Tag Archives: Jacob Tremblay

Review: Stephen King’s Doctor Sleep (2019)

Dirilis pada tahun 1980, The Shining yang diarahkan oleh Stanley Kubrick merupakan adaptasi dari sebuah novel popular berjudul sama yang ditulis oleh Stephen King dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1977. Walau mendapatkan reaksi yang tidak terlalu hangat pada masa awal perilisannya – termasuk kritikan tajam dari King yang menilai Kubrick telah merusak nilai-nilai penceritaan dari novel yang telah digarapnya, The Shining secara perlahan mulai meraih banyak dukungan dan penggemar hingga akhirnya mampu menjadi salah satu ikon horor paling popular bagi para penikmat film di seluruh dunia. Lebih dari tiga dekade semenjak perilisan novel The Shining, tepatnya di tahun 2013, King merilis Doctor Sleep yang melanjutkan alur cerita bagi karakter-karakter yang ada di dalam garis penceritaan The Shining. Perilisan novel Doctor Sleep jelas turut mendorong Hollywood untuk memproduksi sekuel bagi versi film dari The Shining. Dengan bantuan Mike Flanagan (Ouija: Origin of Evil, 2016) yang bertugas sebagai sutradara sekaligus penulis naskah film, Doctor Sleep jelas harus berusaha keras untuk mengikuti standar tinggi yang telah diterapkan oleh Kubrick melalui adaptasinya akan novel The Shining. Continue reading Review: Stephen King’s Doctor Sleep (2019)

Review: Good Boys (2019)

Merupakan film yang menjadi debut pengarahan bagi penulis naskah Gene Stupnitsky (Bad Teacher, 2011), Good Boys berkisah mengenai persahabatan yang terjalin antara tiga anak laki-laki, Max (Jacob Tremblay), Lucas (Keith L. Williams), dan Thor (Brady Noon). Menamakan diri mereka sebagai Bean Bag Boys, persahabatan antara Max, Lucas, dan Thor mendapatkan tantangan terbesarnya ketika ketiga anak laki-laki tersebut menghadapi masalah personal mereka masing-masing: Max sedang tergila-gila dan merasa jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Brixlee (Millie Davis), Lucas baru mengetahui bahwa kedua orangtuanya akan segera bercerai, dan Thor mulai menjauhi aktivitas menyanyi yang sebenarnya begitu disukainya akibat rundungan yang ia terima dari beberapa murid popular di sekolah. Ketika mendapatkan undangan ke sebuah pesta yang nantinya juga akan dihadiri oleh Brixlee, Max lantas meminta Lucas dan Thor untuk menemaninya ke pesta tersebut. Sial, ketika sedang bersiap-siap, Max secara tidak sengaja malah merusak perangkat kerja sang ayah yang berharga cukup mahal. Takut kalau dirinya akan mendapatkan hukuman dan lantas tidak diizinkan untuk berangkat ke pesta, Max mulai memutar otak guna mencari cara untuk menyelamatkan dirinya. Continue reading Review: Good Boys (2019)

Review: The Predator (2018)

Merupakan film keempat dalam seri film Predator yang mengikuti Predator (John McTiernan, 1987), Predator 2 (Stephen Hopkins, 1990), dan Predators (Nimród Antal, 2010) – dan film keenam jika Anda turut menghitung keberadaan Alien vs. Predator (Paul W. S. Anderson, 2004) dan Alien vs. Predator: Requiem (The Brothers Strause, 2007), The Predator memiliki alur pengisahan yang linimasanya terletak di belakang Predator 2namun mendahului linimasa penceritaan dari Predators. Meskipun begitu, terlepas dari beberapa referensi akan film-film pendahulu yang disajikan sebagai benang merah, The Predator mampu tampil dan dapat dinikmati sebagai sebuah film mandiri. Pengarahan cerita yang kini dikendalikan oleh Shane Black (The Nice Guys, 2016) juga membuat film ini memiliki warna pengisahan yang cukup berbeda dengan film-film lain dalam seri Predator: berjalan dengan ritme yang lebih cepat dan tampil dengan unsur black comedyyang kental. Sebuah penyegaran yang menyenangkan bagi seri film ini. Continue reading Review: The Predator (2018)

Review: Wonder (2017)

Diarahkan oleh Stephen Chbosky (The Perks of Being a Wallflower, 2012), Wonder berkisah mengenai seorang anak laki-laki bernama August Pullman (Jacob Tremblay), atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Auggie, yang semenjak lahir menderita kelainan bentuk wajah yang sangat langka yang membuatnya belum pernah benar-benar bersosialisasi dengan dunia luar. Namun, setelah beberapa tahun menjalani homeschooling, kedua orangtuanya, Nate (Owen Wilson) dan Isabel Pullman (Julia Roberts), memutuskan sudah saatnya bagi Auggie untuk mendapatkan pendidikannya di sekolah umum. Meskipun menyadari bahwa dunia luar dapat menjadi sebuah tempat yang begitu kejam bagi seorang anak dengan kelainan seperti yang dimiliki oleh Auggie, kedua orangtua Auggie dan kakaknya, Via (Izabela Vidovic), memberikan dukungan penuh agar Auggie dapat tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dan percaya diri. Continue reading Review: Wonder (2017)

Review: The Smurfs 2 (2013)

the-smurfs-2-header

Well… terlepas dari banyak kritikan yang menyudutkan kualitas penceritaan The Smurfs (2011), film animasi produksi Columbia Pictures tersebut berhasil memperoleh pendapatan komersial sebesar lebih dari US$563 juta dari masa peredarannya di seluruh dunia. Dan tentu saja, seperti layaknya yang terjadi pada hampir seluruh film sukses yang diproduksi oleh Hollywood, The Smurfs lantas mendapatkan imbalannya: sebuah sekuel! Kembali diarahkan oleh Raja Gosnell, The Smurfs 2 sebenarnya masih menawarkan sebuah formula cerita keluarga yang sepertinya benar-benar ditujukan agar dapat dengan mudah dikonsumsi oleh para penonton muda. Untungnya, tidak seperti The Smurfs yang terlihat bermalas-malasan dalam membangun ceritanya, The Smurfs 2 mampu tampil dengan ikatan cerita tentang ayah dan anak yang cukup kuat. Bukan sebuah perubahan yang drastis, namun jelas berhasil menunjukkan adanya sedikit peningkatan dalam kualitas performa penceritaannya.

Continue reading Review: The Smurfs 2 (2013)