Tag Archives: Foxcatcher

Review: Foxcatcher (2014)

foxcather-posterMereka yang telah mengenal deretan film yang diarahkan oleh Bennett Miller seperti Capote (2005) dan Moneyball (2011) jelas telah familiar dengan teknik pengarahan Miller yang begitu mendalam ketika menggarap detil sebuah penceritaan, menyelami setiap sisi pemikiran karakter-karakternya namun tidak pernah membiarkan sisi emosional dari setiap plot cerita maupun karakter yang ia gali untuk hadir meluap dalam setiap adegan filmnya. Teknik eksekusi penceritaan itulah yang kembali dihadirkan Miller dalam Foxcatcher – sebuah kisah, yang seperti halnya Capote dan Moneyball, juga terinspirasi dari sebuah kejadian nyata.

Dengan naskah cerita yang digarap oleh E. Max Frye (Something Wild, 1986) dan Dan Futterman (Capote), Foxcatcher berkisah mengenai perjuangan dua orang pria dalam mempertahankan harga diri mereka: satu diantaranya berusaha keras untuk mengesankan sang ibu yang sepertinya selalu gagal untuk menghargai apapun yang ia lakukan sementara satu pria lainnya berusaha untuk keluar dari bayang-bayang kesuksesan sang kakak yang selalu menghantui kehidupannya. Tentu saja, premis tersebut adalah sebuah gambaran (terlalu) sederhana dari naskah arahan Frye dan Futterman yang sebenarnya begitu kompleks dan mengandung banyak lapisan kisah. Lebih dari itu, naskah cerita Foxcatcher dengan lihai menyinggung berbagai permasalahan sosial masyarakat modern dalam interaksi para karakternya: mulai dari perbedaan kelas, keserakahan, eksploitasi mimpi, kecemburuan sosial hingga ambisi yang seringkali menggelapkan mata orang yang memilikinya. Mungkin bukanlah deretan tema yang dapat dilihat secara kasat mata namun jelas tertanam kuat dalam penceritaan Foxcatcher.

Foxcatcher juga merupakan sebuah pembelajaran karakter yang kuat. Hadir dengan tempo penceritaan yang cenderung lamban, Miller memaparkan motif, aksi serta jalan pemikiran setiap karakternya dengan begitu seksama. Setiap karakter dibuat sedemikian kuat agar mampu tampil menonjol dan saling mempengaruhi satu sama lain. Penggambaran karakter yang begitu reaktif inilah yang berhasil membawa kereta penceritaan Foxcatcher untuk dapat terus berjalan lugas meskipun tanpa pernah datang dengan konflik maupun emosi yang begitu berapi-api. Dingin namun mampu dengan tegas secara perlahan menusuk perhatian para penontonnya.

Sebagai sebuah film yang mengedepankan pembelajaran karakter dalam alur kisahnya, Foxcatcher jelas menumpukan kualitas utamanya dari penampilan para pengisi departemen aktingnya. Kebrilianan Miller sekali lagi hadir lewat kemampuannya untuk memilih para aktor maupun aktris yang tepat sekaligus memandu mereka untuk menghidupkan setiap karakter yang ada dalam penceritaan Foxcatcher. Tiga aktor utamanya, Steve Carell, Channing Tatum dan Mark Ruffalo tampil dengan kekuatan penampilan yang begitu mengagumkan. Sebagai sosok John Eleuthère du Pont, Carell mampu menyajikan satu karakter dengan jiwa yang begitu kosong dalam setiap perbuatannya. Carell mampu menampilkan sosok penyendiri yang berusaha begitu kuat untuk mengesankan setiap orang yang ada di sekitarnya sekaligus terasa memendam kebencian serta menyalahkan dunia sekitarnya atas kondisi jiwa yang ia rasakan saat itu. Kompleks dan mampu dieksekusi dengan cerdas oleh Carell.

