Tag Archives: Gwyneth Paltrow

Review: Spider-Man: Homecoming (2017)

Spider-Man: Homecoming adalah usaha terbaru dari Columbia Pictures untuk memberikan penyegaran (sekaligus mempertahankan) seri film Spider-Man dalam daftar rilisan rumah produksi tersebut. Hal ini bukanlah kali pertama Columbia Pictures melakukannya. Dalam rentang waktu tahun 2012 hingga 2014, rumah produksi milik Sony Pictures Entertainment tersebut merilis dwilogi The Amazing Spider-Man garapan Marc Webb yang dimaksudkan sebagai reboot bagi trilogi Spider-Man arahan Sam Raimi yang berhasil meraih sukses besar ketika dirilis dari tahun 2002 hingga 2007. Sayangnya, baik The Amazing Spider-Man maupun The Amazing Spider-Man 2 gagal untuk meraih kesuksesan yang sama besarnya dengan trilogi Spider-Man milik Raimi. Belajar dari “kesalahan” tersebut, Columbia Pictures lantas memilih untuk turut melibatkan langsung Marvel Studios dalam pembuatan Spider-Man: Homecoming – sebuah kerjasama yang dimulai dengan kehadiran sang manusia laba-laba pada Captain America: Civil War (Anthony Russo, Joe Russo, 2016). Penampilan singkat Spider-Man dalam Captain America: Civil War memang berhasil mencuri perhatian tapi apakah keberadaan Marvel Studios mampu memberikan dorongan positif bagi performa Spider-Man dalam film tunggalnya? Continue reading Review: Spider-Man: Homecoming (2017)

Advertisements

Review: Mortdecai (2015)

mortdecai-posterMungkin hanya Johnny Depp – dan… errr… Tuhan? – yang tahu film apa yang akan ia pilih untuk diperankan. Sempat dikenal sebagai sosok aktor watak dan serius yang selalu bereksperimen dalam setiap peran yang ia pilih, Depp kini lebih sering dikenal sebagai aktor yang sering hadir dalam film-film blockbuster dengan kualitas penceritaan yang cenderung mengecewakan. Film teranyarnya, Mortdecai – dimana Depp kembali bereuni dengan sutradara David Koepp yang dahulu sempat mengarahkannya dalam film Secret Window (2004), juga sepertinya tidak akan mengubah perspektif banyak orang tentang Depp saat ini. Depp kembali hadir dalam sebuah film komedi yang sama sekali jauh dari kesan menghibur plus dengan penampilan yang cenderung terlihat monoton layaknya yang ia sajikan dalam beberapa film yang ia bintangi sebelumnya.

Naskah cerita Mortdecai diadaptasi oleh Eric Aronson (On the Line, 2001) dari seri awal antologi novel Mortdecai karya Kyril Bonfiglioli yang berjudul Don’t Point that Thing at Me. Kandungan komedi dalam jalan cerita Mortdecai sendiri mungkin akan banyak mengingatkan penonton pada film-film detektif beralur komedi klasik seperti The Pink Panther (Blake Edwards, 1963) atau Inspector Closeau (Bud Yorkin, 1968). Sayangnya, kemampuan Aronson dalam menggarap sisi komedi Mortdecai sama sekali tidak mampu menyamai ataupun mendekati kualitas film-film klasik tersebut. Banyak susunan komedi dalam film ini terasa hambar atau malah berhasil tampil menghibur namun kemudian diulang beberapa kali kehadirannya di sepanjang film. Jelas membuat Mortdecai kehilangan daya tariknya sama sekali ketika film ini memang diniatkan menjadi sebuah komedi semenjak awal.

Pengarahan kuat Koepp yang dahulu sempat ia tunjukkan dalam Premium Rush (2012) juga sama sekali tidak terlihat dalam film ini. Entah mengapa, Koepp sepertinya terlihat gugup untuk mengarahkan nama-nama besar seperti Depp, Gwyneth Paltrow, Ewan McGregor, Paul Bettany, Jeff Goldblum hingga Olivia Munn yang mengisi deretan departemen akting film ini. Koepp sepertinya membebaskan setiap aktornya untuk berimprovisasi dengan karakter dan cerita yang ia berikan dalam Mortdecai. Well… tentu saja para aktor dan aktris tersebut tampak bersenang-senang dalam peran mereka namun untuk kualitas film… Mortdecai menjadi terasa datar dengan tanpa kehadiran adanya chemistry dari para pemerannya maupun keseriusan para pemeran untuk menghidupkan jalan cerita film ini.

Kembali pada Depp, sekali lagi, lewat perannya sebagai Charlie Mortdecai di film ini, Depp menampilkan sosok Jack Sparrow yang sepertinya telah dan selalu melekat dalam penampilan akting yang ia sajikan semenjak membintangi Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (Gore Verbinski, 2003). Sejujurnya, adalah sangat menyedihkan untuk melihat Depp terus menerus terjebak dalam penampilan yang sama dan dalam film yang berkualitas seadanya. Bahkan Nicolas Cage – yang juga terus menerus menyiksa dirinya dengan tampil dalam film berkualitas medioker – mampu tampil dalam penampilan yang berbeda dalam setiap filmnya. Depp is a great actor and definitely deserves better than this.

