Tag Archives: Jared Harris

Review: Allied (2016)

Film terbaru arahan Robert Zemeckis, Allied, memulai perjalanannya di kota Casablanca, Maroko pada tahun 1942 ketika Perang Dunia II sedang berlangsung. Dikisahkan, agen rahasia asal Kanada, Max Vatan (Brad Pitt), bertemu dengan seorang pemberontak asal Perancis, Marianne Beausejour (Marion Cotillard), untuk saling bekerjasama dalam menyelesaikan sebuah misi. Layaknya sebuah drama romansa, Max dan Marianne saling jatuh cinta. Setelah menyelesaikan misi mereka, Max akhirnya meminta Marianne untuk menikahinya, pindah ke London dan membentuk keluarga bersama. Sebuah permintaan yang kemudian disetujui oleh Marianne. Pernikahan Max dan Marianne berjalan dengan indah apalagi setelah keduanya dikaruniai seorang putri. Masalah muncul ketika Max dipanggil oleh atasannya yang mencurigai bahwa Marianne sebenarnya adalah sosok agen rahasia yang bekerja untuk Jerman. Oleh atasannya, Max diberikan beberapa hari untuk membuktikan bahwa Marianne tidak bersalah. Namun, jika Marianne adalah benar merupakan sosok agen rahasia untuk Jerman, Max sendiri yang diharuskan untuk membunuh Marianne. Continue reading Review: Allied (2016)

Advertisements

Review: Poltergeist (2015)

poltergeist-posterPada tahun 1982, sutradara Tobe Hooper (The Texas Chainsaw Massacre, 1974) bekerjasama dengan produser sekaligus penulis naskah Steven Spielberg untuk memproduksi sebuah film horor sederhana berjudul Poltergeist. Dengan dana produksi yang hanya mencapai US$10.7 juta namun didukung dengan kualitas penceritaan, produksi serta penampilan akting yang apik – dan rumor bahwa proses pembuatan film horor tersebut mendapatkan kutukan, Poltergeist berhasil menarik minat banyak penikmat film horor dunia dan memberikan film tersebut kesuksesan kritikal – termasuk tiga nominasi Academy Awards – dan, tentu saja, komersial – dengan raihan pendapatan yang mencapai sepuluh kali biaya produksinya. Kini, setelah dua sekuelnya yang sama sekali tidak melibatkan Hooper maupun Spielberg dan menemui kegagalan ketika dirilis di pasaran pada tahun 1986 dan 1988, Hollywood mencoba membawa kembali kengerian Poltergeist yang kali ini berada dalam arahan sutradara Gil Kenan (Monster House, 2006) serta duo produser Sam Raimi dan Robert G. Tapert yang sebelumnya pernah menghasilkan trilogi film The Evil Dead (1981 – 1993) yang melegenda itu.

Dengan naskah cerita yang digarap oleh David Lindsay-Abaire (Rabbit Hole, 2010), versi teranyar dari Poltergeist mengisahkan tentang pasangan Eric (Sam Rockwell) dan Amy Bowen (Rosemarie DeWitt) dan ketiga anak mereka, Kendra (Saxon Sharbino), Griffin (Kyle Catlett) dan Madison (Kennedi Clements) yang baru saja pindah rumah ke sebuah wilayah pinggiran kota setelah Eric diberhentikan dari pekerjaannya. Keberadaan mereka di rumah itu awalnya berjalan dengan tenang. Namun, setelah beberapa gangguan misterius yang dialami oleh Griffin serta perubahan sikap yang terjadi pada Madison, secara perlahan ketenangan keluarga tersebut mulai terusik. Kondisi tersebut semakin memburuk ketika Madison secara tiba-tiba menghilang begitu saja dari rumah tersebut. Sadar kalau yang mereka hadapi adalah gangguan supranatural yang di luar jangkauan kemampuan mereka, Eric dan Amy akhirnya menghubungi ahli paranormal, Dr. Brooke Powell (Jane Adams), dan spesialis masalah supranatural, Carrigan Burke (Jared Harris), untuk membantu mereka.

