Tag Archives: Firman Ferdiansyah

Review: Dear Nathan Hello Salma (2018)

Lebih dari setahun semenjak perilisan Dear Nathan (Indra Gunawan, 2017) yang menandai kali pertama keduanya berpasangan dalam sebuah film – dan dalam perjalanan masa yang cukup singkat tersebut, percaya atau tidak, keduanya kemudian tampil bersama dalam lima film lainnya – Jefri Nichol dan Amanda Rawles kembali memerankan karakter pasangan muda Nathan dan Salma dalam film yang menjadi sekuel bagi Dear Nathan, Dear Nathan Hello Salma. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Bagus Bramanti (Kartini, 2017) berdasarkan buku Hello Salma karangan Erisca Febriani, Dear Nathan Hello Salma, tentu saja, masih memberikan fokus ceritanya pada perjalanan hubungan asmara yang terjalin antara dua karakter utamanya. Namun, selayaknya sebuah sekuel, film ini kemudian turut berusaha untuk menghadirkan cakupan wilayah penceritaan yang lebih besar daripada hubungan romansa antara karakter Nathan dan Salma dengan menggariskan karakter-karakter baru yang turut membawa barisan konflik baru pada kehidupan kedua karakter utama. Continue reading Review: Dear Nathan Hello Salma (2018)

Advertisements

Review: Kapan Kawin? (2015)

kapan-kawin-posterMeskipun lebih dikenal sebagai sosok aktor dramatis yang selalu mampu untuk menghidupkan setiap karakter yang ia perankan, Reza Rahadian sebenarnya juga memiliki kemampuan yang sama mengagumkannya ketika ia berperan dalam film-film bernuansa komedi. Seperti yang ia tampilkan dalam film-film seperti Test Pack: You Are My Baby (Monty Tiwa, 2012), Finding Srimulat (Charles Ghozali) dan Strawberry Surprise (Hanny R. Saputra, 2014), Reza hadir dengan penampilan akting yang begitu santai dan jauh dari kesan kompleks yang sering ia sajikan dalam karakter-karakter dramatisnya – dan tetap muncul sebagai aktor dengan pesona akting yang kuat. Kelebihan inilah yang memang menjadikan Reza Rahadian sebagai aktor film Indonesia terbaik di generasinya.

Penampilan sederhana dan santai itulah yang kembali dihadirkan Reza Rahadian dalam film drama komedi romansa berjudul Kapan Kawin? yang diarahkan oleh Ody C. Harahap (Cinta/Mati, 2013). Mengangkat fenomena mengenai budaya ketimuran yang menuntut mereka yang telah berusia dewasa dan memiliki karir sukses untuk segera mencari jodoh serta melangsungkan pernikahan, Kapan Kawin? sebenarnya dapat saja berakhir sebagai sebuah drama komedi romansa klise di tangan penggarap cerita yang salah. Untungnya, trio penulis naskah film ini, sutradara Ody C. Harahap yang bekerjasama dengan Monty Tiwa dan Robert Ronny, mampu menggarap premis tersebut lebih mendalam, menyentuh sisi personal dan sosial dari masalah yang mereka angkat dengan karakter-karakter yang mampu ditulis dengan begitu nyata sekaligus tidak melupakan balutan unsur komedi yang semakin membuat Kapan Kawin? terasa begitu ringan dalam penceritaannya. Dialog-dialog yang dihadirkan juga terasa begitu manis tanpa pernah terasa berusaha terlalu keras sehingga – seperti yang sering terjadi pada kebanyakan film drama romansa Indonesia – berakhir dengan terdengar menggelikan.

Kapan Kawin? sendiri bukanlah hadir tanpa permasalahan, khususnya di paruh ketiga penceritaan. Seusai mengisahkan perkenalan antara dua karakter utamanya, Dinda (Adinia Wirasti) dan Satrio (Reza Rahadian), serta rentetan konflik yang terjalin baik antara mereka maupun dengan karakter-karakter lain secara perlahan, paruh ketiga Kapan Kawin? terasa sedikit kehilangan arah sebelum menentukan konklusi yang tepat dari jalan cerita yang telah disajikan. Hal ini begitu terasa dari perubahan sosok karakter Jerry (Erwin Sutodihardjo) yang awalnya hanya digambarkan sebagai karakter sampingan kemudian berubah menjadi sosok antagonis yang mampu mengambil alih perhatian cerita.