Meskipun hadir dalam kualitas yang seadanya, beberapa penampilan pengisi departemen akting dalam film ini cukup mampu mencuri perhatian beberapa kali. Paul Bettany berhasil tampil gemilang dalam perannya sebagai pengawal karakter Charlie Mortdecai, Jock Strapp. Begitu pula dengan Jeff Goldblum dalam peran singkatnya sebagai miliuner, Milton Krampf. Gwyneth Paltrow mungkin adalah satu-satunya pemeran yang hadir tanpa cela dalam film ini – kebanyakan karena fungsi perannya yang minimalis. Sementara Ewan McGregor seringkali terlihat kebingungan dalam perannya. Bukan salah McGregor sepenuhnya. Seperti banyak karakter pendukung dalam film ini, perannya ditulis begitu dangkal dan sulit untuk dikembangkan dengan baik. [D]

Mortdecai (2015)

Directed by David Koepp Produced by Christi Dembrowski, Johnny Depp, Andrew Lazar Written by Eric Aronson (screenplay), Kyril Bonfiglioli (novel, Don’t Point that Thing at Me) Starring Johnny Depp, Ewan McGregor, Gwyneth Paltrow, Paul Bettany, Olivia Munn, Jeff Goldblum, Ulrich Thomsen, Paul Whitehouse, Michael Byrne, Nicholas Farrell Music by Geoff Zanelli, Mark Ronson Cinematography Florian Hoffmeister Edited by Jill Savitt Studio Infinitum Nihil/Mad Chance Productions/Odd Lot Entertainment Running time 106 minutes Country United States Language English

Review: Iron Man 3 (2013)

iron-man-3-header

Sowhat’s next for Marvel Studios after the huge success of that little movie called The Avengers (2012)? It’s the return of the Iron Man, apparently. Dan di bagian ketiga penceritaannya – yang masih dibintangi oleh Robert Downey, Jr., Gwyneth Paltrow dan Don Cheadle namun kini disutradarai oleh Shane Black (Kiss Kiss Bang Bang, 2005) yang menggantikan posisi Jon Favreau, Iron Man terkesan menyerap secara seksama pola penceritaan yang diterapkan Joss Whedon dalam The Avengers yakni dengan memasukkan lebih banyak unsur komedi ke dalam jalan penceritaannya. Hasilnya mungkin akan menghasilkan pendapat yang beragam dari banyak penggemar franchise ini. But then again… jelas sama sekali tidak ada salahnya untuk mengambil rute penceritaan yang berbeda ketika Anda sedang menangani sebuah tema yang telah begitu familiar. Khususnya ketika Anda mampu menanganinya dengan baik dan berhasil muncul dengan sebuah presentasi cerita yang benar-benar cerdas dan menghibur.

Continue reading Review: Iron Man 3 (2013)

Review: The Avengers (2012)

Ketika berhubungan dengan film-film yang dirilis pada masa musim panas, Hollywood tahu bahwa mayoritas para penikmat film dunia menginginkan film-film dengan kualitas penceritaan yang sederhana namun dengan pengemasan yang super megah. Film-film yang murni dibuat dengan tujuan hiburan semata. The Avengers – sebuah film yang menempatkan para pahlawan Marvel Comics seperti Captain America, The Black Widow, Iron Man, Hawkeye, Thor dan Hulk berada pada satu jalan penceritaan yang sama – jelas adalah salah satu film musim panas dengan nilai hiburan yang pastinya tidak dapat diragukan lagi. Namun, di bawah pengarahan Joss Whedon (Serenity, 2005), yang bersama dengan Zak Penn (The Incredible Hulk, 2008) juga menulis naskah cerita film ini, The Avengers berhasil tampil lebih dari sekedar sebuah summer movie. Fantastis dalam penampilan, tetapi tetap mampu tampil membumi dengan kisah yang humanis nan memikat.

Continue reading Review: The Avengers (2012)

Review: Contagion (2011)

Adalah mudah untuk mendapatkan banyak bintang tenar untuk membintangi setiap film yang akan Anda produksi. Sepanjang Anda memiliki biaya produksi yang mencukupi, rasanya proses pemilihan aktor maupun aktris manapun yang Anda kehendaki tidak akan menemui masalah yang terlalu besar. Yang menjadi permasalahan, tentunya, adalah bagaimana Anda akan membagi dan memanfaatkan setiap talenta yang telah Anda dapatkan dalam jalan cerita film yang akan Anda produksi. Seperti yang telah dibuktikan oleh banyak film-film yang menampilkan jajaran pemeran yang terdiri dari nama-nama besar di Hollywood, kebanyakan dari talenta-talenta tersebut tampil kurang maksimal akibat minimnya karakterisasi dari peran yang harus mereka tampilkan. Pun begitu, jika Anda adalah Steven Soderbergh – yang telah mengumpulkan seluruh isi Hollywood dalam film-film seperti Traffic (2000) hingga The Ocean Trilogy (2001 – 2007) – Anda tahu bahwa Anda memiliki detil yang kuat untuk menampilkan setiap sisi terbaik dari kemampuan akting talenta pengisi film Anda.

Continue reading Review: Contagion (2011)

Review: Iron Man 2 (2010)

Baiklah… mari sama-sama mengucapkan selamat datang kepada musim panas. Musim dimana Hollywood akan berusaha mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menarik minat para pecinta film dunia untuk datang memenuhi bioskop-bioskop terdekat dengan merilis berbagai film-film blockbuster. Tahun ini, Hollywood resmi menyambut datangnya musim panas dengan merilis salah satu sekuel paling ditunggu tahun ini, Iron Man 2.

Continue reading Review: Iron Man 2 (2010)