Tag Archives: Emma Stone

Review: Zombieland: Double Tap (2019)

Masih ingat dengan Zombieland (2009)? Ketika dirilis sepuluh tahun lalu, film yang menjadi debut pengarahan bagi Ruben Fleischer (Venom, 2018) tersebut berhasil menarik perhatian para kritikus film dunia berkat penyegaran yang dilakukan presentasi ceritanya pada film-film dengan tema mayat hidup yang kala itu lumayan popular diproduksi di Hollywood. Kesuksesan komersial Zombieland juga memberikan andil tersendiri dalam mendorong nama para pemerannya ke jajaran aktor maupun aktris papan atas Hollywood – khususnya Jesse Eisenberg dan Emma Stone. Setelah selama beberapa tahun berada dalam tahap pengembangan, proses produksi sekuel Zombieland mulai menemui titik terang pada pertengahan tahun 2018 dengan Woody Harrelson, Eisenberg, Abigail Breslin, Stone beserta Fleischer kembali menempati posisi mereka sebagai jajaran pemeran dan sutradara film. Zombieland memang menarik ketika dirilis sepuluh tahun yang lalu namun apakah sekuelnya yang berjudul Zombieland: Double Tap akan mampu mengikuti kesuksesan film pertamanya? Continue reading Review: Zombieland: Double Tap (2019)

The 91st Annual Academy Awards Nominations List

The Favourite is the favourite! Film terbaru arahan sutradara Yorgos Lanthimos sukses menjadi film dengan raihan nominasi terbanyak di ajang The 91st Annual Academy Awards. The Favourite berhasil meraih sepuluh nominasi, termasuk nominasi di kategori Best Picture, Best Director untuk Lanthimos – yang menjadi nominasi Best Director perdana bagi sutradara kelahiran Yunani tersebut, Best Actress untuk Olivia Colman, Best Supporting Actress untuk Rachel Weisz dan Emma Stone, serta untuk Best Original Screenplay. Namun, The Favourite tidak melangkah sendirian. Film arahan Alfonso Cuarón, Roma, juga berhasil meraih jumlah perolehan nominasi yang sama dan bahkan akan turut bersaing dengan The Favourite dalam lima kategori utama yang telah disebutkan sebelumnya. Bergabung bersama The Favourite dan Roma dalam persaingan memperebutkan gelar Best Picture adalah Black Panther (Ryan Coogler, 2018), BlacKkKlansman (Spike Lee, 2018), Bohemian Rhapsody (Bryan Singer, 2018), Green Book (Peter Farrelly, 2018), A Star is Born (Bradley Cooper, 2018), dan Vice (Adam McKay, 2018). Continue reading The 91st Annual Academy Awards Nominations List

The 20 Best Movie Performances of 2018

What makes an acting performance so remarkable and/or memorable? Kemampuan seorang aktor untuk menghidupkan karakternya dan sekaligus menghantarkan sentuhan-sentuhan emosional yang dirasakan sang karakter jelas membuat sebuah penampilan akan mudah melekat di benak para penontonnya. Kadang bahkan jauh seusai penonton menyaksikan penampilan tersebut. Penampilan tersebut, tentu saja, tidak selalu membutuhkan momen-momen emosional megah nan menggugah. Bahkan, pada beberapa kesempatan, tidak membutuhkan durasi penampilan yang terlalu lama.

Berikut adalah dua puluh penampilan akting yang paling berkesan dalam sebuah film yang dirilis di sepanjang tahun 2018, termasuk sebuah penampilan yang At the Movies pilih sebagai Performance of the Year. Disusun secara alfabetis.

