Tag Archives: Common

Review: John Wick: Chapter 2 (2017)

Langsung melanjutkan kisah yang berakhir di John Wick, seusai membalaskan dendam atas kematian anjingnya sekaligus mencari tahu siapa yang mencuri mobil kesayangannya, John Wick (Keanu Reeves) didatangi oleh Santino D’Antonio (Riccardo Scamarcio). Mafia kejahatan asal Italia tersebut datang untuk meminta John Wick untuk membunuh adiknya sendiri, Giana (Claudia Gerini), agar dirinya dapat menggantikan posisi Giana sebagai pimpinan para kriminal. Walau awalnya menolak permintaan tersebut karena dirinya telah mengundurkan diri dari profesinya terdahulu sebagai seorang pembunuh bayaran, John Wick tidak mampu berbuat apa-apa ketika Santino D’Antonio mengingatkan bahwa dirinya masih terikat ikatan di masa lampau dengan kelompok kriminal yang dipimpin Santino D’Antonio. John Wick akhirnya melaksanakan tugas tesebut. Sial, pilihan John Wick untuk membunuh Giana D’Antonio lantas menjadikannya sebagai manusia buruan baru bagi kelompok kriminal pimpinan mafia kejahatan wanita tersebut. Sekali lagi, John Wick harus bertarung melawan puluhan orang untuk mempertahankan kehidupannya. Continue reading Review: John Wick: Chapter 2 (2017)

Advertisements

Review: Entourage (2015)

entourage-posterEmpat tahun setelah masa tayangnya berakhir di saluran televisi kabel HBO, kreator serial televisi Entourage, Doug Ellin, akhirnya membawa kisah persahabatan antara lima orang pria dalam usaha mereka untuk bertahan dalam kerasnya kehidupan serta persaingan di Hollywood ke layar lebar. Kembali bekerjasama dengan Mark Wahlberg dan Stephen Levinson yang turut memproduseri serial televisi yang sempat tayang selama delapan musim tersebut, Ellin menyajikan Entourage dalam formula penceritaan familiar yang jelas akan sangat mampu mengobati kerinduan para penggemar kepada kelima karakter utama dalam serial televisi tersebut. Apakah hal tersebut berarti bahwa versi film dari Entourage akan mengalienasi mereka yang sama sekali belum familiar dengan serial pemenang Emmy Awards tersebut? Tidak. Ellin cukup cerdas untuk merangkai naskah cerita Entourage untuk menjadi sebuah kisah intrik dunia perfilman Hollywood yang mampu bercerita dalam skala yang cukup luas.

Versi film dari Entourage sendiri memulai kisahnya ketika aktor Vincent Chase (Adrian Grenier) memutuskan untuk bercerai dari istri yang baru saja dinikahinya selama sembilan hari. Momen tersebut dimanfaatkan Vincent untuk melakukan beberapa perubahan dalam kehidupannya – termasuk ingin mencoba beberapa hal baru dalam karirnya sebagai seorang aktor Hollywood. Vincent lantas menghubungi sahabat sekaligus mantan agennya, Ari Gold (Jeremy Piven), yang kini telah menjabat sebagai seorang pimpinan sebuah rumah produksi. Ari lantas menawarkan Vincent sebuah peran dalam film berjudul Hyde yang akan menjadi film perdana yang ia produksi. Vincent menerima tawaran tersebut… namun dengan sebuah persyaratan: ia setuju untuk tampil jika Ari juga membiarkannya menjadi sutradara film tersebut. Walau awalnya ragu, dan dibayang-bayangi konflik dengan pemegang saham lain yang menilai Vincent belum layak untuk menjadi seorang sutradara, Ari akhirnya setuju akan persyaratan yang diberikan sahabatnya tersebut. Karir baru Vincent Chase sebagai seorang sutradara akhirnya dimulai.

Tidak ada yang begitu istimewa dalam jalan cerita Entourage. Mereka yang merupakan penggemar setia serial televisi tersebut atau gemar dengan film-film satir tentang kehidupan selebritis Hollywood jelas akan menemukan bahwa film ini hadir dengan kualitas penceritaan yang seadanya. Namun bukan berarti naskah cerita garapan Ellin berkualitas buruk. Ellin masih mampu merangkai kisah familiar tersebut dengan konflik-konflik pendukung tentang persahabatan dan kehidupan pribadi masing-masing karakter utama dalam Entourage dengan cukup hangat. Untuk mereka yang masih belum familiar dengan Vincent Chase, Ari Gold, Johnny “Drama” Chase, Eric Murphy maupun Turtle, Ellin secara cerdas menghadirkan sebuah dokumenter singkat tentang masing-masing karakter yang akan membuat mereka yang masih asing dengan Entourage menjadi setidaknya cukup mengenal karakter kelima sahabat tersebut.

