Tag Archives: Horror

Review: Under the Shadow (2016)

2016 is a fucking great year for horror movies. Film-film horor di tahun ini tidak hanya mampu memberikan kemasan yang lebih segar dan tetap menakutkan pada jalinan formula penceritaan yang telah begitu familiar – seperti Ouija: Origin of Evil (Mike Flanagan, 2016)  atau Don’t Breathe (Fede Alvarez, 2016) atau Train to Busan (Yeon Sang-ho, 2016) – namun juga berhasil memberikan alternatif cerita yang bahkan lebih berani dan lebih segar jika dibandingkan dengan banyak judul dari genre film lain – seperti The Wailing (Na Hong-jin, 2016), The Witch (Robert Eggers, 2016) atau The Neon Demon (Nicholas Winding Refn, 2016). Under the Shadow – sebuah horor yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara sekaligus penulis naskah kelahiran Iran, Babak Anvari – berhasil menggabungkan dua elemen kesuksesan tersebut. Continue reading Review: Under the Shadow (2016)

Review: House at the End of the Street (2012)

NOTE: This review was originally published on December 19, 2012

Jennifer Lawrence dapat saja berkilah bahwa keterlibatannya dalam House at the End of the Street adalah murni hanyalah sebuah usaha untuk memperluas jangkauan aktingnya dengan membintangi banyak film dari genre yang bervariasi. Sayangnya, siapapun yang telah menyaksikan House at the End of the Street yang diarahkan oleh Mark Tonderai ini jelas tidak akan dapat menyangkal bahwa Lawrence telah melakukan kesalahan besar dengan memilih untuk terlibat dalam proses produksi film ini. Walau dirinya masih mampu menampilkan kemampuan aktingnya yang sangat tidak mengecewakan, namun dengan eksekusi naskah cerita yang begitu datar, House at the End of the Street tetap saja akan gagal untuk mampu tampil sebagai sebuah thriller yang menarik.

Continue reading Review: House at the End of the Street (2012)

Review: Oo Nina Bobo (2014)

Dengan naskah yang juga ditulis oleh Jose Poernomo, Oo Nina Bobo berkisah mengenai Karina (Revalina S. Temat) yang sedang berusaha untuk menyelesaikan program pendidikan pascasarjana-nya di bidang Psikologi. Untuk menyelesaikan tesis akhirnya, Karina mencoba untuk membuktikan sebuah teori bahwa seseorang yang menderita trauma akan mengalami proses penyembuhan yang lebih cepat jika langsung dihadapkan dengan hal yang membuatnya trauma. Karina lantas menemukan sebuah obyek penelitian yang tepat dalam diri Ryan (Firman Ferdiansyah), seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang menjadi satu-satunya korban selamat dalam sebuah tragedi yang menewaskan ayah (Agung Maulana), ibu (Mega Carefansa) dan adiknya, Lala (Zaskia Riyanti Maizuri), di rumah mereka lima tahun lalu. Atas izin para dosennya, Karina lantas mambawa kembali Ryan untuk tinggal di rumahnya selama dua minggu dan mengawasi bagaimana reaksi Ryan terhadap lingkungan yang amat ditakutinya tersebut.

Continue reading Review: Oo Nina Bobo (2014)

Review: Dark Skies (2013)

Dark Skies (Alliance Films/Automatik Entertainment/Blumhouse Productions/Cinema Vehicle Services, 2013)
Dark Skies (Alliance Films/Automatik Entertainment/Blumhouse Productions/Cinema Vehicle Services, 2013)

Diarahkan oleh Scott Stewart (Priest, 2011) berdasarkan naskah cerita yang juga ia tulis sendiri, Dark Skies mengisahkan mengenai permasalahan yang dialami oleh pasangan Daniel (Josh Hamilton) dan Lacy Barrett (Keri Russell) beserta kedua putera mereka, Jesse (Dakota Goyo) dan Sammy (Kadan Rockett), ketika berbagai hal-hal aneh mulai terjadi di dalam rumah yang mereka tempati yang dimulai dengan ditemukannya dapur dalam kondisi yang berantakan serta munculnya beberapa simbol aneh di dalam rumah. Sammy kemudian mengungkapkan pada Lacy bahwa hal tersebut dilakukan oleh sesosok pria yang bernama Sandman – sesosok karakter fiktif dari buku cerita yang sering dibacanya. Mendengar hal tersebut, tentu saja, Lacy memilih untuk tidak menghiraukan dan menganggap Sammy tidak serius dengan perkataannya. Di saat yang bersamaan, hal-hal aneh tersebut semakin sering terjadi hingga mulai mengganggu kehidupan pernikahan Daniel dan Lacy.

