Tag Archives: Finn Wittrock

Review: Judy (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Tom Edge, film terbaru arahan sutradara Rupert Goold (True Story, 2015), Judy, bercerita tentang sekelumit kisah perjalanan aktris sekaligus penyanyi legendaris Hollywood, Judy Garland. Telah menjadi idola banyak penikmat dunia hiburan semenjak dirinya kecil, Judy Garland (Renée Zellweger) mulai merasa karirnya menemui jalan buntu setelah usianya tak muda lagi. Atas saran managernya, serta kebutuhannya akan uang untuk menghidupi kedua anaknya, Judy Garland lantas menerima tawaran untuk menjadi seorang penampil tetap di sebuah klub malam di London, Inggris. Walau pada awalnya merasa setengah hati untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, kesuksesan pertunjukan yang selalu mampu menjual banyak tiket tersebut secara perlahan mulai memperbaiki kembali kehidupan Judy Garland. Namun, di saat yang bersamaan, kenangan buruk akan masa lalu serta kondisi kesehatannya yang terus menerus menurun, membuat performa penampilannya mendapatkan kritikan tajam dari banyak pihak. Continue reading Review: Judy (2019)

Review: La La Land (2016)

It takes big, huge guts to tackle a movie musical. Film musikal jelas bukan hanya tentang menyelinapkan deretan lagu dan nyanyian diantara barisan dialog maupun adegan sebuah film. Butuh konsep yang tepat dan matang untuk menyajikan sebuah film musikal yang tidak hanya mampu tampil menghibur tapi juga dapat meyakinkan para penontonnya bahwa realita penuh nyanyian yang sedang mereka saksikan adalah sebuah realita yang benar-benar dapat diterima – and who knows, mungkin saja dapat terjadi dalam keseharian mereka. Tidak mengherankan jika kemudian film musikal menjadi salah satu genre yang jarang dieksplorasi oleh banyak pembuat film. Bahkan sutradara sekelas Martin Scorsese (New York, New York, 1977), Richard Attenborough (A Chorus Line, 1985), Chris Columbus (Rent, 2005) hingga Nia Dinata (Ini Kisah Tiga Dara, 2015) yang dikenal handal dalam bercerita gagal untuk mendapatkan formula yang benar-benar tepat untuk film musikal yang mereka garap. Clearly, not everyone knows how to make a good musical. Continue reading Review: La La Land (2016)

Review: Unbroken (2014)

Unbroken (Legendary Pictures/Jolie Pas/3 Arts Entertainment, 2014) This review was originally published on December 28, 2014 and being republished as it hits Indonesian theaters today.

Apa yang sebenarnya mendorong seorang Angelina Jolie untuk menjadi seorang sutradara? Ketenaran? Penghasilan komersial yang lebih banyak? Hasrat untuk pembuktian dirinya? Atau hanyalah sekedar ajang untuk menantang dirinya diluar dari berakting? Mungkin saja. Namun satu hal yang jelas: Unbroken gagal memperlihatkan bahwa Jolie adalah seorang sutradara dengan visi yang kuat untuk mengeksekusi jalan cerita yang ia ingin hadirkan kepada para penontonnya.

Diadaptasi dari buku non-fiksi karya Laura Hillenbrand, Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience, and Redemption, yang berkisah tentang kehidupan atlet sekaligus salah satu tentara pasukan Amerika Serikat di masa Perang Dunia II, Louis Zamperini, Unbroken sebenarnya memiliki begitu banyak faktor untuk menjadi sebuah kisah yang menarik, menginspirasi sekaligus menegangkan. Sayangnya, tata arahan Jolie justru terasa begitu kaku dalam usahanya menghidupkan naskah cerita yang dibentuk Joel Coen, Ethan Coen, Richard LaGravenese dan William Nicholson. Tidak terasa adanya energi ataupun rasa antusias dalam bercerita ataupun emosi yang kuat untuk mengaliri jalinan kisah yang dihantarkan. Sebagai seorang sutradara, Jolie terasa hanya mengikuti berbagai pakem standar Hollywood dalam pembuatan sebuah biopik bernuansakan perang tanpa pernah mampu berani melangkah lebih jauh berkreasi dalam menciptakan atmosfer baru bagi filmnya.

