Tag Archives: Dermot Mulroney

Review: Insidious: Chapter 3 (2015)

insidious-chapter-three-posterBerbeda dengan Insidious (2011) dan Insidious: Chapter 2 (2013), Insidious: Chapter 3 tidak lagi ditangani oleh James Wan – yang kali ini lebih memilih untuk hanya bertugas sebagai seorang produser dan menyerahkan kursi penyutradaraan pada penulis naskah seri film ini, Leigh Whannell. Insidious: Chapter 3 juga meninggalkan karakter-karakter dari keluarga Lambert yang merupakan fokus penceritaan pada dua seri sebelumnya dan menjadi sebuah prekuel dari Insidious dengan menempatkan kisah dari karakter cenayang Elise Rainier (Lin Shaye) sebagai karakter utama bagi film ini. Sayangnya, dengan segala perubahan tersebut, Insidious: Chapter 3 juga dikemas dengan begitu dangkal sehingga kehilangan seluruh daya tarik yang dimiliki oleh dua seri sebelumnya yang membuat seri film ini begitu popular sekaligus dinanti oleh banyak penikmat film horor dunia. Mungkin sudah saatnya untuk mengakhiri seri film ini secara keseluruhan?

Insidious: Chapter 3 memulai kisahnya ketika seorang remaja bernama Quinn Brenner (Stefanie Scott) berkunjung ke rumah Elise Rainier (Shaye) untuk meminta bantuannya dalam menghubungi sekaligus berbicara dengan arwah ibunya yang telah lama meninggal dunia. Meskipun awalnya menolak karena takut hal buruk akan terjadi pada dirinya, Elise kemudian memulai usahanya untuk membantu Quinn. Sayang, usaha tersebut berakhir dengan kegagalan. Daripada berhasil mendatangkan dan berkomunikasi dengan arwah ibu dari Quinn, Elise justru didatangi sesosok arwah jahat dari dunia kegelapan. Elise lantas mengingatkan Quin untuk tidak lagi berusaha menghubungi arwah sang ibu karena sosok arwah jahat dapat saja datang untuk kemudian menghantui dirinya. Benar saja. Sepulangnya Quinn dari rumah Elise, gadis tersebut mulai mengalami teror supranatural yang mulai mengganggu dan bahkan dapat saja mengambil kehidupannya.

Sejujurnya, dengan segala konflik yang terjadi dan telah diselesaikan pada dua seri sebelumnya, Insidious memang telah mencapai puncak kualitas naratifnya. Insidious: Chapter 2 bahkan telah menunjukkan fakta bahwa baik James Wan maupun Leigh Whannell telah terasa kelelahan dalam menemukan bentuk ketegangan baru yang dapat ditawarkan pada penonton filmnya. Insidious: Chapter 3, sayangnya, gagal untuk menunjukkan bahwa seri film ini telah mengalami sebuah perubahan positif yang berarti. Daripada berusaha untuk menyajikan sebuah jalan cerita yang kuat dengan sentuhan beberapa adegan horor yang menegangkan, Whannell justru menjebak Insidious: Chapter 3 untuk menjadi sebuah horor murahan yang murni hanya bergantung pada beberapa adegan menegangkan berkualitas kacangan untuk dapat memberikan hiburan bagi penontonnya. Tidak lebih. Cukup menyedihkan, khususnya jika mengingat bahwa Insidious adalah salah satu film horor buatan Hollywood yang mampu mencuri perhatian dengan fokus yang kuat pada karakter dan jalan ceritanya.

Kemampuan Whannell dalam pengarahan cerita memang masih terasa lemah dalam berbagai cerita. Whannell seringkali terasa kebingungan dalam memberikan fokus penceritaan yang terpecah antara konflik pribadi yang dimiliki oleh karakter Elise Rainier atau konflik keluarga yang dimiliki oleh karakter Quinn Brenner. Akhirnya, daripada berhasil merangkai kisahnya sebagai sebuah presentasi cerita yang nyaman untuk diikuti, Insidious: Chapter 3 justru terasa hadir dengan ritme penceritaan yang berantakan. Tata produksi yang dihadirkan Whannell untuk filmnya juga terasa jauh dari kesan istimewa. Komposisi musik horor karya Joseph Bishara yang biasanya mampu menjadi nyawa tambahan bagi sentuhan horor seri film Insidious kali ini gagal untuk tampil kuat. Begitu pula dengan tata sinematografi arahan Brian Pearson yang banyak bermain di wilayah gambar-gambar kelam tanpa pernah mampu membuatnya menjadi sentuhan yang esensial bagi atmosfer penceritaan film.

