cukup luas. Continue reading Review: Entourage (2015)

Review: 7500 (2014)

7500-posterDiarahkan oleh Takashi Shimizu – yang akan selalu dikenal berkat kesuksesannya dalam menggarap film horor Jepang Ju-On (2002) sekaligus remake Hollywood-nya, The Grudge (2004), 7500 memiliki konsep penceritaan yang cukup menarik. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Craig Rosenberg – yang sebelumnya pernah menangani naskah The Uninvited (2009) yang merupakan remake dari film horor asal Korea Selatan, A Tale of Two Sisters (2003), 7500 mengisahkan mengenai sekelompok penumpang pesawat Vista Pacific dengan nomor penerbangan 7500 yang mengalami berbagai kejadian mistis di sepanjang perjalanan udara mereka dari Los Angeles, Amerika Serikat menuju Tokyo, Jepang. Tentu saja, sebagaimana layaknya banyak film yang menempatkan lokasi cerita mereka di atas sebuah pesawat, 7500 menawarkan kisah kengerian yang terhampar dalam ruang yang begitu terbatas. Premis tersebut sebenarnya terbangun cukup baik di awal penceritaan film. Namun, seiring dengan perjalanan durasinya, 7500 terasa kehilangan arah dan gagal untuk hadir dengan jalinan cerita yang benar-benar mampu mengikat perhatian penontonnya.

Shimizu memulai perjalanan 7500 dengan mengenalkan deretan karakter yang nantinya akan memegang peranan penting dalam mengalirnya alur pengisahan film. Meskipun menyajikan karakter-karakter dalam jumlah yang tidak sedikit, naskah cerita Rosenberg mampu memberikan ruang yang cukup layak bagi masing-masing karakter untuk mendapatkan porsi penceritaan konflik mereka yang kemudian memberikan keragaman warna pada jalan cerita 7500 secara keseluruhan. Porsi yang minimalis bagi setiap karakter namun tetap memiliki pengaruh yang kuat. Hadirnya konflik utama yang kemudian menyatukan karakter-karakter tersebut dalam satu ikatan kisah kemudian semakin membuat penceritaan 7500 terasa dinamis. Rosenberg berhasil membangun intensitas sekaligus kemisteriusan cerita yang menarik sementara Shimizu mampu mengeksekusinya secara perlahan namun efektif memberikan ketegangan bagi para penonton.

Sayang, 7500 kemudian mulai menemui rintangan penceritaan ketika masing-masing karakter harus menghadapi konflik yang sama. Dimulai pada pertengahan paruh kedua penceritaan, 7500 yang awalnya terasa menarik dengan rangkaian misterinya kemudian mulai terasa menggelikan ketika Rosenberg terasa melemparkan begitu saja bergitu banyak petunjuk-petunjuk misteri tanpa pernah mampu untuk benar-benar mengolahnya dengan baik. Usaha untuk memberikan sebuah “nilai moral” dalam jalan cerita 7500 juga sedikit banyak terasa menghilangkan begitu saja unsur kesenangan bagi cerita misteri ini. 7500 kemudian tenggelam dalam eksekusi penyelesaian konflik yang dangkal dan gagal untuk mengembangkan secara lebih mendalam bibit-bibit misteri yang sebenarnya telah tertanam dan terawat dengan baik pada awal penceritaannya.

Jika jalan cerita film ini tampil tidak konsisten dalam kualitas pengisahannya, maka jajaran pengisi departemen akting film tampil hampir tanpa cela di sepanjang 97 menit durasi penceritaan 7500. Dengan porsi peran yang merata satu sama lain, masing-masing pemeran berhasil memberikan kesan yang berarti bagi karakter yang mereka hadirkan dalam jalan penceritaan. Shimizu juga berhasil mendapatkan kualitas terbaik dalam sajian teknikal film. Sinematografer David Tattersall mampu menyajikan gambar-gambar bernuansa klaustrofobik yang akan memberikan atmosfer kuat dalam penyajian cerita yang berada dalam ruang yang benar-benar terbatas dan sempit. Begitu pula dengan tata musik arahan Tyler Bates yang seringkali berhasil menambah ketegangan perjalanan film ini.