Karakter Mark Schultz yang diperankan Tatum – yang tampil dengan penampilan terbaiknya di dunia film hingga saat ini – juga kurang lebih menjadi refleksi bagi karakter John Eleuthère du Pont. Keduanya adalah sosok yang merasa bahwa mereka butuh untuk membuktikan keberadaan mereka di dunia. Dan chemistry yang tercipta ketika kedua karakter ini bersama dan saling mendukung satu sama lain dalam caranya masing-masing mampu dihadirkan dengan begitu meyakinkan. Dingin… dan seringkali terasa menakutkan. Walaupun hadir dalam porsi penceritaan karakter pendukung, karakter Dave Schultz yang diperankan Ruffalo jelas menjadi antitesis sendiri bagi karakter John Eleuthère du Pont dan Mark Schultz. Penampilan Ruffalo yang begitu hangat dan bersahabat jelas menjadi lawan tersendiri bagi penampilan dingin dan begitu gloomy dari Carell dan Tatum. Ketiga penampilan inilah yang kemudian berpadu dan menciptakan kedinamisan akting yang sempurna bagi Foxcatcher. Tidak lupa, dukungan penampilan dari Vanessa Redgrave dan Sienna Miller turut menambah kekuatan kualitas departemen akting Foxcatcher.

Meskipun sebuah sajian yang tidak dapat dibantah kecerdasannya, seperti layaknya Capote dan Moneyball, pendekatan Miller yang begitu dingin pada Foxcatcher jelas akan memberikan ruang yang cukup besar bagi banyak penonton untuk dapat menikmati film ini dengan lebih nyaman. Namun, meskipun perlahan, ketika Foxcatcher berhasil menangkap perhatian Anda, film ini akan memberikan sebuah pengalaman penceritaan yang begitu kuat lewat penampilan mengagumkan dari para pengisi departemen akting film, tata produksi yang hadir hampir tanpa cela serta kemampuan penceritaan Miller yang lugas dalam menggarap setiap detil sisi kisah yang ingin ia sampaikan. [B]

Foxcatcher (2014)

Directed by Bennett Miller Produced by Bennett Miller, Megan Ellison, Jon Kilik, Anthony Bregman Written by E. Max Frye, Dan Futterman Starring Steve Carell, Channing Tatum, Mark Ruffalo, Vanessa Redgrave, Sienna Miller, Anthony Michael Hall, Guy Boyd, Brett Rice, Samara Lee, Jackson Frazer, Jane Mowder, Daniel Hilt, Lee Perkins, David Bennett Music by Rob Simonsen, West Dylan Thordson Cinematography Greig Fraser Edited by Stuart Levy, Conor O’Neill, Jay Cassidy Production company Annapurna Pictures/Likely Story Running time 134 minutes Country United States Language English

The 87th Annual Academy Awards Nominations List

The nominations are in! Dan hasilnya… film arahan Alejandro González Iñárritu, ‘Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)’ dan film arahan Wes Anderson, ‘The Grand Budapest Hotel’, sama-sama memimpin daftar nominasi The 87th Annual Academy Awards dengan meraih sembilan nominasi. Keduanya akan bersaing dalam memperebutkan gelar Best Picture bersama dengan American Sniper, Boyhood, The Imitation Game, Selma, The Theory of Everything dan Whiplash. Raihan sembilan nominasi yang diraih Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) dan The Grand Budapest Hotel diikuti oleh The Imitation Game yang meraih delapan nominasi serta American Sniper dan Boyhood yang masing-masing meraih enam nominasi.

Continue reading The 87th Annual Academy Awards Nominations List

2014’s 10… And More!

Yes. It’s that time. Again. Sebelum melangkah maju dan menikmati deretan film yang disuguhkan oleh tahun 2015, At the Movies akan menghadirkan daftar kumpulan film-film paling mengesankan yang telah dirilis selama tahun 2014 lalu – Ya, At the Movies memang mengalami hiatus dalam penulisan review pada hampir sepanjang tahun lalu namun bukan berarti sama sekali tidak menyaksikan film-film yang dirilis. Beberapa film mampu meninggalkan kesan yang cukup mendalam meskipun, harus diakui, banyak juga yang ternyata juga memberikan rasa kecewa seusai menyaksikannya.