Sebagai sebuah film yang mencoba untuk mengulang kesuksesan sebuah film seikonik Poltergeist buatan Hooper dan Spielberg, versi terbaru Poltergeist yang melengkapi para ahli supranaturalnya dengan berbagai perlengkapan komputer super canggih ini harus diakui tidak tampil begitu buruk – dan bahkan mampu memberikan beberapa momen menegangkan yang akan cukup mampu menyenangkan para penikmat film-film sejenis. Keberhasil tersebut jelas dapat diraih karena baik pengarahan Kenan maupun naskah cerita garapan Lindsay-Abaire mencoba mengikuti setiap formula yang telah diterapkan film Poltergeist pendahulunya. Tetap saja, kemampuan untuk mengikuti formula yang telah ada tersebut akan membuat versi modern dari Poltergeist seringkali menjadi terasa kurang mengejutkan. Jika Poltergeist sebelumnya mampu menciptakan standar baru bagi film-film dengan tema rumah berhantu, maka versi modern-nya hanya terasa sebagai sebuah film rumah berhantu lain yang mengikuti formula horor Hollywood yang telah berulangkali dieksplorasi.

Versi terbaru dari Poltergeist juga terasa ringan secara emosional jika dibandingkan dengan pendahulunya. Seperti halnya trilogi The Evil Dead, Raimi dan Tapert sepertinya memilih untuk menginjeksikan beberapa sentuhan komedi lewat dialog maupun karakter yang dihadirkan mereka lewat film ini. Sayang, beberapa elemen emosional yang justru menjadi elemen terkuat dalam film orisinalnya justru menguap begitu saja. Lihat saja bagaimana hubungan emosional antara anggota keluarga Bowen yang terasa mengalir begitu saja tanpa pernah berusaha digambarkan hadir dengan ikatan emosional yang begitu mengikat satu sama lain. Versi modern Poltergeist juga tidak begitu memberikan ruang yang luas bagi pengembangan karakter-karakternya sehingga akan cukup sulit bagi penonton untuk merasakan kepedulian yang lebih mendalam bagi karakter-karakter tersebut.

Beruntung, Poltergeist berhasil mendapatkan dukungan penampilan akting yang sangat solid dari jajaran pemerannya. Berbeda dengan penampilan departemen akting versi orisinal Poltergeist yang bernada jauh lebih serius, penampilan Sam Rockwell, Rosemarie DeWitt dan jajaran pemeran lain dalam Poltergeist versi terbaru terasa lebih lugas dan rileks dalam menghidupkan setiap karakter mereka. Poltergeist juga mampu dihadirkan dengan kualitas produksi yang sangat berkelas. Kenan mampu mendapatkan dukungan terbaik dari tim produksinya untuk mampu menghasilkan gambar-gambar yang kelam sehingga berhasil menciptakan atmosfer horor yang cukup dalam pada beberapa bagian penceritaannya. Sebagai sebuah remake horor, Poltergeist jelas bukanlah sebuah karya yang buruk. Mungkin film ini akan mampu mendapatkan apresiasi yang lebih jika saja memilih untuk tidak menggunakan judul Poltergeist yang telah terlalu ikonik itu dalam masa perilisannya. [C]

Poltergeist (2015)

Directed by Gil Kenan Produced by Roy Lee, Sam Raimi, Robert G. Tapert Written by David Lindsay-Abaire (screenplay), Steven Spielberg (story) Starring Sam Rockwell, Rosemarie DeWitt, Jared Harris, Jane Adams, Saxon Sharbino, Kyle Catlett, Kennedi Clements, Nicholas Braun, Susan Heyward, Soma Bhatia Music by Marc Streitenfeld Cinematography Javier Aguirresarobe Edited by Jeff Betancourt, Bob Murawski Studio Metro-Goldwyn-Mayer/Ghost House Pictures/Vertigo Entertainment Running time 93 minutes Country United States Language English

Review: Pompeii (2014)

Pompeii (FilmDistrict/Constantin Film Produktion/Don Carmody Productions/Impact Pictures, 2014)
Pompeii (FilmDistrict/Constantin Film Produktion/Don Carmody Productions/Impact Pictures, 2014)

Berbeda dengan James Cameron yang sepertinya akan selalu berhasil menarik pujian kritikus film dunia untuk setiap film yang ia arahkan, nama Paul W. S. Anderson lebih dikenal sebagai seorang sutradara yang selalu mengandalkan tampilan efek visual bombastis dalam setiap film-filmnya namun dengan bangunan naskah cerita yang begitu lemah. Well… mencoba mengikuti jejak Cameron melalui Titanic (1997), Anderson hadir dengan film terbarunya, Pompeii, yang turut menyajikan paduan drama romansa yang menghanyutkan dengan latar belakang tragedi berdasarkan sebuah kejadian nyata. Sejujurnya, dari kemampuannya bercerita, Anderson jelas berada jauh dibawah Cameron – dan Pompeii masih membuktikan hal tersebut. Meskipun begitu, Pompeii bukanlah sebuah karya yang benar-benar buruk. Terlepas dari jalan penceritaan yang standar dan jauh dari kesan emosional, Anderson mampu mengemas film ini dengan baik dan menjadikannya sebagai sebuah sajian yang cukup menghibur.