Continue reading The 20 Best Movie Performances of 2018

The 89th Annual Academy Awards Winners List

Walau berhasil keluar sebagai film dengan raihan kemenangan terbanyak, film musikal arahan Damien Chazelle, La La Land, harus mengalah terhadap Moonlight yang akhirnya dinobatkan sebagai Best Picture di ajang The 89th Annual Academy Awards. Dalam seremoni yang diwarnai banyak pernyataan politis tentang kepemimpinan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, serta kesalahan pemberian amplop pengumuman nama pemenang Best Picture kepada pasangan aktor dan aktris Warren Beatty dan Faye Dunaway – yang menyebabkan Beatty dan Dunaway mengumumkan La La Land sebagai peraih Best Picture, film arahan Barry Jenkins tersebut juga berhasil memenangkan dua penghargaan lain, Best Actor in a Supporting Role untuk Mahershala Ali dan Best Adapted Screenplay yang dimenangkan Jenkins bersama penulis naskah, Tarell Alvin McCraney. Kemenangan Moonlight juga menjadi bersejarah karena film tersebut menjadi film bertema Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender and Questioning pertama yang berhasil memenangkan Best Picture. Continue reading The 89th Annual Academy Awards Winners List

The 89th Annual Academy Awards Nominations List

Film drama musikal arahan Damien Chazelle, La La Land berhasil memimpin daftar nominasi The 89th Annual Academy Awards dengan meraih 14 nominasi. Dengan raihan tersebut, La La Land berhasil menyamai pencapaian All About Eve (Joseph L. Mankiewicz, 1950) dan Titanic (James Cameron, 1997) sebagai film dengan raihan nominasi Academy Awards terbanyak di sepanjang sejarah. Film yang dibintangi Ryan Gosling dan Emma Stone – yang sama-sama berhasil meraih nominasi Academy Awards di kategori Best Actor dan Best Actress – tersebut akan bersaing dengan Arrival, Fences, Hacksaw Ridge, Hell or High Water, Hidden Figures, Lion, Manchester by the Sea dan Moonlight di kategori Best Picture. La La Land juga berhasil meraih nominasi di kategori Best Director dan Best Original Screenplay untuk Chazelle. Continue reading The 89th Annual Academy Awards Nominations List

Review: La La Land (2016)

It takes big, huge guts to tackle a movie musical. Film musikal jelas bukan hanya tentang menyelinapkan deretan lagu dan nyanyian diantara barisan dialog maupun adegan sebuah film. Butuh konsep yang tepat dan matang untuk menyajikan sebuah film musikal yang tidak hanya mampu tampil menghibur tapi juga dapat meyakinkan para penontonnya bahwa realita penuh nyanyian yang sedang mereka saksikan adalah sebuah realita yang benar-benar dapat diterima – and who knows, mungkin saja dapat terjadi dalam keseharian mereka. Tidak mengherankan jika kemudian film musikal menjadi salah satu genre yang jarang dieksplorasi oleh banyak pembuat film. Bahkan sutradara sekelas Martin Scorsese (New York, New York, 1977), Richard Attenborough (A Chorus Line, 1985), Chris Columbus (Rent, 2005) hingga Nia Dinata (Ini Kisah Tiga Dara, 2015) yang dikenal handal dalam bercerita gagal untuk mendapatkan formula yang benar-benar tepat untuk film musikal yang mereka garap. Clearly, not everyone knows how to make a good musical. Continue reading Review: La La Land (2016)

Review: Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) (2014)

birdman-posterSetelah Amores Perros (2000), 21 Grams (2003), Babel (2006) dan Biutiful (2010) yang begitu humanis namun kelam, Alejandro González Iñárritu kini hadir dengan sebuah film komedi. Well… meskipun Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) merupakan komedi, namun sutradara berkewarganegaraan Meksiko tersebut tetap mampu menghadirkan filmnya sebagai sebuah presentasi black comedy yang memiliki seluruh ciri khas penceritaannya. And it’s so fresh! Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) adalah sebuah fenomena langka dari Hollywood dimana sebuah ide segar/gila/cerdas mampu dikemas dan diarahkan dengan sangat, sangat baik.

