Tag Archives: Garry Chalk

Review: Power Rangers (2017)

Berawal dari sebuah seri televisi berjudul Mighty Morphin Power Rangers yang tayang perdana di saluran Fox Kids pada tahun 1993, kesuksesan mendunia dari serial tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah film layar lebar berjudul Mighty Morphin Power Rangers: The Movie (Bryan Spicer, 1995) yang diproduksi 20th Fox Century juga dibintangi para bintang serial televisinya. Meskipun mendapatkan kritikan tajam dari banyak kritikus film dunia, Mighty Morphin Power Rangers: The Movie berhasil mendapatkan raihan pendapatan komersial yang tidak mengecewakan. Dua tahun setelah perilisan film pertama, 20th Fox Century merilis Turbo: A Power Rangers Movie yang diarahkan oleh Shuki Levy dan David Winning dengan jalinan cerita yang menjembatani musim keempat dan musim kelima serial televisi Mighty Morphin Power Rangers sekaligus memperkenalkan deretan pemeran yang baru. Sayang, seiring dengan berkurangnya penggemar serial televisi tersebut, Turbo: A Power Rangers Movie juga gagal untuk menyamai kesuksesan film pendahulunya sekaligus menjadi kali terakhir Mighty Morphin Power Rangers diadaptasi ke layar lebar. Continue reading Review: Power Rangers (2017)

Advertisements

Review: Tomorrowland (2015)

tomorrowland-posterLayaknya Mission to Mars (Brian De Palma, 2000), Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (Gore Verbinski, 2003) dan The Haunted Mansion (Rob Minkoff, 2003), Tomorrowland adalah sebuah film yang dikembangkan berdasarkan taman bermain yang dimiliki oleh The Walt Disney Company. Namun, dengan pengarahan yang diberikan oleh Brad Bird (Mission: Impossible – Ghost Protocol, 2011) atas naskah cerita yang digarapnya bersama dengan Damon Lindelof (Prometheus, 2012), Tomorrowland jelas memiliki banyak hal yang ingin disajikan selain untuk menghibur para penontonnya. Benar saja. Bird dan Lindelof mengembangkan Tomorrowland dengan berbagai ide besar tentang kondisi dunia dan umat manusia modern sekaligus menyajikannya dengan tampilan futuristik yang benar-benar mewah. Ide-ide besar Bird dan Lindelof tersebut, sayangnya, tidak selalu mampu diterjemahkan dalam penceritaan yang lancar. Namun, bahkan di momen-momen terlemahnya, Tomorrowland akan tetap mampu menghasilkan rasa kagum atas penggarapan keseluruhannya yang benar-benar apik.

Jalan cerita Tomorrowland sendiri berkisah tentang dua orang jenius yang berasal dari dua era dan kepribadian yang berbeda, seorang pria paruh baya bernama Frank Walker (George Clooney) yang hidup dengan kesinisannya dalam memandang masa depan dunia serta seorang remaja bernama Casey Newton (Britt Robertson) yang selalu optimis bahwa dunia dapat diubah menjadi sebuah tempat tinggal yang lebih baik terlepas dari berbagai kekurangannya. Keduanya lantas dipertemukan oleh seorang gadis misterius bernama Athena (Raffey Cassidy) yang berniat untuk mempersatukan kecerdasan yang dimiliki keduanya untuk melakukan sebuah misi rahasia yang dapat mencegah kehancuran dunia. Meskipun awalnya skeptis dengan apa yang disampaikan Athena, Frank dan Casey akhirnya mampu mengesampingkan perbedaan mereka dan akhirnya saling bekerjasama dalam menjalankan misi tersebut.

Terdengar sebagai sebuah plot film petualangan bernuansa fiksi ilmiah yang begitu generik? Jangan khawatir. Lebih sedikit yang Anda ketahui tentang apa yang akan disajikan Bird dan Lindelof dalam Tomorrowland, lebih besar kemungkinan Anda akan merasa kagum akan pencapaian yang diberikan keduanya untuk film ini. Jalan cerita Tomorrowland sendiri sepertinya begitu diinspirasi oleh sebuah legenda kaum Indian Cherokee tentang pertarungan antara dua ekor serigala – satu ekor serigala yang hidup dengan pesimisme, amarah, ego dan penderitaan serta seekor serigala lainnya yang hidup dengan optimisme, cinta, damai dan pengharapan. Bird dan Lindelof kemudian membangun Tomorrowland sebagai sebuah persembahan kepada sang serigala yang hidup dengan segala optimisme-nya. Tomorrowland lantas dikemas sebagai sebuah film yang cerdas, penuh dengan ironi tentang permasalahan kehidupan sosial modern – dan terasa berusaha untuk memberikan sugesti bahwa segala permasalahan tersebut dapat diatasi jika manusia mau melakukannya – namun disampaikan dengan jelas dan, tentu saja, kehangatan khas film-film keluarga buatan Walt Disney Pictures.

