Tag Archives: Helen Mirren

Review: The Nutcracker and the Four Realms (2018)

Berawal dari sebuah cerita pendek berjudul The Nutcracker and the Mouse King yang ditulis oleh penulis E.T.A. Hoffmann dan dirilis pada tahun 1816, The Nutcracker kemudian mendunia ketika kisah tersebut diadaptasi menjadi sebuah pertunjukan balet sukses berjudul sama oleh Marius Petipa dan Lev Ivanov dengan iringan musik dari Pyotr Ilyich Tchaikovsky yang juga menjelma menjadi salah satu gubahan musik paling familiar bagi banyak penikmat musik dunia. Keberhasilan tersebut tak pelak membuat pengisahan The Nutcracker kemudian diadaptasi ke dalam banyak bentuk media penceritaan lainnya – mulai dari drama panggung musikal, film layar lebar, serial televisi, bahkan hingga permainan video. Yang teranyar, Walt Disney Pictures merilis The Nutcracker and the Four Realms yang merupakan adaptasi mereka atas The Nutcracker and the Mouse King dan kisah yang disampaikan dalam pertunjukan balet The Nutcracker dengan memberikan sejumlah sentuhan baru pada beberapa bagian penceritaannya. Sebuah strategi yang mungkin sejalan dengan rilisan-rilisan mereka seperti Cinderella (Kenneth Branagh, 2015) atau Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017) yang juga memberikan interpretasi segar atas sebuah pengisahan klasik namun apakah Walt Disney Pictures mampu mempertahankan daya tarik magis dari The Nutcracker yang telah dicintai begitu banyak orang selama lebih dari satu abad? Continue reading Review: The Nutcracker and the Four Realms (2018)

Advertisements

Review: Winchester (2018)

Dengan jalan cerita yang terinspirasi dari sebuah kisah nyata, Winchester berkisah mengenai seorang wanita, Sarah Winchester (Helen Mirren), yang dirundung duka mendalam setelah kematian suami dan puterinya. Paduan rasa duka dan berbagai kejadian aneh yang menghampiri dirinya kemudian meyakinkan Sarah Winchester bahwa dirinya telah dikutuk oleh para arwah penasaran orang-orang yang tewas dikarenakan oleh senjata api buatan Winchester Repeating Arms Company – perusahaan yang dimiliki oleh sang suami dan kini sebagian kepemilikannya telah berpindah ke tangan Sarah Winchester. Atas saran seorang penasehat spiritual, Sarah Winchester kemudian melakukan renovasi besar-besaran secara terus menerus kepada rumahnya untuk membangun kamar-kamar baru yang nantinya akan ditempati arwah-arwah penasaran yang mengusik kehidupannya. Tentu saja, tindakan aneh Sarah Winchester tersebut membuat para pemegang saham Winchester Repeating Arms Company merasa khawatir akan kesehatan mentalnyaa. Mereka akhirnya mengirimkan seorang dokter, Eric Price (Jason Clarke), yang ditugaskan untuk bermalam di rumah Sarah Winchester dan menganalisa kesehatan mentalnya. Continue reading Review: Winchester (2018)

Review: Fast and Furious 8 (2017)

Percaya atau tidak, seri perdana The Fast and the Furious arahan Rob Cohen yang dirilis tahun 2001 mendasarkan kisahnya pada sebuah artikel karya jurnalis Kenneth Li berjudul Racer X yang dirilis pada Mei 1998 di majalah Vibe. Artikel yang mengupas tentang sekelompok pembalap yang secara rutin melakukan aksinya di jalanan kota New Yok, Amerika Serikat tersebut kemudian memberikan landasan realitas penceritaan pada beberapa seri awal The Fast and the Furious. Namun, seiring dengan pertambahan sekuel sekaligus nilai komersial yang dihasilkannya, film-film dalam rangkaian penceritaan The Fast and the Furious lantas bergerak menjadi sebuah film yang menjunjung penuh deretan adegan aksi bombastis layaknya (bahkan terkadang melebihi) adegan-adegan aksi dalam film-film pahlawan super. Tentu saja, dengan minat penonton yang cenderung terus meningkat – khususnya setelah Fast and the Furious 7 (James Wan, 2015) yang membukukan kesuksesan komersial sebesar lebih dari US$1.5 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – para produser seri film ini jelas akan terus bersiap untuk memuaskan setiap penggemar seri The Fast and the Furious dengan tampilan aksi yang semakin terlihat fantastis. Continue reading Review: Fast and Furious 8 (2017)