Dengan naskah cerita yang ditulis Iñárritu bersama dengan Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, Jr. dan Armando Bó, Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) berkisah mengenai kehidupan seorang aktor bernama Riggan Thomson (Michael Keaton). Dalam usahanya untuk meremajakan kembali karirnya yang mulai menurun, Riggan memilih untuk menulis, mengarahkan sekaligus berperan dalam sebuah drama panggung yang jalan ceritanya diadaptasi dari cerita pendek karya Raymond Carver, What We Talk About When We Talk About Love. Proyek tersebut kemudian melibatkan sahabatnya, Jake (Zach Galifianakis), sebagai produser, anaknya, Samantha (Emma Stone), yang bekerja sebagai asistennya serta dibintangi kekasihnya, Laura (Andrea Riseborough), seorang aktris yang baru pertama kali membintangi drama panggung, Lesley (Naomi Watts), serta seorang aktor popular, Mike Shiner (Edward Norton). Berbagai masalah mulai menghinggapi drama panggung arahan Riggan yang jelas kemudian membuatnya semakin khawatir akan kelangsungan masa depannya di Hollywood.

Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) adalah sebuah film yang sangat terkonsep dengan baik. Iñárritu sendiri jelas sangat mengetahui seluk beluk penceritaan filmnya dengan baik dan bagaimana ia menginginkan cerita tersebut disampaikan kepada para penontonnya. Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) dihadirkan layaknya sebuah reality show yang mengikuti karakter Riggan dan orang-orang yang terlibat dalam pembuatan drama panggung arahannya. Jelas merupakan sebuah sentilan kecil namun tajam dari Iñárritu kepada kehidupan Hollywood. Naskah yang dihadirkan Iñárritu, Giacobone, Dinelaris, Jr. dan Bó sendiri mampu dengan begitu cerdas menyelami setiap karakter yang mereka hadirkan dalam film ini, membenturkan setiap konflik dengan begitu seksama dalam balutan komedi yang terasa segar dan jelas sangat menghibur. Naskah cerita Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) mungkin bukanlah naskah cerita paling orisinal yang pernah disajikan. Meskipun begitu, penggalian dan sentuhan yang dihadirkan Iñárritu tetap mampu menjadikannya jauh dari kesan membosankan untuk diikuti.

Selain cerdas dalam tatanan penceritaan, Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) juga tampil luar biasa mengagumkan dalam raihan kualitas teknikalnya. Iñárritu menghadirkan pengisahan filmnya bagaikan diambil hanya dalam satu kali pengambilan gambar. Dibantu dengan sinematografer Emmanuel Lubezki – yang sebelumnya juga memberikan tata sinematografi brilian dalam Gravity (2013) – serta penata gambar, Douglas Crise dan Stephen Mirrione, konsep tersebut mampu terwujud dengan sempurna. Komposer Antonio Sánchez juga berhasil menghadirkan hantaran musik yang begitu unik serta menjadi nyawa emosional tambahan bagi setiap adegan dalam film ini.

Sebagai film yang berbicara tentang para pekerja seni peran, Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) jelas membutuhkan deretan para pekerja seni peran dengan kualitas penampilan akting yang solid untuk membantu menghidupkan film ini. Dan Iñárritu jelas tidak akan mampu mendapatkan barisan pemeran yang lebih baik lagi dari nama-nama seperti Michael Keaton, Edward Norton, Emma Stone, Naomi Watts, Zach Galifianakis, Andrea Riseborough dan Amy Ryan. Seluruh pengisi departemen akting film ini tampil dengan penampilan tanpa cela, menyajikan karakter mereka dengan daya tarik yang mempesona dan menjadikan karakter-karakter tersebut begitu mengikat untuk diikuti setiap kisahnya. Seluruh kecerdasan tersebut berpadu sempurna untuk menjadikan Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) sebagai sebuah film yang begitu menghibur sekaligus akan tinggal lama di benak para penontonnya. Salah satu film terbaik yang pernah dihasilkan Hollywood. Bravo! [A]

Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) (2014)

Directed by Alejandro González Iñárritu Produced by Alejandro González Iñárritu, John Lesher, Arnon Milchan, James W. Skotchdopole Written by Alejandro González Iñárritu, Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, Jr., Armando Bó Starring Michael Keaton, Edward Norton, Emma Stone, Naomi Watts, Zach Galifianakis, Andrea Riseborough, Amy Ryan, Lindsay Duncan, Merritt Wever, Jeremy Shamos, Frank Ridley, Katherine O’Sullivan, Damian Young, Bill Camp Music by Antonio Sánchez Cinematography Emmanuel Lubezki Editing Douglas Crise, Stephen Mirrione Studio New Regency Pictures/M Productions/Le Grisbi Productions/TSG Entertainment/Worldview Entertainment Running time 119 minutes Country United States Language English

Review: Magic in the Moonlight (2014)

magic-in-the-moonlight-posterLayaknya Scoop (2006) dan Cassandra’s Dream (2007) setelah Match Point (2005) atau Whatever Works (2009) dan You Will Meet a Tall Dark Stranger setelah (2010) setelah Vicky Christina Barcelona (2008), karya-karya Woody Allen serasa selalu melemah setelah menghasilkan satu film yang berhasil meraih pujian luas dari para kritikus film dunia. Dan setelah tahun lalu merilis Blue Jasmine (2014) yang tidak hanya berhasil meraih kesuksesan kritikal dan komersial namun juga memenangkan aktris utamanya, Cate Blanchett, sebuah Academy Awards untuk Best Actress in a Leading Role, banyak orang mungkin telah berharap bahwa karya teranyar Allen, Magic in the Moonlight, akan memiliki kualitas yang seadanya. Guess what? It’s not. Meskipun tidak mampu mencapai raihan kualitas Blue Jasmine, ataupun film-film terbaik Allen lainnya, Magic in the Moonlight mampu tampil begitu elegan dan menghibur – khususnya berkat penampilan spektakular dari Colin Firth dan Emma Stone.

Seperti halnya Midnight in Paris (2011), Allen kembali membawa penontonnya ke atmosfer romansa yang hadir di Perancis pada penghujung tahun ‘20an. Film yang menjadi film ke-44 yang ditulis dan diarahkan oleh Allen ini sendiri berkisah mengenai seorang ilusionis popular, Stanley Crawford (Firth), yang ditugaskan untuk membongkar kepalsuan seorang gadis bernama Sophie Baker (Stone) yang mengaku memiliki indra keenam lalu menggunakannya untuk kepentingan komersialnya. Konflik antara karakter Stanley yang menggambarkan dirinya sebagai manusia paling rasional di Bumi melawan karakter Sophie yang memiliki kemampuan spiritual inilah yang menjadi sajian utama film ini. Allen dengan lihai menggunakan kemampuan komedinya untuk memasukkan berbagai satir tentang kaum rasional dan kaum spiritual dalam setiap dialog karakter-karakternya untuk menghasilkan sajian hiburan yang cukup cerdas namun tetap terasa ringan.

Allen juga mampu mengeksekusi dan mengemas jalan ceritanya dengan baik. Ritme pengisahan Magic in the Moonlight berada pada tempo menengah yang mampu membuat film ini bercerita secara lebih mendetil namun tidak pernah terasa terlalu lamban dan membosankan. Inspirasi yang diberikan Perancis juga begitu mendukung pada tampilan keindahan visual film. Kembali bekerjasama dengan sinematografer Darius Khondji yang dahulu sempat mendukung Allen dalam Midnight in Paris, Magic in the Moonlight tidak pernah kehabisan persediaan deretan gambar yang akan mampu memanjakan mata penontonnya sekaligus mendukung unsur romansa yang terdapat dalam jalan cerita film.