Anyway… sebelum mengungkap sepuluh film terbaik pilihan At the Movies, mari melihat beberapa film yang… well… hampir mendekati kualitas sepuluh film terbaik pilihan terakhir At the Movies.

2014-highlights-02HOME FACTORY

Sejujurnya, adalah sangat sulit untuk mendapatkan kesan yang sangat mendalam dari film Indonesia ketika Anda telah menyaksikan film-film seperti Sang Penari (2011), What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013), Hari Ini Pasti Menang (2013) atau Lovely Man (2012) yang mampu meninggalkan kesan begitu mendalam bahkan jauh setelah Anda menyaksikan film-film tersebut. Namun beberapa film Indonesia berhasil berusaha begitu keras dalam memberikan persembahan terbaik bagi para penontonnya.

Jika ada film Indonesia yang paling berkesan di sepanjang tahun 2014 lalu, Selamat Pagi, Malam arahan Lucky Kuswandi mungkin adalah salah satu film yang paling banyak muncul di ingatan para penikmat film Indonesia. Sebuah bentuk surat cinta kepada kota Jakarta (pada waktu malam, tentu saja), Selamat Pagi, Malam terasa begitu nakal dalam menghadirkan guliran drama dan komedinya. Nakal, namun juga sangat cerdas. 2014 juga menjadi tahun ketika nama Chicco Jerikho “naik kelas” menjadi seorang aktor layar lebar yang paling dapat diandalkan. He’s sure on his way up to catching up with the likes of Reza Rahardian or Lukman Sardi. Film yang melambungkan namanya? Cahaya dari Timur: Beta Maluku arahan Angga Dwimas Sasongko yang berhasil terpilih sebagai Film Terbaik sekaligus Pemeran Utama Pria Terbaik bagi Chicco di ajang Festival Film Indonesia 2014 lalu – well-deserved, by the way. Chicco juga membintangi film drama komedi keluarga arahan Ari Sihasale, Seputih Cinta Melati, yang meskipun hadir dengan kualitas menengah namun tetap hadir dengan penampilan prima dari seorang Chicco Jerikho.

What else? Oh. Soraya Intercine Films memutuskan bahwa 165 menit durasi awal dari Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013) masih belum cukup untuk memuaskan para penggemarnya untuk kemudian merilis versi extended dari film tersebut dengan durasi sepanjang 210 menit (!) pada September 2014. Untunglah versi extended dari film yang telah ditonton oleh hampir sebanyak dua juta penonton tersebut juga disertai beberapa perbaikan, mulai dari pewarnaan yang lebih cerah dan baik serta pengurangan hadirnya lagu-lagu Nidji dalam banyak adegan film tersebut. Phew. Dian Sastrowardoyo kembali hadir di layar lebar Indonesia lewat film drama komedi arahan Fajar Nugros, 7/24, yang cukup menghibur. Sementara itu, lawan main Dian Sastrowardoyo dalam Ada Apa Dengan Cinta? (2001), Nicholas Saputra, hadir dalam film epik Pendekar Tongkat Emas arahan Ifa Isfansyah yang juga sangat efektif sebagai sebuah film laga – meskipun akan banyak yang mengeluhkan kedangkalan penulisan naskahnya. Dari awal tahun 2014, 12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya mampu membuktikan bahwa Hanny R. Saputra juga memiliki talenta pengarahan yang cukup mengesankan di luar film-film drama romansa remaja yang begitu mempopulerkan namanya. Last, but not least for sure, sinema Indonesia juga dianugerahi oleh Tabula Rasa yang menjadi debutan Adrianto Dewo namun begitu mampu mengeksplorasi dunia kuliner tradisional negeri ini serta Killers yang, sesuai namanya, tampil penuh darah dan digadangkan menjadi film terakhir bagi duo sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel dalam bendera The Mo Brothers.

