Tag Archives: Harry Shum Jr.

Review: Everything Everywhere All at Once (2022)

Tema pengisahan akan intergenerational trauma menjadi bahasan yang cukup alot dalam sejumlah rilisan film belakangan – disajikan dengan warna pengisahan horor oleh film Relic (Natalie Erika James, 2020) dan Umma (Iris K. Shim, 2022), menjadi fokus cerita dalam empat(!) film animasi teranyar rilisan Walt Disney Pictures, Raya and the Last Dragon (Carlos López Estrada, Don Hall, 2021), Luca (Enrico Casarosa, 2021), Encanto (Byron Howard, Jared Bush, 2021), dan Turning Red (Domee Shi, 2022), juga hadir dalam film Gehraiyaan (Shakun Batra, 2022) yang diproduksi Bollywood. Film terbaru garapan Daniel Kwan dan Daniel Scheinert (Swiss Army Man, 2016) – yang bersama dikenal dengan sebutan Daniels, Everything Everywhere All at Once, juga coba bertutur tentang bagaimana trauma yang dihasilkan oleh pengalaman buruk yang dialami oleh sesosok orangtua di masa lampau dan kemudian secara tidak sadar diteruskan kepada anak-anaknya tersebut. Namun, berbekal pengembangan ide cerita yang liar dan imajinatif, bahasan tadi terbungkus rapi oleh kisah petualangan yang terjadi lintas semesta! Continue reading Review: Everything Everywhere All at Once (2022)

Review: Crazy Rich Asians (2018)

What’s Hollywood’s last great romantic comedy? Jawaban Anda mungkin bervariasi: mulai dari Love Actually (Richard Curtis, 2003) atau Pride & Prejudice (Joe Wright, 2005) atau The Proposal (Anne Fletcher, 2009) atau Silver Linings Playbook (David O. Russell, 2012) atau Her (Spike Jonze, 2013). Harus diakui, terlepas dari berbagai jawaban yang akan muncul, Hollywood begitu terasa semakin kesulitan untuk menghasilkan film-film komedi romantis dengan sentuhan kehangatan penceritaan yang setara film-film klasik sejenis yang dahulu sering dihasilkannya. Film terbaru arahan Jon M. Chu (Justin Bieber’s Never Say Never, 2013), Crazy Rich Asians, jelas berusaha menghadirkan kembali atmosfer romansa yang telah terasa meredup tersebut dalam presentasinya. Diadaptasi dari novel popular berjudul sama karya Kevin Kwan, kisah pertemuan seorang profesor dengan keluarga kekasihnya yang kaya raya memang tidaklah menawarkan sebuah formula pengisahan yang baru. Namun, Chu mampu mengolah formula familiar tersebut dengan sedemikian rupa sehingga menghasilkan paduan pengisahan komedi dan drama romansa yang tidak hanya terasa segar namun juga mampu tampil menyentuh dan menghasilkan pemikiran yang cukup mendalam identitas etnis dan budaya. Continue reading Review: Crazy Rich Asians (2018)

Review: Step Up 3D (2010)

Hollywood seharusnya lebih sering memanfaatkan teknologi 3D (3D sebenarnya, bukan konversi) untuk hal-hal seperti yang mereka lakukan pada Step Up 3D: untuk memberikan efek bersenang-senang kepada para penontonnya. Disutradarai oleh Jon Chu, yang juga menjadi sutradara Step Up 2: The Streets (2008), Step Up 3D memang tidak menawarkan sesuatu peningkatan yang berarti jika dilihat dari sisi kualitas akting atau jalan cerita – pada beberapa titik bahkan dapat dikatakan naskah cerita film ini lebih buruk daripada pendahulunya. Namun apa yang ditampilkan film ini lewat susunan koreografi yang sangat memukau dan memanfaatkan teknologi 3D dengan sangat baik, dipastikan akan membuat siapa saja akan dapat menikmati film ini.

Continue reading Review: Step Up 3D (2010)