Seperti serial televisinya, kekuatan utama Entourage berada pada kemampuannya untuk merayakan kebesaran maupun kemewahan kehidupan Hollywood sekaligus memberikannya sebuah sindiran tajam di saat yang bersamaan. Ellin berhasil mengisi jalan cerita Entourage dengan dialog-dialog yang berisi banyak referensi mengenai kultur pop modern – sekaligus menghadirkan banyak kameo dari wajah-wajah familiar Hollywood mulai dari Armie Hammer, Mark Wahlberg, Jessica Alba, Emily Ratajkowski hingga Thierry Henry, Calvin Harris dan James Cameron. Kisah perjuangan karakter Vincent Chase dan Ari Gold dalam memperjuangkan film yang mereka produksi juga mampu digarap dengan baik meskipun terkadang hadir dengan eksekusi ritme cerita yang terlalu lamban. Ellin juga berbaik hati untuk membagi porsi penceritaan terhadap masing-masing karakter utama film sehingga tidak hanya berfokus pada karakter Vincent Chase. Meskipun tidak seluruhnya hadir dengan penyajian yang menarik namun tetap berhasil menghadirkan warna kisah persahabatan yang solid pada kualitas jalan cerita film secara keseluruhan.

Entourage jelas juga terbantu dengan performa para pemerannya yang tampil dengan penampilan yang prima dan chemistry yang (masih cukup) hangat tercipta diantara mereka. Grenier dan Piven bersama dengan Kevin Connolly, Kevin Dillon dan Jerry Ferrara tampil masih dengan keakraban yang sama seperti yang tersaji dalam serial televisi mereka terdahulu. Namun, kejutan utama dari Entourage jelas datang dari Haley Joel Osment. Yep. Masih ingat dengan bocah dalam The Sixth Sense (M. Night Shyamalan, 1999)? Osment yang kini telah berusia 27 tahun tampil sebagai seorang anak investor film yang arogan dan dia mampu mengeksekusi setiap adegan karakternya dengan sangat baik. Sangat mampu mencuri perhatian. Pemeran pendukung lain juga tampil dalam kualitas yang tidak mengecewakan dan jelas akan mendukung kualitas Entourage sebagai sebuah satir Hollywood yang benar-benar mampu menghibur penontonnya. [B-]

Entourage (2015)

Directed by Doug Ellin Produced by Doug Ellin, Stephen Levinson, Mark Wahlberg Written by Doug Ellin (screenplay), Doug Ellin, Rob Weiss (story) Starring Adrian Grenier, Kevin Connolly, Kevin Dillon, Jerry Ferrara, Jeremy Piven, Perrey Reeves, Rex Lee, Debi Mazar, Constance Zimmer, Billy Bob Thornton, Haley Joel Osment, Emmanuelle Chriqui, Scott Mescudi, Rhys Coiro, Nora Dunn, Alan Dale, Martin Landau, James Cameron, Nina Agdal, Jessica Alba, David Arquette, Shayna Baszler, Tom Brady, Warren Buffett, Gary Busey, Andrew Dice Clay, Linda Cohn, Tameka Cottle, Common, Mark Cuban, Baron Davis, Jessamyn Duke, Julian Edelman, David Faustino, Jon Favreau, Kelsey Grammer, Jim Gray, Rob Gronkowski, Armie Hammer, Calvin Harris, Thierry Henry, Terrence J., Cynthia Kirchner, Matt Lauer, Greg Louganis, Chad Lowe, Clay Matthews III, Maria Menounos, Alyssa Miller, Piers Morgan, Liam Neeson, Ed O’Neill, Emily Ratajkowski, Mike Richards, Stevan Ridley, Ronda Rousey, Bob Saget, Saigon, Richard Schiff, David Spade, George Takei, T.I., Steve Tisch, Mike Tyson, Mark Wahlberg, Pharrell Williams, Russell Wilson, Judy Greer Cinematography Steven Fierberg Editing by Jeff Groth Studio HBO/Closest to the Hole Productions/Leverage Entertainment Running time 104 minutes Country United States Language English