2014-highlights-01CLOSE CALLS

Memilih sepuluh film terbaik dari banyak film yang dirilis dari sepanjang tahun lalu jelas merupakan sebuah tugas yang tidak mudah. These movies are just THIS CLOSE to made the final ten list.

Bagian paling menyenangkan dari film-film musim panas tahun ini? Banyak diantara film-film blockbuster tersebut yang mampu digarap dengan sangat, sangat baik – dalam artian tidak hanya mementingkan faktor production value atau sekedar ledakan-ledakan belaka. Oukay. Michael Bay masih sempat hadir dengan Transformers: The Age of Extinction (ugh!). Namun terlepas dari itu, film-film seperti Guardians of the Galaxy (James Gunn) dan Dawn of the Planet of the Apes (Matt Reeves) tampil sebagai dua dari beberapa film blockbuster yang tampil begitu istimewa baik dari penggarapan cerita maupun pemolesan kualitas produksinya. Walaupun secara komersial pendapatannya tidak semegah pendahulunya, namun sekuel The Raid (2012), The Raid 2: Berandal, garapan Gareth Evans mampu tampil dengan kualitas yang lebih baik. Walt Disney Animation Studio tahun ini kembali menunjukkan tajinya melalui Big Hero 6 (Don Hall, Chris Williams) yang sangat, sangat menyenangkan – dan memberikan karakter Baymax yang begitu sangat mudah dicintai dan digilai penonton. Di penghujung tahun, film keluarga Paddington (Paul King) secara tidak terduga mampu tampil begitu apik dan sangat menghibur lewat ke-Inggris-annya.

Beberapa film mampu tampil mencuat lewat penampilan para aktor maupun aktris yang berperan di dalamnya. Duo komedian jebolan Saturday Night Live, Kristen Wigg dan Bill Hader tampil dengan kemampuan drama yang begitu mengesankan lewat The Skeleton Twins yang minimalis namun akan mampu menggerakkan sisi emosional para penontonnya dengan maksimal. Komedian lainnya, Steve Carrell, tampil brilian lewat Foxcatcher. Film arahan Bennett Miller tersebut juga menghadirkan penampilan prima (dan cukup mengejutkan) dari Channing Tatum serta Mark Ruffalo. Juga memberikan performa drama yang kuat – dan merupakan salah satu penampilan terbaik di sepanjang tahun ini – adalah Robert Pattinson dalam The Rover. Marion Cotillard tampil dengan kekuatan akting yang sangat memikat lewat dua film, Two Days, One Night arahan Luc Dardenne dan Jean-Pierre Dardenne serta The Immigrant (James Gray) bersama Joaquin Phoenix dan Jeremy Renner.

THE TEN

wild-poster10. Wild (Jean-Marc Vallée, Fox Searchlight Pictures/Pacific Standard/River Road Entertainment, 2014)

Menyusul kesuksesan Dallas Buyers Club (2013) yang berhasil meraih nominasi Best Picture di ajang The 86th Annual Academy Awards sekaligus memenangkan kategori Best Actor in a Leading Role untuk Matthew McConaughey dan Best Actor in a Supporting Role untuk Jared Leto dari ajang penghargaan yang sama, Jean-Marc Vallée mengarahkan Wild yang diadaptasi dari autobiografi karya Cheryl Strayed yang berjudul Wild: From Lost to Found on the Pacific Crest Trail. And it’swellwildly good! Harus diakui, Wild menawarkan formula yang telah banyak ditawarkan Hollywood sebelumnya: tentang seorang karakter yang dalam rangka menghilangkan kepedihan hatinya lalu melakukan sebuah perjalanan ke alam liar, melalui begitu banyak tantangan namun kemudian mendapati bahwa dirinya menjadi sosok yang lebih kuat dan bijaksana di akhir perjalanan. Namun tetap saja, pengarahan Vallée begitu efektif dalam merangkai perjalanan hidup karakter filmnya dengan tidak pernah menjadikannya sebagai sosok yang melodramatis. Terlihat dan terasa begitu nyata. Tidak lupa, Reese Witherspoon turut ambil adil dalam kesuksesan kualitas Wild dengan menghadirkan penampilan akting yang menjadi penampilan akting terbaik di sepanjang karirnya.

