Tag Archives: Jay Huguley

Review: The Eyes of Tammy Faye (2021)

Diadaptasi dari film dokumenter yang berjudul sama garapan Fenton Bailey dan Randy Barbato yang dirilis pada tahun 2000 silam, The Eyes of Tammy Faye memperkenalkan penontonnya pada pasangan penceramah agama di televisi Jim Bakker (Andrew Garfield) dan Tammy Faye Bakker (Jessica Chastain) yang sempat menjadi salah satu ikon industri pertelevisian Amerika Serikat di tahun 1970an sampai dengan tahun 1980an. Seperti kebanyakan film biopik lainnya, film ini memulai pengisahannya dari masa kecil karakter Tammy Faye Bakker yang terlahir dari pasangan orangtua yang berprofesi sebagai penceramah agama yang kemudian menginspirasinya untuk melanjutkan pendidikan kuliahnya di bidang keagamaan dimana ia bertemu – dan kemudian menikah – dengan karakter Jim Bakker. Merasa bahwa televisi adalah media dakwah terbaik dengan jangkauan luas untuk menyampaikan syiar agama, Jim Bakker dan Tammy Faye Bakker memulai karir mereka di industri televisi dengan bekerja bersama pendeta Pat Robertson (Gabriel Olds) yang memiliki jaringan televisi dakwah popular, Christian Broadcasting Network. Dengan tekad serta kerja keras, keduanya mulai memperoleh perhatian dari khalayak luas hingga akhirnya mampu membangun jaringan televisi serta media dakwah milik mereka sendiri. Continue reading Review: The Eyes of Tammy Faye (2021)

Review: The Glorias (2020)

Diadaptasi dari autobiografi milik aktivis perempuan Gloria Steinem yang berjudul My Life on the Road, The Glorias bertutur tentang perjalanan kehidupan Steinem semenjak dirinya kecil, remaja, hingga dewasa dan dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan kaum perempuan di Amerika Serikat hingga saat ini. Alur pengisahan film ini dimulai dengan mengenalkan penonton pada kehidupan Gloria Steinem pada masa kecilnya (Ryan Kiera Armstrong dan Lulu Wilson) yang harus berhadapan dengan berbagai masalah akibat perceraian kedua orangtuanya (Timothy Hutton dan Enid Graham). Beruntung, berbagai tantangan di masa kecil tersebut justru mengasah Gloria Steinem untuk menjadi sosok yang kuat dan kritis – khususnya ketika berhubungan dengan berbagai permasalahan yang harus dihadapi kaum perempuan ketika berhadapan dengan kaum pria dalam keseharian mereka. Perkenalannya dengan banyak aktivis perempuan lain semakin mendidik dan mempertajam pemikiran Gloria Steinem dewasa (Alicia Vikander dan Julianne Moore) dalam perjuangannya untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi kaumnya. Continue reading Review: The Glorias (2020)

Review: 12 Years a Slave (2013)

12 Years a Slave (Regency Enterprises/River Road Entertainment/Plan B Entertainment/New Regency Pictures, Film4, 2013)
12 Years a Slave (Regency Enterprises/River Road Entertainment/Plan B Entertainment/New Regency Pictures, Film4, 2013)

Dengan naskah yang ditulis oleh John Ridley (Red Tails, 2012) berdasarkan memoir berjudul Twelve Years a Slave: Narrative of Solomon Northup, a Citizen of New-York, Kidnapped in Washington City in 1841, and Rescued in 1853 yang ditulis oleh Solomon Northup, 12 Years a Slave mencoba untuk berkisah mengenai seorang pria Afro-Amerika merdeka yang terjebak dalam tindak perbudakan di masa-masa ketika warga kulit hitam di Amerika Serikat masih dipandang sebagai warga kelas bawah. Kisahnya sendiri diawali dengan memperkenalkan Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor), seorang Afro-Amerika yang bekerja sebagai seorang tukang kayu dan pemain bola serta tinggal bersama istri, Anne (Kelsey Scott), dan kedua anak mereka, Margaret (Quvenzhané Wallis) dan Alonzo (Cameron Zeigler), di Saratoga Springs, New York, Amerika Serikat. Suatu hari, Solomon mendapatkan tawaran bekerja sebagai seorang musisi selama dua minggu di Washington DC oleh dua orang pria, Brown (Scoot McNairy) dan Hamilton (Taran Killam). Karena tertarik dengan sejumlah uang yang ditawarkan oleh kedua pria tersebut, Solomon akhirnya menerima tawaran mereka. Sial, begitu tiba di Washington DC, Solomon justru dijebak dan dijual sebagai seorang budak.

Continue reading Review: 12 Years a Slave (2013)