Karakter kedua orangtua Dina (Adi Kurdi dan Ivanka Suwandi) juga terasa tidak mampu dikembangkan dengan baik. Sosok mereka yang banyak menuntut tanpa pernah mendapatkan porsi penceritaan yang berimbang justru seringkali menjadikan karakter mereka terlihat sebagai sosok yang mengganggu daripada sebagai sosok orangtua yang (harusnya) menginginkan hidup yang lebih baik bagi anaknya melalui pernikahan. Paruh ketiga film juga terasa berjalan lebih terburu-buru jika dibandingkan dengan dua bagian pendahulunya. Semua konflik, baik mayor maupun minor, yang telah terbuka di penceritaan sebelumnya mendapatkan penyelesaian yang singkat di bagian ini. Masalah kecil sebenarnya dan tidak sampai merusak keutuhan kualitas Kapan Kawin? namun tetap terasa jomplang jika dibandingkan dengan dua paruh penceritaan yang begitu terstruktur dan tergarap dengan rapi penceritaannya.

Diatas keunggulan dan kelemahan diatas, kekuatan utama Kapan Kawin? yang membuat film ini begitu nyaman untuk diikuti jelas adalah chemistry yang fantastis antara para pengisi departemen aktingnya. Penampilan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti terasa mampu berpadu dengan kuat, saling melengkapi satu sama lain. Begitu hangat, begitu meyakinkan. Dukungan akting yang mumpuni juga datang dari para pemeran lain, mulai dari Adi Kurdi, Ivanka Suwandi, Febby Febiola, Erwin Sutodihardjo hingga aktor cilik Firman Ferdiansyah. Kualitas departemen akting yang begitu mampu menyatu menjadi kumpulan karakter yang berhasil membawakan jalan cerita Kapan Kawin? menjadi sebuah presentasi cerita yang begitu mampu menghibur sekaligus menyentuh para penontonnya. Drama komedi romansa Indonesia terbaik sejak Test Pack: You Are My Baby — yang juga melibatkan keterlibatan Monty Tiwa dan Reza Rahadian. [B-]

Kapan Kawin? (2015)

Directed by Ody C. Harahap Produced by Robert Ronny Written by Monty Tiwa, Robert Ronny, Ody C. Harahap Starring Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Adi Kurdi, Ivanka Suwandi, Febby Febiola, Erwin Sutodihardjo, Firman Ferdiansyah, Ellis Alisha Music by Aghi Narottama, Bemby Gusti Cinematography Padri Nadeak Edited by Aline Jusria Studio Legacy Pictures Running time 115 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Oo Nina Bobo (2014)

Oo Nina Bobo (Rapi Films, 2014)
Oo Nina Bobo (Rapi Films, 2014)

Dengan naskah yang juga ditulis oleh Jose Poernomo, Oo Nina Bobo berkisah mengenai Karina (Revalina S. Temat) yang sedang berusaha untuk menyelesaikan program pendidikan pascasarjana-nya di bidang Psikologi. Untuk menyelesaikan tesis akhirnya, Karina mencoba untuk membuktikan sebuah teori bahwa seseorang yang menderita trauma akan mengalami proses penyembuhan yang lebih cepat jika langsung dihadapkan dengan hal yang membuatnya trauma. Karina lantas menemukan sebuah obyek penelitian yang tepat dalam diri Ryan (Firman Ferdiansyah), seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang menjadi satu-satunya korban selamat dalam sebuah tragedi yang menewaskan ayah (Agung Maulana), ibu (Mega Carefansa) dan adiknya, Lala (Zaskia Riyanti Maizuri), di rumah mereka lima tahun lalu. Atas izin para dosennya, Karina lantas mambawa kembali Ryan untuk tinggal di rumahnya selama dua minggu dan mengawasi bagaimana reaksi Ryan terhadap lingkungan yang amat ditakutinya tersebut.

Continue reading Review: Oo Nina Bobo (2014)