Review: Run All Night (2015)

run-all-night-posterUntuk kali ketiga setelah Unknown (2011) dan Non-Stop (2014) yang berhasil meraih kesuksesan komersial sekaligus memantapkan posisinya sebagai seorang bintang film-film aksi, Liam Neeson kembali berada di bawah arahan sutradara Jaume Collet-Serra untuk film teranyarnya, Run All Night. Layaknya peran yang ia sajikan selama tujuh tahun terakhir setelah membintangi Taken (2008), Run All Night juga menampilkan Neeson sebagai sosok pria paruh baya yang memiliki kekuatan fisik dan mental luar biasa dalam menghadapi bahaya yang mengancam diri dan orang-orang yang ia sayangi. Apakah Run All Night memiliki kejutan yang berarti dalam penuturan kisahnya? Tidak juga. Mereka yang telah mengikuti petualangan Neeson dalam film-film aksi jelas telah tahu pasti apa yang ditawarkan oleh film yang juga dibintangi Joel Kinnaman dan Ed Harris ini. Meskipun begitu, daya tarik Neeson yang masih luar biasa kuat ditambah dengan kualitas penampilan dari departemen akting serta pengarahan aksi yang solid cukup mampu membuat Run All Night tampil begitu memikat.

Dengan naskah yang ditulis oleh Brad Ingelsby (Out of the Furnace, 2013), Run All Night berkisah mengenai Jimmy Conlon (Neeson), seorang mantan pembunuh bayaran yang kini lebih sering menghabiskan waktunya dengan mengkonsumsi minuman keras akibat dihantui rasa bersalah akan orang-orang yang telah dibunuhnya di masa lampau. Satu-satunya orang yang masih peduli pada Jimmy adalah Shawn Maguire (Harris), mantan kriminal yang dahulu pernah mempekerjakan Jimmy sekaligus merupakan sahabat Jimmy semenjak mereka kecil. Namun kisah persahabatan keduanya berada dalam situasi genting ketika di suatu malam Jimmy terpaksa menembak mati putra tunggal Shawn, Danny (Boyd Holbrook), akibat berusaha membunuh putra tunggal Jimmy, Mike (Kinnaman). Jelas saja Shawn dengan segera mengerahkan seluruh kaki tangannya untuk menemukan sekaligus membunuh Jimmy dan Mike.

Chemistry antara Jaume Collet-Serra dengan Liam Neeson jelas menjadi salah satu faktor mengapa Run All Night dapat bekerja dengan baik. Collet-Serra tahu pasti bahwa Neeson adalah aktor yang ia butuhkan untuk mampu menghidupkan sekaligus membuat sosok karakter yang sebenarnya sulit untuk disukai akhirnya justru dapat menerima dukungan penuh dari penonton. Dan Neeson, tentunya, mampu memenuhi harapan Collet-Serra tersebut dengan baik. Tidak hanya Neeson, Run All Night juga mendapatkan dukungan penampilan yang begitu prima dari jajaran pengisi departemen akting lainnya, mulai dari Ed Harris, Joel Kinnaman, Vincent D’Onofrio bahkan hingga Nick Nolte dan Boyd Holbrook yang hadir dalam kapasitas penceritaan yang begitu terbatas. Jika ada keluhan yang cukup berarti dalam departemen akting film ini maka hal tersebut mungkin datang dari penampilan Common yang begitu datar. Bukan sepenuhnya salah dari sang aktor. Karakter pembunuh bayaran berdarah dingin yang diperankan Common mendapatkan porsi penceritaan dan penggalian karakter yang begitu minim sehingga kehadiran karakter tersebut dalam jalan cerita sering terasa sia-sia belaka.

Dan memang, penggalian cerita dari beberapa karakter yang hadir dalam jalan cerita Run All Night menjadi salah satu masalah dari naskah cerita garapan Brad Ingelsby. Naskah cerita Ingelsby seringkali mengabaikan keberadaan karakter-karakter pendukung yang sebenarnya, jika ingin dicerna lebih lanjut, memiliki peran yang vital dalam keseluruhan penceritaan. Hal ini yang membuat beberapa plot pendukung cerita terasa hadir tanpa pengembangan kisah yang kuat. Tidak hanya itu, Ingelsby juga terasa gagal untuk mengisi celah-celah dalam konflik utama film agar mampu membuatnya kuat untuk bercerita sepanjang hampir selama dua jam, khususnya di pertengahan paruh kedua dan ketiga film. Tidak buruk namun jelas memberikan beberapa celah hampa tersendiri di dalam penceritaan Run All Night.

