Tag Archives: Danial Rifki

Review: 99 Nama Cinta (2019)

Setelah Sabtu Bersama Bapak (Monty Tiwa, 2016) dan Bangkit! (Rako Prijanto, 2016), Acha Septriasa dan Deva Mahenra kembali tampil bersama dalam terbaru arahan Danial Rifki (Melbourne Rewind, 2016) yang berjudul 99 Nama Cinta. Septriasa berperan sebagai Talia, seorang presenter sekaligus produser sebuah acara infotainmen popular yang kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa penayangan acaranya harus dihentikan karena tersandung oleh masalah hukum. Tidak berhenti disana, Talia kini juga dialihtugaskan untuk menjadi produser bagi acara reliji yang tayang di pagi hari dan dikenal sebagai program yang paling tidak diminati di stasiun televisi tempatnya bekerja. Pun begitu, Talia tidak menyerah begitu saja. Usahanya untuk menghidupkan acara reliji tersebut kemudian membawanya pada sosok Kiblat (Mahenra) – seorang ustaz muda yang sebenarnya juga merupakan sahabat Talia di masa kecilnya. Meskipun dengan sejarah persahabatan diantara mereka serta hubungan akrab yang terjalin antara orangtua keduanya, perbedaan jalan sekaligus pandangan hidup di masa dewasa membuat Talia dan Kiblat sama-sama terasa tidak pernah akur. Tetap saja, cinta selalu dapat menemukan jalannya untuk mencuri hati setiap insan yang diincarnya. Continue reading Review: 99 Nama Cinta (2019)

Review: Melbourne Rewind (2016)

Diarahkan oleh Danial Rifki (La Tahzan, 2013), Melbourne Rewind berkisah mengenai jalinan asmara yang terjalin antara Laura (Pamela Bowie) dan Max (Morgan Oey). Setelah enam tahun lamanya berpisah, Max yang baru saja kembali dari pekerjaannya di kota New York, Amerika Serikat, kembali menemui Laura, gadis yang dulu sempat menjadi kekasih hatinya selama berkuliah di kota Melbourne, Australia, namun kemudian memilih untuk mengakhiri hubungan mereka setelah Max mendapatkan pekerjaan impiannya. Tentu saja, Max masih memendam rasa cintanya kepada Laura. Meski Laura kini bersikap dingin, Max terus berusaha agar Laura mau kembali membuka hati untuk kehadirannya. Namun, enam tahun setelah Max meninggalkannya, Laura kini telah menemukan sosok lain yang menjadi pujaan hatinya, Evan (Jovial da Lopez), seorang dokter hewan yang, sialnya, juga merupakan kekasih dari sahabatnya sendiri, Cee (Aurelie Moeremans). Continue reading Review: Melbourne Rewind (2016)

Review: La Tahzan (Jangan Bersedih) (2013)

la-tahzan-header

Mungkin dalam rangka menarik minat serta perhatian penonton Indonesia untuk menyaksikan filmnya, produser film Orenji kemudian memutuskan untuk mengganti judul film ini menjadi La Tahzan (Jangan Bersedih), memberikannya poster yang bernuansa Islami sekaligus merilisnya di masa menjelang libur Lebaran – sebuah jangka waktu yang dianggap paling menguntungkan untuk merilis sebuah film bagi industri film Indonesia. Sayangnya, nuansa relijius yang dihadirkan dalam jalan penceritaan La Tahzan (Jangan Bersedih) yang justru kemudian membuat kualitas film ini tersungkur. Jalan cerita yang awalnya bergerak di seputar romansa cinta segitiga antara ketiga karakter utamanya secara menggelikan kemudian berubah arah menjadi konflik kebatinan dan kepercayaan yang dihadirkan dengan begitu dangkal. Hasilnya, La Tahzan (Jangan Bersedih) terlihat hadir sebagai sebuah drama romansa dengan balutan kisah agama yang begitu dipaksakan kehadirannya.

Continue reading Review: La Tahzan (Jangan Bersedih) (2013)