Review: Collateral Beauty (2016)

How do you cope with grief and loss of your loved one? Dalam film terbaru arahan David Frankel (The Devil Wears Prada, 2006), Collateral Beauty, Will Smith berperan sebagai seorang eksekutif periklanan bernama Howard Inlet yang sedang berada dalam masa duka akibat kehilangan puteri satu-satunya yang meninggal dunia. Rasa duka tersebut telah merubah diri Howard sepenuhnya. Howard yang dulu adalah sosok pemimpin perusahaan yang optimistis dan mampu mendorong semangat orang-orang yang berada di sekitarnya kini berubah menjadi seseorang yang penyendiri, tertutup dan hampir tidak pernah berkomunikasi lagi dengan siapapun termasuk orang-orang terdekatnya. Perubahan tersebut secara perlahan akhirnya mempengaruhi kestabilan perusahaan yang dipimpin oleh Howard. Continue reading Review: Collateral Beauty (2016)

Review: RED 2 (2013)

red-2-header

Meskipun kursi penyutradaraan kini telah beralih dari Robert Schwentke ke Dean Parisot (Fun with Dick and Jane, 2005), RED 2 sama sekali tidak menawarkan perubahan yang berarti dalam kualitas presentasinya – sama sekali tidak bertambah baik dan juga, untungnya, tidak mengalami penurunan kualitas yang berarti. Mereka yang menikmati perpaduan aksi dan komedi yang ditawarkan di film pertama kemungkinan besar akan tetap dapat menikmati apa yang disajikan oleh RED 2. Hal tersebut bukan berarti film ini hadir tanpa masalah. Duo penulis naskah, Jon dan Erich Hoeber, sepertinya sama sekali tidak berusaha untuk menghadirkan sesuatu yang baru dalam jalan penceritaan yang mereka tulis. Hasilnya, walaupun jelas adalah sangat menyenangkan untuk menyaksikan banyak nama-nama besar Hollywood mencoba untuk saling membunuh satu sama lain, namun RED 2 seringkali terasa terlalu familiar untuk dapat menghasilkan daya tarik yang lebih kuat bagi penontonnya.

Continue reading Review: RED 2 (2013)

Review: Monsters University (2013)

monsters-university-header

When it comes to Pixar Animation Studios, everyone comes with an unreasonable high expectation. Tidak salah. Semenjak memulai petualangan mereka dengan Toy Story (1995) dan kemudian menghadirkan film-film semacam Finding Nemo (2003), The Incredibles (2004), Ratatouille (2007), WALL·E (2008), Up (2009) hingga Toy Story 3 (2010) yang tidak hanya menjadi favorit banyak penonton namun juga mengubah cara pandang kebanyakan orang terhadap film animasi, Pixar Animation Studios telah menjadi artis standar tersendiri atas kualitas produksi sebuah film animasi. Tidak mengherankan jika ketika Pixar Animation Studios merilis film-film seperti Cars 2 (2011) dan bahkan Brave (2012) yang berkualitas menengah (baca: cukup menghibur namun jauh dari kesan istimewa), banyak penonton yang mulai meragukan konsistensi rumah produksi yang kini berada di bawah manajemen penuh Walt Disney Pictures tersebut dalam kembali menghadirkan film-film animasi yang berkelas. Not wrongbut quite silly.

