Tag Archives: Fiona Shaw

Review: Ammonite (2020)

Selepas kesuksesannya dalam mengarahkan God’s Own Country (2017) yang menandai debut pengarahan film layar lebarnya, Francis Lee kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk Ammonite. Dengan naskah cerita yang juga ditulisnya sendiri, Ammonite memiliki latar belakang waktu pengisahan pada tahun 1840an dan bertutur tentang sekelumit konflik dalam kehidupan pakar peneliti fosil kenamaan asal Inggris, Mary Anning (Kate Winslet). Di era dimana kaum perempuan masih sering dianggap sebagai warga kelas dua, kepopuleran nama Mary Anning sebagai seorang paleontologis tidak memberikan banyak dukungan pada kondisi keuangannya. Hal ini yang lantas menyebabkan Mary Anning tidak mampu menolak tawaran dari seorang ahli geologi yang juga pengagum dirinya, Roderick Murchison (James McArdle), untuk menjaga sang istri, Charlotte Murchison (Saoirse Ronan), dengan imbalan yang menggiurkan selama dirinya bertugas untuk beberapa minggu. Awalnya, Mary Anning menganggap kehadiran Charlotte Murchison akan menggaggu keseharian kerjanya. Namun, secara perlahan, kedua wanita yang berasal dari dua dunia yang berbeda tersebut mulai menemukan perhatian yang selama ini belum pernah mereka rasakan. Continue reading Review: Ammonite (2020)

Review: Enola Holmes (2020)

Setelah berkarir selama lebih dari dua dekade di dunia pertelevisian – termasuk menjadi sutradara bagi sejumlah episode di beberapa serial televisi paling popular selama beberapa tahun terakhir seperti Fleabag (2016), Killing Eve (2018), dan Ramy (2019) – sutradara asal Inggris, Harry Bradbeer, melakukan debut pengarahan film layar lebarnya melalui Enola Holmes. Diadaptasi dari seri buku The Enola Holmes Mysteries garapan penulis asal Amerika Serikat, Nancy Springer, karakter Enola Holmes merupakan karakter sempalan dari rangkaian novel misteri Sherlock Holmes yang ditulis oleh Arthur Conan Doyle. Enola Holmes, sayangnya, bukanlah bagian dari seri film Sherlock Holmes (2009 – 2011) arahan Guy Ritchie serta dibintangi duo Robert Downey, Jr. dan Jude Law yang kelanjutan kisahnya telah cukup banyak dinanti tersebut. Meskipun begitu, garapan Bradbeer terhadap Enola Holmes mampu memberikan ruang pengisahan petualangan misteri a la kisah-kisah Sherlock Holmes yang tidak hanya menarik namun juga berhasil memberikan jangkauan kisah yang baru dan segar bagi cerita Sherlock Holmes yang melandasinya. Continue reading Review: Enola Holmes (2020)

Review: The Tree of Life (2011)

Jika ada satu hal yang dapat dibuktikan oleh film-film seorang Terrence Malick seperti Days of Heaven (1978), The Thin Red Line (1998) dan The New World (2005) – selain fakta bahwa film ‘berkelas tinggi’ tidak datang dalam jangka waktu yang singkat – adalah para penonton tidak akan pernah dapat mengharapkan Malick bercerita secara lugas dalam setiap film-filmnya. Film-film Malick mampu untuk menggerakkan imajinasi dan emosi setiap penontonnya, namun tidak dengan deretan dialog maupun adegan yang terjadi antara setiap karakter di dalan jalan cerita film tersebut. Jalan pemikiran Malick terlalu ‘cerdas’ untuk dapat dibaca dengan mudah. Malick lebih memilih untuk bereksperimen lewat deretan gambar-gambar yang ia hadirkan untuk bercerita kemudian menghasilkan ribuan interpretasi tersendiri bagi para penontonnya.

Continue reading Review: The Tree of Life (2011)

Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 (2010)

Sejujurnya, ide untuk membagi bagian akhir dari adaptasi dari kisah petualangan Harry Potter, Harry Potter and the Deathly Hallows, menjadi dua bagian adalah murni alasan komersial belaka daripada untuk menangkap seluruh esensi cerita dari novelnya. Hal ini, sayangnya, sangat terbukti dengan apa yang diberikan oleh sutradara David Yates lewat Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1. Filmnya sendiri berjalan cukup baik, namun dengan durasi sepanjang 146 menit, Yates terlalu banyak mengisi bagian pertama kisah ini dengan berbagai detil yang sebenarnya tidak diperlukan di dalam cerita, yang membuat …The Deathly Hallows – Part 1 terasa sebagai sebuah film dengan kisah yang sebenarnya singkat namun diulur sedemikian panjang untuk memenuhi kuota waktu penayangan.

Continue reading Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 (2010)

Review: Dorian Gray (2009)

Walau hanya memiliki satu karya novel yang pernah diterbitkan ke publik umum, namun karya Oscar Wilde, The Picture of Dorian Gray, mungkin merupakan salah satu karya yang cukup banyak berpengaruh di dunia sastra. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1890, The Picture of Dorian Gray telah banyak diadaptasi ke berbagai bentuk media seperti teater, seni tari hingga film. Tahun lalu, sutradara Inggris, Oliver Parker, juga mengadaptasi kisah tersebut ke dalam sebuah bentuk film yang dibintangi oleh Ben Barnes dan diberi judul Dorian Gray.

Continue reading Review: Dorian Gray (2009)