Jelas bukan sebuah sajian yang sempurna. Namun 7500 harus diakui mampu dikemas dengan cukup baik untuk memberikan beberapa ketegangan dan kesenangan, khususnya bagi para pecinta film-film sejenis. [C-]

7500 (2014)

Directed by Takashi Shimizu Produced by Takashige Ichise, Roy Lee Written by Craig Rosenberg Starring Aja Evans, Ben Sharples, Ryan Kwanten, Amy Smart, Alex Frost, Rick Kelly, Christian Serratos, Jerry Ferrara, Nicky Whelan, Scout Taylor-Compton, Leslie Bibb, Jamie Chung, Johnathon Schaech Music by Tyler Bates Cinematography David Tattersall Edited by Sean Valla Production company CBS Films/Vertigo Entertainment/Ozla Pictures/Ozla Productions Running time 97 minutes Country United States Language English

Review: Lone Survivor (2013)

Lone Survivor (Emmett/Furla Films/Envision Entertainment/Film 44/Foresight Unlimited/Herrick Entertainment/Hollywood Studios International/Spikings Entertainment/Weed Road Pictures, 2013)
Lone Survivor (Emmett/Furla Films/Envision Entertainment/Film 44/Foresight Unlimited/Herrick Entertainment/Hollywood Studios International/Spikings Entertainment/Weed Road Pictures, 2013)

Setelah mengarahkan Battleship (2012) yang cukup menyenangkan – well… setidaknya bagi beberapa orang, Lone Survivor menandai kembalinya Peter Berg untuk mengarahkan sebuah film aksi bernuansa militer dengan nada penceritaan yang lebih serius dan dramatis seperti yang dahulu pernah ia sajikan lewat The Kingdom (2007). Sekilas, tema cerita yang bersinggungan dengan permasalahan yang memang sedang dihadapi oleh pihak militer Amerika Serikat sendiri membuat Lone Survivor terlihat memiliki keterkaitan yang erat dengan The Kingdom. Namun, berbeda dari film yang dibintangi oleh Jamie Foxx dan Jennifer Garner tersebut, Lone Survivor mendasarkan kisahnya dari sebuah kisah nyata – sebuah fakta yang sepertinya kemudian mendorong Berg untuk memberikan fokus yang benar-benar kuat pada setiap karakter yang hadir di dalam jalan cerita agar dapat menciptakan atmosfer penceritaan sealami dan senyata mungkin kepada penontonnya.

Continue reading Review: Lone Survivor (2013)

Review: Empire State (2013)

empire-state-header

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Adam Mazer (Breach, 2007) berdasarkan sebuah kisah nyata mengenai kasus perampokan uang tunai terbesar di sejarah hukum Amerika Serikat yang terjadi pada tahun 1982, Empire State berkisah mengenai kehidupan seorang pemuda bernama Chris Potamitis (Liam Hemsworth) yang setelah gagal untuk kesekian kalinya masuk ke akademi kepolisian lalu memilih untuk bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan penyedia kendaraan pengaman lapis baja bernama Empire State. Setelah beberapa saat bekerja di perusahaan tersebut, Chris menyadari bahwa perusahaan yang menyediakan peralatan keamanan tersebut justru begitu lemah dalam sistem keamanan perusahaannya sendiri. Sayang, secara tidak sengaja, Chris kemudian memberitahukan rahasia tersebut pada orang yang salah: sahabatnya sendiri, Eddie (Michael Angarano).

Continue reading Review: Empire State (2013)

Review: Last Vegas (2013)

Sekelompok sahabat yang telah lama tidak saling bertemu memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Las Vegas guna menghadiri pernikahan salah satu sahabat mereka dan, tentu saja, bersenang-senang. Nope. This is not the fourth installment of The Hangover. Memang, film terbaru arahan sutradara Jon Turteltaub (The Sorcerer’s Apprentice, 2010), Last Vegas, jelas berusaha untuk memanfaatkan kesuksesan besar franchise film komedi dewasa arahan Todd Phillips tersebut di dalam tema penceritaannya. Bedanya, daripada memanfaatkan wajah-wajah muda dalam jajaran pemerannya, Last Vegas justru menghadirkan deretan talenta aktor senior Hollywood untuk mengendalikan alur cerita yang ditulis oleh Dan Fogelman (Crazy, Stupid, Love., 2011). Para pria gaek berusaha melakukan hal-hal gila seperti yang dilakukan The Wolfpack? Interesting.

Continue reading Review: Last Vegas (2013)