Departemen akting Insidious: Chapter 3 sendiri hadir dengan kualitas yang tidak mengecewakan. Lin Shaye sekali lagi mampu menghidupkan karakter Elise Rainier yang telah ia perankan dalam dua seri Insidious sebelumnya dengan baik. Begitu pula dengan Angus Sampson dan Leigh Whannell yang masih mampu menyajikan sentuhan komedi melalui karakter duo Tucker dan Specks yang mereka perankan. Nama-nama pemeran baru dalam seri film ini juga tampil memuaskan. Stefanie Scott yang berperan sebagai karakter utama Quinn Brenner mampu memberikan penampilan yang akan dapat menarik perhatian setiap penonton pada karakter yang ia perankan. Dan meskipun karakter ayah yang ia perankan memiliki penceritaan yang cukup terbatas, namun Dermot Mulroney jelas tampil dalam kapasitas akting yang berkelas. [C-]

Insidious: Chapter 3 (2015)

Directed by Leigh Whannell Produced by Jason Blum, Oren Peli, James Wan Written by Leigh Whannell Starring Dermot Mulroney, Stefanie Scott, Angus Sampson, Leigh Whannell, Lin Shaye, Ashton Moio, Ele Keats, Hayley Kiyoko, Steve Coulter, Tate Berney, Michael Reid MacKay, Phil Abrams, Ruben Garfias, Samantha Ramraj, Joseph Bishara, Tom Fitzpatrick, Anne Bergstedt Jordanova, Amaris Davidson, Anna Ross Music by Joseph Bishara Cinematography Brian Pearson Editing by Timothy Alverson Studio Automatik Entertainment/Blumhouse Productions/Entertainment One Running time 97 minutes Country United States Language English

Review: Stoker (2013)

stoker-header

Menyutradarai film berbahasa Inggris jelas bukanlah sebuah hal yang mudah… khususnya ketika Anda merupakan seorang sutradara dari negara asing yang mencoba untuk menembus industri film dalam skala yang lebih besar seperti Hollywood. Lihat saja bagaimana sutradara pemenang Academy Awards asal Jerman, Florian Henckel von Donnersmarck (The Lives of Others, 2007), yang seketika menjadi bahan guyonan pemerhati film dunia ketika debut film berbahasa Inggris-nya, The Tourist (2010), mendapatkan kritikan tajam dari banyak kritikus film. Atau, contoh yang terbaru, ketika sutradara asal Korea Selatan, Kim Ji-woon (I Saw the Devil, 2010), harus menerima kenyataan bahwa film berbahasa Inggris pertama yang ia arahkan, The Last Stand (2013), gagal meraih kesuksesan baik secara kritikal maupun komersial ketika dirilis ke pasaran.

Continue reading Review: Stoker (2013)

Review: The Grey (2012)

Diangkat dari cerita pendek berjudul Ghost Walker karya Ian MacKenzie Jeffers, yang bersama sutradara Joe Carnahan (The A-Team, 2010) juga menyusun naskah cerita untuk film ini, The Grey mengisahkan mengenai sekelompok pekerja pertambangan minyak di hari terakhir mereka bekerja. Setelah selama lima minggu terdampar di dinginnya hamparan luas Alaska, para pekerja tersebut akhirnya dapat kembali ke rumah mereka masing untuk mendapatkan masa istirahat mereka. Salah satu diantara para pekerja tersebut adalah John Ottway (Liam Neeson), yang di hari terakhir dirinya bekerja, menuliskan sebuah surat untuk istri (Anne Openshaw) yang semenjak beberapa lama selalu terbayang di benaknya untuk kemudian melakukan sebuah usaha bunuh diri. Lolongan seekor serigala kemudian membatalkan rencana tersebut.

Continue reading Review: The Grey (2012)

Review: Abduction (2011)

Taylor Lautner telah memulai karirnya sebagai aktor ketika ia masih berusia 10 tahun dengan mendapatkan sebuah peran kecil di film Shadow Fury (2001). Debut aktingnya tersebut kemudian diikuti dengan peran sebagai salah satu dari tokoh utama dalam film arahan Robert Rodriguez, The Adventures of Sharkboy and Lavagirl in 3-D (2005), dan membintangi film komedi sukses, Cheaper by the Dozen 2 (2005), bersama Steve Martin dan Hilary Duff. Tiga tahun berselang, kesempatan emas untuk mendapatkan kepopuleran luas diperoleh Lautner setelah ia terpilih untuk memerankan sosok werewolf bernama Jacob Black yang terlibat cinta segitiga dengan seorang gadis remaja penyendiri bernama Bella Swan dan seorang vampire bernama Edward Cullen dalam Twilight (2008). Film tersebut menjadi awal dari sebuah franchise yang kemudian memperoleh kesuksesan luar biasa, menghasilkan pendapatan hampir sebesar US$2 milyar hingga saat ini, dengan jutaan penggemar fanatik di seluruh belahan dunia dan – tentu saja – melemparkan nama Taylor Lautner ke deretan aktor papan atas Hollywood.

Continue reading Review: Abduction (2011)

Review: Love, Wedding, Marriage (2011)

Belajar dari pengalamannya dalam membintangi film-film drama komedi romantis seperti My Best Friend’s Wedding (1997), The Wedding Date, The Family Stone dan Must Love Dogs (yang ketiganya dirilis pada tahun 2005), aktor Dermot Mulroney melakukan debut penyutradaraannya lewat film Love, Wedding, Marriage. Mulroney, sayangnya, bukanlah seorang aktor yang memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi seorang sutradara yang inovatif. Dalam film perdananya, Mulroney terkesan hanya ‘bermain aman’ dengan mengikuti berbagai formula drama komedi romantis yang telah ada dan menolak untuk berusaha menampilkan sebuah sudut pandang baru dalam jalan cerita filmnya. Hasilnya, selain terasa begitu repetitif, Love, Wedding, Marriage jelas terlihat sebagai sebuah usaha penyutradaraan yang sama sekali gagal untuk dapat ditampilkan bagi banyak orang.

Continue reading Review: Love, Wedding, Marriage (2011)