Dari departemen akting, seperti biasa, Magic in the Moonlight berisikan nama-nama pemeran yang jelas tidak diragukan lagi kredibitas aktingnya. Berada di barisan utama adalah Colin Firth dan Emma Stone. Dengan daya tarik yang mereka miliki, Firth dan Stone mampu menghidupkan karakter mereka dengan baik meskipun dengan karakterisasi peran yang saling bertolak belakang satu sama lain: Firth sebagai seorang pria yang selalu memandang dunia dengan rasa pesimis dan Stone sebagai gadis yang selalu menghabiskan waktunya dengan menikmati hidup. Penampilan keduanya adalah nyawa utama bagi film ini. Chemistry yang mereka hasilkan juga benar-benar terasa hangat, kuat dan meyakinkan. Setiap kali Firth dan Stone hadir bersamaan dalam adegan-adegan film, di saat itu pula Magic in the Moonlight mengeluarkan daya tarik terbaiknya yang tidak akan sanggup ditolak oleh siapapun.

Karakter-karakter lain yang berada di sekitar dua karakter yang diperankan Firth dan Stone hadir dalam kapasitas pendukung. Suatu hal yang cukup disayangkan sebenarnya. Dengan talenta-talenta seperti Marcia Gay Harden, Jacki Weaver hingga Hamish Linklater, Allen seharusnya mampu memberikan karakter-karakter pendukung dalam jalan cerita Magic in the Moonlight kesempatan dan porsi penceritaan yang lebih luas dan berisi. Deretan aktor pendukung tersebut tetap mampu tampil prima namun Magic in the Moonlight mungkin akan dapat tampil lebih kuat penceritaannya. [B-]

Magic in the Moonlight (2014)

Directed by Woody Allen Produced by Letty Aronson, Stephen Tenenbaum, Helen Robin Written by Woody Allen Starring Colin Firth, Emma Stone, Hamish Linklater, Marcia Gay Harden, Jacki Weaver, Erica Leerhsen, Eileen Atkins, Simon McBurney, Lionel Abelanski Cinematography Darius Khondji Edited by Alisa Lepselter Production company Perdido Productions Running time 97 minutes Country United States Language English

The 87th Annual Academy Awards Nominations List

The nominations are in! Dan hasilnya… film arahan Alejandro González Iñárritu, ‘Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)’ dan film arahan Wes Anderson, ‘The Grand Budapest Hotel’, sama-sama memimpin daftar nominasi The 87th Annual Academy Awards dengan meraih sembilan nominasi. Keduanya akan bersaing dalam memperebutkan gelar Best Picture bersama dengan American Sniper, Boyhood, The Imitation Game, Selma, The Theory of Everything dan Whiplash. Raihan sembilan nominasi yang diraih Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) dan The Grand Budapest Hotel diikuti oleh The Imitation Game yang meraih delapan nominasi serta American Sniper dan Boyhood yang masing-masing meraih enam nominasi.

Continue reading The 87th Annual Academy Awards Nominations List

Review: The Croods (2013)

the_croods_header

Disutradarai oleh Kirk DeMicco (Space Chimps, 2008) dan Chris Sanders (How to Train Your Dragon, 2010) dengan naskah cerita yang juga mereka tulis sendiri, The Croods akan membawa para penontonnya ke masa prasejarah dan berpetualang bersama keluarga Croods yang berisi sang ayah, Grug (Nicolas Cage), sang ibu, Ugga (Catherine Keener), puteri tertua mereka, Eep (Emma Stone), putera mereka, Thunk (Clark Duke), bayi perempuan, Sandy (Rhandy Thom), serta sang nenek, Gran (Cloris Leachman). Dikisahkan, keluarga Croods adalah salah satu dari sedikit keluarga di masa tersebut yang mampu bertahan terhadap kondisi lingkungan yang terus-menerus berevolusi. Kesuksesan itu sendiri dapat terwujud karena aturan keras Grug yang ia terapkan pada setiap anggota keluarganya: harus selalu memiliki rasa takut, jangan pernah keluar dari gua tampat mereka hidup khususnya di malam hari serta jangan pernah memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru yang mereka temui.

