Tag Archives: Christopher Lee

Review: The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014)

The Hobbit: The Battle of the Five Armies (New Line Cinema/Metro-Goldwyn-Mayer/WingNut Films, 2014)The Hobbit: The Battle of the Five Armies‘ primarily brings with it a sensation of relief that the muddling and ultimately middling affair is finished.

While it lacks in stand-alone value is made up in its gaggle of spectacular set-pieces and a little story that directly leads into he Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring‘. At least the last prequel is a worthy companion piece to Peter Jackson’s much more superior trilogy.

It’s actually quite funny to see Jackson reflects himself into Thorin Oakenshield: Both has been suffering “dragon sickness”, a compulsive lust for gold. And thank God now Jackson can rest his tired mind, get on with new projects and move far, far away from the Middle Earth. [C]

The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014)

Directed by Peter Jackson Produced by Carolynne Cunningham, Zane Weiner, Fran Walsh, Peter Jackson Written by Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson, Guillermo del Toro (screenplay), J. R. R. Tolkien (book, The Hobbit) Starring Ian McKellen, Martin Freeman, Richard Armitage, Evangeline Lilly, Lee Pace, Luke Evans, Benedict Cumberbatch, Ken Stott, James Nesbitt, Cate Blanchett, Ian Holm, Christopher Lee, Hugo Weaving, Orlando Bloom Music by Howard Shore Cinematography Andrew Lesnie Edited by Jabez Olssen Studio New Line Cinema/Metro-Goldwyn-Mayer/WingNut Films Running time 144 minutes Country New Zealand, United States Language English

Review: The Hobbit: An Unexpected Journey (2012)

the-hobbit-header

Hampir satu dekade semenjak Peter Jackson merilis seri terakhir trilogi The Lord of the Rings, The Lord of the Rings: The Return of the King (2003), kini sutradara asal Selandia Baru tersebut bersiap untuk menggelar sebuah trilogi cerita lainnya dengan mengadaptasi novel The Hobbit yang menjadi prekuel dari seri The Lord of the Rings karya J. R. R. Tolkien. Benar… Jackson siap untuk membuat tiga film baru berdasarkan satu novel karya Tolkien. Rasa skeptis jelas akan membayangi banyak penonton atas keputusan Jackson tersebut. Apakah dunia membutuhkan sebuah perjalanan lain ke Middle Earth? Mampukah Jackson mengulangi daya tarik serta kesuksesan kualitas berkelas dari trilogi The Lord of the Rings (2001 – 2003)? Apakah The Hobbit hanyalah sebuah proyek yang bertujuan komersial belaka? Dan sayangnya, dengan apa yang disajikan Jackson pada seri pertama The Hobbit, The Hobbit: An Unexpected Journey, rasa skeptis tersebut sepertinya tidak akan begitu cepat menghilang dari benak banyak orang.

Continue reading Review: The Hobbit: An Unexpected Journey (2012)

Review: Frankenweenie (2012)

Kapan terakhir kali Anda menyaksikan sebuah film arahan Tim Burton yang sama sekali tidak melibatkan kehadiran Johnny Depp ataupun Helena Bonham Carter? Wellthat was long, long, long time ago. Tepatnya di tahun 1996 ketika Burton merilis Mars Attacks!. Dan sejujurnya, Burton memang benar-benar membutuhkan penyegaran dalam film-film yang ia hasilkan. Bukan hanya ia harus berhenti menempatkan Depp sebagai karakter yang selalu berpakaian aneh atau mendandani Bonham Carter dengan rambut palsu besar yang berwarna-warni, namun Burton sepertinya memang harus kembali menyegarkan ide-ide yang ada di kepalanya agar setiap film yang ia hasilkan tidak terlihat memiliki jalan cerita yang monoton antara satu dengan yang lain. Mungkin akan ada gunanya jika Burton mengunjungi kembali beberapa karya awalnya di masa lampau… seperti film pendek berjudul Frankenweenie yang dulu pernah ia hasilkan pada tahun 1984. Continue reading Review: Frankenweenie (2012)

Review: Dark Shadows (2012)

Ucapan Ricky Gervais bahwa Johnny Depp adalah “the man who would literally wear anything Tim Burton tells him to” di ajang The 69th Annual Golden Globe Awards beberapa waktu yang lalu jelas bukanlah sebuah guyonan belaka. Semenjak Depp dan Burton memulai hubungan profesional mereka lewat Edward Scissorhands (1990), Depp telah menjadi salah satu aktor yang paling sering tampil dalam film-film Burton, dan kebanyakan dalam film-film tersebut, Depp diharuskan menjadi sesosok karakter yang aneh dengan kostum yang jauh dari kesan sederhana dan biasa. Setelah terakhir kali berperan sebagai The Mad Hatter dalam Alice in Wonderland (2010), kerjasama Depp dan Burton berlanjut pada Dark Shadows, sebuah film yang diadaptasi dari sebuah serial televisi klasik berjudul sama yang dulu sempat mengudara pada tahun 1966 hingga 1971.

