Tag Archives: Guntur Nugraha

Review: Janji Hati (2015)

janji-hati-posterUsaha keras seorang Rudi Soedjarwo untuk menemukan bakat-bakat baru untuk mengisi berbagai posisi di dunia perfilman Indonesia memang layak untuk dikagumi. Bagaimana tidak. Ketika banyak produser lain mengejar banyak nama maupun wajah familiar untuk membintangi maupun menggarap film mereka, Rudi malah melatih bakat-bakat baru untuk kemudian dilibatkan dalam film-film yang ia produksi. Di tahun 2013 lalu, proyek perdana Rudi dalam menggarap bakat-bakat baru yang dinamakan Undergound Kick Ass merilis sebuah film layar lebar berjudul 23:59 Sebelum… yang, sayangnya, hadir dalam kualitas dan kemasan yang cukup mengecewakan. Kali ini, lewat proyek yang sama namun kini dinamakan Rumah Terindah, Rudi memproduseri sebuah film drama romansa remaja berjudul Janji Hati. Apakah Janji Hati mampu tampil lebih baik dari 23:59 Sebelum…?

Berbeda dengan 23:59 Sebelum… yang naskah ceritanya ditulis serta digarap oleh anak-anak didik Rudi Soedjarwo dalam proyek Underground Kick Ass, naskah cerita Janji Hati diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Elvira Natali – yang juga berperan sebagai aktris utama dalam film ini. Jalan cerita Janji Hati sendiri sebenarnya berjalan (begitu) sederhana: kisah cinta segitiga antara seorang gadis dengan dua orang pria yang saling bersaudara yang nantinya akan membawa sang gadis pada memori kelamnya di masa lalu. Premis yang sederhana tersebut entah kenapa kemudian harus diramu untuk berpenampilan kompleks oleh penulis naskah Anggi Septianto. Mulai dari dialognya yang berusaha keras (mamaksa?) untuk tampil puitis, konflik cinta antara kedua karakter utama yang sepertinya tidak pernah berujung hingga kehadiran plot tentang kisah bahwa sang karakter utama wanita pernah jatuh cinta dengan kakaknya sendiri – bagian yang tampil hanya sekilas namun tetap akan membuat banyak penonton mengernyitkan dahi mereka.

Arahan dari Otoy Witoyo (Mafia Insyaf, 2010) juga tidak membuat keadaan lebih baik lagi. Naskah cerita Janji Hati yang berbicara dengan bertele-tele dieksekusi dengan ritme penceritaan yang demikian lamban. Jelas tidak akan mengherankan jika dalam durasi penceritaan yang mencapai 114 menit, Janji Hati terasa begitu kosong dengan konflik penceritaan yang esensial. Ending cerita yang dipilih juga terkesan murahan. Berusaha meraih haru dan tangis penonton dengan senjata kematian yang datang tiba-tiba tanpa adanya latar belakang cerita yang kuat. Pada kebanyakan bagiannya, film ini hanya menampilkan dialog antara dua karakter yang saling memandang satu sama lain dalam durasi yang terasa dipanjang-panjangkan. Tampilan gambar yang sepertinya dibuat dengan efek visual a la Instagram juga sama sama sekali tidak membantu. Malah seringkali terasa mengganggu. Seperti berniat untuk menyajikan sebuah film bernada seni a la film-filmnya Terrence Malick namun dengan isi cerita yang terlalu bodoh untuk dapat dianggap serius.

Pengaruh arahan Otoy Witoyo juga tidak terasa kuat pada kemampuan penampilan akting para pemerannya. Tak satupun jajaran pengisi departemen akting film ini tampil dalam kapasitas yang memuaskan. Aliando Syarief mungkin adalah yang “terbaik” diantara mereka – meskipun sering hadir dalam intonasi dialog dan ekspresi wajah yang kelewat datar. Yang lainnya? Banyak diantara para pemeran bahkan terlihat tidak memiliki kemampuan untuk berakting. Elvira Natali terlihat kaku hampir dalam kebanyakan adegan. Dua orang pemeran yang tampil sebagai orangtua karakternya bahkan berlaku seperti robot ketika berdialog. Begitu pula dengan aktor utama lainnya, Guntur Nugraha, dan para pemeran pendukung lain yang hadir dalam porsi penceritaan yang minim.

Janji Hati jelas bukanlah sebuah presentasi yang seburuk 23:59 Sebelum…. Namun, film ini jelas kembali menjadi pembuktian bahwa bakat dan kemampuan memerlukan beberapa waktu untuk dapat benar-benar bersinar. Janji Hati gagal untuk tampil lebih kuat karena film ini masih terasa mentah di banyak bagiannya, entah itu dari sisi penggarapannya maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya. [D]

Janji Hati (2015)

