Tag Archives: Frank Deal

Review: Non-Stop (2014)

Non-Stop (Universal Pictures/StudioCanal/Silver Pictures/Anton Capital Entertainment/LOVEFiLM International, 2014)
Non-Stop (Universal Pictures/StudioCanal/Silver Pictures/Anton Capital Entertainment/LOVEFiLM International, 2014)

Sama seperti halnya dengan nama Meryl Streep yang justru mulai menjadi jaminan kesuksesan komersial sebuah film ketika ia menginjak usia 57 tahun setelah membintangi The Devil Wears Prada (2006), transformasi karir Liam Neeson menjadi seorang bintang film aksi dimulai setelah ia membintangi Taken (2008) tepat ketika ia berusia 52 tahun. Setelah itu, Neeson tercatat menjadi bintang utama bagi film-film aksi seperti The A-Team (2010), Unknown (2011), The Grey (2012) serta sekuel bagi Taken, Taken 2 (2012), yang meskipun tidak seluruhnya meraih pujian dari kritikus film dunia namun terus berhasil menarik minat penonton sekaligus semakin memperkuat citra Neeson sebagai seorang aktor laga yang dapat dihandalkan. Kharisma Neeson yang kuat, dingin dan begitu mengintimidasi bahkan mampu melebihi daya tarik yang dihasilkan nama-nama aktor spesialis laga seperti Arnold Schwarzenegger dan Sylvester Stallone dalam film-film teranyar mereka.

Continue reading Review: Non-Stop (2014)

Advertisements

Review: The Bay (2012)

the-bay-header

Dengan deretan film-film klasik yang difavoritkan oleh banyak kritikus film dunia seperti Good Morning, Vietnam (1987), Rain Man (1988) – yang memenangkan kategori Best Picture dan Best Director di ajang The 61st Annual Academy Awards, Bugsy (1991) dan Wag the Dog (1997) berada di dalam daftar filmografinya, cukup sulit untuk dapat membayangkan bahwa sutradara Barry Levinson kemudian bekerjasama dengan produser film-film horor seperti Paranormal Activity (2007) dan Insidious (2011), Oren Peli dan Jason Blum, untuk memproduksi film layar lebar perdananya semenjak merilis What Just Happened (2008). Layaknya dua film horor yang diproduseri Peli dan Blum tersebut, The Bay juga merupakan sebuah film horor yang menggunakan teknik found footage untuk mempresentasikan jalan ceritanya. Namun, tentu saja, keberadaan Levinson mampu membuat The Bay tampil berbeda dengan kebanyakan film-film sejenis yang banyak dirilis oleh Hollywood dalam beberapa tahun belakangan ini.

Continue reading Review: The Bay (2012)