Terlepas dari arahan Jolie, Unbroken setidaknya mampu mendapatkan dukungan kualitas yang kuat dari para jajaran pemerannya – yang didominasi oleh wajah-wajah muda Hollywood. Jack O’Connell tampil dengan determinasi tinggi dalam memerankan Louis Zamperini. Layaknya Zamperini, O’Connell terlihat sangat meyakinkan dan berani dalam membawakan karakternya. Penampilan O’Connell juga diiringi dengan penampilan sama mengesankannya dari nama-nama muda seperti Domhnall Gleeson, Garrett Hedlund, Finn Wittrock hingga Alex Russell – sementara aktor asal Jepang, Miyavi, seringkali terlihat terlalu komikal dalam memerankan karakter yang menjadi lawan bagi karakter Louis Zamperini.

Dari sisi teknikal, Unbroken juga tidak begitu mengecewakan. Arahan sinematografi Roger Deakins maupun tata efek khusus yang disiapkan untuk menghidupkan atmosfer Perang Dunia bagi film ini bekerja dengan cukup baik. Satu catatan khusus layak diberikan kepada arahan musik karya Alexandre Desplat bagi film ini. Entah mengapa, iringan musik Desplat terasa terlalu berusaha mendikte sisi emosional penontonnya. Penonton seperti digiring untuk merasakan sebuah emosi tertentu padahal jalan cerita yang dihadirkan justru gagal untuk membuat penonton merasakan adanya kehadiran emosi tersebut. Tapi mungkin Desplat memang bermaksud demikian. Tata musik yang medioker untuk sebuah film yang berkualitas medioker pula. [C-]

Unbroken (2014)

Directed by Angelina Jolie Produced by Matthew Baer, Angelina Jolie, Erwin Stoff, Clayton Townsend Written by Joel Coen, Ethan Coen, Richard LaGravenese, William Nicholson (screenplay), Laura Hillenbrand (book, Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience, and Redemption) Starring Jack O’Connell, Domhnall Gleeson, Miyavi, Garrett Hedlund, Finn Wittrock, Jai Courtney, Luke Treadaway, Travis Jeffery, Jordan Patrick Smith, John Magaro, Alex Russell, Maddalena Ischiale, Morgan Griffin, Savannah Lamble, Sophie Dalah, C.J. Valleroy Music by Alexandre Desplat Cinematography Roger Deakins Edited by Tim Squyres Studio Legendary Pictures/Jolie Pas/3 Arts Entertainment Country United States Language English

Review: Winter’s Tale (2014)

Winter's Tale (Village Roadshow Pictures/Weed Road Pictures, 2014)
Winter’s Tale (Village Roadshow Pictures/Weed Road Pictures, 2014)

Wellmaybe it’s true: tidak semua novel dapat diadaptasi menjadi sebuah penceritaan film layar lebar. Kadang, hal tersebut disebabkan karena beberapa novel memiliki deretan karakter dan plot penceritaan yang terlalu kompleks untuk dapat dijabarkan dengan seksama dalam dua atau bahkan tiga jam penceritaan. Sementara itu, beberapa novel lainnya memiliki struktur penceritaan yang terlalu luas untuk dapat dibawa keluar dari daya imajinasi para pembacanya. Kedua bentuk tantangan inilah yang harus dihadapi oleh Akiva Goldsman ketika mengadaptasi novel karya Mark Helprin yang berjudul Winter’s Tale. Novel tersebut memiliki sejumlah karakter yang cukup rumit dalam penceritaannya serta alur magical realism yang menuntut pembaca untuk larut dalam berbagai fantasi yang dibentuk oleh Helprin sekaligus turut percaya bahwa fantasi-fantasi tersebut dapat terjadi di sekitar lingkungan nyata mereka pada saat yang bersamaan. Jelas sebuah tantangan yang sangat serius – bahkan bagi seorang penulis naskah pemenang Academy Awards seperti Goldsman yang juga bertindak sebagai seorang sutradara bagi film ini.

Continue reading Review: Winter’s Tale (2014)