edge-of-tomorrow-poster09. Edge of Tomorrow (Doug Liman, Village Roadshow/RatPac-Dune Entertainment/3 Arts Entertainment/Viz Productions, 2014)

Edge of Tomorrow, ladies and gentlemen, adalah blockbuster yang layak diterima oleh setiap pecinta film dunia dan sangat patut dilestarikan keberadaannya. Diadaptasi dari novel grafis berjudul All You Need is Kill karya Hiroshi Sakurazaka, Edge of Tomorrow sekali lagi memamerkan keahlian Doug Liman dalam menggarap sebuah film aksi yang tidak kacangan. Sentuhan humor dalam dialog yang dihadirkan oleh trio penulis naskah, Christopher McQuarrie, Jez Butterworth dan John-Henry Butterworth, juga membantu Edge of Tomorrow menjadi sebuah sajian yang tidak akan mudah dilupakan penontonnya. Oh. Dan tentu saja penampilan duo Tom Cruise dan Emily Blunt yang hadir dengan chemistry yang luar biasa meyakinkan semakin menambah kedinamisan kualitas film ini.

boyhood-poster08. Boyhood (Richard Linklater, IFC Films, 2014)

Film ini dibuat dalam rentang waktu 12 tahun! Bukan! Bukan hal tersebut yang menjadikan Boyhood menjadi sebuah sajian yang (sangat) istimewa. Adalah konsistensi Richard Linklater dalam kurun waktu tersebut untuk menghasilkan jalan cerita yang kuat, dinamis sekaligus mengeluarkan kemampuan akting terbaik dari para pemerannya yang membuat film ini terasa begitu lancar berbicara di sepanjang 165 menit durasi perjalanannya. Menyaksikan Boyhood serasa menyaksikan kembali berbagai kilasan-kilasan hidup dan Linklater mampu membuatnya terasa begitu personal untuk setiap penontonnya. Tidak lupa, kecerdasan Linklater dalam memberikan penanda waktu bagi adegan-adegan filmnya dengan menghadirkan deretan lagu maupun benda-benda ikonik di tahun tersebut juga menjadi salah satu kunci mengapa Boyhood tetap terasa unik dalam jalinan kisah yang telah begitu terasa familiar.

begin-again-poster07. Begin Again (John Carney, Sycamore Pictures/Exclusive Media/Likely Story/Apatow Productions, 2014)

Pertama kali diputar di ajang Toronto International Film Festival pada akhir tahun 2013 dengan judul Can a Song Save Your Life?, Begin Again kemudian dirilis pada pertengahan tahun 2014 dengan kisah yang mungkin akan mengingatkan banyak orang dengan film musikal arahan John Carney sebelumnya, Once (2007), namun dengan pengarahan Carney yang jauh, jauh lebih matang. Lebih lancarnya pengarahan Carney tersebut sangat terasa pada kemampuannya dalam mengalirkan jalan cerita, kualitas tata produksi yang begitu memikat – dan akan membuat Anda jatuh cinta dengan kota New York – serta, tentu saja, dukungan deretan lagu-lagu indie pop yang akan bertahan jauh lebih lama di kepala setiap penonton film ini. Tidak lupa, kehadiran penampilan akting yang apik dari Keira Knightley, Mark Ruffalo, Adam Levine, Hailee Steinfeld dan Catherine Keener juga membuat Begin Again terasa begitu renyah untuk dinikmati berulang kali.

the-babadook-poster06. The Babadook (Jennifer Kent, Causeway Films, 2014)