Hasrat pencapaian tinggi dalam penceritaan Bird dan Lindelof sendiri tidak lantas berjalan dengan sangat lancar. Adalah sangat jelas terasa pada beberapa bagian film Bird terlihat kebingungan untuk mengembangkan dengan seksama ide-ide besar yang diemban naskah ceritanya. Hal inilah yang membuat Tomorrowland sempat beberapa kali terasa gagal untuk berpadu antara beberapa adegannya – dan begitu dapat dirasakan pada paruh kedua serta awal paruh ketiga film. Kehadiran karakter antagonis yang tidak benar-benar antagonis juga sepertinya membuat Tomorrowland terkesan kekurangan amunisi penceritaannya. Dengan tatanan kisah yang berisi sebuah pembahasan futuristik yang kompleks dan eksekusi yang begitu modern adalah cukup mengherankan jika kemudian Bird dan Lindelof memilih untuk menghadirkan sosok antagonis yang well… terlalu lembut karakteristiknya. Mungkin keduanya berniat untuk tetap menjaga Tomorrowland sebagai sebuah sajian yang dapat disaksikan seluruh keluarga namun kehadiran beberapa adegan kekerasan dalam jalan cerita film ini jelas berkata bahwa Bird memang meniatkan filmnya menjadi sebuah film fiksi ilmiah dengan bumbu petualangan dan aksi yang cukup tegas.

Terlepas dari beberapa kelemahannya, Tomorrowland tetap mampu membuktikan bahwa Bird merupakan salah seorang sutradara tercerdas yang dimiliki oleh Hollywood saat ini. Pengarahannya terhadap jalan cerita berjalan cukup efektif. Begitu pula dengan visi yang ia miliki tentang tema futuristik yang dibawakan Tomorrowland. Bird mampu merangkai desain produksi yang benar-benar mengagumkan yang akan sanggup membuat para penontonnya merasa seperti anak-anak yang baru pertama kali menyaksikan hal-hal berbau masa depan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Sinematografer Life of Pi (Ang Lee, 2012) memberikan kontribusi yang luar biasa atas visi Bird futuristik tersebut. Deretan gambar-gambar indah Miranda dalam Tomorrowland adalah salah satu alasan mengapa film ini mampu tampil begitu spektakuler. Rangkaian tata musik arahan Michael Giacchino juga bekerja dengan baik dalam mengisi setiap adegan dengan energi yang mengalir kuat dan emosional.

Tidak lupa, Tomorrowland juga didukung oleh penampilan apik para pengisi departemen aktingnya. Ketiga pemeran utamanya, George Clooney, Britt Robertson dan Raffey Cassidy mampu tampil dengan tanpa cela dalam menghidupkan karakter-karakter yang mereka perankan. Clooney adalah salah seorang aktor paling berbakat pada generasinya namun catatan khusus jelas layak disematkan pada Robertson dan Cassidy. Robertson mampu membawa energi tersendiri pada setiap kehadirannya dalam setiap adegan. Seperti halnya Shailene Woodley yang mendampingi Clooney dalam The Descendants (Alexander Payne, 2011), Robertson kemungkinan besar akan menjadi aktris muda dengan karir yang besar dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Cassidy sendiri berhasil mencuri perhatian dengan penampilannya. Chemistry-nya dengan Clooney juga begitu erat dan mampu memberikan hantaman emosional yang cukup mendalam pada salah satu adegan di akhir film. Kualitas departemen akting yang solid untuk mendukung sebuah film yang tidak sempurna namun sangat cerdas untuk mampu memprovokasi jalan pemikiran setiap penontonnya dengan apa yang disajikan dalam jalan ceritanya. And these days, that’s definitely something worth cheering about. [B]

Tomorrowland (2015)

Directed by Brad Bird Produced by Brad Bird, Damon Lindelof, Jeffrey Chernov Written by Damon Lindelof, Brad Bird (screenplay), Damon Lindelof, Brad Bird, Jeff Jensen (story) Starring George Clooney, Hugh Laurie, Britt Robertson, Raffey Cassidy, Tim McGraw, Kathryn Hahn, Keegan-Michael Key, Chris Baur, Pierce Gagnon, Matthew Maccaull, Judy Greer, Garry Chalk, Thomas Robinson Music by Michael Giacchino Cinematography Claudio Miranda Editing by Walter Murch Studio Walt Disney Pictures Running time 130 minutes Country United States Language English