Continue reading Review: Monsters University (2013)

The 70th Annual Golden Globe Awards Nominations List

golden-globesLincoln semakin memperkuat posisinya sebagai kontender kuat untuk merebut gelar film terbaik di sepanjang tahun 2012. Melalui pengumuman nominasi The 70th Annual Golden Globe Awards, film yang berkisah mengenai kehidupan presiden Amerika Serikat ke-16 itu berhasil memimpin raihan nominasi dengan memperoleh tujuh nominasi, termasuk nominasi untuk Best Motion Picture – Drama, Best Director untuk Steven Spielberg dan Best Actor – Drama untuk Daniel Day-Lewis. Berada di belakang Lincoln, adalah dua film terbaru arahan Ben Affleck dan Quentin Tarantino, Argo serta Django Unchained. Kedua film berhasil mendapatkan lima nominasi sekaligus menantang Lincoln dalam peraihan gelar Best Motion Picture – Drama serta Best Director.

Continue reading The 70th Annual Golden Globe Awards Nominations List

Review: Hitchcock (2012)

hitchcock-header

Walaupun menggunakan nama Hitchcock sebagai judul film, Hitchcock sayangnya bukanlah sebuah sarana yang tepat untuk mereka yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai kehidupan pribadi sutradara yang dijuluki sebagai The Master of Suspense tersebut. Diangkat dari buku berjudul Alfred Hitchcock and the Making of Psycho (1990) karya Stephen Robello, Hitchcock adalah sebuah film drama komedi yang menggali mengenai kehidupan sutradara Alfred Hitchcock selama proses pembuatan film tersukses di sepanjang karirnya, Psycho (1960). Pun begitu, lewat penyutradaraan Sacha Gervasi (Anvil!: The Story of Anvil, 2008) yang apik, Hitchcock akan menjadi sebuah undangan yang sangat menarik untuk melihat langsung bagaimana proses pembuatan Psycho dan bagaimana film tersebut mempengaruhi kehidupan pernikahan Hitchcock dan istrinya, Alma Reville.

Continue reading Review: Hitchcock (2012)

Review: Red (2010)

Sebagai sebuah film yang diadaptasi dari sebuah komik, Red cukup mampu menawarkan sebuah daya tarik yang cukup kuat lewat barisan pemerannya yang terdiri dari para aktor dan aktris senior Hollywood. Nama-nama seperti Bruce Willis, Morgan Freeman dan John Malkovich sepertinya akan menjadi sebuah perpaduan yang unik untuk disatukan dalam sebuah film yang menggunakan action comedy sebagai garis besar haluan naskah ceritanya. Ditambah lagi dengan kehadiran Helen Mirren yang tak pernah mengecewakan, Red jelas menawarkan sebuah paket hiburan yang tidak mudah untuk ditolak.

Continue reading Review: Red (2010)

Review: Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole (2010)

Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole menandai kali pertama sutradara Zack Snyder (300 (2007), Watchmen (2009)) menangani sebuah film yang bergenre animasi dengan jalan cerita yang ditujukan bagi penonton kalangan keluarga. Hal ini tentu saja adalah merupakan sebuah dunia yang sangat baru bagi Snyder – yang selama ini mengerjakan film-film dengan genre dewasa yang seringkali mengandung unsur kekerasan dan seksual yang tinggi. Walau begitu, melihat apa yang dicapai oleh Snyder lewat Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole – dengan tetap menggunakan beberapa teknik khasnya, seperti gerakan slow motion yang dramatis – terbukti kalau Snyder sangatlah mudah untuk beradaptasi dengan dunia baru tersebut.

Continue reading Review: Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole (2010)

The 82nd Annual Academy Awards Nominations

Film science fiction, Avatar, bersama film bertema perang Irak, The Hurt Locker, memimpin daftar nominasi The 82nd Annual Academy Awards. Kedua film tersebut berhasil meraih 9 nominasi termasuk untuk kategori Best Picture.

Continue reading The 82nd Annual Academy Awards Nominations

Golden Globe Predictions

Kurang dari 12 jam, para pemenang dari The 67th Annual Golden Globe Awards akan segera diumumkan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para nominasi dan pemenang dari ajang penghargaan ini biasanya menjadi indikasi dan cerminan dari para nominator dan pemenang di ajang Academy Awards. Continue reading Golden Globe Predictions