Continue reading Review: The Croods (2013)

Review: Gangster Squad (2013)

gangster-squad-header

Diangkat berdasarkan kisah nyata yang terangkum dalam buku berjudul Tales from the Gangster Squad yang ditulis oleh Paul Lieberman, Gangster Squad mengisahkan mengenai usaha para anggota Los Angeles Police Department untuk mengenyahkan sekelompok penjahat yang dipimpin oleh Mickey Cohen (Sean Penn) dari Los Angeles pada sekitar tahun 1940an. Saat itu, Mickey Cohen dan kawanannya telah menjadi sosok penjahat yang begitu berpengaruh di masyarakat Los Angeles akibat keberhasilannya dalam merangkul banyak pejabat sekaligus para petinggi pihak kepolisian untuk selalu memuluskan maupun menghilangkan jejak kejahatannya. Obsesi Mickey Cohen sendiri tidak berhenti di Los Angeles. Ia beserta kawanannya mulai menyusun rencana untuk memperluas lagi jaringan kejahatannya hingga berbagai penjuru kota di Amerika Serikat maupun dunia.

Continue reading Review: Gangster Squad (2013)

Review: The Amazing Spider-Man (2012)

Apakah dunia benar-benar membutuhkan sebuah reboot dari kisah Spider-Man ketika franchise awal film tersebut masih berusia lima tahun? Memang, harus diakui bahwa Spider-Man 3 (2007) adalah sebuah kekacauan dari segi kualitas. Namun –  tidak seperti Batman & Robin (1997) yang benar-benar hancur baik dari segi kualitas maupun dari pendapatan komersial sehingga mampu menjustifikasi kehadiran Christopher Nolan dengan Batman Begins (2005) beberapa tahun kemudian – Spider-Man 3 masih mampu meraih pendapatan komersial sebesar lebih dari US$800 juta dari peredarannya di seluruh dunia. Jika Columbia Pictures ingin mendapatkan sebuah penyegaran dari franchise-nya – dan jika Sam Raimi, Tobey Maguire dan Kirsten Dunst tidak lagi berminat untuk melanjutkan peran mereka – bukankah lebih baik (dan masuk akal) jika kisah Spider-Man dilanjutkan namun dengan melibatkan nama-nama yang berbeda?

Continue reading Review: The Amazing Spider-Man (2012)

Review: The Help (2011)

Berdasarkan sebuah novel karya Kathryn Stockett yang berjudul sama dan berlatar belakang waktu pada tahun 1960-an, The Help mengisahkan mengenai Eugenia “Skeeter” Phelan (Emma Stone), seorang gadis berkulit putih yang baru saja menyelesaikan masa kuliahnya dan kemudian kembali ke kampung halamannya di Jackson, Mississippi, Amerika Serikat untuk mengejar karir sebagai seorang penulis profesional. Langkah tersebut ia mulai dengan menerima pekerjaan sebagai seorang penulis kolom mengenai kebersihan rumah tangga di sebuah harian lokal. Tuntutan pekerjaannya tersebut yang kemudian mengenalkannya pada Aibileen Clark (Viola Davis), seorang wanita paruh baya berkulit hitam yang bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di kediaman salah seorang teman lama Skeeter, Elizabeth Leefolt (Ahna O’Reilly). Dari perkenalannya dengan Aibileen-lah, mata Skeeter mulai terbuka mengenai bagaimana perlakuan sebagian kaum kulit putih terhadap para warga kulita hitam yang dianggap sebagai warga kelas dua.

Continue reading Review: The Help (2011)