Tag Archives: Jay Baruchel

Review: How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019)

Masih ingat dengan Hiccup dan Toothless? Setelah How to Train Your Dragon (Chris Sanders, Dean DeBlois, 2010) yang berhasil mendapatkan nominasi Best Animated Feature di ajang The 83rd Annual Academy Awards dan How to Train Your Dragon 2 (DeBlois, 2014) yang mampu mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$600 juta yang mengungguli pendapatan komersial seri pendahulunya, DreamWorks Animation kini merilis film teranyar dari seri How to Train Your Dragon – yang juga digadang menjadi seri terakhir, How to Train Your Dragon: The Hidden World. Layaknya dua film pendahulunya, film yang masih diarahkan oleh DeBlois ini terus mengeksplorasi hubungan antara sang ketua suku Viking dari kelompok Berk, Hiccup (Jay Baruchel), dengan naga yang dipeliharanya semenjak kecil, Toothless, dengan kini membawa eksplorasi hubungan tersebut pada kemampuan Hiccup untuk menggantikan sang ayah, Stoick the Vast (Gerard Butler), menjadi pemimpin bagi suku mereka. Mampukah How to Train Your Dragon: The Hidden World menghasilkan daya tarik yang setara dengan daya tari yang dihasilkan oleh dua film terdahulu? Continue reading Review: How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019)

Review: RoboCop (2014)

RoboCop (Metro-Goldwyn-Mayer Pictures/Columbia Pictures/Strike Entertainment, 2014)
RoboCop (Metro-Goldwyn-Mayer Pictures/Columbia Pictures/Strike Entertainment, 2014)

Ketika dirilis pada tahun 1987, RoboCop yang disutradarai oleh Paul Verhoeven tidak hanya mampu mencuri perhatian para penikmat film dunia karena keberhasilan Verhoeven mewujudkan imajinasinya mengenai kehidupan di masa yang akan datang. Lebih dari itu, sama seperti film-film arahan Verhoeven lainnya, RoboCop hadir dengan deretan adegan bernuansa kekerasan yang kental namun mampu diselimuti dengan naskah cerita yang begitu cerdas dalam memberikan satir tajam mengenai kehidupan sosial masyarakat dunia di saat tersebut. Keunikan itulah yang kemudian berhasil membawa RoboCop meraih kesuksesan baik secara kritikal – dimana RoboCop berhasil meraih dua nominasi di kategori Best Film Editing dan Best Sound Mixing serta memenangkan penghargaan khusus di kategori Best Sound Effects Editing pada ajang The 60th Annual Academy Awards – maupun komersial serta dilanjutkan dengan dua seri film lanjutan (1990, 1993), serial televisi, dua serial televisi animasi, miniseri televisi, permainan video dan sejumlah adaptasi komik.

Continue reading Review: RoboCop (2014)

Review: Cosmopolis (2012)

Setelah Bel Ami, Robert Pattinson membintangi sebuah film lain yang sama-sama diadaptasi dari sebuah novel dan sama-sama memfokuskan jalan ceritanya pada tema seks, uang dan politik – walaupun kali ini, uang dan politik akan menjadi unsur cerita yang lebih dominan sekaligus memperumit alur pengisahan film. Cosmopolis, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Don DeLillo, juga menandai kali pertama sutradara David Cronenberg menyutradarai film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh dirinya sendiri semenjak eXistenZ di tahun 1999 yang lalu – hal yang mungkin menjelaskan mengapa Cosmopolis dapat tampil begitu rumit, kompleks serta memusingkan namun secara perlahan juga mampu untuk tampil memikat dan penuh dengan refleksi terhadap kehidupan manusia modern di saat ini.

Continue reading Review: Cosmopolis (2012)

Review: Goon (2012)

Walaupun Goon merupakan sebuah film komedi yang mengisahkan mengenai seorang pemain olahraga hoki yang berusaha untuk membuktikan bahwa dirinya adalah sosok yang memiliki arti walau sering dianggap remeh oleh orang lain – seperti kebanyakan tema-tema film olahraga lainnya – Anda mungkin sebaiknya menjauhkan imej film seri The Mighty Ducks (1992 – 1997) dari jalan pemikiran Anda. Tidak seperti The Mighty Ducks – yang mungkin merupakan film bertema olahraga hoki paling populer di dunia – Goon adalah sebuah film yang berisikan begitu banyak guyonan kasar, adegan bernuansa kekerasan dan, tentu saja, jauh dari kesan sebagai sebuah film yang dapat disaksikan oleh seluruh keluarga. Pun begitu, pengarahan Michael Dowse (Take Me Home Tonight, 2011) serta naskah cerita yang ditulis oleh Jay Baruchel dan Evan Goldberg berhasil membuat Goon tampil begitu menarik untuk diikuti.

Continue reading Review: Goon (2012)

Review: The Sorcerer’s Apprentice (2010)

Sukses besar dengan franchise National Treasure ternyata membuat Walt Disney Pictures kembali membentuk kerjasama dengan produser Jerry Bruckheimer dan sutradara Jon Turteltaub. Tak lupa turut membawa juga aktor Nicolas Cage untuk duduk di kursi pemeran utama, Walt Disney akhirnya memilih The Sorcerer’s Apprentice, yang merupakan sebuah adaptasi bebas dari salah satu segmen di film animasi buatan mereka, Fantasia (1940), untuk dapat dikembangkan sebagai sebuah franchise film baru di masa yang akan datang.

Continue reading Review: The Sorcerer’s Apprentice (2010)

Review: How to Train Your Dragon (2010)

Harus diakui, sebagai sebuah perusahaan yang pada awalnya menjadi saingan terberat Pixar dalam merebut pasar pecinta film-film animasi, DreamWorks Animation terasa sangat ketinggalan akhir-akhir ini. Memang, dari segi pendapatan, DreamWorks seringkali mengungguli hasil perolehan komersial film-film rilisan Pixar. Namun dari segi kualitas yang diberikan? Hanya seri pertama dan kedua dari Shrek yang mampu memberikannya.

Continue reading Review: How to Train Your Dragon (2010)