Tag Archives: Craig Ferguson

Review: How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019)

Masih ingat dengan Hiccup dan Toothless? Setelah How to Train Your Dragon (Chris Sanders, Dean DeBlois, 2010) yang berhasil mendapatkan nominasi Best Animated Feature di ajang The 83rd Annual Academy Awards dan How to Train Your Dragon 2 (DeBlois, 2014) yang mampu mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$600 juta yang mengungguli pendapatan komersial seri pendahulunya, DreamWorks Animation kini merilis film teranyar dari seri How to Train Your Dragon – yang juga digadang menjadi seri terakhir, How to Train Your Dragon: The Hidden World. Layaknya dua film pendahulunya, film yang masih diarahkan oleh DeBlois ini terus mengeksplorasi hubungan antara sang ketua suku Viking dari kelompok Berk, Hiccup (Jay Baruchel), dengan naga yang dipeliharanya semenjak kecil, Toothless, dengan kini membawa eksplorasi hubungan tersebut pada kemampuan Hiccup untuk menggantikan sang ayah, Stoick the Vast (Gerard Butler), menjadi pemimpin bagi suku mereka. Mampukah How to Train Your Dragon: The Hidden World menghasilkan daya tarik yang setara dengan daya tari yang dihasilkan oleh dua film terdahulu? Continue reading Review: How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019)

Review: Brave (2012)

Dimulai dengan La Luna – sebuah film pendek karya Enrico Casarosa berdurasi 7 menit yang pada tahun lalu berhasil mendapatkan nominasi di ajang The 84th Annual Academy Awards untuk kategori Best Animated Short Film – Brave merupakan sebuah kisah dongeng pertama dari Pixar Animation Studios sekaligus merupakan film pertama mereka yang menempatkan seorang wanita sebagai karakter utamanya. Berlatar belakang lokasi di dataran tinggi Skotlandia pada abad ke-10, Brave berkisah tentang Princess Merida (Kelly Macdonald), puteri tunggal dari pasangan King Fergus (Billy Connolly) dan Queen Elinor (Emma Thompson) yang menguasai kerajaan DunBroch. Terlahir di sebuah kerajaan yang dipenuhi berbagai peraturan, Princess Merida merasa bahwa kehidupannya selalu terkekang, khususnya oleh sang ibu yang memiliki harapan besar agar dirinya mampu mengikuti jejaknya sebagai seorang puteri kerajaan yang harus bersikap lembut dan anggun di setiap saat. Jelas sebuah tekanan besar bagi Princess Merida yang memiliki hobi berkuda dan memanah layaknya kaum pria.

Continue reading Review: Brave (2012)

Review: Winnie the Pooh (2011)

Dalam era ketika setiap studio film berusaha untuk menampilkan teknologi termutakhir mereka dalam menggarap sebuah film animasi, rasanya cukup mengherankan untuk melihat Winnie the Pooh. Film yang menjadi kali kedua bagi Walt Disney Animation Studios dalam mengadaptasi kisah anak-anak populer karya penulis Inggris, A. A. Milne, ini sama sekali tidak ditampilkan dengan durasi yang panjang atau dengan teknologi tingkat tinggi yang mampu membuat setiap orang terpesona atau dengan mengadaptasi teknologi 3D yang rasanya saat ini sama sekali tidak dapat dihindarkan tersebut serta sama sekali tidak menggunakan talenta suara aktor maupun aktris Hollywood ternama dalam mengisikan suara setiap karakternya. Jika ada yang ingin dicapai oleh Winnie the Pooh, maka hal itu adalah sebuah keinginan untuk membawa kembali semua kenangan indah penontonnya tentang tujuh karakter favorit mereka sekaligus menarik banyak penggemar baru dari kelompok penonton muda yang akan dengan mudah jatuh cinta dengan film ini.

Continue reading Review: Winnie the Pooh (2011)

Review: How to Train Your Dragon (2010)

Harus diakui, sebagai sebuah perusahaan yang pada awalnya menjadi saingan terberat Pixar dalam merebut pasar pecinta film-film animasi, DreamWorks Animation terasa sangat ketinggalan akhir-akhir ini. Memang, dari segi pendapatan, DreamWorks seringkali mengungguli hasil perolehan komersial film-film rilisan Pixar. Namun dari segi kualitas yang diberikan? Hanya seri pertama dan kedua dari Shrek yang mampu memberikannya.

Continue reading Review: How to Train Your Dragon (2010)