Directed by Otoy Witoyo Produced by Rudi Soedjarwo, Tyas Abiyoga Written by Anggi Septianto, Elvira Natali (screenplay), Elvira Natali (novel, Janji Hati) Starring Elvira Natali, Aliando Syarief, Guntur Nugraha, Irma Tricahyanti, Rano Dimas, Nevy Helma, Hetty Reksoprodjo, Hendro Nugroho, Dina, Vonny Anggraeni, Marsha Lavenia, Mira Dewi Kania, Yohanes Dwi Cipta, Oberta Rahendra, Andriansyah Putra, Mastita Chipa, Satrio Budi Utomo, Adi Brasco, Siska Sandy, Anggi Septianto, Ferdianto, Debby Zulaika, Zullyus Panji, Shendy Pratama, Suryo, Muhammad Ryan Alzikry, Azam, Anastasya Fakandi, Cathy Natafitria Fakandi, Nofrian Saputra, Mizam Fadilah Ananda, Daniel Leona, Nur Akmal Nasrullah Music by Hugo Agoesto Cinematography Arfian Edited by Indra I Rakatiraina, Rano Dimas Production company PT Bumi Prasidhi Bi-Epsi/Integrated Film Solution Running time 114 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Review: Kacaunya Dunia Persilatan (2015)

kacaunya-dunia-persilatan-posterDikenal sebagai seorang penulis naskah untuk film-film Indonesia seperti Sehidup (Tak) Semati (2010), 5 cm (2012) dan Mama Cake (2012), Hilman Mutasi melakukan debut penyutradaraannya melalui film Kacaunya Dunia Persilatan – yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Hilman sendiri. Seperti yang tergambar dari judul film, Kacaunya Dunia Persilatan adalah sebuah film komedi yang mencoba memparodikan beberapa karakter pendekar silat yang terdapat dalam film-film bertemakan martial arts khas Indonesia tersebut yang dahulu sempat popular di layar lebar Indonesia. Apakah Hilman mampu memberikan hiburan bagi penonton di masa sekarang dengan materi parodi yang berasal dari era keemasan dunia film Indonesia di masa lalu?

Well… Sebagai sebuah film yang menandai kali pertama Hilman Mutasi duduk di kursi penyutradaraan, Kacaunya Dunia Persilatan harus diakui memiliki kualitas yang jauh dari kesan mengecewakan. Hilman memiliki kemampuan yang cukup handal dalam mengarahkan para pengisi departemen aktingnya – yang berisi nama-nama seperti Darius Sinathrya, Tora Sudiro, Amink hingga komedian senior seperti Joehana Sutisna dan Iang Darmawan dari kelompok komedi legendaris, Padhyangan Project. Selain itu, sebagai sebuah film komedi yang berkisah tentang dunia persilatan, Kacaunya Dunia Persilatan juga mampu dihadirkan dengan kualitas tata produksi yang meyakinkan. Tidak sampai pada tahapan mewah ataupun epik seperti layaknya Pendekar Tongkat Mas (Ifa Isfansyah, 2014) namun Kacaunya Dunia Persilatan jelas terasa benar-benar tergarap dengan serius.

Permasalahan utama muncul ketika menyinggung Kacaunya Dunia Persilatan sebagai sebuah film komedi. Naskah cerita film yang ditulis Hilman Mutasi sepertinya telah selesai dikerjakan bertahun-tahun lalu dengan kandungan guyonan semacam parodi Arya Wiguna atau Klinik Tong Fang atau Gangnam Style atau Harlem Shake yang jelas tidak akan dapat bekerja (terlalu) efektif ketika ditampilkan saat ini. Guyonan Hilman lainnya juga tidak lebih baik. Begitu mudah ditebak dan seringkali gagal untuk menggarisbawahi unsur komedi dalam film ini. Kehadiran Elly Ermawati dan Fendy Pradana — pemeran Mantili dan Brama Kumbara dalam beberapa seri film Saur Sepuh — yang sepertinya ditujukan sebagai sebuah tribut singkat kepada film-film martial arts Indonesia di akhir film juga kurang (tidak?) mampu bekerja dengan baik karena… welllet’s be frank. No one recognizes them anymore.

Dari departemen akting, Kacaunya Dunia Persilatan didukung dengan penampilan yang cukup memuaskan dari setiap aktor dan aktrisnya. Chemistry yang erat antar setiap pemeran jelas memberikan keunggulan tersendiri bagi kualitas film secara keseluruhan. Sementara itu, Tora Sudiro dan Amink juga mampu tampil mencuri perhatian lewat karakter mereka sebagai Si Buta Dari Gua Buat Elu dan Siluman Antik. Kedua karakter tersebut seringkali diberkahi dengan dialog-dialog komikal yang mampu dieksekusi kedua aktor dengan baik. [C-]

Kacaunya Dunia Persilatan (2015)

Directed by Hilman Mutasi Produced by Helfi Kardit Written by Hilman Mutasi Starring Tora Sudiro, Darius Sinathrya, Amink, Joehana Sutisna, Agung Saga, Vicky Monica, Ery Makmur, Guntur Nugraha, Iang Darmawan, Zahra Jasmine, Elly Ermawati, Fendy Pradana Music by Candil Cinematography Ophie Yophie Edited by Ryan Purwoko Production company SAS Film Running time 98 minutes Country Indonesia Language Indonesian