Tag Archives: Claire Foy

Review: First Man (2018)

That’s one small step for [a] man, one giant leap for mankind.”

Sebagai sebuah film yang berkisah tentang kehidupan Neil Armstrong – seorang astronot asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai manusia pertama yang menjejakkan kakinya di Bulan, tentu mudah untuk membayangkan jika First Man digarap layaknya Apollo 13 (Ron Howard, 1995) atau film-film bertema angkasa luar lainnya atau malah film-film lain yang bercerita tentang pasang surut kehidupan seorang karakter nyata sebelum ia mencapai kesuksesannya. Namun, hal yang berkesan biasa jelas bukanlah presentasi yang diinginkan oleh sutradara berusia 33 tahun, Damien Chazelle, yang pada usianya ke 32 tahun berhasil memenangkan sebuah Academy Award untuk kategori Best Director lewat film musikal arahannya, La La Land (2016), dan menjadikannya sebagai sutradara termuda di sepanjang catatan sejarah yang berhasil meraih gelar tersebut. Alih-alih mengemas biopik yang diadaptasi dari buku karya James R. Hansen berjudul First Man: The Life of Neil A. Armstrong ini menjadi sebuah biopik dengan standar pengisahan familiar a la Hollywood, Chazelle memilih untuk menjadikan First Man sebagai sebuah ajang bermain bagi kecerdasan visual dan teknikalnya sekaligus, di saat yang bersamaan, tempatnya bermeditasi mengenai arti sebuah perjalanan hidup. Sounds a bit too deep eh? Continue reading Review: First Man (2018)

Advertisements

Review: Vampire Academy (2014)

Vampire Academy (Angry Films/Kintop Pictures/Preger Entertainment/Reliance Entertainment, 2014)
Vampire Academy (Angry Films/Kintop Pictures/Preger Entertainment/Reliance Entertainment, 2014)

Bagaimana menggambarkan Vampire Academy? Well… pertama-tama, bayangkan deretan karakter vampir yang ada di seri film The Twilight Saga (2008 – 2012) – minus kehadiran tubuh yang bersinar ketika terkena cahaya matahari. Kemudian bayangkan kehidupan para karakter tersebut berada dalam sebuah institusi pendidikan layaknya yang ada dalam seri film Harry Potter (2001 – 2011) dimana mereka setiap harinya berinteraksi dengan jenis bahasa yang familiar dengan para karakter yang ada di Mean Girls (2004). Di atas kertas, kombinasi tersebut mungkin mampu menjadikan Vampire Academy sebagai sebuah film dengan premis yang cukup menjanjikan. Sayangnya, premis kehadiran sebuah film drama komedi remaja yang menyenangkan tersebut lenyap begitu saja ketika Mark Waters dan Daniel Waters mengeksekusi Vampire Academy dengan pengarahan serta naskah cerita yang terlalu lemah untuk dapat membuat film ini terasa menarik untuk disaksikan.

Continue reading Review: Vampire Academy (2014)

Review: Season of the Witch (2011)

Terlepas dari apa yang ditunjukkan oleh kualitas film yang ia perankan akhir-akhir ini, tidak ada yang dapat menyangkal bahwa Nicolas Cage adalah salah satu aktor paling berbakat yang pernah dimiliki Hollywood. Kesalahan besar yang sering dilakukan Cage adalah seringnya ia memilih naskah yang salah (atau memang hanya alasan ekonomi akibat tuntutan pihak pajak Amerika Serikat kepada dirinya) untuk ia perankan. Ketika diberi karakter peran yang tepat dan menantang, Cage selalu mampu untuk menampilkan sisi terbaik dari kemampuan aktingnya. Suatu hal yang mungkin terakhir kali para penikmat film lihat lewat perannya sebagai seorang polisi koruptor di Bad Lieutenant: Port of Call New Orleans (2009).

Continue reading Review: Season of the Witch (2011)