Continue reading Review: Dark Skies (2013)

Review: Haunter (2013)

Haunter (Wild Bunch/Copperheart Entertainment/The Government of Ontario - The Ontario Film and Television Tax Credit/The Canadian Audio Visual Certification Office/The Canadian Film and Television Tax Credit/Haunter [Copperheart] Productions Inc., 2013)
Haunter (Wild Bunch/Copperheart Entertainment/The Government of Ontario – The Ontario Film and Television Tax Credit/The Canadian Audio Visual Certification Office/The Canadian Film and Television Tax Credit/Haunter [Copperheart] Productions Inc., 2013)

Menyimak tiga film bernuansa thriller yang pernah diarahkannya, Cube (1998), Cypher (2002) dan Splice (2010), penonton pasti dapat merasakan bahwa Vincenzo Natali adalah seorang sosok sutradara yang gemar untuk mengekplorasi ide-ide baru, segar sekaligus provokatif dalam setiap filmnya. Sayangnya, juga berdasarkan kualitas dari tiga film yang diarahkannya tersebut, Natali terkesan selalu terjebak atas ide besar yang dimiliki oleh jalan cerita film yang ia arahkan untuk kemudian gagal memberikan pengembangan lebih luas dari ide cerita brilian tersebut. Film terbaru Natali sendiri, Haunter, mungkin tidak menawarkan sebuah premis cerita yang akan dianggap banyak orang sebagai sesuatu yang orisinil – para penikmat film pasti akan segera menggambarkan Haunter sebagai sebuah kompilasi ide dari Groundhog Day (1993), The Sixth Sense (1999) sekaligus The Others (2001). Berbagai lapisan tersebut jelas membuat Haunter menjadi sebuah film dengan struktur cerita yang kaya. Namun, apakah Natali mampu mengolah lapisan-lapisan tersebut sehingga Haunter dapat tampil sebagai sebuah presentasi cerita yang solid?

Continue reading Review: Haunter (2013)

Review: Devil’s Due (2014)

Hollywood sepertinya ingin memastikan semua penikmat film dunia tahu bahwa tidak ada cara yang lebih buruk untuk menghabiskan waktu dan uang mereka daripada dengan menyaksikan film-film horor yang menyajikan kisahnya melalui teknik found footage. Selang beberapa waktu setelah Paramount Pictures merilis Paranormal Activity: The Marked Ones, 20th Century Fox memutuskan bahwa mereka juga ingin menikmati kesuksesan komersial yang begitu mudah diraih Paramount Pictures dengan merilis Devil’s Due. Diarahkan oleh duo Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett yang sebelumnya turut mengarahkan segmen 10/31/98 dalam film antologi horor V/H/S (2012), Devil’s Due dapat digambarkan sebagai versi modern dari film Rosemary’s Baby (1968) arahan Roman Polanski namun disajikan dengan teknik penceritaan found footage. Menarik? Mungkin saja. Sayangnya, naskah arahan Lindsay Devlin serta pengarahan Bettinelli-Olpin dan Gillett terasa begitu terbatas sehingga membuat Devil’s Due hanya mampu tampil menarik ketika konflik penceritaannya telah memuncak… yang terjadi kira-kira 15 menit sebelum film ini berakhir.

Continue reading Review: Devil’s Due (2014)

Review: Paranormal Activity: The Marked Ones (2014)

Paranormal Activity: The Marked Ones (Paramount Pictures/Blumhouse Productions/Room 101/Solana Films, 2014)
Paranormal Activity: The Marked Ones (Paramount Pictures/Blumhouse Productions/Room 101/Solana Films, 2014)

Because this is Hollywood, and if something kind of works, they’ll just keep doing it until everybody hates it!”

Kutipan tersebut berasal dari Tina Fey yang menyinggung mengenai dirinya dan Amy Poehler yang kembali diundang oleh Hollywood Foreign Press Association untuk kembali membawakan ajang penghargaan Golden Globes beberapa waktu yang lalu. And it’s fucking true! Hollywood, saudara-saudara, tidak akan berhenti mengeksploitasi sebuah produk jika produk tersebut masih terus digemari (baca: digilai) oleh para konsumennya. They’re all about the money after all. Mungkin hal tersebut adalah satu-satunya alasan rasional yang dapat menjelaskan keberadaan setiap seri terbaru dari franchise Paranormal Activity (2009 – 2012). Para kritikus film dunia jelas telah merasa kelelahan dengan formula horor yang terus menerus diulang di setiap seri franchise ini. Pun begitu, apa mau dikata, penonton sepertinya terus saja rela menghabiskan uang dan waktu mereka untuk mendapatkan sensasi ketakutan yang sama dari setiap seri Paranormal Activity.

Continue reading Review: Paranormal Activity: The Marked Ones (2014)

Review: Apartment 1303 (2013)

apartment-1303-header

Kesuksesan besar The Ring (2002) baik secara kritikal maupun komersial tidak dapat disangkal telah menjadi langkah awal bagi banyak produser film Hollywood untuk mencoba peruntungan mereka dalam mengadaptasi film-film horor buatan Jepang – dan Asia. Sayangnya, selepas The Ring, tidak ada lagi remake film horor Asia yang mampu meraih kesuksesan kritikal dan komersial di saat yang bersamaan. Beberapa diantaranya bahkan mendapat predikat sebagai film-film dengan kualitas terburuk yang pernah diproduksi Hollywood. Well… sayangnya, Apartment 1303, yang diadaptasi dari film horor Jepang berjudul sama, sepertinya juga akan menambah panjang daftar film-film horor remake berkualitas buruk tersebut. Naskah yang buruk. Akting yang buruk. Pengarahan yang buruk. Apartment 1303 is simply a mess.

Continue reading Review: Apartment 1303 (2013)