Terlepas dari berbagai kelemahan di departemen penceritaan, Run All Night masih mampu dikemas sebagai sebuah film action popcorn yang benar-benar menarik. Collet-Serra berhasil mengeksekusi setiap adegan aksi dalam tampilan visual yang memukau dan menegangkan. Begitu pula dengan pengarahannya akan alur penceritaan yang sukses mengalirkan kisah film ini dengan baik kepada penontonnya. Jika Anda merupakan penggemar dari dua film kolaborasi Collet-Serra dan Neeson sebelumnya, maka Run All Night jelas tidak akan mengecewakan. [B-]

Run All Night (2015)

Directed by Jaume Collet-Serra Produced by Roy Lee, Michael Tadross, Brooklyn Weaver Written by Brad Ingelsby Starring Liam Neeson, Ed Harris, Joel Kinnaman, Boyd Holbrook, Bruce McGill, Génesis Rodríguez, Vincent D’Onofrio, Common, Holt McCallany, Malcolm Goodwin, Nick Nolte Music by Junkie XL Cinematography Martin Ruhe Edited by Craig McKay Production company Vertigo Entertainment/Energy Entertainment Running time 114 minutes Country United States Language English

Review: Now You See Me (2013)

now-you-see-me-header

Diarahkan oleh Louis Leterrier (Clash of the Titans, 2010), Now You See Me membuka pengisahannya dengan memperkenalkan empat karakter pesulap yang masing-masing memiliki keahlian yang berbeda: J. Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Henley Reeves (Isla Fisher), Jack Wilder (Dave Franco) dan Merritt McKinney (Woody Harrelson). Sebuah undangan dari sosok misterius kemudian membawa mereka ke satu tempat dan akhirnya memperkenalkan mereka satu sama lain. Linimasa jalan penceritaan kemudian berpindah ke masa satu tahun kemudian, dimana keempatnya kini telah tergabung dalam sebuah kelompok bernama The Four Horsemen dan memiliki pertunjukan yang begitu popular di Las Vegas dengan bantuan sokongan dana dari milyuner, Arthur Tressler (Michael Caine).

Continue reading Review: Now You See Me (2013)

Review: Happy Feet Two (2011)

Lima tahun kemudian, banyak orang masih merasa penasaran mengapa Happy Feet (2006) mampu merebut Academy Awards di kategori Best Animated Feature dari tangan film-film animasi yang lebih superior seperti Cars (2006) dan Monster House (2006). Film animasi perdana karya sutradara asal Australia, George Miller, tersebut sebenarnya bukanlah sebuah karya yang buruk. Jalan cerita yang berkisah mengenai usaha seekor penguin untuk membuktikan kemampuan dirinya kepada orangtua dan anggota kelompoknya – dan disertai dengan banyak tarian dan nyanyian – mampu dirangkai dengan tampilan visual yang apik. Namun, jika dibandingkan tata visual yang dicapai Disney/Pixar lewat Cars – walaupun dituding memiliki jalan cerita yang tergolong  lemah – serta usaha Sony Pictures untuk menghadirkan sebuah kisah horor yang ternyata mampu bekerja dengan baik pada Monster House, Happy Feet jelas berada pada beberapa tingkatan di bawah dua film animasi kompetitornya tersebut.

Continue reading Review: Happy Feet Two (2011)

Review: Date Night (2010)

Dengan tiga anak diantara mereka, Phil (Steve Carrell) dan Claire Foster (Tina Fey) memiliki tipe pernikahan yang dipastikan akan menjadi mimpi buruk bagi seorang Carrie Bradshaw: berjalan lambat dan sangat membosankan. Phil dan Claire sendiri telah menyadari hal ini, yang membuat mereka selalu berusaha untuk meluangkan satu malam di setiap minggunya untuk keluar bersama berdua dan melupakan segala rutinitas harian mereka. Namun, tradisi keluar bersama berdua ini sendiri lama-kelamaan mulai menjadi sebuah rutinitas yang membosankan pula bagi pasangan ini. Phil dan Claire membutuhkan sesuatu yang baru dan menyegarkan dalam kehidupan mereka!

Continue reading Review: Date Night (2010)