Fenomena paling aneh dalam dunia film: meskipun genre horor seringkali menghasilkan deretan karya yang begitu mudah terlupakan (jika tidak ingin disebut sangat buruk) namun genre ini secara mengejutkan juga seringkali menghasilkan satu atau dua atau beberapa film yang sangat, sangat mengesankan kualitas penggarapannya. Tahun ini, penghargaan film horor terbaik layak disematkan pada film indie asal Australia, The Babadook. Merupakan debut film (!) dari seorang sutradara wanita (!!), Jennifer Kent, The Babadook dengan lihai menggarap detik demi detik kejatuhan dari karakternya ketika menghadapi teror psikologis yang ia hadapi. Kent menampilkan kisahnya dengan begitu kuat sehingga penonton akan mampu turut terseret dalam teror yang luar biasa menakutkan tersebut. Akting prima dari dua pemeran utamanya, Essie Davis dan Noah Wiseman yang berperan sebagai pasangan ibu dan anak, juga menjadi kunci utama mengapa The Babadook tampil penuh kejutan tanpa perlu memaksakan filmnya untuk terlihat menjadi sebuah film horor.

nightcrawler-poster05. Nightcrawler (Dan Gilroy, Bold Films, 2014)

Nightcrawler jelas adalah tamparan sangat keras yang diberikan oleh Dan Gilroy pada (kebanyakan) media di era modern ini: bahwa media dan jurnalis saat ini seringkali tidak mengindahkan rasa kemanusiaan maupun etika ketika peliputan berita demi mengejar rating maupun keuntungan komersial pribadi. Tamparan tersebut dihadirkan Gilroy lewat karakter Lou Bloom yang diperankan oleh Jake Gyllenhaal. Karakter Lou Bloom adalah sebuah cerminan setiap hal yang salah pada kebanyakan jurnalis saat ini. Begitu gelap dan begitu menakutkan – sebuah karakter antagonis paling kuat semenjak Anton Chigurh yang diperankan Javier Bardem dalam No Country for Old Men (2007). Gyllenhaal dengan sempurna memainkan perannya sekaligus mendapatkan dukungan yang tak kalah kuat dari pemeran lain seperti Rene Russo dan Riz Ahmed. Nightcrawler bukanlah sekedar film. Nightcrawler adalah sebuah cerminan dari pergerakan kelam media massa sekarang. So powerful!

gone-girl-poster04. Gone Girl (David Fincher, Regency Enterprises/Pacific Standard, 2014)

David Fincher and Gillian Flynn’s Gone Girl sure is a match made in thriller heaven! Dengan deretan filmografinya yang berisi film-film crime thriller seperti Seven (1995) dan Zodiac (2007) rasanya tidaklah mengherankan untuk melihat Fincher jatuh hati dan untuk kemudian menggarap Gone Girl. Hasilnya, seperti yang dapat diharapkan, Gone Girl tampil dengan penuh kejutan meskipun dengan racikan khas Fincher yang mungkin telah terasa cukup familiar bagi para penontonnya. Sebuah kegemilangan dalam menggambarkan pernikahan yang berjalan kelam – plus, layaknya Nightcrawler, juga gambaran betapa getirnya media massa di era modern. Dukungan kualitas Gone Girl juga hadir dari kemampuan Fincher untuk mendapatkan jajaran pemeran terbaik untuk menghidupkan setiap karakter yang hadir dalam filmnya. Mulai dari Ben Affleck, Rosamund Pike, Carrie Coon, Kim Dickens hingga Tyler Perry dan Neil Patrick Harris tampil dengan gemilang dalam film ini. Kolaborator tetap Fincher, editor film Kirk Baxter dan duo pengarah musik Trent Reznor dan Atticus Ross sekali lagi turut memberikan kemampuan terbaik mereka dalam membungkus Gone Girl menjadi salah satu sajian terbaik di sepanjang tahun 2014 lalu.