Continue reading Review: Pompeii (2014)

Review: The Mortal Instruments: City of Bones (2013)

the-mortal-instruments-city-of-bones-header

Jika dua seri film Percy Jackson and the Olympians (2010 – 2013) mencoba hadir untuk mengisi kekosongan singgasana yang ditinggalkan oleh franchise Harry Potter (2001 – 2011), maka The Mortal Instruments: The City of Bones adalah sebuah usaha lain Hollywood untuk mengulang kesuksesan franchise The Twilight Saga (2008 – 2012) – meskipun The Hunger Games (2011) sepertinya telah menggenggam erat posisi tersebut. Layaknya The Twilight Saga, The Mortal Instruments: City of Bones merupakan adaptasi pertama dari seri novel fantasi The Mortal Instruments karya penulis asal Amerika Serikat, Cassandra Clare. The Mortal Instruments: City of Bones juga menghadirkan banyak tema-tema familiar di dalam penceritaannya: mulai dari kisah cinta segitiga, karakter-karakter berkekuatan magis, kisah hubungan keluarga hingga petualangan untuk mencari penyelesaian dari sebuah masalah. Sayangnya, dengan naskah dan pengarahan yang benar-benar datar, The Mortal Instruments: City of Bones seringkali terlihat sebagai sebuah tiruan murahan dari The Twilight Saga daripada sebagai sebuah seri awal franchise kisah fantasi yang mampu tampil lebih baik daripada seri film yang berhasil mempopulerkan nama Kristen Stewart dan Robert Pattinson tersebut.

Continue reading Review: The Mortal Instruments: City of Bones (2013)

Review: Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011)

Walaupun terasa datar di beberapa bagian cerita, serta kurangnya chemistry yang terbentuk antara Robert Downey, Jr. serta dua lawan mainnya, Jude Law dan Rachel McAdams, Guy Ritchie berhasil memberikan sebuah sentuhan yang unik dalam penceritaan Sherlock Holmes (2009) yang kemudian berhasil membuat film tersebut mampu tampil menarik bagi banyak penonton film dunia, khususnya bagi mereka yang memang gemar akan plot-plot kisah bernuansa detektif dan misteri. Diinspirasi dari cerita pendek karya Arthur Conan Doyle yang berjudul The Final Problem (1893), sekuel dari film yang sukses mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$500 juta selama masa edarnya tersebut dan diberi judul Sherlock Holmes: A Game of Shadows akan memperkenalkan penonton pada musuh terbesar Sherlock Holmes, Professor James Moriarty. Premis yang menjanjikan sebuah pertemuan antara karakter protagonis utama dengan karakter antagonis utama jelas memang akan menjadi sebuah premis yang menggiurkan. Namun, apakah Guy Ritchie berhasil membuat Sherlock Holmes: A Game of Shadows mampu tampil lebih baik dari prekuelnya?

Continue reading Review: Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011)

Review: The Ward (2010)

Hampir satu dekade berlalu semenjak John Carpenter merilis film layar lebar terakhirnya, The Ghosts of Mars (2001). Dalam masa-masa itu, Carpenter lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyutradarai satu episode dari sebuah serial televisi, menjadi produser untuk remake filmnya sendiri dan menyaksikan bagaimana Hollywood begitu berminat untuk melakukan reka ulang terhadap film-film yang dulu pernah ia sutradarai sekaligus menurunkan derajat kualitas film-film tersebut. Tragis. Namun, sepuluh tahun waktu berlalu dan John Carpenter akhirnya memutuskan bahwa sudah saatnya ia kembali duduk di kursi sutradara. Hasilnya… The Ward! Sebuah film horor yang akan dianggap cukup cerdas jika dunia belum pernah menyaksikan puluhan film lain yang memiliki jalan cerita menyerupai Shutter Island (2010) atau Belahan Jiwa (2006).

Continue reading Review: The Ward (2010)