Continue reading Review: Dark Shadows (2012)

Review: Hugo (2011)

Berbeda dengan Raging Bull (1980), Goodfellas (1990) atau The Departed (2006) yang berhasil menghantarkannya untuk memenangkan Academy Awards, Hugo sama sekali tidak menghadirkan tema kejahatan dan kekerasan yang biasa dihadirkan Martin Scorsese dalam film-film yang berhasil membawa namanya ke jajaran sutradara legendaris dan paling dihormati di dunia. Diangkat dari novel The Invention of Hugo Cabret karya Brian Selznick, Hugo merupakan sebuah bentuk dedikasi Scorsese pada dunia film yang ia geluti dan begitu ia cintai selama ini. Dengan penggarapan cerita yang begitu hangat dan dirangkum dengan tampilan visual berteknologi 3D yang mempesona, penonton juga akan dapat dengan mudah merasakan bagaimana kecintaan dan hasrat Scorsese yang besar kepada dunia perfilman.

Continue reading Review: Hugo (2011)

Review: The Resident (2011)

Apakah Hilary Swank sedang menjalani sebuah Nicole Kidman phase – dimana ia secara terus menerus membuat pilihan yang salah dengan membintangi serangkaian film-film berkualitas mengecewakan setelah memenangkan dua Academy Awards lewat Boys Don’t Cry (2000) dan Million Dollar Baby (2002)? Setelah The Black Dahlia (2006) dan The Reaping (2007) yang sangat berantakan, Swank sepertinya kembali terjatuh ke lubang yang sama lewat The Resident, sebuah film thriller dengan jalan cerita standar yang jauh dari kesan menarik. Swank, seperti biasanya, masih mampu menampilkan permainan terbaiknya sebagai seorang aktris. Namun naskah The Resident begitu lemah sehingga akan menenggelamkan penampilan sekaliber apapun dari jajaran aktornya sekaligus membuat para penontonnya akan kehilangan rasa ketertarikan mereka pada film ini bahkan ketika The Resident baru saja memulai terornya.

Continue reading Review: The Resident (2011)

Review: Season of the Witch (2011)

Terlepas dari apa yang ditunjukkan oleh kualitas film yang ia perankan akhir-akhir ini, tidak ada yang dapat menyangkal bahwa Nicolas Cage adalah salah satu aktor paling berbakat yang pernah dimiliki Hollywood. Kesalahan besar yang sering dilakukan Cage adalah seringnya ia memilih naskah yang salah (atau memang hanya alasan ekonomi akibat tuntutan pihak pajak Amerika Serikat kepada dirinya) untuk ia perankan. Ketika diberi karakter peran yang tepat dan menantang, Cage selalu mampu untuk menampilkan sisi terbaik dari kemampuan aktingnya. Suatu hal yang mungkin terakhir kali para penikmat film lihat lewat perannya sebagai seorang polisi koruptor di Bad Lieutenant: Port of Call New Orleans (2009).

Continue reading Review: Season of the Witch (2011)

Review: Glorious 39 (2009)

Nama Romola Garai mungkin banyak dikenal oleh publik setelah penampilannya yang menesankan sebagai Briony Talis remaja yang dipenuhi rasa bersalah di film Atonement. Aktris cantik asal Inggris berusia 27 tahun ini memang lebih banyak dikenal sering memilih film-film bertema period yang berskala kecil atau sebagai seorang aktris teater di negara asalnya.

Continue reading Review: Glorious 39 (2009)

Review: Alice in Wonderland (2010)

Cerita populer Alice in Wonderland pertama kali diperkenalkan pada dunia dalam bentuk novel oleh novelis asal Inggris, Lewis Carroll, pada tahun 1865. Karya-karya Carroll pada zamannya memang dikenal sangat berani, karena kecenderungan Carroll untuk bermain di dalam kisah fantasi yang seringkali memainkan logika pembacanya, termasuk untuk kisah yang Carroll tulis di Alice’s Adventure in Wonderland (judul asli Alice in Wonderland).

Continue reading Review: Alice in Wonderland (2010)