Her-poster03. Her (Spike Jonze, Annapurna Pictures, 2013)

Apakah jenius adalah sebuah kata untuk menggambarkan sebuah bentuk emosi? Jika benar maka Spike Jonze adalah salah satu dari segelintir orang yang mampu menginterpretasikan kata tersebut dengan begitu sempurna. Her tidak hanya mampu membuktikan kecerdasan serta keberanian Jonze dalam mengeksplorasi tema-tema yang mungkin masih belum dapat disimpulkan oleh banyak orang. Film ini juga mampu menunjukkan betapa Jonze adalah seorang sosok pencerita yang begitu baik. Setiap detil cerita baik dari sisi pengisahaan, karakter maupun emosional mampu tergarap dengan sangat baik. Dukungan penampilan akting dari jajaran pemeran filmnya, khususnya Joaquin Phoenix dan Scarlett Johansson yang hadir dengan chemistry dalam kuantitas maksimal, sekaligus tata produksi yang apik mampu menjadikan Her tidak hanya unik namun juga cerdas sekaligus emosional. Sebuah presentasi cerita yang akan membekas di memori banyak orang jauh selepas mereka menyaksikannya. Cerdas!

grand-budapest-hotel-poster02. The Grand Budapest Hotel (Wes Anderson, American Empirical Pictures/Indian Paintbrush/Babelsberg Studio, 2014)

Karya teranyar Wes Anderson, The Grand Budapest Hotel, jelas merupakan filmnya yang paling mudah diakses kalangan luas semenjak Fantastic Mr. Fox (2009). Jangan salah! The Grand Budapest Hotel masihlah sebuah karya Anderson sejati dengan kandungan kelembutan dan melankolis yang telah menjadi ciri khas sutradara tersebut. The Grand Budapest Hotel juuga merupakan sebuah karya yang sangat memanjakan mata, tergarap dengan kualitas produksi yang indah sekaligus penampilan akting yang sangat kuat dari para pengisi departemen akting film – yang dipimpin oleh penampilan Ralph Fiennes yang begitu sempurna. Tidak lupa, arahan musik Alexandre Desplat yang unik turut menjadikan The Grand Budapest Hotel sebagai sebuah kunjungan yang tidak akan dilupakan setiap penontonnya begitu saja.

birdman-poster01. Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) (Alejandro González Iñárritu, Regency Enterprises/Worldview Entertainment, 2014)

Setelah Amores Perros (2000), 21 Grams (2003), Babel (2006) dan Biutiful (2010) yang begitu kelam, Alejandro González Iñárritu kini hadir dengan sebuah film komedi. Well… meskipun Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) merupakan komedi, namun Iñárritu tetap mampu menghadirkan sebagai sebuah film black comedy yang memiliki seluruh ciri khas penceritaannya. And it’s so fresh! Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) adalah sebuah fenomena langka dari Hollywood dimana sebuah ide segar/gila/cerdas mampu dikemas dan diarahkan dengan sangat, sangat baik. Iñárritu jelas tahu pasti apa yang hendak ia hantarkan kepada para penontonnya melalui film ini. Karenanya, ia berhasil mendapatkan sekumpulan tim berkualitas tinggi yang mampu mendukung seluruh visinya: mulai dari sinematografer Emmanuel Lubezki yang sekali lagi memberikan karya sinematografi yang begitu brilian, komposer Antonio Sánchez dengan hantaran musik yang begitu unik dan menjadi nyawa bagi setiap adegan dalam film ini serta dukungan solid para pengisi departemen akting film ini mulai dari Michael Keaton, Edward Norton, Emma Stone, Naomi Watts, Zach Galifianakis, Andrea Riseborough dan Amy Ryan. Berpadu sempurna untuk menjadikan Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) sebagai sebuah film yang begitu menghibur sekaligus akan tinggal lama di benak para penontonnya. Bravo!

RECAP

  1. Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)
  2. The Grand Budapest Hotel
  3. Her
  4. Gone Girl
  5. Nightcrawler
  6. The Babadook
  7. Begin Again
  8. Boyhood
  9. Edge of Tomorrow
  10. Wild

Honorable mentions: Big Hero 6, Dawn of the Planet of the Apes, Foxcatcher, Guardians of the Galaxy, The Immigrant, Paddington, The Raid 2: Berandal, The Rover, The Skeleton Twins, Two Days, One Night.